Archive for April, 2005



11
Apr

Berpikir Positif

Hari senin. Kita memasuki minggu yang baru lagi, lembaran yang baru lagi. Kita memulai sesuatu yang baru lagi minggu ini, walaupun secara aktivitas, kita menghadapi pekerjaan yang sama, kegiatan yang sama, situasi yang sama, terkadang masalah yang sama. Mungkin hanya sesekali kita menemukan kejutan-kejutan dalam hari-hari kita.

Tapi ada hal yang menarik dan menggugah saya hari sabtu kemarin, yang saya rasa bisa saya jadikan modal untuk menjalani hari-hari saya berikutnya. Saya mendengarkan SmartFM dalam tajuk "Unstopable" berkisah tentang seorang pemuda, George W Danzig. Pada suatu ketika, george muda terlambat mengikuti kuliah, ketika dia baru datang ternyata kuliah Matematika pada kala itu baru saja bubar. Namun dia melihat dua buah soal matematika di papan tulis. Berpikir bahwa soal itu adalah PR untuk kuliah, maka ia mencatat, membawanya pulang dan mencoba mengerjakannya di rumah. Berbagai usaha dilakukannya termasuk mencoba hal-hal baru dalam memecahkannya, beberapa waktu berlalu, akhirnya George berhasil menyelesaikannya. Kemudian ia menemui profesornya, yang memberikan tugas itu, namun ia hanya disuruh untuk menumpuk tugas itu di meja kerjanya. Waktupun berlalu.

Suatu siang, George menerima telpon dari seseorang dengan suara yang sangat dikenalnya. Sang Profesor menelponnya dan menyatakan ingin bertemu dengannya. Maka bergegaslah George untuk menemui profesornya siang itu juga. Pada pertemuan itu, Profesornya menanyakan pada George bagaimana ia bisa menyelesaikan soal matematika yang pernah dia tulis di papan tulis beberapa waktu lalu. Dia menjelaskan bahwa ketika itu dia sedang menjelaskan kepada para mahasiswa bahwa dua soal itu adalah soal matematika yang sampai saat itu belum dapat terselesaikan bahkan oleh para profesor terkemuka sekalipun. Lalu George bertanya "Apakah saya juga seharusnya tidak bisa menyelesaikan soal itu?" Saat ini George W Danzig adalah seorang profesor Matematika terkemuka dari Stanford University, sampai sekarang ia masih dikenal oleh para mahasiswanya sebagai profesor yang pernah menyelesaikan persoalan matematika yang tersulit.

Mendengar kisah itu saya menjadi tercenung, bayangkan apabila George muda pada saat itu tidak terlambat mengikuti kuliah sehingga dia harus mendengar perkataan profesornya bahwa soal itu adalah soal sulit yang bahkan tidak bisa diselesaikan oleh seorang ahli matematika terkemuka. Terkadang kita sangat percaya pada perkataan orang lain yang mengurungkan niat kita untuk berkembang, apalagi perkataan yang menciutkan nyali dikatakan oleh seseorang yang memiliki pengaruh seperti profesor dalam kisah tersebut. Saya juga jadi teringat kisah katak yang yang menang perlombaan memanjat sebuah menara, katak lain tidak mampu selain karena kurang berusaha dengan gigih tapi juga karena dia mendengarkan seruan penonton yang mengatakan "Kamu tak akan mampu" berulang-ulang kali. setelah sampai puncak, barulah diketahui bahwa katak yang menang itu tuli, sehingga dia tidak dapat mendengar kata-kata negatif penonton.

Berpikir positif, mampu menembus dimensi yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Berpikir positif mampu menstimulasi kreatifitas dan kemampuan. Disamping menetralisir input negatif, berpikir positif membuat semangat dan motivasi senantiasa membara. Hari ini hari senin, mari mulai berpikir positif.

Saya suka hari Senin.

09
Apr

Where are you, guys?

Where are you, guys?

We were together, we were young, where are you, guys…?
Let unify, to make better future…
Wherever you are, I’m your always best friend…

(Picture of Memories, SMU 1 Semarang, 1997)

09
Apr

Saturday Night Blues

Saturday Night Blues

Copyright of someone, I dont know who has it, so I just put it here.

"What a pleasant evening would be, if only I were not here."

