Archive for September 26th, 2005

26
Sep

Bonek II: Antara Sportivitas dan Semangat Kaum Barbar

BarbarMasih seputar Liga Sepakbola Indonesia. Semalam pemenangnya sudah ditentukan. Persipura dengan kemenangan manis 3-2 setelah menjungkalkan tim Ibukota, Persija. Seperti yang sudah - sudah, supporter mengamuk. Mengakibatkan banyaknya kerugian material dan fisik. Banyaknya mobil pribadi, gedung, masyarakat umum yang jadi korban. Hasilnya? Ya tetap saja, Persija kalah 2-3 dari Persipura.

Suatu tindakan yang absurb. Mau cari apa mereka? Saya sempat terpikirkan kalo sebelumnya Jakarta ini sempat terancam oleh keberadaan Bonek dari Surabaya dan daerah lain, ternyata sikapnya tidak jauh beda dengan kualitas supporter tuan rumah. Entah sejak kapan tradisi supporter mengamuk ini dimulai. Tapi rasanya sangat jauh dari semangat olah raga dan sportivitas itu sendiri. Apakah ini mental bangsa yang lemah? Apakah karena kualitas pendidikan yang rendah? Ah tidak juga. Peristiwa supporter yang rusuh bukan hanya milik Indonesia. Supporter sepakbola Inggrispun, yang terkenal dengan Hooligans, tidak kalah seramnya. Malah mereka sangat kejam terhadap timnya sendiri. Pernah David beckham selama beberapa bulan tidak bisa tenang bermain bola karena selalu dicemooh di negeri sendiri ketika melakukan tindakan bodoh pada Piala Dunia 1998. Patrick Viera, Thierry Henry sangat berang dengan supporter sepakbola di Inggris yang sering mengeluarkan kata-atau bersifat Rasialis.

Mungkin kisah supporter sepakbola merupakan pengejawantahan sifat dasar kehewanan manusia yang terkuak saat mereka bersama berkumpul untuk suatu preferensi dan latar belakang yang sama. Tapi entah, sampai sekarang masih belum mengerti apa yang mereka cari dan apa yang mereka dapatkan dari melakukan kerusuhan. 34 orang ditangkap, puluhan mobil rusak, korban masyarakat berjumlah puluhan. Dan satu hal yang tidak berubah, Persija tetap menyerah 2-3 dari Persipura. Jadi?

26
Sep

Jalan - Jalan ke Ujung Genteng

Genteng "What an exciting weekend". Itulah komentar yang bisa saya katakan tentang perjalanan yang saya lakukan akhir pekan kemarin. Betul-betul menambah pengalaman dan wawasan saya tentang tempat-tempat yang menarik dikunjungi di Indonesia. Setelah pernah mengunjungi Baduy untuk melihat suku Baduy, Ujung kulon untuk melihat (telapak) Badak cula satu, Sawarna untuk melihat gua alam, bersama TIAC (Toyota Indonesia Adventurer Club) saya mengunjungi Ujung Genteng yang terletak di Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tempatnya jauh di pesisir pantai selatan Jawa Barat dengan jarak tempuh sekitar 300 km dari Jakarta. Perjalanannya sendiri memakan waktu sekitar 7 jam. Sangat melelahkan memang, tapi benar-benar sebanding dengan apa yang kami dapatkan disana. Perjalanan kali ini memiliki misi menyaksikan proses penyu bertelur di pantai Pangumbahan, Sukabumi. Dikemas dengan tema "Help me to survive" TIAC ingin menanamkan lebih dalam kepedulian anggotanya kepada kelestarian alam dan makhluknya terutama Penyu Hijau (Chelonia Midas) yang diambang kepunahan itu.

Perjalanan dilakukan pada jumat malam (23 September 2005) after office hour. Kami berangkat jam 22.00 WIB. Lumayan macet malam itu. perjalanan yang dilakukan secara nonstop itu membawa kelelahan sendiri bagi sang sopir, karena kami semua sudah tidur, terpaksa sang sopir melaju terus sampai kami tiba di penginapan. Saya sempat geli mendengar celutukan pak Dedi malam-malam "pada gak kencing nih orang" hehehe…

Genteng3Kami tiba di Ujung Genteng sekitar jam 4.30 pagi. Sehabis sholat subuh, beberapa anggota TIAC sudah secara insting melakukan eksplorasi pantai tanpa agenda. Pagi pagi kami sudah disuguhkan panorama pantai yang alami dengan karang-karang yang bertebaran beserta makhluk-makhluk kecil di dalamnya. Sunrise menambah keindahan pagi. Benar-benar pemandangan yang indah. Setelah makan pagi, kami hiking ke pantai yang bernama Muara Buaya. Pantai ini sangat cocok untuk dipakai berenang karena beberapa puluh meter dari garis pantai terdapat jejeran karang yang melindungi pantai sehingga ombak di pinggir pantai tidak begitu kencang. Cuaca yang panas saat itu tidak menyurutkan yang mau berenang. Yah lumayan lah membuat kulit lebih berwarna warni.

