Archive for July 14th, 2005

14
Jul

Let me fall…

Semalam, sambil terkantuk-kantuk dengan mengendarai mobil Avanza black saya, dengan kecepatan 60 km/h saat melintas di Tol dalam kota antara Tanjung Priok ke Senayan, saya mendengarkan ada topik perbincangan menarik di radio Falling SmartFM. Saya lupa nama acara tersebut itu apa. Namun dari topik yang dibahas dan didiskusikan oleh narasumber dan pembawa acara, topik malam itu tentang Berani menghadapi Kegagalan. Narasumber pada malam itu menjelaskan bahwa sebenarnya kegagalan adalah salah satu langkah untuk menuju keberhasilan bahkan memperoleh kegagalan adalah salah satu keberhasilan apabila dari kegagalan yang menerpa kita, kita bisa bangkit dan belajar dari kegagalan itu. Setiap orang sukses yang ada di dunia ini, pasti pernah mengalami kegagalan. Kesuksesan mereka diperoleh karena mereka mampu mengatasi kegagalan itu dan orang yang menikmati dan merasakan kesuksesan adalah orang -orang yang tahu dan pernah merasakan bagaimana gagal itu.

Topik diskusi tersebut membuat saya melakukan refleksi terhadap diri saya dan pengalaman yang saya alami selama ini. Tidak terhitung jumlah kegagalan yang pernah saya alami dari saya kecil sampai saya sebesar gajah bengkak ini. Sebut saja ketika SD, saya sering gagal dalam memperoleh rangking. SMP saya beberapa kali gagal dekat dan berkenalan dengan cewek yang saya suka. Ketika lulus SMP saya punya keinginan kuat untuk bisa masuk SMA Taruna Nusantara, saya mengikuti seleksinya dan hanya sampai tes fisik saja, saya gagal masuk TN. Ketika SMU, saya pengen sekali jadi salah satu anggota pasukan pengibar bendera setidaknya di balaikota atau istana negara, namun karena ukuran badan yang tergolong kerdil ini, saya gagal. Saya gagal jadi pasukan pengibar bendera. Ketika lulus SMU saya mengikuti UMPTN, waktu itu cita-cita saya jadi arsitek, maka saya pilihlah Arsitektur ITB sebagai pilihan pertama, namun ketika itu saya gagal. Saya lolos untuk pilihan kedua saja, Akuntansi Undip.

Dari flash back sekilas terhadap masa lalu saya saja, saya sudah bisa mendaftar beberapa kegagalan yang pernah saya alami. Belum lagi kegagalan-kegagalan yang saya alami secara informal, seperti dikhianati pacar, kalah dan babak belur dalam pertandingan karate, tersisih dalam keanggotaan himpunan atau senat dan lainnya.

Namun kegagalan yang saya alami, tidak membuat saya mati. Untung saja saya masih punya kekuatan untuk terus berjalan, berderap dan berlari sehingga kenangan akan kegagalan-kegagalan itu cukup saja ada dalam benak saya dan sebagai figuran dalam percikan kejadian di masa lalu. Saya belajar sesuatu malam itu, tidak seharusnya saya menyerah kepada kegagalan dan dihantui oleh perasaan takut gagal. Kegagalan bukanlah aib dimana kita harus bersembunyi di baliknya ataupun dosa dimana kita harus menjauhkannya. Point terpenting dari konsep berani menghadapi kegagalan adalah nilai kegigihan, kerja keras dan pantang menyerah. Menurut cerita yang pernah saya dengar, Thoma Alva Edison mengalami 3000 kegagalan sebelum akhirnya dia berhasil menemukan bohlam yang saat ini tidak bernilai manfaatnya bagi kita. Dia pernah berkata bahwa keberhasilan yang diperolehnya hanya 1% berkat kejeniusan dan 99% adalah kerja keras. Secara fisiologi dan morfologi mungkin saya, anda dan kita semua sama halnya dengan Thomas Alva Edison ataupun Albert Einstein bahkan Bill Gates. Yang membedakan mungkin hanya mental dimana mereka terbiasa bekerja dan berpikir keras sedangkan saya atau anda tidak. Seperti halnya lagu yang sempat disitir pada malam itu "let me fall" dari Josh Groban. Let me fall, if I fall, there is no reason to miss this one chance, this perfect moment…. Just let me fall.

Saya gagal beberapa kali dalam mengikuti program bea siswa, saya gagal tes masuk Price Waterhouse Cooper, IBM, Bank Indonesia dan mungkin juga Deutche Bank. Tetapi biarkan saya jatuh, let me fall, karena tidak ada alasan untuk saya untuk menghindari moment dan kesempatan yang berharga ini.

