Archive for June, 2005

28
Jun

Ekonom Terjajah

Pagi-pagi saya sudah menerima sebuah email yang berisi tulisan yang sangat menarik, mengenai telaah bapak Revrisond Baswir tentang ekonom Indonesia berdasarkan dua buku yang berjudul Ekspose Ekonomika dan Ekonomi Terjajah. Bapak Revisond Baswir disebut-sebut sebagai penerus ekonom pancasila pasca wafatnya guru ekonomi pancasila Indonesia, Prof. Mubyarto. Revrisond Baswir, yang merupakan asisten dan murid Mubyarto, memang selama ini dikenal telah bersuara keras dan kritis terhadap perekonomian indonesia terutama tentang ekonomi kerakyatan.
Tulisan beliau di republika benar-benar memberi penegasan kepada saya bahwa sistem ekonomi harus selaras dengan kultur, kondisi dan jiwa bangsa itu sendiri. Selama ini saya berkeyakinan bahwa perekonomian Kapitalis yang diusung Amerika dan His sinner brothers sebenarnya tidak bisa diimplan begitu saja ke perekonomian bangsa kita.
Semoga tulisan Bapak Revrisond ini memberi inspirasi bagi banyak orang terutama para ekonom yang selama ini lebih senang berpihak kepada IMF dan barat dibandingkan kepada rakyat, yang juga saudaranya sendiri yang sedang menderita.

http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=15 Republika, Senin, 27 Juni 2005

Ekonom Terjajah

Oleh : Revrisond Baswir

Baru-baru ini saya membaca dua buku kecil yang sangat menarik mengenai pemikiran ekonomi dan perekonomian Indonesia. Buku pertama, ditulis oleh Sri-Edi Swasono, berjudul Ekspose Ekonomika: Mewaspadai Globalisme dan Pasar Bebas. Sedangkan buku kedua, ditulis oleh Mubyarto (almarhum), berjudul Ekonomi Terjajah.

Buku Ekspose Ekonomika (Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM, 2005), berisi gugatan terhadap kompetensi para ekonom Indonesia. Sebagaimana dikupas secara panjang lebar dalam buku ini, setidak-tidaknya terdapat tiga alasan pokok mengapa kompetensi para ekonom Indonesia perlu digugat. Pertama, para ekonom Indonesia disinyalir telah terkungkung oleh ajaran ekonomi neoklasik. Keterkungkungan terhadap ajaran ekonomi neoklasik yang bersifat liberal-kapitalistik dan individualistik itu, tentu sangat berbahaya bagi kelangsungan cita-cita proklamasi, ideologi negara, dan masa depan perekonomian Indonesia.

Sesuai dengan cita-cita proklamasi, perekonomian Indonesia merdeka seharusnya dibangun sebagai koreksi terhadap struktur perekonomian kolonial. Dalam bahasa konstitusi, perekonomian Indonesia merdeka seharusnya dibangun berdasarkan demokrasi ekonomi, yaitu dengan meletakkan kemakmuran bersama di atas kemakmuran orang seorang.

Tetapi para ekonom Indonesia, karena terkungkung oleh ajaran ekonomi neoklasik, kehilangan kepekaan dan kemampuan mereka untuk melakukan koreksi. Alih-alih melakukan koreksi, mereka justru cenderung menjadi kaki tangan neokolonialisme untuk melestarikan struktur ekonomi kolonial di negeri mereka sendiri.

Kedua, para ekonom Indonesia diduga terlalu terpesona oleh globalisasi. Keterpesonaan yang berlebihan terhadap globalisasi itu tentu sangat berbahaya bagi masa depan perekonomian rakyat, ketahanan ekonomi nasional, dan bahkan bagi keutuhan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Sebagai sebuah bangsa merdeka dan berdaulat, bangsa Indonesia sangat mendukung pergaulan dunia. Tetapi sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menentang segala bentuk penjajahan, setiap warga negara Indonesia, termasuk para ekonom, seharusnya dengan sadar membangun sikap kritis dalam memandang globalisasi.

Tetapi alih-alih bersikap kritis, kebanyakan ekonom Indonesia lebih suka menutup mata dan mata hati mereka terhadap bahaya neoimperialisme tersebut. Bahkan, ”karya Nobel Laureate seperti Stiglitz pun, yang secara khusus menguraikan mengenai globalisation and its discontents secara panjang lebar, tidak menyentak para pengagum globalisasi dari kelengahan akademnis-kulturalnya ini” (hlm 119).

Ketiga, karena terkungkung oleh ajaran ekonomi neoklasik dan terpesona oleh globalisasi, para ekonom Indonesia juga diduga telah kehilangan kepekaan mereka terhadap makna kemandirian ekonomi dan kesejahteraan sosial. Ketidakmampuan para ekonom Indonesia dalam memahami makna kedua hal tersebut, tentu sangat berbahaya bagi tegaknya martabat Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Padahal, sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 33 UUD 1945, pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia mustahil dapat dipisahkan dari tujuan untuk menciptakan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan sosial. Sebab itu, pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia mustahil dilakukan tanpa pemihakan yang jelas terhadap penguatan ekonomi rakyat.

