Archive for November, 2005

29
Nov

Di Negeri saya, Preman berkuasa

Preman_2 Saya yakin bahwa di setiap kesempatan berinteraksi dengan rekan sejawat kita, kita sering mendengar joke-joke ataupun cerita mengenai premanisme di sekitar kita. Misalnya cerita yang baru saja saya dengar siang tadi kala saya sedang makan siang dengan teman-teman di kafetaria kantor saya. Sebenarnya awalnya cerita tersebut sangat sederhana. Kebetulan dari jendela kafetaria, yang letaknya di lantai 5 gedung kantor saya, kami dapat melihat dengan jelas ke arah jalan tol priok – cawang dan juga ke arah Mal Artha Gading dan sekitarnya. Kemudian salah satu rekan saya mengomentari semakin banyaknya gubuk-gubuk liar yang ada tanah kosong yang letaknya di seberang kantor kami. Yah, biasalah… pembicaraan kemudian berputar-putar tentang akal-akalan warga yang mendirikan gubuk liar seperti halnya mereka biasanya mendirikan musholla di pemukiman liar tersebut yang bila suatu saat dilaksanakan penggusuran, warga pemukiman liar tersebut akan menyinggung isu SARA dengan tujuan penggusuran akan mengalami kendala, terjadi keributan atau kerusuhan dan syukur-syukur penggusuran tersebut dibatalkan. Teman saya yang satu lagi menambahkan bagaimana mereka mengajak kerabat mereka dari kampung untuk bermigrasi ke kota besar seperti Jakarta dan memberikan iming-iming bahwa di Jakarta lahan masih luas dan kesempatan kerja masih banyak. Padahal lahan yang dimaksud adalah lahan serobotan yang mereka rebut atas nama keadilan dan pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan informal yang dalam batas-batas tertentu menyebabkan kerugian dan keresahan. Rekan saya mencontohkan bagaimana tanah kosong di seberang kantor itu bisa terang benderang di malam hari oleh tenda-tenda dan kios-kios dadakan yang membuat kawasan tersebut seperti pasar malam. Nah, dapet listrik dari mana mereka?

Cerita-cerita semacam itu kadang membuat saya trenyuh. Antara prihatin dan geram. Prihatin karena pastilah aksi-aksi semacam itu dimotivasi oleh keadaan perekonomian sebagian besar masyarakat Indonesia memang berada di bawah garis kemiskinan. Jadi apa yang mereka lakukan sebenarnya merupakan insting alami makhluk hidup untuk bertahan hidup. Namun saya juga geram karena begitu bobroknya kah perilaku masyarakat kita? Atau yang bobrok itu kepastian hukumnya sehingga perilaku masyarakatnya tidak bisa dikendalikan dan diatur?

Saya pikir-pikir kembali, mungkin perilaku premanisme itu muncul dan tumbuh subur di negeri kita karena memang banyaknya teladan yang bisa ditiru untuk menjadi preman. Di lembaga-lembaga terhormat saja perilaku itu  premanisme kerap kita temui atau kita baca di koran-koran. Ya misalkan saja tentang bagaimana secara beramai-ramai anggota DPR yang terhormat secara berjamaah menaikkan gaji dan tunjangan mereka secara sepihak. Mereka mirip sekali dengan perilaku-perilaku penyerobot lahan yang sering terjadi di Jakarta. Jadi, sepertinya joke-joke tentang premanisme masyarakat akan terus saya dengar dan menjadi bumbu pergaulan sehari-hari.

28
Nov

Primal Leadership

Alexan_3Semalam saya mendengar sebuah pembahasan menarik mengenai Kepemimpinan. Gaya kepemimpinan yang dibahas pada waktu itu adalah kepemimpinan yang bergaya primal leadership yaitu gaya kepemimpinan yang didasarkan pada keterikatan hati. Dalam sebuah organisasi yang non formal seperti masyarakat, primal leadership ini tumbuh dan berkembang dan sangat diperlukan untuk menjaga keharmonisan dan kerekatan hubungan bermasyarakat. Primal Leadership ini tidak membutuhkan legitimasi, struktur organisasi yang baku ataupun surat penunjukan. Primal leadership tumbuh karena anggota masyarakat memilih pemimpinnya dikarenakan kualitas pribadi yang dimilikinya. Seperti apa primal leadership itu?

