Kemarin, libur kenaikan Isa Al Masih, saya habiskan dengan bersantai dirumah, tidur-tiduran, main PS (not totally) dan nonton DVD. Saya menghabiskan 2 film kemarin yaitu Totoro (this is the 4th times I watch the movie) dan Magnolia. Sebenarnya Magnolia bukan DVD yang baru saya beli (Rp. 8000,- you know what it means) karena sebelumnya saya kira DVD ini spoiled. Tetapi ketika saya ganti mesinnya eh ternyata DVD ini baik2 saja. Tetapi baru kemarin saya berhasil menghabiskan satu DVD full tanpa ter interrupt - tidur hehehe.
Magnolia, berkisah tentang kehidupan sekelompok orang yang saling berhubungan. Scene-nya mirip-mirip dengan film semacam 21 grams, Traffic, dan Love Actually. Memang rada berat sih isinya tapi saya mengacungkan empat jempol untuk film ini, termasuk jempol kaki. Tidak salah sebagai film yang masuk nominasi Golden Globe 1999, film ini memang berbobot dan cerdas. Ada sisi kehidupan seorang pembawa acara kuis yang terkenal, seorang anak jenius yang putus asa, seorang motivator Sex (Acted by Tom Cruise), seorang yang sekarat yang juga ayah dari si motivator sex, istri mudanya yang menyesal tidak pernah mencintai sang suami yang sekarat (Julianne Moore), seorang polisi yang berdedikasi dan taat, seorang mantan quizz kid yang ceroboh dan baru saja dipecat dari pekerjaannya karena kurang produktif (William H Macy). Yang jelas film ini kaya. Kaya makna, kaya jiwa dan banyak hal yang bisa direnungkan dari cerita yang teratur walau melompat-lompat dari satu scene ke scene lain. Yang cerdas, walaupun menceriterakan kehidupan beberapa orang yang berbeda tapi bisa diketahui semuanya terjadi dalam satu waktu dan semua orang yang diceritakan dalam film itu sesungguhnya interconnected satu sama lain. Sehingga ketika menontonnya saya Cuma bisa bilang : Jenius.
Yang menjadi tontonan menarik dari film ini adalah tentang kenyataan bahwa sesuatu yang "kebetulan" kerap terjadi dalam hidup kita. Seperti dikisahkan dalam film ini, Frank TJ Mackey (Cruise) kebetulan sedang kesal dengan seorang wartawan yang memojokkannya tentang kisah hidupnya. Dia sangat membenci ayahnya, partridge, yang dulu meninggalkan ibunya yang sedang menderita kanker. Hanya dia yang dahulu menemani ibunya yang sekarat. Maka ketika mackey diwawancarai, dia mengakui ayahnya telah meninggal. Namun sang wartawati tahu kisah yang sebenarnya. Disisi lain, pada saat yang bersamaan, ayahnya tidur terkulai sekarat menyesali perbuatannya yang lalu kepada seorang perawatnya. Dia menyatakan ingin bertemu anaknya dan meminta maaf. Scene yang mengharukan terjadi kala mackey akhirnya bersedia untuk bertemu dengan ayah yang dulu dibencinya. Betul - betul film yang luar biasa, tidak salah kalau saya lihat banyak sekali list penghargaan yang diperoleh film ini di belakang sampulnya.
Namun ada scene yang menjadi tanda tanya saya sampai akhir cerita, yang bahkan ketika saya tanya adik saya, dia pun tidak mengerti. Ada sebuah scene di akhir cerita, terjadi hujan kodok! Aneh bin ajaib. Selain cerita yang aneh, saya mikir juga nyari kodok dimana ya sebanyak itu? Kebayang juga deh andaikata hujan kodok itu terjadi di Jakarta…. Hiiii….
Overall, the movie is absolutely tremendous!
Recent Comments