Tetapi alih-alih berusaha membangun dan memperkuat ekonomi rakyat, kebanyakan ekonom Indonesia lebih suka berdebat mengenai makna kata ”rakyat”. Dengan sikap seperti itu, mudah dimengerti bila kebanyakan ekonom Indonesia juga mengalami kesulitan dalam memahami makna kata ”merdeka”. Menyimak ketiga kelemahan tersebut, dapat disaksikan betapa buku Ekspose Ekonomika telah menghunjam langsung ke jantung permasalahan yang sedang dihadapi bangsa ini. Kekurangan buku Ekspose Ekonomika, terletak pada tidak adanya penjelasan mengenai penyebab keterpurukan para ekonom Indonesia itu. Artinya, secara struktural, faktor apakah yang memicu terjadinya kelengahan akademis-kultural para ekonom Indonesia tersebut?

Tetapi persis pada titik itulah buku Ekonomi Terjajah (Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM, 2005), yang terbit sepekan setelah kepergian Mubyarto, muncul memberi jawaban. Dalam buku yang dipersiapkannya untuk menyongsong hari kelahiran Pancasila tersebut, Mubyarto secara gamblang memaparkan kelengahan pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia dalam era Orde Baru.

Dalam ungkapan Mubyarto, pelaksanaan pembangunan ekonomi Orde Baru, walaupun ditandai oleh tingkat pertumbuhan yang tinggi, ternyata sama sekali gagal dalam mematuhi amanat Pembukaan UUD 1945 untuk mengisi kemerdekaan dengan menegakkan keadilan. Alih-alih mematuhi amanat Pembukaan UUD 1945, pelaksanaan pembangunan ekonomi Orde Baru justru bermuara pada penjerumusan perekonomian Indonesia ke dalam perangkap neokolonialisme. Mengutip Perkins, seorang ”preman ekonomi” Amerika yang membuat pengakuan dosa mengenai peranannya dalam menjerumuskan negara-negara sedang berkembang ke dalam perangkap utang, Mubyarto secara jelas menyatakan betapa pelaksanaan pembangunan Orde Baru dijebak oleh corporatocracy untuk lebih mengutamakan kepentingan global empire daripada mengoreksi struktur ekonomi kolonial (hlm 28).

Akibatnya, setelah 60 tahun merdeka, kondisi perekonomian rakyat Indonesia tidak banyak berubah. Bahkan, jika dibandingkan dengan Belanda, secara relatif, PDB per kapita Indonesia cenderung merosot. Pada 1820, PDB per kapita Indonesia terhadap Belanda meliputi 39 persen. Pada 1950 merosot menjadi 15 persen. Pada 1992, setelah 47 merdeka, hanya meningkat sedikit menjadi 16 persen. Apa kesimpulan yang dapat kita tarik dari kedua buku kecil yang saling melengkapi tersebut? Hemat saya, jangan-jangan yang terjajah selama ini tidak hanya perekonomian Indonesia, tetapi termasuk di dalamnya para ekonom Indonesia?

26
Jun

A Friend in Need is A Friend Indeed

FriendhandKemarin saya mendengar sebuah essay di sebuah radio dari mohammad Sobari yang berkisah tentang Sahabat. Sebenarnya makna yang ingin diungkapkan oleh mohammad Sobari, Pemimpin Kantor berita Antara yang juga seorang Budayawan, bukan kepada makna dan arti sahabat itu tapi lebih ditekankan kepada pemberian amanat kepada orang yang kita percayai baik itu teman kita, pemimpin kita, dan pemerintah kita. Namun makna yang saya tangkap adalah tentang arti sahabat itu sendiri. Seperti pepatah dalam bahasa Inggris, "A friend in need is a friend indeed" menyiratkan bahwa makna dan arti hubungan pertemanan adalah hubungan take and give yang didasari atas perasaan tulus dan ikhlas.

Seorang sahabat, seperti kata Mohammad Sobari, tidak perlu menunggu kita meminta bantuannya apabila kita mengalami kesulitan karena ketika menunggu kita meminta, hal tersebut tidak jauh berbeda apabila kita mengemis dan memohon bantuan di pinggir jalan. Karena bisa jadi yang menolong kita bukan melulu orang yang merupakan sahabat kita. Meminta bantuan orang di pinggir jalan, hanya butuh uluran dari orang-orang yang peduli dengan kita, bisa siapapun orangnya yang penting dia memiliki rasa empati dan belas kasih untuk membantu kita.

Mohammad Sobari juga mengutip tulisan seorang penulis terkenal "If your friend proves untrustworthy, he is no longer your friend" yang maksudnya apabila seorang teman yang kita percayai dan kita berikan amanat kepadanya kemudian dia terbukti berkhianat, maka sebenarnya hal tersebut menegaskan kepada kita bahwa sebenarnya dia bukan teman atau sahabat kita. Betapa penting dan besarnya makna seorang teman atau sahabat bagi seseorang, dan betapa rapuhnya arti seorang teman yang sejati itu.

Essay tersebut menggetarkan hati saya, sudah baikkah saya kepada teman-teman dan sahabat saya? Mungkin disana ada seseorang yang menganggap saya seorang sahabatnya dan pernah saya lukai hatinya atau saya kurang begitu peka terhadap masalah dan deritanya, saya minta maaf. Menjadi sahabat yang baik memang butuh hati yang cukup besar untuk berbagi dengan tulus. Saya masih harus belajar untuk menjadi seorang teman dan sahabat yang baik. Semoga saya mampu.