Alkisah, ketika Alexander Agung (Alexander the Great) pemimpin bangsa romawi yang bercita-cita menguasai dunia sedang melakukan perjalanan panjang ke afrika, ketika melewati gurun sahara yang melelahkan, menyengat dan menguras energi, persediaan airpun menipis hanya tinggal satu di sebuah botol yang kecil. Banyak prajurit yang tumbang oleh kerasnya alam dan panasnya cuaca saat itu. Para prajurit dan pengawal Alexander Agung menawarkan air itu untuk diminum oleh pemimpin mereka. Mereka menyodorkan botol itu kepada Alexander Agung, mereka pikir biarlah mereka mati kelelahan asalkan jangan pemimpin mereka. Tetapi apa yang dilakukan oleh Alexander Agung? Dia menolak, dia berkata kepada para prajuritnya bahwa mereka berjuang bersama, mereka bertualang bersama dan sudah seharusnyalah mereka menderita bersama. Alexander Agung pantang untuk merasa nyaman di saat anak buahnya menderita. Tak lama kemudian mereka menemukan oasis di tengah gurun, sehingga perjalanan panjang yang melelahkan dapat berakhir di Oasis itu. Pengalaman melakukan perjalanan panjang bersama Alexander Agung itu melekat pada jiwa para prajuritnya sehingga mereka menjadi prajurit yang loyal, yang membela Alexander Agung sampai titik darah penghabisan.

Sayyidina Umar Bin Abdul Aziz, merupakan seorang khalifah Islam yang juga dicintai rakyat pada jamannya. Beliau dicintai rakyat karena beliau juga mencintai rakyat yang dipimpinnya. Konon, beliau orang yang tidak bisa tidur nyaman apabila ada rakyatnya yang tidak bisa tidur karena lapar. Beliau suka menyamar untuk mengetahui kehidupan rakyatnya, untuk merasakan seperti apa harapan dan penderitaan yang dialami oleh rakyatnya. Konon, ketika masa beliau berkuasa, banyak gebrakan yang dilakukannya yang tidak biasa dilakukan oleh orang yang berkuasa. Ketika Umar bin Abdul Aziz baru diangkat menjadi khalifah, beliau  Menolak fasilitas kekhalifahan untuk dirinya yang dianggapnya berlebihan. Petugas kekhalifahan yang hendak mengawalnya dengan kendaraan khusus mendapatkan sesuatu yang di luar dugaan. Umar menolak kendaraan dinas, dan meminta kepada salah seorang di antara mereka untuk mendatangkan binatang tunggangannya. Al-Hakam bin Umar mengisahkan, ”Saya menyaksikan para pengawal datang dengan kendaraan khusus kekhalifahan kepada Umar bin Abdul Aziz sesaat dia diangkat menjadi Khalifah. Waktu itu Umar berkata, ’Bawa kendaraan itu ke pasar dan juallah, lalu hasil penjualan itu simpan di Baitul Maal. Saya cukup naik kendaran ini saja (hewan tunggangan).’” Atha al-Khurasani berkata, ”Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pelayannya untuk memanaskan air untuknya. Lalu pelayannya memanaskan air di dapur umum. Kemudian Umar bin Abdul Aziz menyuruh pelayannya untuk membayar setiap satu batang kayu bakar dengan satu dirham.”

’Amir bin Muhajir menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz akan menayalakan lampu milik umum jika pekerjaannya berhubungan dengan kepentingan kaum Muslimin. Ketika urusan kaum Muslimin selesai, maka dia akan memadamkannya dan segera menyalakan lampu miliknya sendiri.

Membaca kisah-kisah pemimpin besar masa lalu membuat kita tergugah dan terhanyut dalam harapan untuk memiliki pemimpin yang demikian. Memang, sosok kepemimpinan yang demikian merupakan sosok pemimpin yang seakan-akan diturunkan Tuhan untuk umat manusia. Pemimpin yang adil, yang penyayang, yang memiliki representasi sifat Tuhan di dunia. Memiliki pemimpin yang demikian bukan saja akan membuat kita bahagia, merasa terlindungi dan loyal kepada mereka, tetapi juga akan membuat kita, sebagai rakyat, berdoa kepada yang Kuasa untuk meminta keselamatan dan perlindungan untuk mereka. Sebaliknya, bila kita memiliki pemimpin yang sama sekali tidak punya hati untuk memimpin, memikirkan diri sendiri di atas orang-orang yang dipimpinnya akan membuat kita jengah dan sebal kepada mereka. Bahkan kita semua akan mendoakan kepada yang Maha Adil untuk diturunkan azab kepada mereka yang telah menzhalimi rakyatnya.