About half an hour ago I tried to call my brother. But I can’t reach him. I wonder where he is right now. I’m having an appointment with him tonight to spend our loneliness together. Jakarta is a wonderful and beautiful place if we can cleverly pick up the right place to hang on. But I have no idea where to go tonight. It is common for me to spend all holiday staying at home. I can do plenty of things at home, such as SLEEP (Number 1 most wanted), watching DVDs, Play PS, or just watching TV programs. However, I want to exclude it for tonight and hopefully for all of my weekends. I want to have a wonderful weekend. It would be different if my fiancee were here, we sometimes can do a lot of things together.

Tonight, I and My brother planned to go to Mall Kelapa Gading. I have made promise to him to take him to Sizzler. I just want to make him enjoy Jakarta during his stay here. Right now, he is having a temporary job in Jakarta until the end of June. He is doing some "software making project" in one of software maker company in Jakarta. I proud of him, He has big courage to leave Semarang and to go to Jakarta for temporary working. Although he had faced so many troubles before, I can see that he can relieve it and still smiling and enjoying his life. I wonder I have the courage like his. He has some inner power to enjoy life as if he had some "hakuna matata" philosophy.

Back to tonight Agenda, still no special agenda. Whenever I stuck in this kind situation I will soon think about other people’s agenda. What are my bosses doing tonight? what are my friends doing tonight? Are they having pleasant time tonight?

MAU TAUUUU AJA…

Written without properly working brain…. on hopeless saturday night, April 2005. hiks…

09
Apr

I Got 212!

Picture116_07apr05 Yesterday evening, I went to new bowling alley in the Mall across to my office. It had been 10 months since the last time I played, It was exciting to play it again. I went there together with my bosses, Mr. Doddi and Mr. Hirohashi, and my colleague, Ms. Metty. You know, we went there on a special purpose. We had to prepare ourself for a bowling competition next week. The competition itself will be held by HSBC and the prize is very inviting. Although we had not played for long time, we still had confidence to perform in this coming event. I think, Ms. Mety and Hirohashi’s bowling skill are enough to make us away from the bottom line. at least, we intent not to Toyota in front of other HSBC’s customer. When we got there, we found that there were another Toyota-men there, What a nice coincidence, we could play and had fun together.

Eventhough It was our initial training, the result was excellent. in the 3rd game I got 212 points, it was about 8 strike, 2 spare and 1 got 9. Amazing! I had not ever got those scores before. As far as I could remember, my highest score was 172. My teammates believed that if I managed to keep my consistency to play like that, we could win the competition. However, I didnot want to feel overconfidence, because I was afraid that it was only my luck. You know, First time exercising and breaking the records. No matter the results was,the most important thing, I got accustomized again with the bowling atmosphere and instinct. I got a key to play "madly" like that. I was sure that I had to control my arm to control the bowl towards the right pins. Besides, I must have harmonized my movement and controlled over my breath. I didnot have to rush hitting the target. As long as it hit perfect spot, the strike would be an easy aim to achieve.

Picture114_07apr05 Well, Amazing I guess. Today, I get congratulations from many friends. I dont know how the news can be spread so fast. I hope I dont become overconfidence and arrogant because of it. Or perhaps, it was a sign, I should play bowling more often.

So when can we play again?

08
Apr

Sekolah

Theincredibleswin190Hari ini saya mendapatkan kabar yang baik, kalau boleh saya katakan begitu, karena saya mendengar dari tunangan saya kalau keponakan saya, Ela, diterima di salah satu SD yang baik di Semarang. Berita itu cukup membanggakan juga karena calon-calon siswa SD (Oh iya SD yang dimaksud disini Sekolah Dasar/ Elementary School) harus di tes terlebih dahulu. Tes yang dilaksanakan meliputi Agama, Bahasa, Psikotest, Matematika, dan Pengetahuan Alam (If I’m not mistaken). Yang mengikuti tes pun bukan main banyaknya. ada sekitar 70an anak dimana yang diterima hanya sekitar 25 anak. Dalam hati saya, saya bingung harus merasa gimana ya? ada rasa bangga sama ponakan saya itu. Tapi disisi lain saya membayangkan betapa berat tantangan masa depannya. Tapi saya tetap memiliki harapan semoga dia bisa terbiasa dengan keras dan ketatnya kompetisi sehingga bisa lebih survive di masa depan.

