Setia selamanya…
Mungkin salah satu hobi saya yang sering saya lakukan di sela-sela hari libur adalah berkunjung ke rumah nenek saya di Cibinong. Bisa dibilang setiap bulan saya pasti berkunjung kesana walau mungkin hanya sekitar dua atau tiga jam saja. Kalau dicermati, sebenarnya tidak ada yang spesial disana, maksud saya, selain bersilaturrahmi dengan nenek dan kakek saya, Cibinong adalah kota yang biasa saja. Entah saya kadang merasa kangen aja kalau dalam sebulan saya tidak main ke Cibinong. Mungkin hanya pendaman rasa kangen atau rasa bersalah saja karena jarak yang begitu dekat dari Jakarta saya tega tidak punya waktu untuk mengunjungi nenek saya (yang disisi lain saya punya waktu berkunjung ke daerah-daerah yang lebih jauh dari Cibinong). Perasaan saya itu mungkin terkait dengan kurang begitu dekatnya saya dengan keluarga besar papa dan mama saya sewaktu saya masih kecil. Ya ketika saya kecil, kami sekeluarga seakan seperti terasing di tempat yang jauh dari domain keluarga besar kami. Sehingga kadang merasa saat sekaranglah, dimana jarak domisili saya tidak begitu jauh dengan mereka, saya harus senantiasa menjaga hubungan silaturrahmi ini. Mungkin juga mengobati rasa bersalah saya kepada Kakek nenek saya, Ayah dan Ibu dari Mama saya, yang sebelumnya telah mendahului ke hadapan-Nya. Mungkin juga sebagai wujud menutupi rasa khawatir saya bahwa orang-orang yang saya cintai itu kehadirannya tak akan abadi. Bisa saja Yang Maha Kuasa merenggut mereka kapan saja. Untuk itu saya sangat menghargai kehadiran mereka saat ini.
Hal lain yang membuat saya betah ke Cibinong adalah banyaknya cerita, nasihat dan pengalaman yang saya peroleh dari kakek dan nenek saya. Terus terang saya banyak belajar kepada mereka. Terutama belajar dalam menjalani kehidupan yang tidak selalu ramah ini. Mereka, yang menjalani hidup di Jaman Jepang, di jaman pergolakan kemerdekaan, jaman revolusi, sampai jaman krisis sekarang, tahu betul bagaimana rasanya terhimpit dalam kesulitan. Justru itulah saya harus bisa belajar dari mereka. Mereka kadang menceritakannya sampai membuat seakan-akan saya turut hadir dalam setiap perjuangan hidup mereka. Saya teringat nenek saya pernah menceritakan bagaimana perjuangan beliau untuk bisa menyekolahkan uwa-uwa saya dan juga papa saya. Untuk seorang Ibu, nenek saya bisa dikatakan Ibu yang sukses, karena bisa mengantarkan anak-anaknya sukses sebagai manusia. Walau bila dihitung secara materi, bisa jadi kita berpikiran mustahil sekali keadaan nenek saya bisa seperti itu. concernnya kepada pendidikan anak-anaknyalah yang berkontribusi terhadap keberhasilannya. Nenek saya sempat berujar bahwa beliau rela tidak makan atau hanya makan singkong hasil kebun saja demi menyekolahkan papa saya dan saudara-saudaranya. Saya melihat hasil perjuangan nenek saya itu membuat keluarga besar kami erat hubungannya satu sama lain. Saling membantu, saling menyokong. Yang memiliki kelebihan membantu yang sedang kekurangan. Sungguh pelajaran yang amat berharga bagi saya yang baru merasa hidup beberapa tahun terakhir saja.
Sisi lain yang saya kagumi dari kakek dan nenek saya kesetiaan dan kasih sayang yang selalu terpancar dari hubungan mereka sehari-hari. Nenek saya sangat care sekali sama kakek saya. dari cerita cerita uwa dan bibi saya, hampir tidak ada masalah serius dalam hubungan mereka sebagai suami istri. Walau bisa dibilang kehidupan mereka dahulu sangat terbatas, tapi dengan semangat juang tinggi, mereka bisa melewatinya, meminjam istilah drama, melewatinya dengan keringat, darah dan airmata. Nenek saya itu sangat tidak bisa berlama-lama terpisah dari kakek saya. beliau selalu terpikir "siapa yang ngurus kakek nanti?". Mungkin sikap bersahaja dan kesederhanaan mereka buah dari ketekunan mereka dalam menjalankan ibadah dan syariat agama. Hampir tiap hari rumah kakek saya dihiasi oleh suara berat mereka saat mengaji. Tenang rasanya berada di rumah kakek dan nenek saya itu.
Akhir pekan lalu, sepulang dari piknik divisi, saya menyempatkan mampir ke rumah mereka bersama istri saya. Ada cerita baru lagi yang saya peroleh dari beliau. Sambil menasehati istri saya yang lagi hamil muda, belia menceriterakan masa-masa awal mengandung papa saya. Nenek saya cerita kalo dulu dia ngidam daun pisang muda mentah (?)… hehehe… selain itu ngidam makan kopi. Ya MAKAN kopi. Mengunyah kopi tanpa air tanpa gula. Cerita itu membuat saya tergelak, pantas saya, papa saya terlihat lebih hitam dari saudaranya yang lain.
Yah itulah nenek saya. nenek yang penuh kesederhanaan dan ilmu. Nenek yang menjadi tauladan bagi anak-anaknya dan tentu saja cucu-cucunya. Untung nenek masih ada sampai sekarang, dan saya beruntung memperoleh pelajaran dan pengalaman yang banyak dengan berinteraksi dengannya. Seorang sosok yang unik dan langka untuk kehidupan yang fana sekarang ini.
======================================================
It requires wisdom to understand wisdom: the music is nothing if the audience is deaf – Walter Lippman


Aduh..jd mengingatkanku pd mbah uti yg nun jauh dsana..hiks..hiks..:-( jd ingat dulu sering di-nina bobo ma mbah..(cz jaman kecil lbh sering tdur d rmh mbah,drpd drmh sndiri..hehehe..)..dcritain kancil nyolong timun,dinyanyiin dandanggulo..”semut ireng..anak-anak sapi..nyabrang kali bengawan solo..riwayatmu kini..”(ga’nyambung bgt..hehehe..)..tmpat perlindungan paling aman klo lg dimarahin mama..tempat nyari makanan yummi klo lg laper..tmpt menemukan benda2 kuno & bersejarah yg mgkn tdk dimiliki org laen (gw menemukan buku Dibawah Bendera Revolusi-ny Bung Karno..original!..sblm smpt dbuang ma simbah..)..Pokokna mah..my mbah uti is the best!!