Saya teringat teori Maslow mengenai kepuasan, bahwa sesungguhnya terdapat lima tingkat kepuasan yang dicari oleh setiap manusia. Yang pertama adalah kebutuhan fisik (Physical Safety and security), kemudian Kebutuhan sosial (Social Safety and Security), selanjutnya kebutuhan afeksi (Love and Response), kebutuhan pengakuan diri (Self Respect and Acceptance) dan kebutuhan aktualisasi diri . Saya sedang merenungkan kebutuhan diri saya sendiri, sampai dimana kebutuhan itu terpenuhi? Sampai tingkatan manakah diri saya. Dalam teori Maslow disebutkan bahwa apabila manusia telah mencapai kebutuhannya pada tingkat tertentu maka akan timbul keinginannya untuk memenuhi kebutuhannya yang lebih tinggi. Seorang manusia tidak akan pernah memikirkan kebutuhan akan rasa aman apabila kebutuhan dasar dia seperti makan dan minum belum terpenuhi. Maka jangan heran apabila kita sering menemukan orang-orang nekat yang menggadaikan keselamatan hidupnya untuk mencari sesuap nasi dengan mencuri atau menjambret misalnya. Dia akan menggadaikan keselamatan hidupnya yang apabila tertangkap massa, ia beresiko untuk digebuki, disiksa, bahkan dibunuh.
Bagaimana dengan saya? Sudah cukupkah kebutuhan saya? Mungkin saya termasuk orang yang berutung di dunia ini, saya pernah mendapatkan email tentang analogi bila penduduk dunia merupakan sebuah desa dengan penduduk 100 orang. Setelah saya baca, saya masih termasuk lima orang yang beruntung dalam desa tersebut. Berarti masih banyak yang kurang beruntung di sisi lain dunia ini. Kondisi saya masih lebih beruntung dibandingkan saudara-daudara saya di Irak, Palestina, Kosovo, mungkin Aceh. Disini saya masih punya keyakinan yang berlebih (walau seharusnya tidak boleh) bahwa besok pagi saya masih bisa datang ke kantor baca email, nulis blog dan tetap mendapatkan gaji bulan depan. Padahal mungkin di tempat lain ada seorang yang sebelum tidurpun, dalam ketakutan dia bergumam mungkinkah masih bisa melihat mentari esok hari? Karena dia tidak tahu apakah tidak ada hujan bom, atau penggeledahan oleh tentara malam itu.
Jadi apabila direnungkan betapa beruntungnya saya dianugerahkan hidup seperti yang saya jalani sekarang ini. Dan mungkin juga teman-teman yang sempat mampir ke blog ini.
Namun kalau saat ini saya menginginkan lebih dari apa yang telah saya miliki saat ini, apakah saya sesuai dengan teori kebutuhan manusia atau saya tidak bersyukur? Saya sangat takut menjadi orang yang tidak bersyukur karena saya tahu akibat yang bisa ditimbulkan oleh orang yang tidak bersyukur. Terus terang banyak pengalaman masa lalu yang membuat saya menghindarkan perasaan kufur. Saat ini saya membutuhkan lebih dari sekedar salary, allowance, dan segala security yang sudah saya peroleh. Now, I need self recognition.
Saya masih harus merenungkan lebih jauh, apakah keinginan untuk memperoleh recognition menutupi rasa syukur saya terhadap apa yang saya peroleh sampai saat ini?
"Strive for excellence" - a values of PT. Astra International, Tbk
Recent Comments