Semalam juga saya mendengarkan Smart FM, ada essai dari Mohammad Sobari yang memberikan kesan mendalam di benak saya. temanya sama dengan berita yang disampaikan oleh tunangan saya, "pendidikan". Mohammad Sobari menceritakan tentang kehidupan di sebuah pesantren dimana di dalamnya terdapat santri yang sangat bandel sekali, saking bandelnya dia sampai menyusahkan banyak orang. Teman-teman dan gurunya berharap santri tersebut dikeluarkan saja karena sudah sangat menyusahkan dan merusak reputasi pesantren itu. Namun, sang kyai, si pimpinan pesantren, sama sekali tidak melakukannya. Ia bahkan mendekati santri itu dan mendidiknya dengan baik sehingga diceritakan bahwa di usia dewasanya, santri tersebut menjadi Ulama besar. Mohammad Sobari membanding pola pikir sang kyai dengan metode dan pola pikir pendidikan kita pada umumnya. dimana pendidikan umum kita lebih berpihak pada anak-anak yang dalam kerangka"standar". Pintar, baik, bisa diatur, dan sopan. Hampir tidak ada tempat untuk anak nakal seperti santri yang diceritakan dalam essai tersebut. Pendidikan kita butuh input yang matang untuk menghasilkan output yang matang. Mungkin apabila sang kyai memiliki pemikiran jangka pendek, masyarakat akan kehilangan seorang ulama besar. Pendidikan kita seolah-olah kehilangan tajinya untuk mendidik. Mendidik pribadi yang "nol" menjadi pribadi yang berisi.

Saat ini, Banyak Sekolah sudah bukan merupakan sebuah lembaga pendidikan karena banyak sekolah tidak lagi memusatkan kepada pembenahan akidah, peningkatan kualitas moral, pendidikan sopan santun, pengenalan norma, dan adab bermasyarakat. Saat ini, banyak sekolah hanya merupakan sebuah lembaga sekolah, yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu fana, yang jauh akan pengakuan terhadap kuasa Yang Maha Kuasa. Ilmu-ilmu hanya berdasar logika indrawi, jauh dari logika berpikir utuh antara yang Haq dan yang Bathil. Mungkin itulah yang bisa kita peroleh saat ini. Dimana kondisi kita sangat terpuruk tak berdaya. Kita memiliki banyak cendekiawan dan ilmuwan tapi kita tidak punya hati untuk membedakan yang Haq dan yang Bathil, yang Halal dan yang Haram, yang Boleh dan yang Tidak, serta yang Ma’ruf dan yang Munkar.

Picture017_08jan05_1 Saya kembali berpikir, Keponakan saya telah berhasil melewati satu pintu menuju masa depannya, saya memilik harapan semoga pintu-pintu yang akan dilewatinya tidak hanya akan mengajarinya tentang kata-kata dan angka-angka, semoga pendidikan yang akan ditempuhnya merupakan proses metamorfosis dia dari seorang anak yang "nol" menjadi anak yang berisi dalam akidahnya, tingkah lakunya dan pola pikirnya kelak. Selamat bersekolah, Ela.

06
Apr

Main Basket

Picture111_06apr05_1Badan saya pegal sekali sekarang. Setelah lama vacum main basket, sore ini kami memulai permainan ini lagi. walau cara latihan kami bukanlah latihan profesional, tapi lumayanlah untuk mnghabiskan kalori dan menyegarkan tubuh. Sehat itu bukan hanya tidak sakit bukan? tapi juga bagaimana agar kita senantiasa merasa segar dan fit. pegel itu fit kah?

Kami tadi main basket hanya bertujuh. cuma main satu ring saja, three on four jadinya.Menurut saya hal ini adalah awal yang lumayan untuk menggiatkan lagi kegiatan di divisi saya. Di divisi saya ini ada kebiasaan yang unik. Orang-orangnya mau aktif kalau ada yang bergerak, dan kalau kita bergerak terlalu lama/konstan, jadi pada cepat bosan. Tapi yang salut dari rekan-rekan saya ini adalah mereka mau aktif, mau berbasah2 keringat walaupun untuk ukuran usia mungkin terpaut beberapa level di atas saya. salut deh buat Bapak-bapak yang masih bugar. makanya saya suka menjadikan mereka cermin. Harus tetap semangat dan sehat, jangan lupa fun.

