Semalam saya menelepon salah satu teman dekat saya. sebuah aktivitas yang sudah lama tidak saya lakukan selama ini. Melakukan telepon hanya untuk say hi dan apa kabar. Banyak yang kami bicarakan semalam dan dari pembicaraan tersebut ada terbersit suatu hal di hati saya yang membuat saya terpikir hingga sebelum tidur. Yang mengganjal adalah tentang mengejar ketertinggalan dalam hidup. Berdasarkan pengalaman dan apa yang saya rasakan memang terkadang ada yang terasa mengganjal di hati kita untuk hal hal tertentu dalam hidup ini seperti kepemilikan harta, pekerjaan, jodoh ataupun keturunan. Adalah hal yang wajar apabila manik-manik kehidupan dunia itu menjadi hal-hal yang memotivasi kita. Kadang kita berpikir bahwa ketika seseorang mampu meraih suatu hal, berarti mereka sukses dan apabila kita belum seperti yang mereka peroleh di saat yang sama berarti tertinggal. Pertanyaan tersebut membuat saya melongok kedalam diri saya sendiri, kalau begitu saya banyak tertinggal dalam kehidupan. Misalkan saja pada usia 25 tahun beberapa rekan saya sudah menikah, memiliki rumah atau kendaraan pribadi, sudah memiliki keturunan yang cakep-cakep, sudah punya usaha sendiri sedangkan mungkin saya belum. Kalau demikian, saya lebih tertinggal lagi dari artis-artis cilik yang dalam usia belia bisa memperoleh penghasilan puluhan kali lipat dari apa yang bisa saya peroleh.
Saya jadi teringat pengelakan yang dilakukan oleh rekan saya ketika dia ditanya "kok udah umur segini belum nikah, padahal si A, anak baru, masih muda udah nikah, masa disalip melulu?" dan dengan santai dan tegas dia cukup berkata "emangnya balapan?". Saat ini saya dalam posisi untuk menjudge mana yang benar dan mana yang salah tetapi paling tidak ada garis tengah yang bisa diambil dari kedua sudut pandang tersebut. Dalam kehidupan, terutama di dunia yang fana ini merupakan hal yang lumrah bahwa time horizon menjadi ukuran sesuatu terutama umur. Sepertinya kita dituntut untuk mencapai tahapan tertentu seiring perkembangan umur kita. Usia 6 tahun harus masuk SD, 12 tahun harus sudah SMP, 15 tahun SMA dan sekitar 18 tahun sudah harus masuk kuliah. Kalau diteruskan, usia 20 tahun harus sudah punya pacar/tunangan , 27 tahun sudah harus nikah, 30 tahun sudah harus jadi supervisor, 35 tahun jadi manajer dan seterusnya. Kehidupan yang keras ini mendidik kita untuk menjadi lupa terhadap hakekat hidup kita. Untuk apa kita disini dan bagaimana seharusnya kita bersikap. Sebenarnya tidak ada yang perlu dirisaukan karena selama keyakinan kita bahwa hidup ini ada digenggaman yang Kuasa, yang harus kita lakukan adalah bekerja dan berusaha sebaik yang kita bisa tanpa lupa berdoa. Kedengarannya seperti kata-kata yang klise ya… tapi setidaknya akan tetap membuat kita bahagia dengan keadaan kita sekarang.
Ada satu hal yang menguatkan saya dalam menghadapi dilema semacam itu, saat merasa tertinggal dalam perlombaan kehidupan. Saya suka teringat dan termotivasi bahwa tiap orang diciptakan special. Tidak mungkin jalan hidup satu orang sama persis dengan orang lain, walaupun orang tersebut memiliki hubungan dekat dengan kita. Bahkan sepasang saudara kembar pun bisa berbeda jalan hidupnya. Tergantung bagaimana kehidupan itu dia jalani, dan tentu saja karena adanya restu dari yang kuasa. Dan Ingatlah bahwa kehadiran kita didunia adalah special dan pemenang karena dari sejak dalam rahim, kita telah mengalahkan kurang lebih 250 juta sel sperma yang lain.
Satu hal penting lagi adalah tetaplah bahagia karena kebahagiaan seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri. Sudah banyak cerita orang yang berlimpah harta dan kedudukan malah tidak bahagia. Tapi banyak juga cerita bahwa orang yang hidupnya sederhana dan apa adanya malah lebih berbahagia. Biarlah orang lain berlari dengan perlombaannya sendiri, melangkahlah dengan nyaman, lihatlah sekitar dan syukuri apa yang sudah kita miliki saat ini.
===========================================
Patience is bitter but the fruit is sweet - Jean Jacques Rousseau
===========================================
INSIGHT:
YOU ARE SPECIAL
Suatu hari seorang pembicara terkenal membuka seminarnya dengan cara yang unik. Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,00, ia bertanya kepada hadirin, "Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat.
"Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini."
Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat2. Lalu bertanya lagi,"Siapa yang masih mau uang ini?" Jumlah tangan yang teracung tak berkurang.
"Baiklah," jawabnya, "Apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak2nya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.
"Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.
"Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting. Apapun yang terjadi dengan uang ini, anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,00.
Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti.
Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan.
Jangan pernah lupa - Anda spesial…!!!