====================================

Let Me Fall
(from Cirque de Soleil)
Music: Richard Marx
Lyrics: Linda Thompson

by : Josh Groban

Let me fall
Let me climb
There’s a moment when fear
And dreams must collide

Someone I am
Is waiting for courage
The one I want
The one I will become
Will catch me

So let me fall
If I must fall
I won’t heed your warnings
I won’t hear them

Let me fall
If I fall
Though the phoenix may
Or may not rise

I will dance so freely
Holding on to no one
You can hold me only
If you too will fall
Away from all these
Useless fears and chains

Someone I am
Is waiting for my courage
The one I want
The one I will become
Will catch me

So let me fall
If I must fall
I won’t heed your warnings
I won’t hear

Let me fall
If I fall
There’s no reason
To miss this one chance
This perfect moment
Just let me fall

14
Jul

Letter to the British People

Saya memperoleh email siang ini yang dikutip dari milis daarut tauhid. Isinya menyemangatkan dan menggugah. Bahwa setiap bangsa yang beradab di dunia ini adalah sama. Bukan hanya hak bangsa Inggris atau Amerika yang ingin hidup bebas. Mereka juga tidak punya hak untuk menilai bangsa lain karena merasa mereka memiliki keluarga dan impian mereka masing-masing. Saya memposting di blog ini semoga yang mampir juga memiliki harapan dan pandangan yang sama dengan saya. Doa saya untuk seluruh rakyat Irak, semoga penderitaanmu membuka pintu damai dan pintu taubat bagi para makhluk barbar yang merasa paling beradab.

==============================================

Surat Untuk Bangsa Inggris

Saya kirim surat ini kepada rakyat Inggris, khususnya penduduk kota London.

Bombing Selama selang waktu beberapa jam, saat terjadinya beberapa ledakan bom di London, anda bisa rasakan sendiri menjalani hidup melewati saat-saat keputus asaan, kegelisahan dan tercekam horor. Pada saat-saat itu anda kehilangan sanak keluarga atau teman, dan kami berharap untuk mengatakan kepada anda, sejujur-jujurnya, bahwa kami juga ikut berduka ketika jiwa manusia tercabut, tewas jadi korban. Saya tidak bisa mengatakan kepada anda bagaimana derita kami saat kami menyaksikan keputus asaan dan kesakitan yang tergambar di wajah orang lain. Selama kami menjalani hidup melewati sutuasi seperti ini - dan akan terus menjalaninya setiap hari - sejak negara anda dan amerika membentuk persekutuan dan menjalankan rencana untuk memerangi Irak.

Perdana Mentari negara anda, Tony Blair, mengatakan bahwa para pelaku peledakan bom London, melakukannya atas nama Islam. Menteri Luar Negeri amerika, Condoleezza Rice, menggambarkan pelaku pengeboman sebagai tindakan barbar. Dewan Keamanan PBB langsung mengadakan rapat dan mengutuk secara bersama atas kejadian itu.

Saya tergoda untuk bertanya kepada anda semua, rakyat inggris yang bebas, ijinkan saya meminta penjelasan : Atas nama siapa negara kami diblokade/embargo selama 12 tahun? Atas nama siapa kota-kota kami dibom pakai senjata-senjata yang terlarang secara internasional? Atas nama siapa tentara inggris menyiksa rakyat Irak dan membunuh mereka? Apakah atas nama anda, wahai orang-orang inggris yg bebas? Atau atas nama agama anda? Atau atas nama kemanusiaan? Atau kebebasan? Atau demokrasi?

Apa sebutan untuk orang-orang yang membantai dan membunuh lebih dari dua juta anak-anak Irak? Apa sebutan untuk orang-orang yang menyebabkan tanah dan air kami terpolusi ‘depleted uranium’ dan zat-zat mematikan lainnya?

Bagaimana komentar anda tentang apa yang terjadi di penjara-penjara di Irak - di Abu Ghraib, Camp Bucca dan sejumlah kamp penjara lainnya? Apa sebutan untuk orang-orang yang menyiksa pria, wanita dan anak-anak tak berdosa? Apa sebutan untuk orang yang mengikatkan bom ke tubuh seorang tahanan dan kemudian meledakkannya menjadi serpihan-serpihan? Bagaimana komentar anda tentang penyempurnaan metode penyiksaan untuk tahanan Irak -
seperti merenggut paksa tungkai/lengan, mencongkel mata sampai keluar, menyundut kulit dengan rokok menyala, membakar rambut dengan pemantik api? Apakah kata-kata ‘barbar’ cocok untuk menggambarkan kelakuan para tentara anda di Irak?

Bolehkah kami bertanya, mengapa Dewan Keamanan PBB tidak mengutuk pembantaian rakyat tak berdosa di al-Amiriyah dan apa yang terjadi di al-Fallujah, Tal’afar, Sadr City, dan an-Najaf? Mengapa seluruh dunia hanya menyaksikan saja saat rakyat kami dibunuh dan disiksa dan tanpa ada yang mengutuk kejahatan kemanusiaan yang dilakukan terhadap kami? Apakah karena anda semua manusia sedangkan kami jenis lain yang lebih rendah? Apakah anda pikir hanya anda saja yang bisa merasakan sakit dan kami tidak? Pada Kenyataannya, kamilah yang paling bisa merasakan bagaimana beratnya skala kesakitan dari seorang ibu yang kehilangan anaknya, atau seorang ayah yang kehilangan keluarganya. Kami sangat tahu dan merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seseorang yang sangat dicintai.

