Hari ini saya mendapatkan kabar yang baik, kalau boleh saya katakan begitu, karena saya mendengar dari tunangan saya kalau keponakan saya, Ela, diterima di salah satu SD yang baik di Semarang. Berita itu cukup membanggakan juga karena calon-calon siswa SD (Oh iya SD yang dimaksud disini Sekolah Dasar/ Elementary School) harus di tes terlebih dahulu. Tes yang dilaksanakan meliputi Agama, Bahasa, Psikotest, Matematika, dan Pengetahuan Alam (If I’m not mistaken). Yang mengikuti tes pun bukan main banyaknya. ada sekitar 70an anak dimana yang diterima hanya sekitar 25 anak. Dalam hati saya, saya bingung harus merasa gimana ya? ada rasa bangga sama ponakan saya itu. Tapi disisi lain saya membayangkan betapa berat tantangan masa depannya. Tapi saya tetap memiliki harapan semoga dia bisa terbiasa dengan keras dan ketatnya kompetisi sehingga bisa lebih survive di masa depan.
Semalam juga saya mendengarkan Smart FM, ada essai dari Mohammad Sobari yang memberikan kesan mendalam di benak saya. temanya sama dengan berita yang disampaikan oleh tunangan saya, "pendidikan". Mohammad Sobari menceritakan tentang kehidupan di sebuah pesantren dimana di dalamnya terdapat santri yang sangat bandel sekali, saking bandelnya dia sampai menyusahkan banyak orang. Teman-teman dan gurunya berharap santri tersebut dikeluarkan saja karena sudah sangat menyusahkan dan merusak reputasi pesantren itu. Namun, sang kyai, si pimpinan pesantren, sama sekali tidak melakukannya. Ia bahkan mendekati santri itu dan mendidiknya dengan baik sehingga diceritakan bahwa di usia dewasanya, santri tersebut menjadi Ulama besar. Mohammad Sobari membanding pola pikir sang kyai dengan metode dan pola pikir pendidikan kita pada umumnya. dimana pendidikan umum kita lebih berpihak pada anak-anak yang dalam kerangka"standar". Pintar, baik, bisa diatur, dan sopan. Hampir tidak ada tempat untuk anak nakal seperti santri yang diceritakan dalam essai tersebut. Pendidikan kita butuh input yang matang untuk menghasilkan output yang matang. Mungkin apabila sang kyai memiliki pemikiran jangka pendek, masyarakat akan kehilangan seorang ulama besar. Pendidikan kita seolah-olah kehilangan tajinya untuk mendidik. Mendidik pribadi yang "nol" menjadi pribadi yang berisi.
Saat ini, Banyak Sekolah sudah bukan merupakan sebuah lembaga pendidikan karena banyak sekolah tidak lagi memusatkan kepada pembenahan akidah, peningkatan kualitas moral, pendidikan sopan santun, pengenalan norma, dan adab bermasyarakat. Saat ini, banyak sekolah hanya merupakan sebuah lembaga sekolah, yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu fana, yang jauh akan pengakuan terhadap kuasa Yang Maha Kuasa. Ilmu-ilmu hanya berdasar logika indrawi, jauh dari logika berpikir utuh antara yang Haq dan yang Bathil. Mungkin itulah yang bisa kita peroleh saat ini. Dimana kondisi kita sangat terpuruk tak berdaya. Kita memiliki banyak cendekiawan dan ilmuwan tapi kita tidak punya hati untuk membedakan yang Haq dan yang Bathil, yang Halal dan yang Haram, yang Boleh dan yang Tidak, serta yang Ma’ruf dan yang Munkar.
Saya kembali berpikir, Keponakan saya telah berhasil melewati satu pintu menuju masa depannya, saya memilik harapan semoga pintu-pintu yang akan dilewatinya tidak hanya akan mengajarinya tentang kata-kata dan angka-angka, semoga pendidikan yang akan ditempuhnya merupakan proses metamorfosis dia dari seorang anak yang "nol" menjadi anak yang berisi dalam akidahnya, tingkah lakunya dan pola pikirnya kelak. Selamat bersekolah, Ela.
0 Responses to “Sekolah”
Leave a Reply
You must login to post a comment.