Archive for May 22nd, 2005

22
May

Indonesia Tidak Butuh Miss Universe!

Hari minggu kemarin, saya pulang ke Semarang. Seperti biasa kalau di rumah, saya banyak menikmati waktu untuk menonton televisi. Begitu juga kemarin. Saya baru nyadar begitu banyak infotainment yang bercokol di televisi sekarang ini. Saya tidak mengerti apa yang dicari oleh para penyelenggara infotainment tersebut. Saya yakin tujuannya hanya duit, duit, duit. Tidak ada unsur pendidikan sama sekali dalam tayangan seperti itu. Kalau boleh jujur, tayangan semacam itu hanya akan memenuhi hasrat keadilan bagi orang-orang yang iri. “Lihatlah mereka, kaya, cantik, terkenal tapi kok cerai, tapi kok selingkuh, tapi kok… dll”. Atau tayangan semacam itu hanya akan menambah bahan bagi penontonnya untuk bergunjing ria dengan teman-temannya. “Eh kamu tau nggak, kemaren tuh masak Rhoma Irama… jenggotan”. Muak bener saya liat tontonan begitu. Lebih muak lagi saya ketika salah satu acara infotainment menayangkan kontroversi tentang keikutsertaan Artika Sari Devi ke ajang Miss Universe di Bangkok, Thailand.

Tidak ada yang salah bagi sebuah acara infotainment tersebut, seperti biasa menghadirkan sosok orang yang baru saja terkenal dengan sederet kisah hidupnya. Memang secara fisik Artika Sari Devi bisa dibilang cantik, tapi saya jadi bertanya secantik apa hatinya, secantik apa akidahnya. Dengan sombong dan angkuhnya dia merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk mempromosikan Indonesia ke kancah dunia. Hello… hello… are you sure? saya rasa naif sekali kalau dengan mengikuti ajang Miss Universe nama Indonesia terangkat. Harusnya para penggagas keikutsertaan Indonesiadi ajang Miss Universe itu malu. Betapa rendahnya mereka menjual harga diri bangsa. Bisa lihat negara mana yang paling banyak memenangkan ajang Miss Universe, VENEZUELA. Apakah dengan gelar miss universe nama Venezuela terangkat? Apanya yang terangkat? Paling hanya terkenal bahwa negara tersebut merupakan negara dengan wanita yang cantik-cantik. Lantas, apa lagi?

Yang lebih mengecewakan lagi buat saya adalah komentar dari sang pembawa acara tentang pihak-pihak yang menentang keikutsertakan. Seakan-akan pihak yang menentang itu, yang sebagian besar memang ormas Islam, adalah pihak yang berpikiran picik, sempit dan berstandar ganda. Sebenarnya apanya yang picik? Apakah melindungi harkat dan martabat wanita Indonesia adalah perbuatan yang berpikiran picik dan sempit? Bukankah yang mendukung yang berpikiran sempit dan picik? Hanya karena iming-iming popularitas, finansial, dan bisnis mereka rela untuk mengingkari ajaran agamanya, mereka rela untuk membuka bagian tubuh mereka yang terlarang. Yang menyedihkan mereka membawa-bawa nama Indonesia. Menurut anda siapa yang picik dan naif?

Indonesia sedang terpuruk, Indonesia sedang berkubang di lumpur kemelaratan dan kebejatan. Berterima kasihlah kepada ormas-ormas yang menentang keikutsertaan Indonesia ke ajang Miss Universe. Yang dalam kondisi lapar, kondisi terpuruk, kondisi terbelakang masih mau melakukan koreksi dan menyampaikan nasihat kepada saudaranya untuk tetap memenag teguh akidah dan ketentuan Allah. Tobatlah, Artika karena Indonesia sebenarnya tidak butuh Miss Universe.

Miss_u

22
May

Finding Andika

Belakangan ini saya merasa selalu terbawa flashback masa lalu. Biasanya kalo dulu, saban kali buka Friendster saya hanya baca profile orang. Hei, baca profile orang itu menarik juga lho. Kita bisa mendalami dan mengerti sedikit sifat, harapan, dan isi hati teman kita. Dengan membaca profile juga setidaknya kita bisa lebih mengenal tanpa harus bicara banyak. Sebenarnya saya pun lebih senang kalau ngobrol, tapi rasanya dengan waktu yang ada sekarang it is almost impossible to have chat with them one by one. Tapi akhir-akhir ini saya sering menghabiskan waktu luang saya untuk menjalin kembali temali dengan orang-orang yang pernah memaknai dan mewarnai hidup saya di masa lalu. Saya mencari dan mencari. Arti seorang teman sangat berarti buat saya, bukan saja kita mengharapkan tabungan jasa kepada mereka tapi juga kehadiran mereka membuat hidup kita lebih hidup. Setidaknya kita tahu bahwa ada orang yang peduli dengan kita di sudut lain dunia ini. Tidak jarang memang teman yang kita anggap bermakna dan menjadi sahabat baik tapi ternyata mengkhianati ataupun berbuat sebaliknya di belakang kita atau dia memendam perasaan membenci, iri, . Saya berprinsip bahwa mereka tetap teman saya apapun dan bagaimanapun keadaan mereka.

