Ballroom Four Seasons Hotel, Rasuna Said, Jakarta. 22 August 2005
Pagi ini saya berangkat dari rumah agak telat. Bukan karena niat terlambat ke kantor, karena memang hari ini saya ada undangan Seminar Ekonomi dan Mata Uang Asing yang diadakan oleh ANZ bank. Berhubung tempat penyelenggaraannya terhitung dekat dari rumah saya, maka saya langsung datang ke tempat seminar, instead harus ke kantor dulu trus ke tempat seminar.
Topik Economic and Currency Seminar kali ini menurut saya cukup unik "The China Revaluation and its Impact to Indonesia and Asian Economic" dengan menghadirkan pembicara dari Economist ANZ, Ms. Amy Auster (keliatannya masih muda dan cantik euy) seorang Head of International Economics, ANZ Bank, ada Ekonom dari IMF, ada juga Petinggi dari JSX. Tetapi topik yang paling menarik perhatiannya saya adalah perkembangan ekonomi China yang dipresentasikan oleh Ibu Amy.
Ibu Amy memaparkan berbagai data-data dan indikator-indikator ekonomi China dan juga negara Industri lainnya di dunia, termasuk yang ada di Asia…dan juga Indonesia. Saya hanya bisa tercengang dan melongo melihat dashyatnya indikator ekonomi China beberapa tahun terakhir. Dan berterima kasihlah kepada China yang telah berhasil meningkatkan harga komoditi dunia seperti Batu bara, Bijih Besi, Tembaga, Minyak Bumi dan bahkan Daging Sapi!!!
China benar-benar fenomenal, saat ini tingkat Gross Domestic Product China adalah no 2 setelah Amerika Serikat dan di prediksi pada tahun 2015 China akan meninggalkan Amerika untuk tingkat GDPnya. Thanks to China yang telah meningkatkan kebutuhan minyak dunia secara signifikan. Kebutuhan minyak china pada tahun 2004 menyumbang 32% peningkatan kebutuhan dunia, sedangkan peningkatan kebutuhan Minyak Amerika Serikat hanya menyumbang 12% saja. Luar biasa!!!
Thanks to China juga yang telah mengabsorb sebagian besar ekspor dari Indonesia. Dibandingkan dengan negara asia lainnya, porsi impor China dari Indonesia adalah yang terbesar. Maka tidak salah dan heran apabila Ibu Amy memberi penegasan bahwa betapa Indonesia memiliki Big Opportunity dari kemelesatan China ini. Disaat Amerika melakukan embargo terselubung kepada produk dari Indonesia, peran China yang sedang menggeliat benar-benar turut menyumbang bergeraknya ekonomi Indonesia. Para analis ekonomi memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi China pada tahun ini akan berkisar pada 8,5 - 9,5 % sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri hanya sekitar 5 - 5,2%.. sedih ya hanya setengahnya saja kita.
Bulan lalu tanggal 21 July 2005, China membuka sistem devisanya dari peg terhadap US Dollar menjadi currency basket floating. Efeknya nilai mata uang Yuan menguat 2.1% dari USD dan diramalkan tingkat deflasinya dan revaluasinya akan terus berubah seiring perubahan ekonomi dunia. Deflasi bo’… bayangkan dengan tingkat INFLASI indonesia yang udah mau ke 8% tahun ini… hik makin sedih aja nih… bisa dibilang China lari ke kanan kita lari ke kiri. Dimasa depan sepertinya China harus berakrobat seperti Jepang, berupaya "melemahkan" nilai tukarnya terhadap USD hanya untuk menyelamatkan ekspor dan ekses produksi.
Sudah… sudah…sudah… Ekonomi China bikin iri deh pokoknya. Padahal mereka bertahun-tahun dikurung komunisme tapi bisa maju pesat. Indonesia bisa gak ya. Tapi yang terpenting adalah aksi apa yang harus dilakukan mengetahui kenyataan ini? "Kayaknya harus mulai belajar bahasa mandarin nih" kata rekan saya.


Recent Comments