Kalau badan sudah pegal begini, paling enak pulang dan tidur. Tapi seperti hari-hari sebelumnya, masih banyak PR nih. Sampai besok…

05
Apr

Senyum Untukmu

Senyum Untukmu

Tahukah kamu bahwa senyum itu menular? Menerimanya seperti terjangkit flu.

Hari ini seseorang tersenyum padaku, dan aku balas tersenyum juga.

Di pojok ruangan seseorang melihatku tersenyum dan ia mulai tersenyum pula.

Aku jadi sadar bahwa senyum dapat ditularkan.

Lalu aku memikirkan dan mengukur senyumku. Senyum yang unik, seperti senyumku,
dapat menyebar ke seluruh dunia.

Jadi, kalau kamu merasa ingin tersenyum, janganlah berusaha menghentikannya.

Marilah kita mulai menyebarkan wabah senyum sekarang juga, hingga mempengaruhi seluruh dunia!

Tetaplah tersenyum. Lagi pula, bukankah setiap orang membutuhkan senyum?!!! ===========================================

Copyright of unknown person.

Taken without permission.

"Smile… smile… smile on the way.

Share… share… share the moment you and I"

05
Apr

Putus Asa dengan Indonesia ? Please don’t

Kemarin saya menerima email yang di forward oleh kawan saya dalam sebuah milis. Isinya tentang keputus-asaan dengan keadaan Indonesia. Essay yang ditulis oleh Ahmad Syafii Maarif itu benar - benar menyentuh hati saya. Saya sangat mencintai Negara dan Bangsa ini, membaca essay itu membuat saya terenyuh. Terenyuh karena saya harus mengasihani diri saya sendiri. Perasaan putus asa mungkin sesekali hinggap juga di hati juga tapi apakah keputusasaan itu akan membawa bangsa kita bangkit?

Memang suka tidak suka apa yang terjadi di negara ini sudah di luar akal sehat kita. Semua mementingkan kepentingan perutnya masing-masing, semua mementingkan hal-hal yang sebenarnya tidak esensial, bahkan orang yang tugasnya melayani, sekarang minta dilayani, rasanya sulit kita menyebut abdi negara pada orang-orang plat merah yang menjadikan posisi dan jabatannya sebagai bisnis. Rasanya sulit rasanya untuk melaksanakan kewajiban membayar pajak padahal kita tahu bahwa sebagian dari pajak yang kita bayar hanya akan menggendutkan perut orang-orang direktorat pajak. Rasanya sulit mengandalkan keamanan kepada polisi dimana penjahat yang sebenarnya adalah polisi juga. Jadi mau apa?

Bersatu, berpikir jernih, mendengarkan hati nurani dan membumikan agama. Saya yakin nilai universal dan hati nurani bekerja dan bermakna lebih dahsyat dari nilai-nilai keserakahan, kemarukan, korupsi, culas, iri dengki dan semua saudaranya. Positiflah, jalani dengan hati bersih dan berdoa. Mudah-mudahan bukan hanya saya saja yang mencoba untuk tidak putus asa.

"… Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk INDONESIA RAYA…" - INDONESIA RAYA - National Anthem of Indonesia by WR Supratman

Picture095_10mar05 *** Hati nurani kita semakin lama semakin kasar dan bahkan tumpul, sementara para politisi asyik membual dengan retorika vulgar dan dangkal, jarang mewakili nurani rakyat yang paling dalam, demo pun juga dianggap ada yang menunggangi, padahal keadilan yang dinanti tak kunjung datang. Karena lemahnya pengawasan aparat kita, nelayan-nelayan asing berkongsi dengan anak negeri, lalu lalang mencuri ikan di perairan kita, sebagian aparat malah bekerja sama dengan para pencuri itu.
TKI/TKW sudah terlalu biasa diperlakukan sebagai setengah manusia, saat pertama kaki mereka menginjak bumi pertiwi yang dijumpai pertama adalah pungli dan pemerasan. Padahal mereka itu adalah sumber devisa untuk negara dalam jumlah ratusan miliar rupiah. Rumah sakit semakin komersial, para dokter semakin sangat materialistik, tak jarang yang malah salah praktik. Otonomi Daerah mengubah masalah baru dengan munculnya raja-raja lokal yang pendek akal, yang menutup daerahnya terhadap daerah lain. Demi otonomi proses kepindahan guru dari satu daerah ke daerah lain, sungguh sulit. Nasionalisme etnis/lokal adalah bahaya masa depan bagi keutuhan negeri ini. Saya putus asa dengan Indonesia, sekiranya agama mengizinkan, saya sudah putus asa. Tetapi agama melarangnya. Akhirnya, marilah berpikir jernih, tidak putus asa, tetapi tetap kritis, serta mau mendengarkan pendapat, termasuk pendapat para
seniman/sastrawan asal bukan yang seniman/sastrawan partisan.