Saya mulai mencari dengan mencoba mengingat-ingat nama-nama mereka moment-moment bersama mereka yang sangat disayangkan, saya hampir lupa.  Bahkan ada beberapa sosok di masa lalu saya yang saya coba reka ulang tapi saya hampir lupa seperti apa wajah mereka, apa nama panggilan mereka, dan moment apa yang saya habiskan bersamanya. Saya mulai dari TK, waduh susah sekali saya mengingatnya, sepertinya gambarnya masih hitam putih dan samar-samar. Saya ingat saya memiliki teman baik waktu TK, namanya Toto, tapi saya lupa wajahnya seperti apa, yang saya ingat rambutnya lurus, hitam wajahnya bulat, anaknya agak gempal. Tapi dia teman yang baik, dia selalu bersama saya dan bermain bersama saya waktu TK. Kami suka menunggu jemputan bersama. Wondering where he is right now. Kalau teman SD, saya ingat sangat ingat lumayan banyak, tapi sayangnya saya hanya ingat beberapa nama. Saya mencoba untuk mencarinya di Friendster, tetapi hasilnya nihil. Mungkin mereka tidak punya account di Friendster. Memang untuk teman SD, saya hampir tidak pernah berhubungan lagi dengan mereka. Saya menghabiskan waktu SD di Makassar (dulu Ujung Pandang) sampai SMP kelas satu. Pada saat kenaikan kelas dua, Papa saya dipindah ke Semarang sehingga kami sekeluarga harus ikut pindah. Memang pada saat itu kepindahan Papa saya ke Semarang bisa dibilang mendadak sehingga saya tidak sempat untuk memberikan kabar ke teman-teman saya.

Labirin

Namun kemarin saya menemukan satu teman lama, Andika Nur Imran namanya. Dia tetangga saya, teman satu SD dengan saya. Saya dulu suka bermain di rumahnya. Rumahnya hanya berjarak sekitar 30 meter di belakang rumah saya. Sebenarnya saya pernah mencari namanya beberapa bulan lalu tapi waktu itu hasilnya nihil. Baru kemarin sempat mencari-cari dan akhirnya saya menemukannya. Mungkin karena Andika  baru saja membuka account di Friendster. Saya sangat senang sekali bisa menemukan dia, membuat saya seakan akan menemukan ujung benang yang saya cari di tumpukan jerami untuk saya sambungkan dengan benang masa sekarang. 

Di Ujung Pandang kami tinggal di sebuah kompleks yang biasa-biasa aja. Seperti halnya kompleks baru, banyak anak-anak sebaya kami disana. Kami sering main dan jalan-jalan bersama. Paling-paling kami main petak umpet atau kejar-kejaran atau bahkan sering juga kami main bolan dan main benteng. Masa kecil saya di Ujung Pandang memang mengesankan. Yang paling mengesankan saya waktu kecil adalah, banyaknya ikan di got. Ikannya pun beragam, ada ikan Gabus, Ikan Balebalang (Betok) dan ikan Sepat. Terus terang dulu bayangan saya, Ikan itu hanya ada di Laut dan di Sungai, tetapi ketika di Ujung Pandang , di selokan pun banyak ikan. Mungkin karena daerah perumahan kami bekas rawa dan dekat dengan sungai. Saya senang dengan Ikan, sehingga ketika itu saya seringkali mencari Ikan di got dan rawa bersama teman-teman.

Kembali ke memori tentang Andika, dia anak baru di perumahan kami, pindahan dari Jakarta. Seperti layaknya ada seorang new kids on the block, kehadiran Andikadi perumahan kami memberi warna sendiri. Terlebih lagi keluarganya menempati sebuah rumah bekas rumah ekspatriat. Jadi kehadiran Andika dan keluarganya cukup menarik perhatian teman-teman sekomplek. Maka ketika sudah kenal sama Andika kami sering main di rumahnya yang memang punya pekarangan yang lumayan luas buat lari-larian. Di rumah andika juga asyik untuk ngobrol-ngobrol karena terdapat kanopi yang berbentuk jamur. Pengalaman-pengalaman itulah yang membuat menemukan Andika di Friendster menyiratkan kesan sendiri kepada saya. Hal tersebut menggoda saya untuk napak tilas, memikirkan lorong-lorong waktu di masa lalu.

Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberi kesempatan mengetahui kabarnya.