Saya memperoleh email ini, dari sebuah milis. Isinya tentang kedudukan wanita di dalam Islam. Sering saya jengah dengan pendapat kaum wanita liberal terutama wanita barat, atau wanita yang selalu condong ke barat, yang mendewakan emansipasi, yang melihat harkat dan martabat dirinya hanya di dunia saja. Alhamdulillah saya memperoleh pencerahan hari ini. Dan semoga saya bisa membaginya untuk wanita-wanita yang saya sayangi, ibu, istri, adik, saudara-saudara perempuan, teman dan sahabat-sahabat perempuan saya bahwa sesungguhnya Allah sangat mencintai mereka tanpa syarat, tanpa diskriminasi, tanpa mereka minta. Semoga tulisan ini membuka pintu hatimu untuk lebih dekat kepada-Nya. Untuk kaum pria, agar tulisan ini disebarkan ke setiap penjuru dunia, kepada saudara perempuan kalian yang kalian sayangi, semoga akan membuatnya semakin dekat kepada Allah.
==============================
Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM,
Lihat saja peraturan dibawah ini :
1.. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
2.. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3.. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
4.. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
5.. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6.. Wanita wajib taat kpd suaminya tetapi suami tak perlu taat pd isterinya.
7.. talak terletak di tgn suami dan bukan isteri.
8.. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.
makanya mereka nggak capek-capeknya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM"
Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??
1. Benda yg mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dgn seorg wanita.
2.Wanita perlu taat kpd suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?
3.Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isteri dan anak-anak.
4.Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di mukabumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.
5.Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.
6.Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 org lelaki ini: suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
7.Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yg disukainya cukup dgn 4 syarat saja :
- shalat 5 waktu,
- shaum di bulan Ramadhan,
- taat pada suaminya dan
- menjaga kehormatannya.
8.Seorg lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala org pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Masya ALLAH … demikian sayangnya ALLAH pada wanita bukan?
taken from Sabili mailing list
Seandainya semua lelaki bisa menafsirkan segala sesuatu tentang perempuan dalam Al Qur’an dengan benar….mungkin tidak ada kaum feminis yang akan teriak2…
Kadang2…penafsiran laki2 seringkali salah kaprah.
Sama juga…penafsiran peremmpuan sering salah.
Gw juga gak setuju kalo masalah kehamilan dan haid jadi sesuatu yang bermasalah… dan kupikir… kaum feminis tau kok takdir perempuan: Haid, Mengandung, Melahirkan, Menyusui.
Kalo masalah gak boleh kerja ma suami…ya itu somethin stupid.
Menurut siapa? harkat, jatidiri atau nafsu pribadi?
Have you ever watch SWAN? a TV program? salah satu contoh nafsu pribadi yang kebablasan.
Perempuan punya hak yang sama.
Yang bilang perempuan gak boleh kerja…itu menurut harga diri, gengsi atau takut tersaingi?
SWAN? I don’t agree with it. No need to change to be somebody else. Thank God for what you have, and do whatever you could do best.
And that means…men and women…have no different in ways of trying to do the best in their life.
takut gak bisa melindungi dan bertanggung jawab di akhirat aja kali yee…
Saya pernah baca buku “Kado pernikahan buat istriku” buah karya Muhammad Fauzil Adhim. di bab terakhir terdapat nasihat Rasulullah kepada putrinya Fatimah Azzahra yang kurang lebih isinya :
1. wanita yang mengandung anaknya didoakan oleh banyak malaikat sepanjang waktu
2. wanita yang menyusui/ membuatkan makanan dan memberi makan anaknya dengan perasaan ikhlas, pahalanya seperti orang yang memberi makan 1000 anak yatim dan orang miskin(hitung kalau beri makan tiap hari)
3. Wanita yang memandikan serta memakaikan pakaian anaknya dengan ikhlas, pahalanya laksana orang yang memberi pakaian 1000 anak yatim dan orang miskin
4. Wanita yang menjaga harta suaminya, menjaga dirinya serta kehormatannya kala suaminya bepergian niscaya akan diharamkan tubuhnya dari jilatan api neraka.
Nah, jika saja suami-mu meminta kamu untuk di rumah saja menjaga dan merawat anak-anakmu bukankah dia sangat sayang dan itu membukakan pintu rahmat yang melimpah kepadamu? Would you say it stupid?
Dan membatasi hak istrimu untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai manusia? Well..yes.
Apa yang kamu sebut di atas…juga bisa dilakukan dalam keadaan bekerja. Yahh…kecuali memang bila si suami memang memegang konsep gender jaman baheula yang udah ga berlaku lagi….
Apa seorang istri tidak berhak melakukan keinginannya? Kasian sekali wanita2 yang menikah then…
Pernah ga…bertukar pikiran dengan seorang istri yang tidak bekerja selama hidupnya…seorang istri yang sudah dalam keadaan seperti itu selama 20 tahun?