==========

Movie Quote :

"Keep your friends close, but your enemies closer"  the Godfather II

25
Jun

Jomblo juga manusia…

Stpcup2Di beberapa kesempatan, saya suka menjadi tempat curhat beberapa teman saya yang kebetulan.. "jomblo". Saya nggak tau kenapa orang yang belum punya pacar atau pasangan dibilang jomblo. Yang saya heran, kadang mereka minta ke saya "Eka, kalo ada temen kamu yang oke, kaya, belum punya pacar, kenalin dooong…" hmmm bukannya nggak mau membantu ya, tapi saya paling nggak bisa deh ngejodoh-jodohin temen. Pernah sih waktu SMA yang ngejodohin sesama teman saya dan akhirnya mereka berhasil jadian. Ketika berhasil itu, saya merasa orang yang bahagia banget karena sedikit banyak saya membantu mengukir jalan hidup rekan saya tetapi ternyata saya bukan dewa cinta yang baik, I’m just stupid cupid, beberapa lama mereka bubar. Yang menyedihkan lagi, mereka bubarnya karena salah satu ada yang selingkuh. Pada waktu itu saya merasa seperti orang yang paling berdosa di mata teman saya itu. saya turut mengukir kisah tragis di agenda hidupnya. Mungkin sejak saat itulah saya sangat berhati-hati kalo mau ngejodohin orang. Karena efeknya itu lho yang bikin bete. Temen yang selingkuh jadi jauh ama saya, mungkin dia merasa bersalah jadi dia sedikit mengatur jarak. Hubungan pertemanan kami pun tidak seperti sedia kala, padahal saya sih nggak ambil pusing (walaupun tadinya pengen gw hajar tuh orang). Temen yang jadi korban selingkuh jadi sebel ama saya, walaupun yang selingkuh bukan saya setiap kali dia teringat memori buruk itu pasti deh kata-kata "kamu sih, ka…" selalu dilontarkan kalau sudah gitu I felt deeply sorry. Tapi rasanya beban itu sudah berlalu karena sampai sekarang saya belum bertemu mereka lagi. hehe

AloneBack to the present, kalau ada teman saya yang curhat mengenai kejombloannya saya biasanya hanya jadi pendengar yang baik. Mencoba mendalami perasaan dia dan mencoba dia untuk lebih membuka diri. Sempat saya melontarkan gagasan-gagasan gila agar dia bisa memperoleh kesempatan untuk mengenal orang-orang baru yang akan membuka kesempatan lebih lebar untuk menemukan love of a lifetime. Saya kadang membayangkan saya seperti Sam Beckett (Scott Bakula), seorang scientist dalam film Quantum Leap, yang menyelesaikan permasalahan orang-orang dengan menjadi diri orang tersebut. Nah kalau Sam Beckett itu bisa mengubah hidup orang dengan memerankan peran tertentu, mungkin si Eka ini merubah nasib jomblo-nya orang tersebut. Hmm interesting task, tapi jangan sampai saya harus melompat ke diri seorang cewek sehingga saya harus mencari cowok buatnya… yaaakkss. Yah, keinginan tersebut bukan tanpa alasan. Seorang teman pernah mengungkapkan perasaan kesepiannya, tekanan yang dia hadapi dari orang tua, keluarga, teman karena sampai saat ini dia belum punya pasangan yang tepat. Ada saja yang membuat dia terhalang memperoleh jodohnya. Banyak yang bilang dia terlalu pilih-pilih, tapi apa itu salah? Namun ketika saya tanyakan ke yang bersangkutan, dia sebenarnya nggak pilih-pilih juga. Mungkin tiap orang dilahirkan berbeda dari sisi kemampuan get along with other people. Mungkin juga, atau mungkin memang keadaan yang mengkondisikannya demikian. Dan kadang lingkungan sangat jahat, teman saya yang jomblo itu kerap diledekin, terlebih lagi bila ada rekannya yang lebih muda akan menikah. Kenapa sih kita begitu jahat terhadap mereka? Mereka normal kok, orientasi seksualnya baik-baik saja, mungkin kesibukan, pergaulan, lingkungan saja yang tidak memungkinkan mereka untuk menemukan pasangan hidupnya untuk saat ini. Dan saya, sebagai teman yang tahu kondisi dan perasaannya tidak bisa berbuat apa. Saya hanya berdoa semoga dia diberi pasangan hidup yang tepat segera.

Mungkin lingkungan memandang sebelah mata kepada orang yang jomblo karena dua hal :

1. mereka ingin rekan yang jomblo ini terdorong untuk berusaha mencari pasangan hidupnya. Jadi tekanan-tekanan yang diberikan oleh orang tua, keluarga, dan teman-temannya sebagai alarm, atau istilah pabriknya "Pokayoke" bahwa dia harus sudah memikirkan rumah tangga seiring dengan usianya yang semakin bertambah. Mereka berbuat demikian karena ingin hidup kawannya bahagia dan teratur (hmm I begin to be a Psycholog)

2. Mereka memang ingin memojokkan dan menjadikan rekan yang jomblo ini bulan-bulanan, karena rekan saya ini, dibilang kaya, ya kaya, dibilang oke, ya lumayan, dibilang baik juga ya gitu deh. Jadi mungkin menjadikan orang lain bahan tertawaan adalah hiburan bagi sebagian orang.

