Archive for September 5th, 2005

05
Sep

Lovely Nieces

Image52Libur tiga hari kemaren terasa sangat menyenangkan buat saya. walaupun saya tidak menghabiskan waktu untuk bepergian ke tempat-tempat wisata atau bersenang-senang. Tiga hari kemarin hanya saya habiskan di Semarang. Sebuah kota yang kerap saya kunjungi paling tidak sebulan sekali. Saya ke semarang disaat keluarga besar saya mengadakan semacam reuni keluarga di Bandung. Otomatis hal tersebut membuat saya hanya menghabiskan waktu di rumah istri saya di Semarang, karena rumah saya kosong tidak ada orang.

Lovely Nieces

the girl named Ela

Ketika membayangkan rencana itu saja, saya sudah bisa merasakan betapa akan membosankannya hari yang akan saya jalani. Walaupun berdiam di rumah untuk menghabiskan waktu beristirahat di tempat tidur merupakan salah satu cara yang biasa saya lakukan untuk menghabiskan waktu libur, tapi dalam hati, please jangan libur 3 hari ini deh. Yah tapi ada tuntutan moral yang harus saya penuhi karena pada waktu tersebut tetangga istri saya, yang telah banyak membantu dan bersusah payah waktu pernikahan kami, sedang mengadakan acara pernikahan putrinya. Jadi saya memutuskan untuk tetap ke Semarang, mereka sudah pernah repot buat saya, setidaknya saya bisa berkesempatan untuk menunjukkan rasa hormat dan penghargaan saya kepada mereka. Itu adalah agenda saya di hari pertama: showing appreciation. Tetangga istri saya terlihat sangat bahagia dan surprise juga melihat kami hadir di acara mereka. Terima kasih, ya Allah, Engkau memberikan kesempatan padaku untuk melakukan kebaikan hari itu.

Hari kedua dimulai dengan dibangunkannya saya oleh keponakan saya, Putri dari kakak ipar saya, Bitha. A little bit weird, dia yang masih berusia sekitar 2 tahun membangunkan saya… hmmm sebenarnya bukan dia yang bangunin sih, tapi istri saya. istri saya mencoba mendiamkan dia, yang sedang nangis karena ditinggal Ibunya berbelanja ke pasar dengan cara mengalihkan perhatiannya untuk menganggu saya yang sedang menikmati tempat tidur. Dan berhasil, dia ketawa melihat saya bangun karena digaruk-garuknya telapak kaki saya. Tidak lama kemudian, kakaknya, Ela yang berusia 6 tahun, datang bergabung mengganggu saya. Tidaaak… rintih saya dalam hati.

Ela dan Bitha memang dekat dengan saya. sejak mereka lahir dan bertumbuh saya sudah sering ikut menggendong-gendong atau bermain dengannya sampai saat ini. Makanya saya tidak tega untuk tetap berbebal diri tetap tidur dan tidak menghiraukan gurauan mereka. Saya luluh juga dengan kehadiran mereka yang merusak hari sabtu bahagia saya. Saya terpaksa bangun, saya tidak mau terlihat konyol di depan anak kecil untuk tetap tidur di pagi hari. Saya berinisiatif mengajak mereka jalan-jalan keliling kompleks. Jalan kaki pagi hari, berempat: saya, istri saya, Ela dan Bitha. Mereka terlihat sangat senang sekali. Tadinya saya pikir mereka akan bosan jalan pagi dengan saya, ternyata tidak. Sepanjang perjalanan mereka banyak cerita dan bertanya. Hehehe lucu juga sih, banyak orang yang ngelirik ke kami, mereka pasti berpikir bahwa kami adalah satu keluarga. Dan mereka akan paham ketika Ela dan Bitha memanggil kami Oom dan Tante.

Image55Ternyata petualangan saya dengan Ela dan Bitha tidak hanya sampai disitu saja. Setelah berjalan-jalan pagi, kami mampir untuk makan bubur ayam. Baru setelah makan bubur ayam itu, Bitha merengek untuk digendong. Digendong di depan, kayak tuan puteri katanya. Maksud digendong kayak tuan puteri adalah saya menggendong dia seperti pangeran menggendong tuan puteri jadi kakinya minta ikut digendong. Aneh-aneh aja anak ini. Kebetulan kakaknya tidak mengeluh. Dia tetap saja jalan walau kadang minta istirahat dulu.

