Biasanya ketika sakit mendera kita, kita baru menyadari betapa nikmatnya dan bersyukurnya kita telah diberi kesehatan selama ini. Bagi saya, sakit merupakan sinyal yang memiliki beragam arti dan makna. Pertama, Sakit mengingatkan kita tentang betapa berharganya menjadi sehat itu. Kepala yang biasanya baik-baik saja dengan diberi sedikit pusing atau pening saja, saya sudah merindukan kepala yang rasanya biasa-biasa saja itu. bahkan yang lebih sederhana, sakit di kaki akibat terantuk meja saja sudah membuat saya kangen dengan kaki yang tidak terantuk meja.
Kedua, Sakit membuat kita sadar bahwa kita tidak punya kontrol terhadap diri kita. Sakit bisa datang kapan saja dia mau dan dia suka. Entah kita sedang dipenuhi deadline atau janji yang harus ditepati atau kita sedang santai bengong tanpa pekerjaan. Pada saat kita sedang didera sakit, terkadang kita tidak kuasa dan harus melepaskan semua kesibukan kita untuk proses kesembuhan dan demi keselamatan orang-orang di sekitar kita agar mereka tidak tertular penyakit yang sedang kita derita. Seperti ketika saya menderita sakit seminggu yang lalu. Tidak kurang beberapa janji dan deadline pekerjaan harus saya korbankan karena sakit itu. Saya tidak bisa memilih untuk sakit setelah saya menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan deadline segera. Selesai tidak selesai, kamu harus istirahat. Mungkin itulah yang dikatakan sang penyakit kepada saya. Mungkin sebagian akan berkata "makanya, jaga kesehatan, makan dan istirahat yang cukup dan teratur". Saya pun demikian, saya olahraga teratur, istirahat teratur tapi penyakit tetap saja datang.
Ketiga, Merasakan sakit membuat kita sadar dan peka bahwa orang-orang di sekitar kita juga rentan terkena penyakit. Sehingga bukan tidak mungkin ketika kita membuat janji dengan seseorang, orang tersebut tidak bisa memenuhinya karena terbentur sakit. Jadi dengan menderita penyakit tersebut saya jadi lebih peka bahwa ketika orang lain sakit, kita jangan serta merta mengecap yang bukan-bukan. Pengalaman biasanya mengajarkan bahwa ketika kita sehat namun terbentur suatu hal seperti ingin cuti tanpa beban, maka dengan mudah kita mengatakan sakit dengan mencari surat dokter aspal. Sehingga yang terjadi, ketika kita mendengar ada orang lain sakit terkadang kita berprasangka buruk "ah, paling-paling juga lagi males ke kantor" apalagi bila ditambah sang pelaku sakit aspal tersebut memang kerap berlaku demikian. Dengan sakit yang saya derita kemaren, saya jadi dihadapkan kenyataan bahwa sakit itu realitas dan realitas itu wajar adanya.
Keempat, sakit memberi kita kesempatan untuk istirahat. Andaikan sakit itu tidak
datang entah kapan saya bisa menikmati istirahat di pertengahan minggu. Dengan kesempatan itu, saya memiliki kesempatan untuk menarik diri sejenak dari gencarnya kehidupan. Istirahat dari bermacet-macet ria, istirahat kontak dengan komputer, istirahat menulis blog (ups), istirahat berdebat gak jelas dengan orang -orang, istirahat dari pikiran-pikiran sumpek dan sebagainya. Setidaknya saya menemukan sisi lain di sela-sela penyakit yang datang seketika itu. Selain memberikan kesempatan istirahat, di masa reses tersebut saya memiliki kesempatan lebih banyak dan lebih luas untuk merenung dan introspeksi.
Kelima, Sakit membuat saya bersyukur selama ini saya punya aktivitas yang tidak membuat saya bete. Believe me, staying at home makes me bete a lot. Dibalik enaknya di rumah ternyata terlalu lama di rumah membuat kepala saya tambah pusing, bosan, ditambah suasanan puasa membuat badan terasa lemas.
Keenam, melalui sakit ini, saya bisa melihat mana teman-teman yang peduli sama saya dan mana yang tidak hehehe. seperti biasa teman-teman baik saya banyak yang sms dan menanyakan kabar. thanks for the attentions, pals.
However, sakit kali ini lebih membuka mata saya bahwa di balik datangnya yang tiba-tiba dan tak terduga, mungkin ini sebagai teguran dan sentilan dari yang di atas untuk menjalani hidup yang lebih baik.
Recent Comments