Pagi ini sambil menunggu jam kerja kantor, sambil membaca buku "Managers Not MBAs" dan merenung (satu keahlian yang butuh konsentrasi tinggi kalau mau isi buku tetep nyanthol) tiba-tiba saya teringat dengan suatu usulan salah satu rekan saya di MM yang pernah menyarankan suatu tindakan kecil yang bermakna besar. Entahlah kenapa di pagi yang sepi ini pikiran saya bisa terbang kesana. Mungkin idenya sederhana saja, tapi buat saya bisa dijadikan pilot project untuk pemberdayaan ekonomi bangsa (maaf bahasanya keberatan ya?)
Teman saya pernah mengusulkan bahwa untuk membangun ekonomi bangsa bisa dimulai dari hal-hal kecil dan dari sektor perekonomian yang kecil saja. Sektor ekonomi mikro telah terbukti dalam melewati masa krisi ekonomi yang mendera Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Namun dibalik kesuksesan mereka dalam bertahan, mungkinkah mereka berkembang. Kawan saya ini yang latar belakangnya sebenarnya Teknik Sipil beralasan bahwa bertahan mungkin bisa, tapi akankah mereka hanya bertahan di titik nadir tanpa bisa berkembang. Sektor ekonomi mikro yang dibahas oleh teman saya ini semacam toko kelontong, penjual bakso keliling, penjual sate keliling, dan segala bentuk ekonomi rumahan.
Caranya? Sederhana saja. Kita hanya harus bersedia mengalokasikan waktu dan dana yang bisa dibilang tidak begitu banyak untuk membantu mereka yang ada di sekitar kita. Contohnya, tetapkan saja bahwa setidaknya sekali dalam satu bulan kita akan menggunakan sebagian uang kita untuk membeli produk mereka. Misal belilah bakso keliling di sekitar tempat kita secara teratur. Mungkin sebagian dari kita akan merasa ih ngapain? Enakan beli Bakmi GM, bakmi Tebet, Japos atau bakmi terkenal lainnya. Tapi pernahkan kita bayangkan bahwa dengan tindakan kita yang secara massif dapat membantu menopang hidup mereka bahkan meningkatkan kehidupan mereka? Kita senang bisa menikmati bakso hangat dengan harga lebih murah, bisa kenalan dengan abang bakso, dan dalam berbagai kesempatan bisa menjalin hubungan pertemanan, persahabatan bahkan kekeluargaan dengan mereka. Isn’t nice?
Tapi mungkin yang paling berpengaruh apabila kita tidak melulu beli barang-barang consumer goods kebutuhan sehari-hari di Hyper Market semacam Carrefour, Giant, atau Makro. Kalau sekiranya hanya beli sikat gigi dan odol, ngapain sih ke Carrefour? Kenapa tidak ke tetangga kita saja yang punya toko kelontong. Selain lebih hemat, tidak usah bayar parkir, lebih ekonomis dalam mengerem hasrat konsumerisme, sekalian kita membantu hidup tetangga kita yang berjualan itu. habis kalau bukan kita sebagai tetangga yang beli lalu siapa lagi? Sebenarnya terdengar sepele dan a little bit ridiculous tapi bayangkan kalau semua orang Indonesia melakukan hal yang sama? Pasti hal tersebut akan menciptakan hasrat berwirausaha di sekitar kita dan akan cenderung mengerem sifat konsumerisme yang berlebihan yang selama ini kita lakukan. Lalu, tanya saya, bagaimana dengan lapangan kerja yang bisa diciptakan oleh hyper market itu. sekali lagi dia berkata "tenaga kerja yang sedianya bekerja di hyper market akan diserap oleh kesempatan wirausaha yang terbuka selain itu akan mengurangi arus urbanisasi ke kota-kota besar". "Hmmm boleh juga" pikirku.
Langkah kecil yang bisa membuat perbedaan, mungkin. Terlebih lagi bila langkah kecil ini kita lebarkan kepada prinsip mengkonsumsi barang/ produk buatan negeri sendiri daripada Impor. Mungkin exchange rate kita terhadap USD tidak akan separah sekarang.
Gara-gara sambil merenung, buku yang tadi saya baca, secara tidak disadari, tergeletak di lantai.
===============================================
"Wisdom is the reward you get for a lifetime of listening when you would rather have talked." (Mark Twain)
0 Responses to “Langkah kecil yang membuat Perbedaan”
Leave a Reply
You must login to post a comment.