Sehabis jalan pagi, Ela dan Bitha mengajak saya main. Ya main yang gak jelas deh. Pokoknya saya ngikut aja. Yang membuat senang ketika bermain dengan mereka adalah saat mereka tertawa keras-keras. Bebas banget ya jadi anak kecil itu. dan terlebih lagi kalau saat mereka mendengarkan cerita saya yang rada-rada ngibul hehehe. Serius banget. Gara-gara permainan dengan mereka membuat mereka ketagihan. Sampai siang kalo saya minta istirahat (mau tidur sebentar) mereka tetap mau main. Saya sudah mencoba mengakali dengan berbagai macam cara. Ada yang suruh ganti baju dulu, mandi dulu, makan dulu, minum susu dulu, dlll dan mereka melakukannya dengan riang dan penuh harap setelah mereka melakukannya akan meneruskan bermain dengan saya. tapi saya tidak kehilangan akal. Ketika saya ngantuk banget, saya ajak mereka ke kamar saya dan sambil cerita-cerita saya mengajak mereka berlomba. Mereka tertarik rupanya.

"Lombanya apa, oom?" Tanya Bitha

"Cepet-cepetan tidur ya, siapa yang duluan tidur dia menang, yang tidak tidur kalah dan nanti gak dapet es krim" Kibul saya sambil menahan ngantuk

"Ayo… ayo…" mereka gak sabar

"Ya udah… siap… satu… dua… tiga…!!!" habis itu geblas… akhirnya saya bisa tidur juga. Abis itu lupa kejadiannya. Yang jelas ketika saya terbangun beberapa waktu kemudian, Ela masih tidur di sebelah saya tapi Bitha, si bungsu yang gak bisa diam itu, entah kemana.

Malamnya saya diomeli mamanya karena Bitha rewel, mungkin karena kecapean seharian main dengan saya. hehehe

Hari minggunya, kejadiannya terasa berulang. Pagi-pagi saya sudah diganggu dengan keributan anak-anak itu yang menerobos seenaknya ke kamar saya. aduuuh… saya mencoba mengajak mereka untuk lomba cepet-cepetan tidur lagi. Tapi ternyata mereka pintar, mereka gak kemakan akal bulus saya kali ini. Tapi saya juga pintar, saya pura-pura aja tetap berlomba dan tetap tidur. Saya gak tahu abis itu mereka kemana.

Terlalu lama tidur membuat kepala saya pusing juga. Akhirnya bangun, mandi, gosok gigi, dan siap-siap sarapan. Ketika saya mau turun, saya kepergok mereka yang sedang nonton film kartun di TV, "Ooom Ekaa…. Main yuuuk" sorak mereka. Tadinya saya menolak tapi gemas juga melihat gaya mereka yang memelas mengajak main saya. saya luluh juga. Siang itu saya menghabiskan waktu bermain dengan mereka.

Image78Walaupun sempat terasa malas kesal dan berbagai perasaan jadi satu tapi saya bisa menikmati bermain dengan keponakan saya yang lucu-lucu itu. malah saat ini membuat saya kangen dengan mereka. Ada saja yang bikin saya ketawa kalau bermain dengan mereka. Ada yang menyerah kalo gak ngumpet gak bisa ditemukan, ada yang lari ketakukan sambil ampun-amput kalau mau saya gelitiki, ada yang benjol kena lemari, ada yang numpahin gelas… ah macam-macam dan lucu-lucu. Ada juga yang membuat saya terharu. Ketika saya mau pulang, Ela minta ke istri saya untuk ikut mengantarkan oomnya ke stasiun, sedangkan Bitha yang waktu itu sudah mau tidur sampai bangun untuk sekedar mengucapkan "daa daa" ke saya. Pengalaman tersebut membuat saya memikirkan calon anak saya kelak, seperti apa ya? Semoga sehat, lucu, pintar seperti mereka. Bisa membuat bahagia saat berada di sekitarnya dan membuat kangen saat jauh dengannya. Yang jelas saat ini, saya sedang mencari-cari waktu, kapan saya bisa ke Semarang lagi. Setidaknya untuk bermain dan mengibulin mereka. HAHAHA…

05
Sep

Menjemput Rizki (an email that blows my head today)

Sekedar berbagi. Sebuah email yang memiliki makna yang dalam buat saya, mampir di email saya. ada sebuah makna besar di dalamnya, makna yang menurut saya harus saya bagi untuk prang-orang yang berarti buat saya. semoga memberi pencerahan untuk tidak lekas menyerah dalam mengejar karunia Allah, SWT.