Yang jelas, baik ataupun buruk, menjadi jomblo kadang bukan pilihan yang mereka inginkan kok. Teman saya ini sekarang sudah lebih membuka diri terhadap lingkungan dan hal-hal baru. Ya mirip-mirip teori pemasaran lah. Kalau ingin meningkatkan potensi penjualan, setidaknya tingkatkan potensi terjadinya penjualan, tingkatkan cakupan pasar, masuki segmen gemuk. Siapkan strategi untuk targetting and positioning. Saya hanya bisa berdoa untuk saat ini, semoga dia bisa memperoleh orang yang tepat suatu saat untuk menjadi teman hidupnya sampai akhir hayat. Dan saya juga berdoa agar teman-teman lain yang suka meledeknya sadar bahwa jomblo juga manusia.

Dedicated to all jomblo’s whole the world. Keep moving and alive!!!

===========================

Movie Quote :

Al: Ziggy had a new data search component installed and we had to have it shipped in from Hong Kong and I think that gave a little jet-lag to the modem of the floppy disk.
Sam: Why do you make this stuff up all the time? Why don’t you just say to me, ‘Sam, we don’t know.’ Why don’t you just do that for once, instead of making it up all the time?
Al: Well, that wouldn’t be any fun.

Quantum Leap, TV Series (1989-1993)

24
Jun

Teman adalah Hadiah

Teman adalah Hadiah
Oleh: unknown

Teman adalah hadiah dari yang di atas buat kita.

Forever_friendSeperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.

Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.

Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll.

Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari Giftbersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka "takut air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll. Itulah cara mereka mempertahankan diri.

Mereka akan bilang: "Menari itu tidak menarik" "Tidak ada yang cocok denganku" "Teman-temanku sudah lulus semua" "Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku" "Kisah hidupku membosankan"

Mereka tidak akan bilang: "Aku tidak bisa menari" "Aku membutuhkan kamu denganku" "Aku kesepian" "Aku butuh diterima" "Aku ingin didengarkan"

Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.

Dedicated to all friends of mine, wherever you are and whoever you become.

22
Jun

Ray

Ray "The extraordinary life of Ray Charles Robinson. A man who fought harder and went farther than anyone thought possible"

Semalam saya menyelesaikan tontonan film "Ray" yang mengisahkan tentang perjalanan hidup yang luar biasa dari seorang Ray Charles Robinson (1930 - 2004), musisi buta yang sangat berbakat, sukses dan jenius. Di sepanjang film, kita disuguhkan berbagai gambaran perjuangan hidup Ray Charles (Jamie Foxx) dan juga musik-musik kreatif dan enerjik Ray Charles. Yang membuat saya terenyuh adalah kesedihan yang harus ditanggung sepanjang hidupnya karena rasa bersalahnya saat menyaksikan kecelakaan yang menimpa adiknya, George, ketika usianya 7 tahun. Pemandangan kematian adiknya yang tragis itulah salah satu pemandangan terakhir yang dilihatnya sebelum matanya menjadi buta.

Walaupun Ray kecil sudah buta namun dia dididik oleh ibunya untuk bisa mandiri dan berani, salah satu kata-kata ibunya yang senantiasa memotivasi dirinya adalah "Ray, you are blind but you aint stupid". Prinsip itulah yang dipegang oleh Ray sampai dia dewasa. Semua hal disandarkan kepada kepercayaannya, keteguhan hatinya, dan dirinya sendiri. Dibayangi oleh trauma meninggalnya sang adik, membawa Ray ke dunia heroin, dunia yang nyaris membuatnya terpuruk. Dengan semangat dan keteguhan luar biasa Ray berhasil direhabilitasi dan kembali berkarya.

Satu hal yang menjadi kekuatan Ray Charles Robinson adalah pengaruhnya yang turut serta menghilangkan pemisahan antara warga kulit hitam dan kulit putih di setiap café atau club tempatnya tampil. Walau sempat diusir dan dilarang menginjakkan kakinya di tempat ia dibesarkan, Georgia, Ray tetap berpegang teguh kepada prinsip yang dianggap benar.

Ray2 Film ini sangat indah, melodius, dan bermakna dalam. Mengajarkan kepada kita tentang semangat hidup, cinta, dan keteguhan hati. Benar-benar film yang luar biasa. Dari film ini, saya juga memberi penghargaan saya kepada Ray Charles Robinson sebagai salah satu pribadi yang patut dicontoh keteguhan hati dan semangat hidupnya. Walau dia seorang yang memiliki kekurangan tapi mencapai no.1 di tangga lagu billboards, menyabet grammy bisa dia lakukan. Benar-benar pribadi langka dan luar biasa.

