05
Apr
05

Putus Asa dengan Indonesia ? Please don’t

Kemarin saya menerima email yang di forward oleh kawan saya dalam sebuah milis. Isinya tentang keputus-asaan dengan keadaan Indonesia. Essay yang ditulis oleh Ahmad Syafii Maarif itu benar - benar menyentuh hati saya. Saya sangat mencintai Negara dan Bangsa ini, membaca essay itu membuat saya terenyuh. Terenyuh karena saya harus mengasihani diri saya sendiri. Perasaan putus asa mungkin sesekali hinggap juga di hati juga tapi apakah keputusasaan itu akan membawa bangsa kita bangkit?

Memang suka tidak suka apa yang terjadi di negara ini sudah di luar akal sehat kita. Semua mementingkan kepentingan perutnya masing-masing, semua mementingkan hal-hal yang sebenarnya tidak esensial, bahkan orang yang tugasnya melayani, sekarang minta dilayani, rasanya sulit kita menyebut abdi negara pada orang-orang plat merah yang menjadikan posisi dan jabatannya sebagai bisnis. Rasanya sulit rasanya untuk melaksanakan kewajiban membayar pajak padahal kita tahu bahwa sebagian dari pajak yang kita bayar hanya akan menggendutkan perut orang-orang direktorat pajak. Rasanya sulit mengandalkan keamanan kepada polisi dimana penjahat yang sebenarnya adalah polisi juga. Jadi mau apa?

Bersatu, berpikir jernih, mendengarkan hati nurani dan membumikan agama. Saya yakin nilai universal dan hati nurani bekerja dan bermakna lebih dahsyat dari nilai-nilai keserakahan, kemarukan, korupsi, culas, iri dengki dan semua saudaranya. Positiflah, jalani dengan hati bersih dan berdoa. Mudah-mudahan bukan hanya saya saja yang mencoba untuk tidak putus asa.

"… Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk INDONESIA RAYA…" - INDONESIA RAYA - National Anthem of Indonesia by WR Supratman

Picture095_10mar05 *** Hati nurani kita semakin lama semakin kasar dan bahkan tumpul, sementara para politisi asyik membual dengan retorika vulgar dan dangkal, jarang mewakili nurani rakyat yang paling dalam, demo pun juga dianggap ada yang menunggangi, padahal keadilan yang dinanti tak kunjung datang. Karena lemahnya pengawasan aparat kita, nelayan-nelayan asing berkongsi dengan anak negeri, lalu lalang mencuri ikan di perairan kita, sebagian aparat malah bekerja sama dengan para pencuri itu.
TKI/TKW sudah terlalu biasa diperlakukan sebagai setengah manusia, saat pertama kaki mereka menginjak bumi pertiwi yang dijumpai pertama adalah pungli dan pemerasan. Padahal mereka itu adalah sumber devisa untuk negara dalam jumlah ratusan miliar rupiah. Rumah sakit semakin komersial, para dokter semakin sangat materialistik, tak jarang yang malah salah praktik. Otonomi Daerah mengubah masalah baru dengan munculnya raja-raja lokal yang pendek akal, yang menutup daerahnya terhadap daerah lain. Demi otonomi proses kepindahan guru dari satu daerah ke daerah lain, sungguh sulit. Nasionalisme etnis/lokal adalah bahaya masa depan bagi keutuhan negeri ini. Saya putus asa dengan Indonesia, sekiranya agama mengizinkan, saya sudah putus asa. Tetapi agama melarangnya. Akhirnya, marilah berpikir jernih, tidak putus asa, tetapi tetap kritis, serta mau mendengarkan pendapat, termasuk pendapat para
seniman/sastrawan asal bukan yang seniman/sastrawan partisan.

*** Usai menghadiri rapat Akademi Jakarta (AJ) pada 24 Maret 2005 di Taman Ismail Marzuki (TIM), saya berbicara santai tentang berbagai masalah bangsa dan negara dengan Bung Rendra, Ajip Rosidi, dan Nh Dini.

Sewaktu pertanyaan tentang Indonesia saya ajukan kepada Nh Dini, jawabannya telak, ”Saya putus asa dengan Indonesia.”

Ungkapan pendek ini saya rasakan sangat tajam, menukik, dan barangkali cukup banyak rakyat kita yang sependapat dengan novelis ini. Saya sendiri pada berbagai forum pernah pula mengatakan, ”Sekiranya agama mengizinkan, saya sudah putus asa. Tetapi agama melarangnya, oleh sebab itu berbuatlah semaksimal mungkin untuk perbaikan, sesuai dengan kemampuan dan posisi kita masing-masing.”

Kemudian lontaran Nh Dini ini saya SMS-kan kepada beberapa teman. Reaksi mereka beragam, sesuai dengan pandangan masing-masing. Ada yang memberi jawaban pendek, ”Astaghfirullah!”, tetapi ada pula dengan nada empati, seperti yang di-SMS-kan oleh Bung Rizal Ramli, ”Pak Maarif, pendapat yang demikian semakin meluas. Mari kita berbuat sesuatu agar keputusasaan tidak menghantui kita.”

