Archive for October 6th, 2005

06
Oct

Apa yang kau kejar, Sahabat…

ChasingSemalam saya menelepon salah satu teman dekat saya. sebuah aktivitas yang sudah lama tidak saya lakukan selama ini. Melakukan telepon hanya untuk say hi dan apa kabar. Banyak yang kami bicarakan semalam dan dari pembicaraan tersebut ada terbersit suatu hal di hati saya yang membuat saya terpikir hingga sebelum tidur. Yang mengganjal adalah tentang mengejar ketertinggalan dalam hidup. Berdasarkan pengalaman dan apa yang saya rasakan memang terkadang ada yang terasa mengganjal di hati kita untuk hal hal tertentu dalam hidup ini seperti kepemilikan harta, pekerjaan, jodoh ataupun keturunan. Adalah hal yang wajar apabila manik-manik kehidupan dunia itu menjadi hal-hal yang memotivasi kita. Kadang kita berpikir bahwa ketika seseorang mampu meraih suatu hal, berarti mereka sukses dan apabila kita belum seperti yang mereka peroleh di saat yang sama berarti tertinggal. Pertanyaan tersebut membuat saya melongok kedalam diri saya sendiri, kalau begitu saya banyak tertinggal dalam kehidupan. Misalkan saja pada usia 25 tahun beberapa rekan saya sudah menikah, memiliki rumah atau kendaraan pribadi, sudah memiliki keturunan yang cakep-cakep, sudah punya usaha sendiri sedangkan mungkin saya belum. Kalau demikian, saya lebih tertinggal lagi dari artis-artis cilik yang dalam usia belia bisa memperoleh penghasilan puluhan kali lipat dari apa yang bisa saya peroleh.

Saya jadi teringat pengelakan yang dilakukan oleh rekan saya ketika dia ditanya "kok udah umur segini belum nikah, padahal si A, anak baru, masih muda udah nikah, masa disalip melulu?" dan dengan santai dan tegas dia cukup berkata "emangnya balapan?". Saat ini saya dalam posisi untuk menjudge mana yang benar dan mana yang salah tetapi paling tidak ada garis tengah yang bisa diambil dari kedua sudut pandang tersebut. Dalam kehidupan, terutama di dunia yang fana ini merupakan hal yang lumrah bahwa time horizon menjadi ukuran sesuatu terutama umur. Sepertinya kita dituntut untuk mencapai tahapan tertentu seiring perkembangan umur kita. Usia 6 tahun harus masuk SD, 12 tahun harus sudah SMP, 15 tahun SMA dan sekitar 18 tahun sudah harus masuk kuliah. Kalau diteruskan, usia 20 tahun harus sudah punya pacar/tunangan , 27 tahun sudah harus nikah, 30 tahun sudah harus jadi supervisor, 35 tahun jadi manajer dan seterusnya. Kehidupan yang keras ini mendidik kita untuk menjadi lupa terhadap hakekat hidup kita. Untuk apa kita disini dan bagaimana seharusnya kita bersikap. Sebenarnya tidak ada yang perlu dirisaukan karena selama keyakinan kita bahwa hidup ini ada digenggaman yang Kuasa, yang harus kita lakukan adalah bekerja dan berusaha sebaik yang kita bisa tanpa lupa berdoa. Kedengarannya seperti kata-kata yang klise ya… tapi setidaknya akan tetap membuat kita bahagia dengan keadaan kita sekarang.

Ada satu hal yang menguatkan saya dalam menghadapi dilema semacam itu, saat merasa tertinggal dalam perlombaan kehidupan. Saya suka teringat dan termotivasi bahwa tiap orang diciptakan special. Tidak mungkin jalan hidup satu orang sama persis dengan orang lain, walaupun orang tersebut memiliki hubungan dekat dengan kita. Bahkan sepasang saudara kembar pun bisa berbeda jalan hidupnya. Tergantung bagaimana kehidupan itu dia jalani, dan tentu saja karena adanya restu dari yang kuasa. Dan Ingatlah bahwa kehadiran kita didunia adalah special dan pemenang karena dari sejak dalam rahim, kita telah mengalahkan kurang lebih 250 juta sel sperma yang lain.

Satu hal penting lagi adalah tetaplah bahagia karena kebahagiaan seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri. Sudah banyak cerita orang yang berlimpah harta dan kedudukan malah tidak bahagia. Tapi banyak juga cerita bahwa orang yang hidupnya sederhana dan apa adanya malah lebih berbahagia. Biarlah orang lain berlari dengan perlombaannya sendiri, melangkahlah dengan nyaman, lihatlah sekitar dan syukuri apa yang sudah kita miliki saat ini.

===========================================

Patience is bitter but the fruit is sweet - Jean Jacques Rousseau

===========================================

INSIGHT:

YOU ARE SPECIAL

Suatu hari seorang pembicara terkenal membuka seminarnya dengan cara yang unik. Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,00, ia bertanya kepada hadirin, "Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat.

"Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini."

Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat2. Lalu bertanya lagi,"Siapa yang masih mau uang ini?" Jumlah tangan yang teracung tak berkurang.

"Baiklah," jawabnya, "Apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak2nya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.

"Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.

"Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting. Apapun yang terjadi dengan uang ini, anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,00.

Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti.

Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan.

Jangan pernah lupa - Anda spesial…!!!

