Hari rabu kemarin, tepatnya tanggal 28 September 2005, Ikatan Persaudaraan Haji di kantor saya mengundang ustad KH. Anwar Sanusi, seorang mubaligh pimpinan SMP dan SMA Islam Terpadu "Arafah" Cisarua, Bogor. Dengan penampilan yang sederhana, elegan namun kharismatik, Ustad yang sering muncul di layar kaca ini memberikan petuahnya yang menggugah dan sangat dalam. Tema yang disodorkan oleh panitia tentang persiapan dalam menghadapi bulan Ramadhan, terasa menjadi lebih esensial. Ustad Anwar Sanusi, dengan kata-katanya yang lembut dan penuh makna, benar-benar memberikan pedoman yang pokok tentang bagaimana menghadapi bulan Ramadhan, sebuah pedoman yang sangat penting yang jarang saya dapatkan dari pengajian-pengajian biasa.
Ustad Anwar membuka ceramah dengan bertanya apakah ada yang memiliki masalah dengan orang tuanya, ibu bapaknya? Kalau ada lebih baik tidak usah berpuasa karena mereka hanya akan memperoleh lapar dan dahaga saja. Seberapa besarnya kekhusukan dan dalam melaksanakan ibadah puasa selama kita dalam keadaan durhaka kepada orang tua, tidak akan sepeserpun nilai ibadah puasa kita yang akan dicatat oleh Allah, SWT. Sampai-sampai Ustad Anwar menceritakan kisah sahabat nabi yang selama 6 tahun berturut-turut melaksanakan sholat malam dan sholat sunat, ketika ia menghadapi sakaratul maut, sampai 3 hari ia tersiksa. Ternyata setelah diselidiki oleh Rasul, sahabat ini memiliki kesalahan di masa lalu yang menyebabkan ibunya sakit hati. Seorang yang saleh saja apabila durhaka kepada orang tuanya, dimurkai Allah apalagi kita yang senantiasa membangkang terhadap orang tua ya. Naudzubillahi min dzalik. Selain durhaka kepada orang tua, Ustad anwar juga menyarankan agar hubungan dengan tetangga juga harus diperbaiki menjelang bulan Ramadhan ini. Jangan ada sikap permusuhan dan dendam. Tetangga yang dimaksud disini adalah orang-orang di sekitar kita. Kanan-kiri-depan-belakang rumah kita atau kanan-kiri-depan-belakang ruang kerja kita. Karena sangat merugi orang yang bermusuhan di bulan Ramadhan. Pahala kedua orang yang saling bermusuhan sama-sama tidak diterima oleh Allah, SWT. Hal yang sama bila terjadi pertengkaran antara suami dan istri. Maka itu sang ustad berkata bahwa kita lebih baik jadi orang yang pemaaf agar hidup kita diliputi perasaan yang tenag dan damai, begitupun orang -orang disekitar kita.
Ada lagi hal menarik lain yang disampaikan oleh ustad Anwar Sanusi pada pengajian sore itu. Hendaknya kita menjaga diri kita perasaan dendam. Orang pertama yang merugi karena dendam yang kita pendam adalah diri kita sendiri. Lalu kita juga diperintahkan untuk jangan merasa sombong sama sekali. Sikap sombong yang bercokol di hati manusia akan menjerumuskannya ke lembah kenistaan. Sifat sombong akan mendorong manusia untuk melakukan semua kejahatan dan dosa yang dilarang oleh Allah, SWT. Ustad Sanusi mencontohkan, kurang mulia apa syaitan, yang dahulu bisa berhadapan langsung dengan Allah, sang pencipta alam semesta. Kesalahannya hanya satu yaitu sombong, sombong dengan tidak mau bersujud kepada Adam AS. Karena kesombongannya itulah maka ia terusir dari surga. Untuk itu sangat beratlah hidup seorang yang sombong.
Pengajian yang berlangsung sekitar satu jam itu benar-benar membuat saya berpikir dan terhenyak. Banyak sekali yang harus dipersiapkan untuk menghadapi bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat bagi umat yang beriman. Bulan Ramadhan bukan hanya puasa, bukan hanya beribadah lebih khusyuk dan rajin. Tapi bulan Ramadhan merupakan sarana untuk introspeksi dan memperbaiki diri agar kita kembali kepada fitrah, kepada kondisi saat kita dilahirkan oleh Ibu kita. Keadaan dimana kita tidak memiliki sifat sombong, tidak memiliki rasa dengki, tidak memiliki dendam, serta ikhlas. Terima kasih, Ustad. Insya Allah di Ramadhan kali ini, saya akan menjadi manusia yang lebih baik.
