25
Oct
05

Kalap

DevilKata ustad di tempat pengajian saya waktu kecil dulu, kalau kita sedang marah lebih baik menenangkan diri dengan posisi duduk, kalau masih belum reda amarah itu, maka cobalah untuk berbaring. Kalau ternyata masih susah mencongkel rasa marah di hati, cobalah untuk ambil air wudhu karena amarah itu pada dasarnya datangnya dari syeitan yang mengompori manusia untuk marah. Air wudhu akan menyejukkannya karena syaitan terbuat dari api sehingga dengan mengambil air wudhu seakan-akan sang syaitan akan terbilas habis dari aliran darah di tubuh kita.

Pesan yang sederhana itu saya ingat betul sampai sekarang. Sangat sederhana isinya dengan dibungkus gaya mendongeng, pesan untuk tidak mudah marah itu senantiasa melekat di hati saya. Marah itu datang dari berbagai sebab, tetapi lebih banyak dari diri kita sendiri. Kata Bapak Ary Ginanjar Agustian, penulis buku terkenal ESQ, bahwa kemampuan mengendalikan amarah itulah salah satu yang membedakan kemampuan emosi (emotional quotient) antara satu orang dengan orang yang lain. Dengan mengedepankan amarah, kita pada dasarnya memilih untuk tidak berpikir jernih dalam mengambil tindakan.  Dan amarah yang sudah sangat dikuasai hawa nafsu syaitan inilah yang kadang dikatakan oleh orang sebagai kalap. Kalau sudah kalap, apa yang terlintas dalam pikiran orang yang kalap itulah yang dilakukan tanpa berpikir, dan tanpa pertimbangan. Sudah banyak kita dengar atau baca di koran-koran bahwa orang yang habis membunuh rekannya, saudaranya atau bahkan orang tuanya kadang menyesali perbuatannya sesaat setelah amarahnya terpuaskan dengan membunuh. Jadi sebenarnya Syaitan telah pergi setelah dia berhasil memprovokasi manusia untuk berbuat dosa besar.

Sama halnya dengan yang dialami Iswandi, pelaku pembakaran Harmoni plaza, 13 Oktober yang lalu. Dia kalap. Karena telah di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja, ia membakar habis kantor PT. Panca Kusuma Harmoni sehingga menyebabkan kerugian material dan juga korban jiwa 4 orang dan 7 orang luka bakar. Padahal aksi PHK tersebut karena ulahnya sendiri yang menggelapkan uang perusahaan sebesar 600 ribu rupiah. Pada akhirnya dia diancam kurungan seumur hidup atau minimal 20 tahun penjara. Tahu bagaimana perasaan Iswandi? Dia menyesal (baca detikcom 21/10/05) tapi apakah penyesalannya mengembalikan luka keluarga korban?. Lain lagi ceritanya di  Muara Bungo, Jambi. Seorang RT tewas ditikam warganya karena masalah Bantuan Langsung Tunai (BLT). Pengakuan tersangka, ia kesal karena sang RT meminta bagian sebesar 60 Ribu rupiah dari dana BLT yang diterimanya yang hanya sejumlah 300 ribu untuk tiga bulan itu. namun versi para tetangga mengatakan bahwa sebenarnya sang pelaku kalap karena dia tidak tercatat sebagai penerima BLT.

Kalap, banyak versinya dari kalap yang dipicu oleh ulah sendiri sampai kalap yang dipicu karena provokasi orang lain. Saya jadi teringat kata ustad dulu, andai saja sebelum mereka mengambil tindakan mereka berpikir lebih jauh dulu. Minimal ketika mereka sedang marah (belum kalap) mereka duduk, berbaring atau berinisiatif mengambil air wudhu. Sehingga efek yang terjadi tidak disesali di kemudian hari. Atau paling tidak, lakukan seperti apa yang disarankan oleh Steven Covey. Bahwa ketika kita akan melakukan sesuatu setidaknya berpikirlah sepuluh langkah sebelumnya mengenai tindakan yang akan kita lakukan. Sehingga kita akan menjadi orang yang efektif, tidak meledak-ledak, spontan dan salah langkah lalu menyesal.

Sangat banyak sekali potensi kekalapan akhir-akhir ini. Entah apakah kita yang sudah lupa bagaimana mengatasi amarah atau karena Syaitan semakin perkasa memprovokasi manusia. Yang jelas seharusnya saat ini kita belajar dari ilmu berpuasa, mumpung masih Ramadhan, bersabarlah. Sesungguhnya Allah senantiasa dekat dengan orang-orang yang sabar.




0 Responses to “Kalap”


  1. No Comments

Leave a Reply

You must login to post a comment.