Saya rasa seorang seniman atau sastrawan di manapun di muka bumi ini tidak jarang mewakili nurani rakyat yang paling dalam, karena keadilan yang dinanti tak kunjung datang, sementara para politisi asyik membual dengan retorika vulgar dan dangkal.

Masalahnya, di negeri kita adalah bahwa sedikit sekali di antara kaum elite kita yang mau bergaul dengan seniman/sastrawan, padahal siapa tahu suara mereka memang mewakili realitas yang sebenarnya.

Kalau demo dianggap ada yang menunggangi, maka ekspresi seorang sastrawan adalah ekspresi hati nurani yang tidak dapat ditunggangi, kecuali sastrawan partisan.

Sebelum rapat, kami juga mendengar cerita sedih dari Misbach Yusa Biran tentang pengalamannya dengan sebuah rumah sakit di Jakarta yang minta uang muka Rp 11 juta, dan kemudian dokter yang salah praktik, sebagaimana sering kita dengar pula di berbagai tempat. Pasien umumnya tidak berdaya, sementara sebagian dokter sudah sangat materialistik.

Persoalannya tetap saja, yaitu bahwa hati nurani kita semakin lama semakin kasar dan bahkan tumpul. Itu belum lagi berbicara tentang tragedi demi tragedi yang diderita oleh TKI/TKW kita di luar negeri, sudah terlalu biasa diperlakukan sebagai setengah manusia, hampir tanpa perlindungan, padahal mereka adalah juga sebagai sumber devisa untuk negara dalam jumlah ratusan miliar rupiah.

Rendra sudah terlalu sering mengingatkan tentang Indonesia sebagai sebuah negara maritim, tetapi kekuatan pengawal perairan lautnya rapuh sekali. Maka, sudah seharusnya dalam kurikulum pendidikan masalah maritim ini dimasukkan.
Bukankah Indonesia dengan jumlah pulau sekitar 17.565 adalah sebuah negara kepulauan yang terpanjang dan terluas di dunia ?.
Di samping panjang dan luas, juga mungkin terindah. Tetapi mengapa, perhatian kita terhadap laut selama ini sangat lemah ?.
Maka, jangan heran nelayan-nelayan asing sudah puluhan tahun lalu lalang di perairan kita untuk mencuri ikan, dan tidak jarang pula berkongsi dengan anak negeri, karena lemahnya pengawasan aparat kita. Bahkan, bukan rahasia lagi sebagian aparat malah bekerja sama dengan para pencuri itu.

Tampaknya Indonesia kita ini adalah sebuah bangsa yang ruwet, terlalu banyak bisulnya.
Tetapi, kita boleh bangga bahwa selama hampir 60 tahun kita merdeka, negeri ini relatif masih utuh.
Hanya pertanyaannya adalah: untuk berapa lama bisa bertahan.

Seorang teman yang sangat mengerti masalah pengurusan listrik di nusantara yang serba memusat hingga hari ini, sampai-sampai mengatakan bahwa Indonesia ini memang terlalu besar untuk menjadi sebuah negara.

Pendapat ini tidak ada hubungannya dengan kecenderungan untuk membagi-bagi bangsa ini, tetapi semata-mata karena keprihatinan dalam mengamati masalah kita yang serba kusut, tidak mudah diurai, kecuali kita mau merancang ulang negeri ini, sebab siapa tahu dengan cara itu kita akan dapat keluar dari suasana yang serba buntu ini. Proses merancang ulang ini adalah pekerjaan raksasa yang harus dipikirkan matang-matang.

Ide tentang otonomi daerah sebenarnya adalah salah satu cara untuk mengubah kebijakan yang serba memusat itu.

Tetapi setelah dijalankan, muncul pula masalah baru berupa raja-raja lokal yang pendek akal yang menutup daerahnya terhadap daerah lain.

Untuk proses kepindahan guru dari satu daerah ke daerah lain, misalnya, sungguh sulit, demi otonomi.

Jika arus ini tetap berlangsung, maka sudah dapat dipastikan bahwa kesenjangan kualitas pendidikan kita akan semakin parah.

Nasionalisme etnis/lokal adalah bahaya masa depan bagi keutuhan negeri ini.

Akhirnya, marilah berpikir jernih, tidak putus asa, tetapi tetap kritis, serta mau mendengarkan pendapat seniman/sastrawan kita.

PUTUS ASA DENGAN INDONESIA ?. Ahmad Syafii Maarif. Republika, Selasa, 05 April 2005. ***




0 Responses to “Putus Asa dengan Indonesia ? Please don’t”


  1. No Comments

Leave a Reply

You must login to post a comment.