Kira-kira seminggu yang lalu saya mampir ke blog Bapak Hermawan Kartajaya, seorang mahaguru marketing dunia yang berasal dari Indonesia. Saya membaca satu artikel menarik di dalamnya yaitu tentang persaingan antara Samsung dan Sony (http://hermawan.typepad.com/blog/2005/10/sony_vs_samsung.html). Saya memperoleh insight dari tulisan tersebut. Bagaimana persaingan antara Sony dan Samsung telah berlangsung lama. Sony yang namanya telah menggelegar sejak lama di dunia elektronik inovatif tidak membuat perusahaan seperti Samsung untuk head to head dengannya. Dalam salah satu rilis businessweek, bahkan saat ini sony menggunakan chip yang diproduksi oleh Samsung untuk memotori digital music player produksinya. Hebat ya?
Geliat Korea dalam persaingan produk global terasa baru saja dimulai. Tetapi efek dan semangatnya luar biasa. Hal tersebut terasa juga di Industri otomotif. Merek-merek mobil Korea semacam Kia dan Hyundai pun sekarang sudah menyebar kemana-mana. Angan saya mengatakan bahwa bukan tidak mungkin suatu saat Toyota akan menggunakan mesin dari Hyundai. Secara kultural dan geografis, bangsa-bangsa pembuat Sony dan Samsung adalah bangsa-bangsa yang dekat dengan kita, bangsa Indonesia. Tapi kenapa mereka bisa punya perusahaan-perusahaan luar biasa semacam Sony, Samsung, Toyota dan Hyundai?. Saya coba menata serpihan informasi tentang perusahaan lokal Indonesia yang prestasinya sampai tingkat Global. Seingat saya baru PT. Telkom saja yang sudah termasuk salah satu dari 50 perusahaan yang menguntungkan di dunia (itupun seingat saya versi businessweek tapi sudah lama deh). Padahal secara inovasi, produk dan layanan, kualitas telkom biasa-biasa saja. Jadi apakah Telkom akan bertahan sampai lama? Jadi dari sebuah negara yang sebesar kita ini hampir tidak memiliki perusahaan kelas dunia? Rata-rata- perusahaan-perusahaan yang bonafid di Indonesia adalah anak-anak perusahaan asing. Astra International, misalnya, walaupun secara management lebih mending daripada perusahaan Indonesia ada umumnya tetapi secara struktur permodalan dan operasinya masih sangat besar ketergantungannya terhadap pihak asing. Sehingga bila para lulusan sarjana baru di Indonesia memiliki angan untuk bekerja di perusahaan Bonafid, pikiran mereka pastilah akan tertuju kepada daftar perusahaan asing dan afiliasinya yang ada di Indonesia.
Melihat kenyataan itu bukan tidak mungkin, kita bangsa Indonesia, akan selalu merasa minor dan kerdil di pergaulan dunia. Nasionalisme terhadap negara ini hanya akan merupakan sebuah janji pada Ibu pertiwi yang tak bisa ditepati. Bagaimana identitas bangsa ini bisa dipertahankan apabila warga negaranya sendiri sudah apatis terhadap image negaranya sendiri. Saya rasa ini akan menjadi PR untuk kita semua dalam bertindak dan berpikir. Mimpi rasanya Indonesia memiliki Indonesia Inc. seperti Temasek Holdingnya Singapore yang punya aset dimana-mana dan profitable lagi. Semoga mimpi itu bukan hanya akan menjadi sekedar mimpi dan kita suatu saat bisa bangga dengan perusahaan nasional berkelas dunia. Iya, tapi kapan?
0 Responses to “Mimpi Siang Bolong…”
Leave a Reply
You must login to post a comment.