*** Usai menghadiri rapat Akademi Jakarta (AJ) pada 24 Maret 2005 di Taman Ismail Marzuki (TIM), saya berbicara santai tentang berbagai masalah bangsa dan negara dengan Bung Rendra, Ajip Rosidi, dan Nh Dini.

Sewaktu pertanyaan tentang Indonesia saya ajukan kepada Nh Dini, jawabannya telak, ”Saya putus asa dengan Indonesia.”

Ungkapan pendek ini saya rasakan sangat tajam, menukik, dan barangkali cukup banyak rakyat kita yang sependapat dengan novelis ini. Saya sendiri pada berbagai forum pernah pula mengatakan, ”Sekiranya agama mengizinkan, saya sudah putus asa. Tetapi agama melarangnya, oleh sebab itu berbuatlah semaksimal mungkin untuk perbaikan, sesuai dengan kemampuan dan posisi kita masing-masing.”

Kemudian lontaran Nh Dini ini saya SMS-kan kepada beberapa teman. Reaksi mereka beragam, sesuai dengan pandangan masing-masing. Ada yang memberi jawaban pendek, ”Astaghfirullah!”, tetapi ada pula dengan nada empati, seperti yang di-SMS-kan oleh Bung Rizal Ramli, ”Pak Maarif, pendapat yang demikian semakin meluas. Mari kita berbuat sesuatu agar keputusasaan tidak menghantui kita.”

Saya rasa seorang seniman atau sastrawan di manapun di muka bumi ini tidak jarang mewakili nurani rakyat yang paling dalam, karena keadilan yang dinanti tak kunjung datang, sementara para politisi asyik membual dengan retorika vulgar dan dangkal.

Masalahnya, di negeri kita adalah bahwa sedikit sekali di antara kaum elite kita yang mau bergaul dengan seniman/sastrawan, padahal siapa tahu suara mereka memang mewakili realitas yang sebenarnya.

Kalau demo dianggap ada yang menunggangi, maka ekspresi seorang sastrawan adalah ekspresi hati nurani yang tidak dapat ditunggangi, kecuali sastrawan partisan.

Sebelum rapat, kami juga mendengar cerita sedih dari Misbach Yusa Biran tentang pengalamannya dengan sebuah rumah sakit di Jakarta yang minta uang muka Rp 11 juta, dan kemudian dokter yang salah praktik, sebagaimana sering kita dengar pula di berbagai tempat. Pasien umumnya tidak berdaya, sementara sebagian dokter sudah sangat materialistik.

Persoalannya tetap saja, yaitu bahwa hati nurani kita semakin lama semakin kasar dan bahkan tumpul. Itu belum lagi berbicara tentang tragedi demi tragedi yang diderita oleh TKI/TKW kita di luar negeri, sudah terlalu biasa diperlakukan sebagai setengah manusia, hampir tanpa perlindungan, padahal mereka adalah juga sebagai sumber devisa untuk negara dalam jumlah ratusan miliar rupiah.

Rendra sudah terlalu sering mengingatkan tentang Indonesia sebagai sebuah negara maritim, tetapi kekuatan pengawal perairan lautnya rapuh sekali. Maka, sudah seharusnya dalam kurikulum pendidikan masalah maritim ini dimasukkan.
Bukankah Indonesia dengan jumlah pulau sekitar 17.565 adalah sebuah negara kepulauan yang terpanjang dan terluas di dunia ?.
Di samping panjang dan luas, juga mungkin terindah. Tetapi mengapa, perhatian kita terhadap laut selama ini sangat lemah ?.
Maka, jangan heran nelayan-nelayan asing sudah puluhan tahun lalu lalang di perairan kita untuk mencuri ikan, dan tidak jarang pula berkongsi dengan anak negeri, karena lemahnya pengawasan aparat kita. Bahkan, bukan rahasia lagi sebagian aparat malah bekerja sama dengan para pencuri itu.

