19
Apr
05

Menjadi Manusia Luar Biasa

000_0003aa"We were Champion" -TMMIN Finance Division Football Club-

Saya memperoleh bacaan yang bagus lagi nih dari sebuah milis yang saya ikuti. Sebenarnya isinya tidaklah begitu istimewa dan bukanlah hal yang baru tetapi betapa selama ini saya kurang mendalami makna yang ada di sekitar saya. Untuk menjadi pemenang kita tidak harus terlahir dahulu untuk menjadi pemenang. A champion is not born, it is created by experience, by determination, and by knowledge. Bacaan yang saya dapatkan ini memberi inspirasi dan tenaga yang saya butuhkan untuk tetap optimis dan fight di segala situasi, tidak ada yang tidak mungkin. Tidak mungkin hanya mungkin terjadi bila kita membiarkannya untuk terjadi. There’s no impossible possibility, there’s only possible impossibility. Kita harus tanamkan itu semua di hati kita. Di hati saya, hati anda, hati keluarga kita dan sampai semangat anak cucu kita, semoga semangat fight pantang menyerah mampu membuat bangsa kita sedikit, demi sedikit mencapai permukaan keterpurukan. Saya harap bukan hanya saya yang mendapatkan inspirasi dari tulisan di bawah ini, tapi siapapun yang sempat mampir dan membaca blog ini.

Saya jadi teringat sebuah perkataan dari kawan baik saya, Mas PAW, dimanapun dia berada, dia pernah mengatakan bahwa sesungguhnya kita yang ada di dunia ini adalah pemenang. Renungkanlah bahwa kita berasal hanya dari sebuah sperma dan sel telur. Sel telur hanya dapat dibuahi oleh sebuah (seekor?) sperma, padahal berdasarkan pelajaran biologi, ada berjuta-juta sperma yang berebut membuahi sel telur dalam sebuah coitus, bayangkan, dari satu juta, there’s only one can manage to be a winner. Maka apa yang membuat kita kecil hati dengan orang lain? hidup ini adalah arena dimana sang Champion berinteraksi dan bersaing. hence, why are we necessary to be afraid? what are we afraid for?

******************************************************************************************************************

*** Manusia Luar Biasa ***

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari Acara Benteng Takeshi, di TPI, Sebuah keOptimisan dan keyakinan. Tampak dari seluruh peserta kata-kata "Saya Pasti Bisa", sebuah kata yang jarang ditemui oleh kita-kita di Indonesia. Kata-kata dan keyakinan bahwa "Saya pasti berhasil", walaupun pada akhirnya mereka kalah. Namun kekalahan itu adalah kekalahan dari kegagalan, bukan kekalahan akibat mereka tidak bertanding.

Pada zaman dahulu ada pula seorang Ninja, ia adalah seorang Ninja yang bodoh, dan suatu hari ia ingin menantang seseorang Ninja lain yang jauh lebih pandai. Oleh orang-orang lain, ninja bodoh itu ditertawakan karena ia dianggap pasti kalah, namun Ninja Bodoh itu menjawab, "Ada kalanya seseorang harus terus berjuang, dan berani bertarung, walaupun ia tahu bahwa dirinya pasti kalah".

Saya pernah punya seorang teman, sebut saja A, sebenarnya ia tidaklah terlalu pintar, tidak pernah mendapat urutan 5 besar di kelas, namun ia hampir selalu ikut dalam setiap perlombaan, tidak peduli bagaimanapun hasilnya namun selama ia masih ada waktu, maka ia akan selalu ikut. Hal yang berbeda dengan teman saya satunya lagi, sebut saja B, ia tergolong siswa yang amat berprestasi, namun setiap ada lomba, ia lebih memilih mundur dengan alasan, "Ah paling-paling yang menang nanti si X",

Saya pernah mengikuti perlombaan di Surabaya, disana kami tergolong peserta yang "Ndeso", Yang dijamin akan kalah melawan peserta lain, Terutama dari SMA Favorit se Jawa Timur, sebut saja, SMK Darul ‘Ulum, SMAN 5 & 6 Surabaya, Petra 1-3, dll. Namun satu hal yang saya tanamkan dalam tim kami bahwa Kita akan meraih Juara. Sehingga setiap menghadapi pengumuman peserta yang lolos ke babak berikutnya, kami pun belajar untuk materi babak selanjutnya (padahal hasil belum diumumkan). Begitulah sehingga kami yang merupakan tim underdog atau bahkan tim lapis ke 5 (dibawahnya cadangan) mampu lolos ke Final, mendapatkan sepuluh besar, walaupun tidak juara 1. Ini lebih disebabkan ketidakmampuan kami dalam penguasaan materi.

Pada zaman kekhalifahan Islam pernah ada seorang Panglima Perang bernama Jabal Tariq, yang dengan jumlah pasukan cenderung minim, mendarat di sebuah batu karang tepi pantai untuk membebaskan suatu daerah dari kekuasaan seorang Penguasa Zhalim. Setibanya di Pantai, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal. Lalu ia berkata pada pasukannya, "Tidak ada lagi jalan ke Belakang, Di Belakang adalah laut, dan di Depan adalah musuh, Jika kalian tetap ingin hidup, tidak ada cara lain selain mengalahkan mereka", maka pasukan itu pun terus maju, dan akhirnya pasukan itu pun menang. Dan selat itupun sekarang dinamai selat Jibraltar.

Toni Tegar Sahidi

Ponorogo, East Java, Indonesia

***************************************************************************************************

Taken from Sabili Mailist April 19, 2005 without legal permission.




0 Responses to “Menjadi Manusia Luar Biasa”


  1. No Comments

Leave a Reply

You must login to post a comment.