Archive for June 9th, 2005

09
Jun

Busung Lapar dan Mayat Anak Pemulung di Kereta

Sangat melelahkan hidup saya, tapi setelah mendengar berita tentang busung lapar dan kekurangan gizi akut yang terjadi di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, apa yang melelahkan saya harus saya tahan. Saya tahan untuk menghukum diri saya sendiri yang kurang bersyukur. Saya tahan untuk turut berduka atas apa yang sedang terjadi di bangsa ini. Bangsa besar, bangsa yang kaya, bangsa yang berbudaya, bangsa yang beragama tapi memiliki nasib yang naas. Naas karena ulah saudaranya sendiri, ulah pemimpinnya yang tidak pernah peduli dengan mereka. Mungkin kalau dirunut secara detail, saya bisa jadi termasuk yang tidak peduli kepada mereka selama ini. Saya kadang hanya melihat apa yang terjadi di sekitar saya; orang tua, keluarga, teman-teman, rekan kerja, partner bisnis atau kerabat dekat lainnya. Saya kurang peduli dengan kejadian yang rada jauh di ujung sana. Di NTB, NTT atau daerah lainnya yang nasibnya kurang beruntung dari temapt domisili saya selama ini.

Tragedi bangsa ini seolah tidak pernah habisnya. Busung lapar melengkapinya dengan cantik. Cukup cantik untuk menampar kita semua. Saya, anda, mereka dan para pemimpin di atas sana yang tidak pernah peduli terhadap mereka. Waktu SD, setiap kali ada pelajaran PMP, yang kemudian disempurnakan menjadi PPKn, salah satu hapalan UUD yang paling favorit adalah hapalan UUD 1945 pasal 34 yang bunyinya "Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara". Setiap kali saya ingat bunyi pasal itu, saya sangat bangga dengan konstitusi kita. Begitu mulia isinya. Saya bisa merasakan bahwa mungkin begitu mulia juga hati dan cita-cita para pendiri negara kita. Di tahun 1945 mereka telah merumuskan konsep-konsep yang sangat brilliant, melebihi konsep para economist modern yang menganggap perlindungan terhadap kemiskinan bagi warga negara mereka yang kurang mampu dianggap sebagai expenditure yang tidak perlu dan membebani perekonomian karena tidak memberikan value added terhadap mereka. Yang baik langsung ataupun tidak langsung telah mempengaruhi hati nurani kita untuk peduli terhadap sesama, terutama orang-orang yang tidak mampu atau dalam kesulitan. Hal tersebut tersirat dari beberapa email yang saya terima beberapa hari terakhir. Email yang menyayat hati tentang seorang Bapak yang harus membawa sendiri jenasah anaknya untuk dimakamkan. Karena Bapak yang malang ini hanyalah seorang pemulung, dia tidak sanggup untuk menyewa mobil jenasah, ambulance ataupun mobil umum untuk membawa anaknya. Anaknya yang berumur 3 tahun, meninggal akubat penyakit penyakit muntaber. Meninggalnya Khairunnisa, anaknya, disebabkan karena sang ayah tidak mampu lagi untuk membayar biasa periksa di puskesmas yang sebesar Rp. 4,000.-. Mendengar kisah itu saya merasa ditampar, empat ribu rupiah adalah biaya yang biasa saya keluarkan untuk membayar Tol sekali jalan setiap kali saya akan berangkat ke kantor atau pulang dari kantor. Empat ribu adalah besarnya biaya yang harus saya keluarkan setiap kali saya membeli 2 botol the sosro di kantin. Empat ribu adalah biaya yang saya keluarkan untuk parkir di mall selama 2 jam. Empat ribu adalah biaya yang selama ini saya keluarkan dengan relatif mudah ternyata sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa seseorang.

Banyak pihak yang terenyuh dengan kisah ini. Delta FM kemarin mengadakan talkshow untuk membahas masalah ini. Pak Sartono Mukadis ikut menangis dalam acara tersebut. Liputan6 SCTV pun mengadakan liputannya. Di milis yang saya ikuti, beberapa orang menanyakan alamat Pak Supriyono, sang pemulung, untuk diberikan pekerjaan. Abdurahman Faiz, si penyair cilik, menuliskan sajak untuk khairunnisa. Semua orang tergerak. Haruskah kita tergerak setelah segalanya terlambat? Semoga saya kejadian yang dialami oleh Bapak Supriyono merupakan peringatan untuk saya dan kita semua bahwa di luar sana, segalanya tidak seindah yang kita alami sekarang. Maka bersyukurlah dan bukalah kesempatan untuk membantu mereka.

================================================