25
May
05

Pulp Fiction

Pulp Film arahan Quentin Tarantino ini sudah lama saya cari-cari. Saya penasaran untuk mencarinya sejak saya baca ulasan sebuah majalan film favorit saya yang waktu itu sedang membedah film Kill Bill Volume I. sejak saat itu hampir semua film Quentin Tarantino saya lalap. Ada Reservoir Dogs, Jackie Brown dan akhirnya, Pulp Fiction. Ini pun setelah saya minta ke Adik saya untuk mencarikannya di Blok M. akhirnya he made it.

Film Pulp Fiction ini sempat menggemparkan tahun 1994. karena cara bertutur dan ceritanya sangat unik, khas gaya bertutur Tarantino, yang membuat Segmentasi di setiap film yang dibuatnya. Saya senang cara bertutur yang demikian, karena membuat kita mau tidak mau harus mengikuti terus alur cerita yang disuguhkan. Walau tidak menutup kemungkinan ada sebagian kawan yang tidak “dong” sama film semacam itu, sepertinya saya akan terus menyukai film dengan genre seperti itu. Pulp Fiction diperkaya juga dengan sederetan aktor yang permainannya tidak perlu diragukan lagi, sebut saja John Travolta, Samuel L. Jackson, Bruce Willis, Ving Rhames, Uma Thurman, dan bahkan seperti biasa, salah satu tokoh di film ini diperankan oleh sang sutradara, Quentin Tarantino.

Film ini terdiri dari beberapa cerita yang mengalir menjadi satu, ada kisah tentang dua orang Hitman, Vincent Vega (John Travolta) dan Jules Winnfield (Samuel L Jackson), ada kisah seorang petinju, Butch (Willis) yang mengkhianati kesepakatan dengan bandar judi, Kisah seorang istri sang Bandar judi yang hampir tewas overdosis.   Film ini bermula dari sebuah percakapan antara sepasang kekasih di sebuah restaurant, yang berencana untuk merampok restaurant tersebut, kemudian setting melompat ke scene lain, dimana Vincent Vega harus menemani istri boss nya, Mia Wallace (Uma Thurman) untuk bersenang-senang. Scene melompat-melompat dari satu scene ke scene lain dimana setiap scene terdiri dari satu bagian cerita yang membentuk sekumpulan cerita yang utuh. Pada scene terakhir, setting berada di restaurant yang sama seperti pada awal cerita namun dari sudut pandang berbeda. Apabila pada awal film berada dalam perspektif sepasang kekasih yang berencana merampok restaurant. Pasangan Perampok itu yang panggilan sayangnya “Pumpkin” (Tim Roth) dan Honey Bunny (Amanda Plummer) sedang bercerita namun kemudian hasrat merampok mereka muncul dan mereka berpikir bahwa restaurant adalah tempat yang cocok untuk dirampok karena pengamanannya yang minim dan tak akan ada yang menduganya.Pada akhir cerita, perspektif berada pada dua orang hitman, Vincent Vega dan Jules. Luar biasa. Bukan hanya cara menuturkannya saja yang unik tapi juga kandungan cerita yang terkandung di dalamnya. Walaupun rada kasar tapi saya bisa bilang ada “hati” yang ingin diperlihatkan dalam film ini.

Rada sulit juga emang menceritakan keseluruhan film ini. Saya rasa disitulah letak kejeniusan Tarantino saya.  Dia bisa meramu sebuah film sedemikian rupa sehingga kita bisa menikmatinya secara utuh dan sabar.




0 Responses to “Pulp Fiction”


  1. No Comments

Leave a Reply

You must login to post a comment.