22
Jun

Jakarta di mata saya…

Picture130_07may05 Jakarta berulang tahun lagi. Yang ke 478 tahun ini. Saya mengetahui ulang tahun Jakarta biasanya dengan maraknya promosi penyelenggaraan PRJ atau Pekan Raya Jakarta. Maraknya penyelenggaraan PRJ dapat saya ketahui karena hampir setiap hari saya melewati daerah PRJ Kemayoran. Dan seingat saya, baru 2 kali saya menghadiri PRJ. Kali pertama pada tahun 2001 yang pada waktu itu, saya baru pertama kali pindah ke Jakarta, dan tahun berikutnya adalah kali yang kedua. Yang bisa terekam di memori saya tentang PRJ adalah rame, sesak, macet dan biasa, tidak ada yang istimewa. Karena PRJ pada dasarnya hanya merupakan pameran biasa aja yang diramaikan dengan pentas musik dan semacamnya. Icon penyelenggaraan PRJ yang bertepatan dengan ulang tahun kota Jakarta mungkin yang membuatnya beda.

Daripada menyoroti PRJ, di ulang tahun kota Jakarta ini, saya rasa lebih baik bercerita tentang Jakarta itu sendiri dari sudut pandang dan pengalaman pribadi saya. Kota Jakarta buat saya adalah kota dengan ribuan makna. Waktu kecil, saya mengenal Jakarta hanya karena Jakarta adalah tempat kelahiran saya. Waktu SD setiap kali melihat raport, saya dapat membacanya bahwa tempat lahir saya : Jakarta. Dalam bayangan saya waktu kecil, Jakarta adalah tempat yang sangat jauh. Maklum saja, walau saya lahir di Jakarta, masa kecil saya lebih banyak dihabiskan di Ujung Pandang (Makassar sekarang). Sejak usia saya 1 tahun, saya sudah diboyong papa dan mama saya ke Ujung Pandang. Selain sebagai tempat kelahiran, Jakarta bagi saya merupakan tempat tujuan impian setiap lebaran atau liburan. Karena pada waktu itu, kesempatan untuk ke Jakarta adalah hanya pada saat lebaran atau liburan sekolah dimana kami sekeluarga pergi ke Jakarta untuk berkunjung ke keluarga besar mama dan papa di Jakarta dan Cianjur. Karena keterbatasan biaya, frekuensi ke Jakarta biasanya 3 tahun sekali. Oleh sebab itu, ke Jakarta pada waktu itu merupakan impian dan dambaan. Senang rasanya setiap kali ada kesempatan ke Jakarta. Dan lagi, pada waktu itu setiap kali ingat Jakarta, saya teringat kepada kakek saya (almarhum) yang tinggal di tempat saat ini saya tinggal. Ketika keluarga kami pindah ke Semarang sekitar tahun 1992, barulah hampir setiap tahun kami sekeluarga bisa mengunjungi Jakarta. Tapi pada waktu itu, dalam benak saya, Jakarta tetap merupakan tempat tujuan setiap kali lebaran. Pada waktu itu Jakarta di pikiran saya adalah tempat kakek saya berada, selain itu Jakarta saya kenal sebagai ibukota negara, kota metropolitan, gemerlap, banyak artis, mobil-mobil yang bersliweran di jalan bagus-bagus, banyak copet, banyak jambret, dan macet. Tapi hal-hal tersebut hanya saya kenal dari surat kabar, radio atau televisi pada saat itu.

MonasKarena saya mengenal Jakarta dari televisi dan mengunjunginya hanya pada saat liburan, sangat jarang saya tinggal lama di Jakarta, sepertinya paling lama 1 minggu. Baru setelah saya diterima magang di tempat sekarang saya bekerja, saya benar-benar "in" dengan detak nadi Jakarta. Saya bisa merasakan desiran Jakarta di pagi hari dimana hampir semua warganya memulai aktivitas. Macet, joki 3 in 1 bermunculan, semua serasa terburu-buru. Di siang hari, udara Jakarta menyengat sangat panas, asap mengepul dimana-mana yang berasal dari asap kendaraan bermotor. Malamnya, Jakarta masih menderu, gemerlap, lampu-lampu dimana-mana. Di waktu malam, Jakarta tidak kalah indah dengan kota-kota metropolitan lainnya. Namun Kalau boleh memilih, saya memilih untuk tidak tinggal di Jakarta. Sayangnya pilihan itu tidak ada saat ini. Selain macet, tingkat kriminalitas tinggi, Hidup di Jakarta seakan-akan membuat kita sudah tidak hidup dengan normal lagi. Sesuatu yang normal di Jakarta adalah ketidaknormalan. Tidak normal dalam hal menghabiskan banyak waktu di jalan, tidak saling mengenal, penuh rasa curiga, orang mudah naik darah, dan lain sebagainya. Belum lagi kalau suatu saat memiliki anak, akan sangat terasa kekhawatiran sebagai orang tua melihat anaknya harus hidup dalam suasana Jakarta yang hiruk pikuk ini. Tapi diluar itu semua, saya masih punya harapan terhadap Jakarta. Semoga wajah Jakarta akan berubah menjadi lebih ramah dan damai di suatu hari nanti, lebih manusiawi, lebih bermoral dan beradab. Selamat Ulang Tahun, Jakarta. Semoga bisa membawa kebahagiaan bagi banyak warga.

