22
Jun
05

Jakarta di mata saya…

Picture130_07may05 Jakarta berulang tahun lagi. Yang ke 478 tahun ini. Saya mengetahui ulang tahun Jakarta biasanya dengan maraknya promosi penyelenggaraan PRJ atau Pekan Raya Jakarta. Maraknya penyelenggaraan PRJ dapat saya ketahui karena hampir setiap hari saya melewati daerah PRJ Kemayoran. Dan seingat saya, baru 2 kali saya menghadiri PRJ. Kali pertama pada tahun 2001 yang pada waktu itu, saya baru pertama kali pindah ke Jakarta, dan tahun berikutnya adalah kali yang kedua. Yang bisa terekam di memori saya tentang PRJ adalah rame, sesak, macet dan biasa, tidak ada yang istimewa. Karena PRJ pada dasarnya hanya merupakan pameran biasa aja yang diramaikan dengan pentas musik dan semacamnya. Icon penyelenggaraan PRJ yang bertepatan dengan ulang tahun kota Jakarta mungkin yang membuatnya beda.

Daripada menyoroti PRJ, di ulang tahun kota Jakarta ini, saya rasa lebih baik bercerita tentang Jakarta itu sendiri dari sudut pandang dan pengalaman pribadi saya. Kota Jakarta buat saya adalah kota dengan ribuan makna. Waktu kecil, saya mengenal Jakarta hanya karena Jakarta adalah tempat kelahiran saya. Waktu SD setiap kali melihat raport, saya dapat membacanya bahwa tempat lahir saya : Jakarta. Dalam bayangan saya waktu kecil, Jakarta adalah tempat yang sangat jauh. Maklum saja, walau saya lahir di Jakarta, masa kecil saya lebih banyak dihabiskan di Ujung Pandang (Makassar sekarang). Sejak usia saya 1 tahun, saya sudah diboyong papa dan mama saya ke Ujung Pandang. Selain sebagai tempat kelahiran, Jakarta bagi saya merupakan tempat tujuan impian setiap lebaran atau liburan. Karena pada waktu itu, kesempatan untuk ke Jakarta adalah hanya pada saat lebaran atau liburan sekolah dimana kami sekeluarga pergi ke Jakarta untuk berkunjung ke keluarga besar mama dan papa di Jakarta dan Cianjur. Karena keterbatasan biaya, frekuensi ke Jakarta biasanya 3 tahun sekali. Oleh sebab itu, ke Jakarta pada waktu itu merupakan impian dan dambaan. Senang rasanya setiap kali ada kesempatan ke Jakarta. Dan lagi, pada waktu itu setiap kali ingat Jakarta, saya teringat kepada kakek saya (almarhum) yang tinggal di tempat saat ini saya tinggal. Ketika keluarga kami pindah ke Semarang sekitar tahun 1992, barulah hampir setiap tahun kami sekeluarga bisa mengunjungi Jakarta. Tapi pada waktu itu, dalam benak saya, Jakarta tetap merupakan tempat tujuan setiap kali lebaran. Pada waktu itu Jakarta di pikiran saya adalah tempat kakek saya berada, selain itu Jakarta saya kenal sebagai ibukota negara, kota metropolitan, gemerlap, banyak artis, mobil-mobil yang bersliweran di jalan bagus-bagus, banyak copet, banyak jambret, dan macet. Tapi hal-hal tersebut hanya saya kenal dari surat kabar, radio atau televisi pada saat itu.

MonasKarena saya mengenal Jakarta dari televisi dan mengunjunginya hanya pada saat liburan, sangat jarang saya tinggal lama di Jakarta, sepertinya paling lama 1 minggu. Baru setelah saya diterima magang di tempat sekarang saya bekerja, saya benar-benar "in" dengan detak nadi Jakarta. Saya bisa merasakan desiran Jakarta di pagi hari dimana hampir semua warganya memulai aktivitas. Macet, joki 3 in 1 bermunculan, semua serasa terburu-buru. Di siang hari, udara Jakarta menyengat sangat panas, asap mengepul dimana-mana yang berasal dari asap kendaraan bermotor. Malamnya, Jakarta masih menderu, gemerlap, lampu-lampu dimana-mana. Di waktu malam, Jakarta tidak kalah indah dengan kota-kota metropolitan lainnya. Namun Kalau boleh memilih, saya memilih untuk tidak tinggal di Jakarta. Sayangnya pilihan itu tidak ada saat ini. Selain macet, tingkat kriminalitas tinggi, Hidup di Jakarta seakan-akan membuat kita sudah tidak hidup dengan normal lagi. Sesuatu yang normal di Jakarta adalah ketidaknormalan. Tidak normal dalam hal menghabiskan banyak waktu di jalan, tidak saling mengenal, penuh rasa curiga, orang mudah naik darah, dan lain sebagainya. Belum lagi kalau suatu saat memiliki anak, akan sangat terasa kekhawatiran sebagai orang tua melihat anaknya harus hidup dalam suasana Jakarta yang hiruk pikuk ini. Tapi diluar itu semua, saya masih punya harapan terhadap Jakarta. Semoga wajah Jakarta akan berubah menjadi lebih ramah dan damai di suatu hari nanti, lebih manusiawi, lebih bermoral dan beradab. Selamat Ulang Tahun, Jakarta. Semoga bisa membawa kebahagiaan bagi banyak warga.

=============================================

Abbreviation of Places

H.O.L.L.A.N.D
Hope Our Love Lasts And Never Dies

I.T.A.L.Y.
I Trust And Love You

L.I.B.Y.A.
Love Is Beautiful ; You Also

F.R.A.N.C.E.
Friendships Remain And Never Can End

C.H.I.N.A.
Come Here… I Need Affection

B.U.R.M.A.
Between Us, Remember Me Always

N.E.P.A.L.
Never Ever Part As Lovers

I.N.D.I.A.
I Nearly Died In Adoration

K.E.N.Y.A
Keep Everything Nice, Yet Arousing

C.A.N.A.D.A.
Cute And Naughty Action that developed into attraction

K.O.R.E.A.
Keep Optimistic Regardless of Every adversity

E.G.Y.P.T.
Everything’s Great, You Pretty Thing!

M.A.N.I.L.A.
May All Nights Inspire Love Always

P.E.R.U.
Phorget (Forget) Everyone… Remember Us

T.H.A.I.L.A.N.D.
Totally Happy, Always In Love And Never Dull

J.A.K.A.R.T.A Jambret Aya Koruptor Aya Rampok Tah Aya oge

———————————-

A joke from internet




0 Responses to “Jakarta di mata saya…”


  1. No Comments

Leave a Reply

You must login to post a comment.