Anda tidak pernah kenal para suhada kami, tapi kami mengenal mereka dengan baik. Anda tidak mengingat mereka, tetapi kami senantiasa akan mengingat mereka terus. Anda tidak menangisi kepergian mereka, tetapi kami sangat menangisi mereka.

Apakah anda pernah mendengar nama seorang gadis kecil , Hannan Salih Matrud? Atau seorang anak laki-laki bernama Ahmad Jabir Karim? Atau Sa’id Shabram?

Ya, rakyat kami yang tewas mempunyai nama juga. Mereka mempunyai wajah-wajah dan cerita dan memori. Ada saatnya ketika mereka masih bersama kami, tertawa dan bermain bersama. Mereka mempunyai impian, seperti anda punya impian. Mereka mempunyai masa depan yang menunggu. Tapi sekarang mereka tertidur tan pa mempunyai hari esok yang kan membangunkan mereka.

Kami tidak membenci bangsa inggris atau bangsa-bangsa lain di dunia ini. Peperangan ini ditujukan atas kami, maka kami saat ini berjuang untuk mempertahankan diri kami. Karena kami ingin hidup di tanah air kami sendiri - tanah berdaulat kami, Irak - dan menjalani hidup sesuai dengan yang kami inginkan, bukan yang pemerintah anda dan pemerintah amerika inginkan.

Biarkan para keluarga korban yang terbunuh mengetahui bahwa tanggung jawab insiden pemboman London kamis pagi itu tertumpu di pundak Tony Blair dan politik luar negerinya. Hentikan peperangan terhadap bangsa kami! Hentikan pembunuhan yang dilakukan oleh para tentara anda yang dilakukan tiap hari itu! Akhiri penjajahan anda terhadap tanah kami!

Baghdad, 9 Juli, 2005. Iman Al-Saadun

==============================================

A Letter to the British People.

I am sending this letter to the British people and in particular to the residents of London.

For a period of hours, you have lived through moments of desperate anxiety and horror. In those hours you lost a member of your family or a friend, and we wish to tell you in total honesty that we too grieve when human lives pass away. I cannot tell you how much we hurt when we see desperation and pain on the face of another person. For we have lived through this situation - and continue to live through it every day - since your country and the United States formed an alliance and laid plans to attack Iraq.

The Prime Minister of your country, Tony Blair, said that those who carried out the explosions did so in the name of Islam. The Secretary of State of the United States, Condoleezza Rice, described the bombings as an act of barbarism. The United Nations Security Council met and unanimously condemned the event.

I would like to ask you, the free British people, to allow me to inquire: in whose name was our country blockaded for 12 years? In whose name were our cities bombed using internationally prohibited weapons? In whose name did the British army kill Iraqis and torture them? Was that in your name? Or in the name of religion? Or humanity? Or freedom? Or democracy?

What do you call the killing of more than two million children? What do you call the pollution of the soil and the water with depleted uranium and other lethal substances?

What do you call what happened in the prisons in Iraq - in Abu Ghraib, Camp Bucca and the many other prison camps? What do you call the torture of men, women, and children? What do you call tying bombs to the bodies of prisoners and blowing them apart? What do you call the refinement of methods of torture for use on Iraqi prisoners - such as pulling off limbs, gouging out eyes, putting out cigarettes on their skin, and using cigarette lighters to set fire to the hair on their heads? Does the word "barbaric" adequately describe the behaviour of your troops in Iraq?

May we ask why the Security Council did not condemn the massacre in al-Amiriyah and what happened in al-Fallujah, Tal’afar, Sadr City, and an-Najaf? Why does the world watch as our people are killed and tortured and not condemn the crimes being committed against us? Are you human beings and we something less? Do you think that only you can feel pain and we can’ t? In fact it is we who are most aware of how intense is the pain of the mother who has lost her child, or the father who has lost his family. We know very well how painful it is to lose those you love.

You don’t know our martyrs, but we know them. You don’t remember them, but we remember them. You don’t cry over them, but we cry over them.

Have you heard the name of the little girl Hannan Salih Matrud? Or of the boy Ahmad Jabir Karim? Or Sa’id Shabram?

Yes, our dead have names too. They have faces and stories and memories. There was a time when they were among us, laughing and playing. They had dreams, just as you have. They had a tomorrow awaiting them. But today they sleep among us with no tomorrow on which to wake.

We don’t hate the British people or other peoples of the world. This war was imposed upon us, but we are now fighting it in defense of ourselves. Because we want to live in our homeland - the free land of Iraq - and to live as we want to live, not as your government or the American government wish.

Let the families of those killed know that the responsibility for the Thursday morning London bombings lies with Tony Blair and his policies. Stop your war against our people! Stop the daily killing that your troops commit! End your occupation of our homeland!

Baghdad, July 9, 2005. Iman Al-Saadun