===================================================
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri" - QS Luqman : 18
===================================================
Seorang teman saya bercerita tentang sebuah film Iran yang bagus. Sudah lama saya dengar bahwa film-film Iran memiliki kualitas yang tidak kalah dari negara-negara maju semacam Amerika dan Perancis. Malahan film-film Iran sangat kuat disisi cerita dan sinematografi. Teman saya ini bercerita tentang sebuah film "Children from Heaven". Asal mulanya karena kami sedang berbincang-bincang mengenai anak dan bagaimana ia memberi nama anaknya. Dia memberi nama anaknya Zahra, seperti nama anak perempuan dalam film Children of Heaven. Begitu menggebunya dia bercerita tentang film itu, saya menjadi penasaran, seperti apa film children of heaven itu. pasti menarik. Sehingga ketika teman saya itu menawari untuk meminjamkan VCD (original nih) film tersebut, serta merta saya tidak sedikitpun saya tolak walaupun kata rekan kerja saya yang lain, film ini sudah sering muncul di TV.
Film yang disutradarai oleh Majid Majidi menceritakan tentang dua anak kecil Ali dan Zahra yang sederhana dan berbudi pekerti baik. Cerita dimulai ketika Ali membawa sepatu adiknya yang sudah sobek untuk diperbaiki di toko sepatu. Sepulangnya dari tempat tersebut, Ali dengan tidak sengaja menghilangkan sepatu adiknya tersebut. Sepulangnya di rumah dengan rasa bersalah, Ali memberitahukan berita buruk itu kepada adiknya. Adiknya kebingungan bagaimana ia pergi ke sekolah esoknya. Akhirnya mereka berdua mencari solusi untuk masalah tersebut. Karena keadaan keluarga yang serba pas-pasan, mereka mencoba untuk mengatasinya tanpa membebani pikiran orang tua mereka. Banyak hal lucu sekaligus menohok dari tingkah polah sepasang adik kakak ini. Dari bagaimana pontang pantingnya mereka untuk saling berganti sepatu di siang hari sampai pengorbanan Ali untuk mencarikan sepatu bagi adiknya itu. Zahra, sang adik, bersekolah di pagi hari sedangnya Ali di siang harinya. Sehingga setiap pulang sekolah Zahra harus cepat-cepat berlari untuk menemui kakaknya. Dan juga Ali harus berusaha secepatnya berlari ke sekolah agar tidak terlambat. Beberapa kali Ali dimarahi oleh kepala sekolah karena terlambat. Kejujuran dan keluguan Ali dan Zahra sangat menyentuh dan memberikan banyak makna bagi kita. Contohnya saja ketika Zahra mengetahui ada anak lain yang memakai sepatunya yang hilang, ia berusaha untuk merebutnya kembali namun ketika mengetahui bahwa anak tersebut keadaan keluarganya lebih kekurangan dibandingkan keluarganya, ia bisa merelakannya. Benar-benar menyentuh. Ada juga moment yang sangat bagus ketika Ali mendapatkan hadiah bolpen dari gurunya, bolpen hadiah itu dia berikan kepada Zahra untuk menghibur adiknya itu. Sampai suatu ketika akan diselenggarakan perlombaan lari jarak jauh dimana hadiah ketiga berupa sepatu olahraga. Ali serta merta bersikeras untuk mengikuti perlombaan itu karena ia berniat untuk memberikan hadiah juara ketiga tersebut kepada adiknya. Ali bersikera untuk menjadi juara 3 agar bisa memperoleh sepatu yang akan dihadiahkan untuk adiknya walaupun hadiah juara 1 dan juara 2 merupakan impian setiap anak-anak yang ingin mengikuti perlombaan.
Film ini bukan saja menghibur tetapi juga mengajari kita tentang berbagai nilai yang seharusnya masih dijaga sampai saat ini. Seperti ketika ayah Ali dan Zahra yang diserahi tugas untuk memecah gula yang akan digunakan untuk acara pengajian di Masjid. Walaupun keluarga Ali sudah kehabisa gula dan tidak mampu untuk membelinya saat itu, namun Ayahnya tetap tidak mau mengambil secuilpun untuk minumannya. "Ini milik masjid" katanya. Mungkin pendidikan keras dan budi pekerti dari Ayahnya itulah yang membuat Ali dan Zahra bersikap sangat mulia. Film ini sangat berbeda dari film anak-anak pada umumnya. Apalagi kalau mau dibandingkan dengan film ataupun sinetron anak-anak yang ada di Indonesia. Saya tidak melihat adanya kekerasan, kekejaman, iri, dengki dalam film ini. Benar-benar menggambarkan suatu realitas yang nyata namun dalam dan penuh pelajaran, penuh pesan dan teladan. Maka tidak heran apabila film ini memperoleh banyak pernghargaan selain dari tingkat Nasional Iran sampai internasional. Menampilkan film ini dengan latar belakang keluarga yang sederhana menjadikan film ini lebih membumi. Saya sangat tersentuh dengan film ini. Maka saya tidak heran kalau teman saya jadi terpesona akan film Children of heaven ini.
Recent Comments