Archive for July 31st, 2005

31
Jul

Mulailah Mencari…

Pagi ini sebelum jam masuk berbunyi, saya membaca blog mbak Nana, salah satu rekan kerja saya, tentang promosi di grup perusahaan tempat kami bekerja. isinya menginspirasikan saya untuk menulis blog ini. Isinya memang benar sih. Mbak Nana menulis tentang promosi yang baru saja diterimanya itu, sebagai sesuatu yang absurb. Promosi menurut saya dan juga berdasarkan literatur perilaku organisasi yang saya rasa pernah saya baca (:-)) . Sebenarnya promosi itu bertujuan untuk dilakukannya pengkaderan dalam organisasi. Sehingga diharapkan organisasi dapat berjalan langgeng dan disokong oleh sumber saya manusia yang memadai dan siap untuk regenerasi. However, untuk menjadi the next generation itu, syarat yang pasti harus ada yaitu prestasi dan dedikasi kerja. Sehingga tidak berlebihan apabila seseorang yang dengan sungguh-sungguh bekerja dengan penuh dedikasi, integritas, dan berprestasi berharap untuk memperoleh promosi. Mungkin hal itu lah yang dirasakan mbak Nana dan juga saya. hehe.

Path Unfortunately, harapan itu tidak sesuai dengan kenyataaan yang ada. Terutama di tempat kami. Bisa dibilang bahwa kamu tidak bisa menentukan kapan kamu dipromosi eventhough kamu berprestasi baik dan bekerja penuh dedikasi sekalipun. Yang fatal dari keadaan semacam itu, orang-orang jadi bekerja apa adanya. Toh kalau memang sudah waktunya dan kita dianggap pantas ya, pasti suatu saat pun akan dipromosi. Just work, wait and see.

Namun yang harus diingat bahwa balasan yang kita inginkan atas prestasi yang kita torehkan bisa jadi tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Terkadang tanpa kita sadari pun, apa yang kita harapkan datang dengan sendirinya. Tetapi terkadang pula, sesuatu yang sangat begitu kita tunggu-tunggu tidak pernah kesampaian. Keadaan tersebut persis sama dengan inspirasi yang saya peroleh malam sebelumnya. Saya mendengar diskusi di radio Smart FM tentang suatu sisi kehidupan yang digambarkan lewat fragmen. Singkat ceritanya begini :

Di sebuah desa kecil di sebuah lembah hiduplah seorang suci yang hidupnya senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan. Suatu kali terjadi hujan yang sangat besar di desa tersebut. Karena besarnya hujan tersebut maka lama kelamaan banyak daerah yang tergenang. Hari pertama, tinggi air mencapai mata kaki, banyak penduduk sudah mulai siap-siap untuk mengungsi. Pada hari kedua, tinggi air telah mencapai lutut, beberapa warga telah melakukan pengungsian. Sang orang suci ikut membantu warga yang ingin mengungsi. Tapi walau demikian, tak terlihat satu keinginanpun bagi orang suci tersebut untuk mengungsi. Hari ketiga, air telah mencapai perut orang dewasa, sebagian besar penduduk telah mengungsi. Beberapa warga menawarkan agar orang suci diungsikan tetapi orang suci tersebut menolak seraya berkata "Selama hidup saya, saya senantiasa mendedikasikan hidup saya kepada Yang Maha Esa, dan saya tidak pernah mengharapkan apapun. Untuk itu saya berharap Dia akan menolong saya kali ini". Hari keempat, air sudah mencapai leher. Tingga beberapa orang dewasa saja yang masih ada di desa beserta sang orang suci, namun hujan terus mengguyur tanpa henti. Akhirnya beberapa warga terakhir memutuskan untuk mengungsi dengan perahu terakhir dan mengajak serta sang orang suci. Namun dia menolak kembali. Pada hari kelima, hanya atap yang terlihat di pedesaan, semua orang telah mengungsi kecuali sang orang suci. Tak lama dari kejauhan terlihat sebuah perahu datang, ternyata ada warga desa yang kembali bermaksud menjemput sang orang suci, dan kali ini, seperti biasa, orang suci ini menolak kembali. Akhirnya ditinggallah dia sendiri di tengah hujan yang masih mengguyur. Dengan perasaan sedih dan kecewa akhirnya dia berteriak protes, "Tuhan, setelah sekian lama aku serahkan hidupku mengabdi kepada-Mu. Apakah Kamu tega membiarkan hamba-Mu seperti ini?? Kenapa Kau tinggalkan aku, Tuhan?? Kenapa tidak Kau tolong aku??"

Tiba-tiba terdengar suara gaib terdengar di telinganya "Aku sudah menolongmu tiga kali, tetapi kamu sama sekali tidak memperdulikan Aku"

Jadi terkadang memang kita sebagai manusia, selalu berharap bantuan-Nya sesuai dengan harapa dan cara pandang kita. Kita bekerja berharap memperoleh promosi, bonus dan segala kompensasi yang kita anggap pantas dan setimpal dengan tindakan kita. Kita berharap tindakan kita dibalas setimpal dengan yang kita harapkan. Padahal Rahmat Allah, yang maha kuasa senantiasa ada pada kita. Walau tidak selalu dalam bentuk sesuai keinginan kita. Kita seharusnya jangan berputus asa. Seharusnya kita harus jeli dan peka apa rahmat Allah yang diberikan hari ini untuk kita? Andaikan sang orang suci itu peka, seharusnya dia tidak usah kecewa dan marah. Karena perahu penolong dan kepedulian warga desa adalah salah satu bentuk rahmat Allah kepadanya.

Saya tidak dipromosi tahun ini. Tidak apa, tapi saya yakin dengan konsistensi kerja dan memperkaya kemampuan dan aktivitas saya, saya bisa memperoleh rahmat dan karunia Allah tanpa harus lewat promosi. Yang terpenting adalah mulailah mencari lewat usaha dan kerja keras tanpa henti. Terlalu banyak rahasia yang harus kita ungkap dengan kemampuan akal yang terbatas ini. Karena Dia tidak pernah meninggalkan kita.