Sempat didera rasa menyesal sepekan kemarin tidak ikut-ikutan untuk mengantri BBM. Alhasil saya kena batunya kemarin. Ketika tangki bensin mobil saya sudah menipis, saya tidak punya pilihan lain. Harus tetap mengarahkan mobil ini ke arah pom bensin. Sempat hepi juga, karena pemandangannya sepi sekali, pemandangan yang berbeda di sepanjang pekan kemarin. Tetapi pedih juga rasanya ketika meteran di pom bensin menunjukkan angka 50,000. yah ternyata uang sebesar itu sekarang hanya mampu untuk mengisi 11.111 liter saja.
Sebenarnya bukan itu yang menjadi pokok bahasan saya menuliskan blog ini. Hanya ingin menunjukkan bahwa uang kita sudah kembali susut nilainya. Sempat berdiskusi dengan beberapa teman bagaimana menyiasati kenaikan harga BBM yang "keterlaluan" ini, ada yang mengganti ke sepeda motor, ada yang menganggurkan mobilnya untuk selanjutnya nebeng teman, ada juga yang tetap menggunakan mobilnya hanya mengurangi frekuensi jalan-jalan. Whatever the action, yang harus disadari oleh kita bahwa kenaikan harga ini telah sedikit merenggut kesejahteraan kita, memang sebelumnya bisa dibilang kesejahteraan semu. Sempat terlintas dipikiran saya, apa yang terjadi dengan mereka yang untuk makan hari ini saja susah. Saya dapat kabar dari rekan saya bahwa beberapa warung-warung makan tutup karena harga bahan baku untuk memutar roda bisnis mereka merangkak naik sedangkan mereka tidak punya kuasa untuk menaikkan harga. Yah apalagi berhimpitan dengan akan datangnya bulan puasa. Juga sempai ramai di koran-koran bahwa di beberapa daerah, kendaraan umum enggan menjalankan pekerjaan mereka. Yah, memang hidup ini semakin berat saja rasanya.
Berterima kasihlah kepada pemerintah kita yang telah berbaik hati memberikan hadiah istimewa tak terlupakan di permulaan bulan ramadhan ini. Beruntunglah kita semua karena memiliki pemerintah yang peduli dengan kesengsaraan yang didera oleh kita semua sehingga dengan semangat mendorong inflasi sampai 12% di penghujung tahun ini. Alangkah beruntungnya kita memiliki pemimpin yang penuh tenggang rasa, dimana di saat kita sulit dan terhimpit, mereka masih bisa menghambur-hamburkan dan mengkorupsi uang negara. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Mari kita hargai pemimpin kita sebagai pahlawan yang telah berhasil mengorbankan kesejahteraan rakyatnya demi kepentingan pribadi dan golongannya. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Mungkin hikmah di balik semakin meningkatnya harga-harga dan tercekiknya rakyat kita, akan lebih menggemakan suara Tuhan di tiap sudut temaram kota.
Saya menyadari betapa masih beruntungnya, saya, anda dan mereka yang masih bisa mengakses blog ini sehingga untuk sejenak lupa bahwa sekarang uang 50,000 hanya mampu untuk membeli 11.111 liter bensin premium. Betapa masih beruntungnya saya.
Dedicated to the sufferings, keep strong and alive, forgive me for doing nothing.
Recent Comments