Coba deh…cari…dan bertukarpikiranlah. Dengarkan apa yang dia katakan. Jangan dulu hakimi mereka. I did that.
Pernah ga merasakan penderitaan yang tidak terucapkan dari bibir seorang istri yang seperti itu?
Ini hidup. Ini realita. Bukan idealisme yang berlaku. Tapi realitas hidup.
Bagaimana pun seorang istri tetap seorang manusia. Sama2 punya keinginan..sama2 punya hasrat hidup. Bukan hanya laki2.
Gue yakin…Allah sendiri pun mengijinkan kaum wanita bekerja. Why I’m sure? Karena segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, terjadi atas ijin Allah. Itu yang gue yakini.
Sepanjang kita sama2 menjalankan kewajiban kita masing2…kita pun juga mendapatkan hak kita masing2.
Jadi mengapa seorang laki2 bisa melarang seorang wanita bekerja? Bahkan Allah pun tidak melarang…
kenapa ya tiap kali berdiskusi dengan topik semacam ini, yang merujuk pada kaidah agama/ tuntunan syariat dibilang kuno, memegang konsep jaman baheula, rendah diri dll. ya kalo emang pengen bekerja terus, pilihlah suami yang sesuai keinginanmu, banyak kok yang berpikiran bebas semacam itu, jaman sekarang gitu loh…
mengenai penderitaan istri yang dirumah… hmmm mertua saya di rumah, tante2 saya di rumah, nenek saya di rumah, dan mereka happy tuh… kebahagiaan mereka bukan karena banyaknya uang atau luasnya pergaulan, tapi melihat anak-anaknya berhasil dalam pendidikan dan akhlak. hiks terharu gw.
btw, siapa sih yang ngelarang loe kerja?
Happy bukan hanya karena uang. Happy bukan hanya karena luasnya pergaulan.
gue sama sekali tidak bicara akidah agama itu kuno, tapi cara laki2 mengimplementasikannya. Ini bukan hanya masalah bekerja.
Gue orang islam yang juga memegang akidah agama gue, jadi tidak sekalipun gue akan menghinakan agama gue.
Tapi gue ga pernah mengerti dengan laki2 yang berpikir…dia adalah orang yang bisa menentukan hak2 yang bisa didapatkan oleh istrinya. Bukankah itu jauh melebihi dari apa yang Allah lakukan?
Kesombongan asalnya bukan dari feminis. Tapi dari sikap laki2 yang menentukan hak2 istri, seolah2 kewenangan dia jauh di atas Allah. Dari situlah kaum feminis timbul.
Dan terus terang…gue ga percaya. Bila larangan bekerja datang dari suami akan membawa mereka dalam kebahagian. Bila tidak bekerjanya mereka karena pilihan hidup mereka sendiri…mereka akan bahagia.
yeee… siapa yang ngelarang… masalahnya yang bekerja itu kadang melupakan hak anaknya.
lagian mau bagaimanapun kelakuan istri yang tanggung jawab suami dan anak laki-lakinya. kasian sekali kami harus nanggung kelakuan yang bebal. hiks…
hmm..lelaki yang dengan bebal merasa perempuan harusnya gak bekerja?
kasian juga perempuan yang punya suami seperti itu….
makanya cari aja laki-laki yang cocok dengan hatimu dan imanmu tentunya…
lagian siapa yang ngelarang kerja ya. jd bingung gw.
just ngutip surah an nisaa ayat 34 kalau boleh, yang artinya :
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Adilkan? mau dekat dengan Tuhan? gampang ikut pengajian donk.
ckckckck…. *unbelievable*
suami gue pukul gue? yg pasti tinggal cerai yg die dapet…
hmm? knp kaget?
bukankah sama juga syariatnya dgn anak kecil berumur 7 tahun yang gak mau sholat? apa karena HAM maka kita biarkan anak gak sholat?
ck ck ck *ikut2an unbelievable*
ada tafsirnya nih dari surah an nisaa 34 tersebut :
1. Nusyuz : meninggalkan kewajiban dalam bersuami istri misal durhaka.
2. Memberi pelajaran disini ialah : memberi nasehat, apabila tidak bermanfaat memisahkan tempat tidur, apabila tidak bermanfaat juga barulah dipukul dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas (ada hadistnya tapi saya gak bisa kasih disini). Apabila cara pertama sudah mencukupi/ bermanfaat tidak perlu berlebih-lebihan untuk menyusahkannya atau tahapan yang lain tidak perlu dilakukan.
Kalau suami yang durhaka bagaimana?
Istri punya hak untuk mengajukan talak dan selama talak tersebut suami masih berkewajiban memberi nafkah lahir kepada istri beserta anaknya.