Katakan saja namanya Clara, wanita usia sekitar 35 tahun, telah menikah dan telah dikaruniai anak. Memiliki suami yang mapan, karir yang menanjak, dan anak yang cantik. Clara merupakan wanita yang bahagia dan sukses dari sudut pandang orang lain. Kira-kira satu setengah tahun yang lalu ia berangkat ke Amerika untuk meneruskan studi disana, meninggalkan suami dan anaknya di tanah air. Sekitar 6 bulan lalu, sontak ia mendapat telpon mendadak dari suaminya. Suaminya minta cerai, selidik punya selidik, ternyata suaminya selingkuh. Di tengah kesibukannya mengejar cita-cita, ia harus menghadapi cobaan berat itu. sekitar sebulan lalu, ia divonis mengidap kanker otak dan harus segera dioperasi agar tidak membahayakan jiwanya. Sekitar dua minggu yang lalu, operasi bedah otak dilakukan. Sel kanker di otak kiri diangkat. Operasi itu berefek samping pada sistem koordinasi tubuh sebelah kanan. Sekarang Clara masih terbaring di rumah sakit, kondisi tubuh sakit, kondisi hati sakit. Sempat terpikirkan bagaimana ia akan menghabiskan sisa hidupnya.
Itulah salah satu kisah nyata yang diceritakan oleh teman saya. kisah tersebut menimpa teman SMP-nya. Mendengar kisahnya, kami berbagi hikmah akan kisah itu. Betapa hidup itu begitu rapuh. Clara yang tengah berada di puncak kehidupannya, bisa langsung berbalik keadaannya. Dahulu yang enerjik, bahagia, sukses saat ini harus menerima kepahitan semacam itu. Kita sama sekali tidak punya cukup kekuatan untuk menentukan nasib kita sepintar dan secerdas apapun kita. Hal yang sama yang terjadi kepada para korban bencana Tsunami, kecelakaan pesawat Mandala kemarin, para korban Katrina Hurricane, dan para nasabah reksadana beberapa hari terakhir.
Sebuah renungan dan peringatan untuk tetap berserah diri kepada-Nya.
Recent Comments