Tampaknya Indonesia kita ini adalah sebuah bangsa yang ruwet, terlalu banyak bisulnya.
Tetapi, kita boleh bangga bahwa selama hampir 60 tahun kita merdeka, negeri ini relatif masih utuh.
Hanya pertanyaannya adalah: untuk berapa lama bisa bertahan.

Seorang teman yang sangat mengerti masalah pengurusan listrik di nusantara yang serba memusat hingga hari ini, sampai-sampai mengatakan bahwa Indonesia ini memang terlalu besar untuk menjadi sebuah negara.

Pendapat ini tidak ada hubungannya dengan kecenderungan untuk membagi-bagi bangsa ini, tetapi semata-mata karena keprihatinan dalam mengamati masalah kita yang serba kusut, tidak mudah diurai, kecuali kita mau merancang ulang negeri ini, sebab siapa tahu dengan cara itu kita akan dapat keluar dari suasana yang serba buntu ini. Proses merancang ulang ini adalah pekerjaan raksasa yang harus dipikirkan matang-matang.

Ide tentang otonomi daerah sebenarnya adalah salah satu cara untuk mengubah kebijakan yang serba memusat itu.

Tetapi setelah dijalankan, muncul pula masalah baru berupa raja-raja lokal yang pendek akal yang menutup daerahnya terhadap daerah lain.

Untuk proses kepindahan guru dari satu daerah ke daerah lain, misalnya, sungguh sulit, demi otonomi.

Jika arus ini tetap berlangsung, maka sudah dapat dipastikan bahwa kesenjangan kualitas pendidikan kita akan semakin parah.

Nasionalisme etnis/lokal adalah bahaya masa depan bagi keutuhan negeri ini.

Akhirnya, marilah berpikir jernih, tidak putus asa, tetapi tetap kritis, serta mau mendengarkan pendapat seniman/sastrawan kita.

PUTUS ASA DENGAN INDONESIA ?. Ahmad Syafii Maarif. Republika, Selasa, 05 April 2005. ***

05
Apr

What is so special today?

Sore ini saya sedang memikirkan apa yang istimewa hari ini ya? Pagi saya bangun dengan suasana biasa, mandi, siap berangkat kerja dan berangkat. Melalui jalan yang sama, polisi cepek yang sama, mengeluarkan recehan yang sama, kena macet di jalan yang sama, bayar Tol dengan tarif yang sama (maksudnya apa neh?) dan sampai di kantor juga sama… telat!.

Picture110_06apr05 Mungkin salah satu yang istimewa hari ini adalah saya memakai Kijang Hijau saya. Sudah 3 minggu terakhir saya selalu menggunakan si Hitam. kalau ibaratnya sahabat, Kijang Hijau saya ini adalah sahabat sejati. Sejak pertama kali muncul di hadapan saya, dia sudah melanglang bersama saya mengikuti denyut aktivitas saya. Dia ada saat kuliah, saat KKN, saat apel, saat piknik keluarga, saat harus keliling cari-cari dana untuk organisasi, saat cari-cari alamat di Jakarta, saat ditilang polisi, saat kesrempet motor dan lainnya. Saya yakin kalau dia bisa berbicara, dia akan mengatakan betapa lelahnya dia. Kijang hijau itu juga termasuk milik saya yang tahan banting. Sempat beberapa kali bermasalah memang, ada kejadian Ban lepas di permata hijau, di serempet mobil Angkatan Udara sampai terjebak di lumpur di gunung putri. pokoknya banyak kesan saya terhadap mobil itu. Mungkin itukah yang spesial hari ini? Hujan masih deras mengguyur Jakarta, saya lihat dari atas sini, Kijang hijau saya kehujanan. kasihan. Tunggu saya ya, saya pulang agak malam hari ini.

04
Apr

7 Kalimat Allah

" Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih laut "

1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap Astaghfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap Insya-Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap "La haula wala kuwwata illa billah" jika menghadapi sesuatu yang tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap "inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" jika menghadapi dan menerima musibah.
7. Mengucap "La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah" sepanjang siang dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.

Dari tafsir hanafi.

Mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat. Mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu. Mudah-mudahan jadi boleh, karena sudah biasa.