Belakangan ini, setiap kali saya membuka detik.com sering sekali muncul berita-berita tentang hemat energi. Bukan hanya di detik.com tetapi juga di koran-koran kenamaan seperti Kompas dan lain-lain. Entahlah mungkin para wartawan itu sedang kagum-kagumnya kepada gebrakan SBY yang lewat Peraturan presiden No. 10/2005 telah membuat perubahan yang cukup mendasar dimana-mana. Efeknya terasa juga di kantor saya, dimana sejak pemberlakuan PP tersebut mulai memberlakukan penghematan, salah satunya dengan mematikan lampu pada jam istirahat. Walau Cuma setengah jam saja, antara pukul 12.00 - 12.30 namun saya merasa nyaman juga dengan kebijakan tersebut, ya itung-itung saya bisa tidur siang dengan lebih terhormat. Ya maklumlah jarang-jarang saya tidur siang di kantor. Namun bukan masalah tidur siang ini yang jadi sorotan saya. Kenapa cerita-cerita tentang hemat energi ini baru tercetus sekarang ketika kita telah menghadapi krisis energi. Semua pihak berlomba-lomba untuk menunjukkan keikutsertaan mereka dalam mendukung gerakan hemat energi. Dari cerita-cerita yang saya baca, kadang membuat saya geli sendiri. Instansi A melakukan penghematan dengan cara mematikan lampu di lorong-lorong kantornya sehingga menjadi gelap dan temaram, kantor B melakukan penghematan dengan cara menggunakan lift yang jumlahnya beberapa dipakai beberapa saja. Demikian pula dengan instansi yang lain yang sepertinya mencari kreatifitas untuk melakukan penghematan. Saya salut dan angkat topi untuk tindakan itu semua, tapi pernahkan dicermati, kenapa kita harus mengambil tindakan terlambat? Kenapa sih tidak dari dulu ketika sebuah gedung akan didirikan desainnya turut mempertimbangkan penggunaan energi yang efisien? Misalkan lorong-lorong pada bangunan dibuatkan ventilasi serta atap atau tembok yang tembus cahaya sehingga pada siang hari cukup diterangi dengan pantulan cahaya matahari. Kenapa mesti membuat lift delapan buah apabila akan lebih efisien bila jumlahnya cukup dua atau tiga buah saja? Bukankah merupakan tindakan pemborosan dalam bentuk lain apabila kita telah menginvestasikan sebuah aset namun aset tersebut tidak digunakan atau salah desain? Kenapa pemerintah kota Jakarta harus membuat air mancur yang menelan biaya puluhan milyar kalau ternyata penggunaannya hanya akan dibatasi? Bukankah lebih baik apabila dari desain awal dibuat taman-taman kota yang maintenance serta operational costnya efisien? Cerita-cerita tentang penghematan energi tersebut, mengingatkan saya kepada papa saya yang sejak saya kecil sudah mengajarkan kepada saya dan adik-adik saya tentang prinsip-prinsip dasar melakukan hemat energi. Matikan lampu kalau tidak digunakan, matikan keran kalau sedang sikat gigi, kamar mandi di rumah kami lebih ditekankan menggunakan shower, yang lebih efisien penggunaan airnya, dibandingkan bak atau lainnya. Rumah-rumah kami pun didesain untuk tidak menggunakan lampu pada siang hari. Selain penggunaan glass block, jendela-jendela pun dibuat besar dan tiap kamar harus ada paling tidak jendela atau dinding yang ber-glass block. Dulu, saya sering kesal dengan kebawelan papa saya itu, tetapi sekarang saya jadi mengerti, betapa penghematan energi itu merupakan tindakan yang bijak dan bersahaja. Semoga di hari depan, kita tidak harus menghemat lagi karena sekarat. Karena penghematan pada saat sekarat bukan merupakan penghematan tetapi adaptasi secara alamiah. Mudah-mudahan melakukan hemat energi, akan berdampak pada perubahan perilaku anak cucu kita kelak agar lebih bijak dan bersahabat dengan alam dan seluruh isinya.
Recent Comments