=============================================

Abbreviation of Places

H.O.L.L.A.N.D
Hope Our Love Lasts And Never Dies

I.T.A.L.Y.
I Trust And Love You

L.I.B.Y.A.
Love Is Beautiful ; You Also

F.R.A.N.C.E.
Friendships Remain And Never Can End

C.H.I.N.A.
Come Here… I Need Affection

B.U.R.M.A.
Between Us, Remember Me Always

N.E.P.A.L.
Never Ever Part As Lovers

I.N.D.I.A.
I Nearly Died In Adoration

K.E.N.Y.A
Keep Everything Nice, Yet Arousing

C.A.N.A.D.A.
Cute And Naughty Action that developed into attraction

K.O.R.E.A.
Keep Optimistic Regardless of Every adversity

E.G.Y.P.T.
Everything’s Great, You Pretty Thing!

M.A.N.I.L.A.
May All Nights Inspire Love Always

P.E.R.U.
Phorget (Forget) Everyone… Remember Us

T.H.A.I.L.A.N.D.
Totally Happy, Always In Love And Never Dull

J.A.K.A.R.T.A Jambret Aya Koruptor Aya Rampok Tah Aya oge

———————————-

A joke from internet

18
Jun

Manusia Bodoh ini mencoba memperkenalkan TUHAN

Di beberapa kesempatan saya sering bertemu dan berdiskusi dengan seseorang yang dalam setiap perkataannya kadang mempertanyakan tentang eksistensi Allah, SWT. Mungkin agama dia sama dengan saya, atau apabila berbeda pun, setidaknya dia beragama, harusnya mengakui Tuhan dan eksistensinya. Untuk itulah kita dikaruniai akal, untuk membuat kita berpikir lebih dalam tentang kuasa-Nya. Setiap kali hal itu terjadi, hati saya ingin sekali menjelaskan sejauh yang pernah saya ketahui. Namun karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya tidak tahu harus berbuat dan berkata apa. Saya malah takut apabila perkataan saya yang dangkal ilmu malah akan menjauhkan dia dari hidayah-Nya.

Godsign Rasanya ilmu tentang agama tidak akan ada habisnya untuk dipelajari dan untuk diamalkan. Terlebih lagi di masa belakangan ini dimana orang-orang atau masyarakat sudah tidak bisa lagi dengan jernih membedakan mana yang buruk mana yang baik, mana yang haq mana yang batil. Yang mengherankan saya adalah selain mempertanyakan eksistensi Tuhan sang Maha Esa, banyak juga yang mempertanyakan ajaran dan tuntunan-Nya. Saya berkata ini bukan berarti saya bersih dari dosa, saya manusia biasa, bukan Rasul. Tapi setidaknya saya ingin menyuarakan kebenaran dari mulut yang selalu berkata buruk, saya ingin mengerjakan kebaikan dari tangan dan kaki yang sering berbuat dosa, saya ingin berpikir jernih dari otak yang kadang khilaf berbuat nista. Apakah Allah akan berubah seiring perubahan zaman? Apakah ajarannya harus berubah seiring modernisasi yang didengung-dengungkan negara barat? Kemana sih sebenarnya kita berkiblat dan menghadap? Kepada Allah, SWT atau kepada penguasa dari negara barat? Kalau kita yakin bahwa yang Maha Kuasa itu Allah Azza wa Jalla, kenapa mesti tunduk dengan hegemoni dan nilai-nilai barat yang terbukti menjerumuskan ke lembah kehancuran?

Dua cerita di bawah ini, memberi inspirasi saya bahwa untuk mengenalkan TUHAN kepada orang-orang yang belum atau kurang kenal dengan Tuhan bisa dilakukan dengn berbagai cara. Semoga suatu saat saya menemukan cara yang kreatif memperkenalkan Tuhan kepada orang-orang yang sering mempertanyakannya.

===============================

1 tamparan untuk 3 pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air.Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai.

Pemuda : Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?

Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.

Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.

Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.

Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2.Apakah yang dinamakan takdir
3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang
dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras. PLAKKK!

Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?

Kiyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.

Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.

Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?

Pemuda : Ya! Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!

Pemuda : Saya tidak bisa. Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

Pemuda : Tidak.

Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?

Pemuda : Tidak.

Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.

Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?

Pemuda : Kulit.

Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda? Pemuda : Kulit.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya? Pemuda : Sakit.

Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.

======================================

CONVERSATION ABOUT GOD ( ENGLISH )

An atheist professor of philosophy speaks to his class on the problem science has with God. He asks one of his new students to stand and…..

Professor : You are a Moslem, aren’t you, son?

Student : Yes, sir.

Prof. : So you believe in God?

Student : Absolutely, sir.

Prof. : Is God good?

Student : Sure.

Prof. : Is God all-powerful?

Student : Yes.

Prof. : My brother died of cancer even though he prayed to God to heal him. Most of us would attempt to help others who are ill. But God didn’t.
How is this God good then? Hmm?

(Student is silent.)

Prof. : You can’t answer, can you? Let’s start again, young fella. Is God good?

Student : Yes.

Prof. : Is Satan good?

Student : No.

Prof. : Where does Satan come from?

Student : From…God…

Prof. : That’s right. Tell me son, is there evil in this world?