Subject: MENJEMPUT RIZKI

Setengah jam menjelang makan siang, dari kejauhan mata saya menangkap sosok tua dengan pikulan yang membebani pundaknya. Dari bentuk yang dipikulnya,

saya hapal betul apa yang dijajakannya, penganan langka yang menjadi kegemaran saya di masa kecil. Segera saya hampiri dan benarlah, yang dijajakannya adalah kue rangi, terbuat dari sagu dan kelapa yang setelah dimasak dibumbui gula merah yang dikentalkan.
Nikmat, pasti.

Satu yang paling khas dari penganan ini selain bentuknya yang kecil-kecil dan murah, kebanyakan penjualnya adalah mereka yang sudah berusia lanjut.

“Tiga puluh tahun lebih bapak jualan kue rangi,” akunya kepada saya yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraan bisa menemukan jajanan masa kecil ini.
Sebab, sudah sangat langka penjual kue rangi ini, kalau pun ada sangat sedikit yang masih menggunakan pikulan dan pemanggang yang menggunakan bara
arang sebagai pemanasnya.

Tiga jam setengah berkeliling, akunya, baru saya lah yang menghentikannya untuk membeli kuenya.
“Kenapa bapak tidak mangkal saja agar tidak terlalu lelah berkeliling,” iba saya sambil menaksir usianya yang sudah di atas angka enam puluh.
“Saya nggak pernah tahu dimana Allah menurunkan rezeki, jadi saya nggak bisa menunggu di satu tempat. Dan rezeki itu memang bukan ditunggu, harus
dijemput. Karena rezeki nggak ada yang nganterin,” jawabnya panjang.

Ini yang saya maksud dengan keuntungan dari obrolan-obrolan ringan yang bagi sebagian orang tidak menganggap penting berbicara dengan penjual kue murah seperti Pak Bejo ini. Kadang dari mereka lah pelajaran-pelajaran penting bisa didapat. Beruntung saya bisa berbincang dengannya dan karenanya ia
mengeluarkan petuah yang saya tidak memintanya, tapi itu sungguh penuh makna.

“Setiap langkah kita dalam mencari rezeki ada yang menghitungnya, dan jika kita ikhlas dengan semua langkah yang kadang tak menghasilkan apapun itu, cuma ada dua kemungkinan. Kalau tidak Allah mempertemukan kita dengan rezeki di depan sana, biarkan ia menjadi tabungan amal kita nanti,” lagi sebaris
kalimat meluncur deras meski parau terdengar suaranya.

“Tapi kan bapak kan sudah tua untuk terus menerus memikul dagangan ini?” pancing saya, agar keluar terus untaian hikmahnya. Benarlah, ia memperlihatkan bekas hitam di pundaknya yang mengeras.
“Pundak ini, juga tapak kaki yang pecah-pecah ini akan menjadi saksi di hari penghakiman kelak bahwa saya tak pernah menyerah menjemput rezeki.”

Sudah semestinya isteri dan anak-anak yang dihidupinya dengan berjualan kue rangi berbangga memiliki lelaki penjemput rezeki seperti Pak Bejo.
Tidak semua orang memiliki bekas dari sebuah pengorbanan menjalani kerasnya tantangan dalam menjemput rezeki.
Tidak semua orang harus melalui jalan panjang, panas terik, deras hujan dan bahkan tajamnya kerikil untuk membuka harapan esok pagi.
Tidak semua orang harus teramat sering menggigit jari menghitung hasil yang kadang tak sebanding dengan deras peluh yang berkali-kali dibasuhnya
sepanjang jalan.
Dan Pak Bejo termasuk bagian dari yang tidak semua orang itu, yang Allah takkan salah menjumlah semua langkahnya, tak mungkin terlupa menampung
setiap tetes peluhnya dan kemudian mengumpulkannya sebagai tabungan amal kebaikan.

***

Sewaktu kecil saya sering membeli kue rangi, tidak hanya karena nikmat rasanya melainkan juga harganya pun murah. Sekarang ditambah lagi, kue rangi
tak sekadar nikmat dan murah, tapi Pak Bejo pedagangnya membuat kue rangi itu semakin lezat dengan kata-kata hikmahnya. Lagi pula saya tak perlu
membayar untuk setiap petuahnya itu.