Siang harinya diisi dengan istirahat sebentar. Setelah makan siang dan sholat dhuhur, rombongan berangkat menuju Curug Cikaso dengan menumpangi Truk. Seru juga siang itu. selama perjalanan dari penginapan ke lokasi curug, dipenuhi suasana canda dan konyol-konyolan. Yah pengalaman tersebut menjadi salah satu unforgettable moment juga. Ada sensasi tersendiri menumpangi truk dengan medan yang gak rata. Belum lagi banyak pohon yang menjuntai ke tengah jalan sehinggi setiap kali melewati pohon-pohon tersebut kami harus jongkok untuk menghindarinya. Untuk mencapai Curug Cikaso, tidak semudah yang dibayangkan. Setelah naik truk selama kurang lebih 45 menit, kami masih harus berjalan kaki sekitar 1 km untuk mencapai air terjun yang terisolir di rerimbunan pohon itu. Curug Cikaso siang itu sangat deras sekali. Berdasarkan penjelasan penduduk setempat yang menjadi guide kami, derasnya air Curug Cikaso disebabkan karena debit air yang tinggi karena musim hujan. Yah memang. Curug itu sendiri membuat hujan lokal di sekitarnya. Saya basah kuyup sepulangnya dari sana. Selesai sesi di Curug, dengan menggunakan truk yang sama, perjalanan dilakukan menuju ke Dermaga Tua untuk menikmati sunset. Walau suasana agak mendung sehingga sunset tidak terlihat begitu jelas, kami menikmatinya dengan berfoto. Mungkin bisa disimpulkan selama perjalanan ini sesi berfoto sangat padat sekali. Hampir di setiap kesempatan, moment untuk berfoto benar-benar dimanfaatkan secara maksimal.

Setelah menikmati sunset di Dermaga Tua, kami bersiap-siap untuk memasuki agenda utama, melihat penyu bertelur. Kami berangkat dari penginapan sekitar pukul 20.00. Dengan menumpang truk yang sama, kami berangkat ke lokasi yang letaknya sekitar 5 km dengan medan yang cukup berat. Berpasir dan berlumpur. Sempat beberapa kali ban truk selip namun ketangguhan truk tersebut berhasil mengantarkan kami ke tempat penangkaran penyu.

Sampai di tempat penangkaran suasana sangat gelap gulita dan senyap. Hal tersebut memang disengaja karena seekor penyu dewasa yang hendak bertelur akan mengurungkan niatnya dan kembali ke lepas pantai apabila ia mendeteksi adanya cahaya atau suara di pantai. Oleh sebab itu ketika kami sampai di tempat penangkaran kami diminta menunggu di pos konservasi. Kami tidak boleh menyalakan senter dan ribut. Baru ketika ada aba-aba dari petugas konservasi untuk

Jalan - Jalan ke Ujung Genteng

Chelonia Midas (penyu hijau) sedang bertelur di pantai Pangumbahan, Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi 24 September 2005.

mendekati lokasi penyu bertelur barulah kami mendekati pantai. Sempat penasaran juga karena walau kami sudah ada di pantai tapi kami tetap disuruh menunggu. Tak lama kemudian kami semua dipanggil. Subhanallah, ternyata penyu yang sedang bertelur kala itu besar sekali. Diameternya kurang lebih sekitar 130 cm. tapi kata seorang kawan, penyu tersebut ukurannya sedang, karena biasanya ada yang lebih besar lagi dari penyu tersebut. Berdasarkan referensi, seekor penyu baru dapat bertelur dan berkembang biak ketika usianya sekitar 25 tahun. Dan uniknya, seekor penyu betina akan menetaskan telurnya di tempat dia menetas ketika masih menjadi tukik. Untuk alasan itulah mengapa menjaga kelestarian ekosistem tempat penyu berbiak menjadi sangat penting selain menjaga habitat hidup dan berkembang biak penyu. Spesies penyu yang telah bertahan lebih dari 200 juta tahun yang lalu sejak jama Trias memang merupakan salah satu makhluk hidup yang rentan kelangsungan hidupnya. Ancaman dari predator, baik predator alami seperti paus pembunuh atau hiu maupun predator manusia, telah mengancam kelangsungan hidupnya. Berdasarkan penelitian dari WWF, hanya sekitar 1 ekor penyu yang sanggup bertahan hidup dan bertelur dari 1000 telur yang dihasilkan. Probabilitas survival yang minim ini akan semakin kecil seiring dengan perkembangan saat ini dimana semakin banyak habibat asli penyu yang tergusur oleh aktivitas manusia. Dari 8 tempat berbiak alami penyu hijau, hanya tinggal satu saat ini yaitu si Pantai Pangumbahan yang kami kunjungi. Melihat proses konservasi dengan kelengkapan yang minim dan sederhana ditambah dengan minimnya pengawasan dari pemerintah atau pihak yang concern terhadap perkembangan populasi penyu hijau, banyak dari kami yang sangat prihatin melihat kenyataan itu. Tempat konservasi tersebut tidak jauh bedanya dengan sebuah entitas bisnis, karena kata mereka, untuk bertahanpun mereka masih membutuhkan sekian persen telur penyu yang mereka dapatkan untuk dijual dan dikonsumsi. Padahal tidak ada satu pihakpun terlebih lagi pemerintah yang melakukan pengawasan terhadap tempat konservasi yang dikelola swasta tersebut.

Sampai acara selesai, dalam benak saya masih tersimpan satu pertanyaan besar. Sampai kapankah mereka bertahan. Kadang saya berharap ada yang bisa saya lakukan untuk membantu penyu hijau berkembang karena penyu-penyu hijau ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan penyu yang berbiak di tempat lain di Indonesia maupun Malaysia. Harapan yang mungkin saat ini masih sebatas tidak mengkonsumsi produk dari penyu atau telur penyu.

Dan untunglah, sampai kami pulang ke Jakarta esok paginya, tidak ada satupun dari rombongan kami yang membeli telur penyu walaupun tidak sedikit penjaja telur yang menawarkan kepada kami, serta tidak sedikit pula kawan dan kerabat yang menitipkan untuk dibawakan telur penyu. Jalan-jalan ke Ujung Genteng, sebuah perjalanan akhir pekan yang tidak sekedar menawarkan kegembiraan dan kesenangan tetapi juga makna dan kesadaran untuk berbagi tempat kepada makhluk ciptaan Tuhan yang unik, dalam kehidupan.