Student :Yes.

Prof. : Evil is everywhere, isn’t it? And God did make everything. Correct?

Student : Yes.

Prof. : So who created evil?

(Student does not answer.)

prof. : Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness? All these terrible things exist in the world, don’t they?

Student : Yes, sir.

Prof. : So, who created them?

(Student has no answer.)

Prof. : Science says you have 5 senses you use to identify and observe the world around you. Tell me, son…Have you ever seen God?

Student : No, sir.

Prof. : Tell us if you have ever heard your God?

Student : No, sir.

Prof. : Have you ever felt your God, tasted your God, smelt your God?
Have you ever had any sensory perception of God for that matter?

Student : No, sir. I’m afraid I haven’t.

Prof. : Yet you still believe in Him?

Student : Yes.

Prof. : According to empirical, testable, demonstrable protocol, science saysyour GOD doesn’t exist. What do you say to that, son?

Student : Nothing. I only have my faith.

Prof. : Yes. Faith. And that is the problem science has.

Student : Professor, is there such a thing as heat?

Prof. : Yes.

Student : And is there such a thing as cold?

Prof. : Yes.

Student : No sir. There isn’t (The lecture theatre becomes very quiet with this turn of events.)

Student : Sir, you can have lots of heat, even more heat, superheat, mega heat, white heat, a little heat or no heat. But we don’t have anything called cold. We can hit 458 degrees below zero, which is no heat, but we can’t go any further after that.
There is no such thing as cold. Cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold. Heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it.

(There is pin-drop silence in the lecture theatre.)

Student : What about darkness, Professor? Is there such athing as darkness?

Prof. : Yes. What is night if there isn’t darkness?

Student : You’re wrong again, sir. Darkness is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light…. But if you have no light constantly, you have nothing and it’s called darkness, isn’t it? In reality, darkness isn’t. If it were you would be able to make darkness, darker, wouldn’t you?

Prof. : So what is the point you are making, young man?

Student : Sir, my point is your philosophical premise is flawed.

Prof. : Flawed? Can you explain how?

Student : Sir, you are working on the premise of duality. You argue there is life and then there is death, a good God and a bad God. You are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. Sir, science can’t even explain a thought. It uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one. To view death, as the opposite of life isto be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the opposite of life: just the absence of it. Now tell me, Professor. Do you teach your students that they evolved (Student is from a monkey)?

Prof. : If you are referring to the natural evolutionary process, yes, of course, I do.

Student : Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?

(The Professor shakes his head with a smile, beginning to realise where the argument is going.)

Student : Since no one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavour, are you not teaching your opinion, sir? Are you not a scientist but a preacher?

(The class is in uproar.)

Student : Is there anyone in the class who has ever seen the Professor’s brain?

(The class breaks out into laughter.)

Student : Is there anyone here, who has ever heard the Professor’s brain, felt it,touched or smelt it? No one appears to have done so. So, according to the established rules of empirical, stable, demonstrable protocol, science says that you have no brain, sir. With all due respect, sir, how do we then trust your lectures, sir?

(The room is silent. The professor stares at the student, his face Unfathomable.)

Prof. : I guess you’ll have to take them on faith, son.

Student : That is it sir. The link between man & god is FAITH. That is all that keeps things moving & alive.

The stories are taken from mailist I joined.

15
Jun

Dongeng tentang Sholat (untuk saya)

Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh.Entah bagaimanaawalnya, akhirnya merekaberdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, "Orang ini memang boleh menjadi sahabatku..!"

Begitu juga ketika waktu Zuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, "Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"

Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam……

Kemudian ketika datang waktunya magrib,temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.

Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi,dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan, "Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !" .Dengan keheranan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?".

"Aku takut !",jawab setan dengan suara gemetar."Nenek moyang ku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh sujud pada "Adam", telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya (Sujud pada Allah). Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata setan sambil beredar pergi.

"Sebarkanlah ajaranku walau hanya satu ayat" (Al Hadits)

13
Jun

Campus of Life

Akhir pekan kemarin saya pulang ke Semarang. Banyak agenda yang ingin saya selesaikan disana, salah satunya adalah legalisir ijasah dan transkrip nilai S1 saya di Universitas Diponegoro. Saya menyempatkan mampir untuk melakukan legalisir ijasah dan transkrip karena saya pikir mumpung saya masih ada waktu yang luang lebih baik dilakukan sekarang. Terus terang kunjungan saya yang singkat ke Undip setelah sekian lama meninggalkannya sangat berkesan. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari kunjungan tersebut. Hanya datang bawa ijasah dan transkrip, menemui orang Tata Usaha, Bayar biaya transkrip di bagian keuangan, trus menyerahkan Ijasah Asli dan transkrip asli beserta copy-nya ke loket legalisir dan ditinggal. Sudah. Selesai.