06
Oct

Tahukah Anda bahwa Anda tidak tahu? (an email that enchant me today)

Baru masuk kantor dan buka komputer, saya melihat ada email baru yang masuk. Dari seorang teman yang biasa mengirimkan berbagai informasi menarik seputar money market. Tapi kali ini email yang rada iseng. Tapi isinya menarik. Setidaknya menyadarkan kita untuk tidak melulu merasa benar. Sering sekali saya menjumpai orang-orang semacam yang tertera di email tersebut. Malah in some occasions, mungkin juga saya termasuk di dalamnya. Sepertinya kita harus lebih terbuka terhadap hal baru. Tentunya untuk hal-hal yang memang ada ruang untuk dijelajahi, tapi untuk hal-hal yang sudah harga mati, seperti nilai agama, nilai kemanusiaan dan kesusilaan tetap harus dijaga kemurniannya.

It has shocked me, how about you?

=====================================================

Tahukah Anda bahwa Anda tidak tahu?

Source: Anonymous

Einstein_1Tahukah Anda bahwa reaksi Anda akan suatu kejadian bisa memperlihatkan bagaimana diri Anda sebenarnya? Suatu cerita atau berita bisa memberikan reaksi yang berbeda tergantung siapa Anda. Berdasarkan pengetahuan kita akan sesuatu, manusia mempunyai 4 sifat: 1. Manusia yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu 2. Manusia yang tahu bahwa dia tidak tahu 3. Manusia yang tidak tahu bahwa dia tahu 4. Manusia yang tahu bahwa dia tahu

Manusia yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu adalah orang yang merasa sudah menguasai segalanya. Tidak perlu belajar dan tidak perlu menyelidiki lebih jauh. Kita sering menyebutnya sok tahu. Orang seperti ini sangat sulit dibuat mengerti. Bukan karena dia bodoh tapi karena dia tidak mau belajar dan tidak mau menerima nasihat. Anehnya, orang seperti ini justru sangat gampang berprasangka buruk pada sesamanya. Berita yang belum tentu benar bisa menjadi fakta menurut dia. Mereka hidup dalam dunia bayang-bayang bahwa mereka lah yang paling benar dan paling tahu segalanya padahal mereka sama sekali tidak tahu apa-apa.

Manusia yang tahu bahwa dia tidak tahu adalah orang yang rendah hati. Mereka senantiasa mau belajar. Mereka tidak mau memberikan komentar akan suatu hal sebelum mereka tahu pasti duduk perkaranya. Mereka selalu hati-hati melangkah sebelum mengetahui dengan jelas apa yang akan mereka tuju.

Manusia yang tidak tahu bahwa dia tahu adalah orang yang rendah diri. Mereka tidak bisa melihat kelebihan diri mereka. Mereka sering menghukum diri sendiri dan memuji orang lain. Orang seperti ini menganggap diri mereka tidak bisa melakukan apa-apa dengan benar. Pujian dari orang lain atas pekerjaan mereka bisa jadi merupakan ejekan yang menyakitkan.

Manusia yang tahu bahwa dia tahu adalah orang yang percaya diri. Mereka percaya pada kemampuannya karena mereka bisa mengukur kemampuannya. Mereka selalu yakin bahwa mereka bisa mengejar impian dan harapan mereka. Orang seperti ini selalu siap melakukan sesuatu tanpa ragu-ragu karena mereka sudah bisa menghitung dengan pasti hambatan yang mereka akan hadapi dan kekuatan yang mereka miliki.

Lalu kita ada di mana?

Sebagian besar manusia, kalau tidak bisa dikatakan seluruhnya, mempunyai semua sifat di atas tetapi dengan porsi yang berbeda-beda. Ada orang yang porsi sifat pertamanya yang dominan dan ada juga orang yang sifat lainnya yang dominan.

Sayangnya orang yang sifat pertamanya dominan seringkali tanpa sadar menyebabkan dirinya jadi bahan cemohan orang lain sementara orang yang dominan sifat ketiganya sering membuat dirinya jadi bulan-bulanan kemarahan dirinya sendiri.

Kita perlu selalu melihat diri kita dan mengevaluasi diri kita, sifat dominan yang mana yang sering muncul dalam diri kita. Adalah beruntung apabila kita mempunyai sifat dominan yang kedua dan keempat. Ketika kita tahu bahwa kita tidak tahu, kita berusaha untuk belajar dan belajar hingga suatu saat kita berani melangkah dengan cepat dan tepat karena kita sudah tahu apa yang dulu tidak kita ketahui.

Ada kabar baik buat Anda, yaitu Anda bisa mengukur di golongan manakah Anda biasa berdiri dan Anda bisa menggeser sifat dominan Anda ke arah yang lebih baik: 1. Apabila Anda selalu siap mendengar input dari orang lain tanpa perduli siapa dia maka yakinlah sifat pertama di atas bukan sesuatu yang dominan di diri Anda. Kesediaan mendengar nasihat atau info dari orang lain adalah bukti Anda jauh dari sifat pertama tadi. 2. Apabila Anda selalu ragu-ragu melakukan sesuatu dan selalu melihat masalah di atas masalah maka sepertinya sifat ketiga sangat dominan pada diri Anda. Anda perlu tahu bahwa potensi kemampuan Anda tidak terbatas dan belajar akan mengasah kemampuan Anda dan akhirnya mengubah diri Anda menjadi orang yang tahu kemampuan sendiri. 3. Apabila setiap menghadapi sesuatu, sebelum Anda bertindak lebih jauh, Anda selalu bertanya pada diri Anda sejauh mana Anda tahu tentang sesuatu itu maka Anda termasuk golongan sifat kedua atau keempat. Dengan selalu bertanya, menilai, membedakan fakta dan opini akan menyebabkan Anda bisa yakin sesuatu itu Anda tahu dengan pasti atau Anda tidak tahu dengan pasti.

Lalu siapakah Anda? Setelah membaca tulisan di atas tahukah Anda bahwa Anda tidak tahu?

=====================================