Sebenarnya pada waktu itu saya bisa pulang tapi saya tergelitik untuk melihat sekeliling kampus yang sekarang nampak lebih segar karena terdapat beberapa gedung yang baru dan ada sedikit renovasi di sana sini. Dalam perjalanan saya berkeliling-keliling saya menemukan banyak hal baru. Sepertinya suasananya berbeda saja. Sekarang sepertinya lebih teduh dan lebih teratur. Saya melewati beberapa tempat yang dulu biasa digunakan oleh saya bersama teman-teman untuk menunggu jam kuliah. Melewati kafetaria yang biasa digunakan untuk sarapan bersama teman-teman apabila ada kuliah yang dimulai pagi hari. Melewati taman tempat biasanya kami dulu bersenda gurau menunggu waktu kuliah. Taman yang biasanya kami sebut "central park" itu hampit tidak ada yang berubah kecuali perubahan di tempat duduknya yang sekarang sepertinya dilengkapi dengan tungkup dan tempat duduknya pun dicat hitam. entah apa maksud dari mengecat tempat duduk taman menjadi hitam. sempat saya khawatir jangan-jangan catnya nempel di celana saya. Syukurlah ternyata tidak.

Banyak yang berubah. Hampir tidak ada sosok yang saya kenal. Walau demikian saya bisa melihat sosok orang-orang yang saya kenal dulu dalam sosok orang lain. Saya bisa melihat sosok teman saya yang dulu terkenal alim ketika melihat mahasiswa yang berpenampilan seperti dia, sosok mahasiswa yang sok artis, dengan pakaian anehnya, sosok mahasiswa gondrong dengan baju hem dikeluarkan duduk-duduk di kafetaria membuat saya merasa familiar dengan suasana tersebut. Sepertinya saya terlempar ke masa lalu. Ternyata sedikit banyak, saya telah merasa kehilangan masa tersebut. Masa yang benar-benar membuat saya lebih mengenal kehidupan yang sesungguhnya. Tidak salah kalau undip merupakan campus of life saya. Di situlah saya mengenal kebebasan berpikir, kemajemukan masyarakat, keberagaman kepentingan dalam komunitas, persaingan sehat dan tidak sehat, bagaimana dibenci atau di -iri-kan orang dan sebaliknya., bagaimana membentuk dan mempertahankan komunitas eksklusif, bagaimana memupuk dan mempertahankan persahabatan dan cinta. Dan sebagainya. Banyak kenangan, momen, pelajaran berharga yang saya peroleh dari campus of life tersebut. 4 tahun serasa waktu yang sangat pendek untuk memperoleh semua itu.

Ya Allah, terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang pernah saya peroleh di tempat itu.

Tak lama, saya menerima SMS. Saya harus pulang.

Campus of Life

Campus of Life

Suasana "Central Park" Undip Pleburan

Campus of Life

Bertemu Jacky. Latar belakangnya ada abang loper koran yang bisu. Masih ada aja :-)

10
Jun

Kisah dari Negeri yang Menggigil

KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL*)

Abdurahman Faiz, 7 Juni 2005

untuk adinda: Khaerunisa

Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam

yang membayangi dan terus mengikuti

hinggap pada kata-kata

yang tak pernah sanggup kususun

juga untukmu, adik kecil

Belum lama kudengar berita pilu

yang membuat tangis seakan tak berarti

saat para bayi yang tinggal belulang

mati dikerumuni lalat karena busung lapar

aku bertanya pada diri sendiri

benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kulihat di televisi

ada anak-anak kecil

memilih bunuh diri

hanya karena tak bisa bayar uang sekolah

karena tak mampu membeli mie instan

juga tak ada biaya rekreasi

Beliung pun menyerbu

dari berbagai penjuru

menancapi hati

mengiris sendi-sendi diri

sampai aku hampir tak sanggup berdiri

sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri

benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kudengar episodemu adik kecil

Pada suatu hari yang terik

nadimu semakin lemah

tapi tak ada uang untuk ke dokter

atau membeli obat

sebab ayahmu hanya pemulung

kaupun tak tertolong

Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo

tak makan, tak minum

sebab uang tinggal enam ribu saja

mereka tuju stasiun

sambil mendorong gerobak kumuh

kau tergolek di dalamnya

berselimut sarung rombengan

pias terpejam kaku

Airmata bercucuran

peluh terus bersimbahan

Ayah dan abangmu

akan mencari kuburan

tapi tak akan ada kafan untukmu

tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah

hanya matahari mengikuti memanggang luka yang semakin perih

tanpa seorang pun peduli

aku pun bertanya sambil berteriak pada diri

benarkah ini terjadi di negeri kami?

Tolong bangunkan aku, adinda

biar kulihat senyummu

katakan ini hanya mimpi buruk

ini tak pernah terjadi di sini

sebab ini negeri kaya, negeri karya.

Ini negeri melimpah, gemerlap.

Ini negeri cinta

Ah, tapi seperti duka

aku pun sedang terjaga

sambil menyesali

mengapa kita tak berjumpa, Adinda

dan kau taruh sakit dan dukamu

pada pundak ini

Di angkasa layang-layang hitam

semakin membayangi

kulihat para koruptor

menarik ulur benangnya

sambil bercerita

tentang rencana naik haji mereka

untuk ketujuh kalinya

Aku putuskan untuk tak lagi bertanya

pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun

sementara airmata menggenangi hati dan mimpi.

aku memang sedang berada di negeriku

yang semakin pucat dan menggigil

==============================

Abdurahman Faiz, 7 Juni 2005

*)Taken from Sabili Mailist.