Sangat beragam kepemimpinan yang bisa diterapkan oleh seorang pemimpin. Tapi rasanya, tidak ada teori dan literatur yang mendukung bahwa untuk memperoleh hati, loyalitas orang yang kita pimpin adalah dengan menyakiti hatinya. Sepertinya para pemimpin ataupun kita sebagai pemimpin untuk diri sendiri dan keluarga kita perlu belajar mengenai primal leadership ini.

26
Nov

Hari Sabtu di Tumpukan Coil

Image27Image38I and the Coils and the Pizza party after the mission completed

-

Hari sabtu ini, 26 November 2005. Divisi tempat saya bekerja melakukan kegiatan stock taking tengah semester. Maka untuk itu saya harus mengorbankan hari sabtu saya untuk datang ke kantor pagi-pagi untuk melaksanakan tugas ini.

Pada Stock taking activity tahun ini, saya ditempatkan di vendor perusahaan kami yang melakukan storing dan cutting steel material untuk komponen body kendaraan. Hal tersebut merupakan pengalaman baru buat saya, sebelumnya saya sudah di-assigned beberapa kali ke area-area lain untuk melakukan stock taking. Namun baru kali ini saya ditempatkan di vendor steel. Ternyata walaupun saya hampir genap 5 tahun di perusahaan ini, masih banyak hal-hal baru yang menambah pengalaman dan wawasan saya. Beberapa jam melakukan stock taking membuat leher saya pegal-pegal karena tumpukan steel material yang masih berupa coil bertumpuk-tumpuk sehingga agak sulit juga untuk melakukan pengecekan di tempat yang tinggi. Tapi untunglah auditor dan plant guide yang menemani kegiatan stock taking ini cukup asyik orangnya jadi walaupun aktivitasnya agak membosankan, saya tidak merasa jenuh malah menikmatinya.

Tenggelam di tumpukan steel mencari dan melakukan verifikasi bikin lupa waktu juga. Kegiatan hitung menghitung dan verifikasi dimulai pukul 9.30 pagi dan baru berakhir jam 14.30 siang. Walau baju jadi lusuh, badan basah dengan peluh, dan tangan agak beset-beset kena lempengan baja, tapi saya cukup puas dan senang karena bisa memperoleh pengalaman baru yang sedikit menyadarkan saya bahwa the company I work for is not boring at all. Hehe…

23
Nov

Saat Mengantri di Kedutaan

Usembas

Pernah merasakan mengantri di kedutaan? Saya sudah merasakannya dan rasanya kesal sekali. Sekitar hari keempat lebaran, saya diminta oleh papa saya untuk mengambil visa di kedutaan Amerika, di daerah gambir, Jakarta Pusat. Penasaran seperti apa sih mau masuk ke rumah orang, saya datang ke kedutaan dengan adik saya. terbayang dalam benak saya pasti nanti ditanya macem-macem sama petugas disana sebab sudah terkenal betul kalau pemeriksaan di kedutaan pasti ketat sekali.

Ternyata perkiraan saya tidak meleset. Sampai di kedutaan saya bermaksud menanyakan dimana loket untuk mengambil visa. Saya mendekati seorang petugas penjaga di sana. Dan dengan tampang sok sangar, dengan nada kasar dia hanya bilang ke kami, “tunggu disana, ngantri!” sambil menunjuk ke arah antian orang yang menunggu di belakang gedung Perum Gas Negara, di bawah jembatan layang rel kereta api antara Gondangdia dan Gambir. Busyet! Terus terang pemandangan yang saya lihat dan saya rasakan sungguh luar biasa. Di luar ekspektasi saya yang sebelumnya berpikir paling saya akan di periksa dengan detektor bom dan diraba seluruh badan. Ternyata perlakuannya lebih menyedihkan dan terus terang sebagai anak bangsa saya merasa “direndahkan”. Mungkin hal tersebut merupakan pengalaman pertama bagi saya sehingga membuat saya rada terkaget-kaget. Akan sangat berbeda dengan orang lain yang mungkin sudah sering ngantri di kedutaan Amerika.

Saya melihat waktu masih menunjukkan jam 14.15, padahal menurut jadwal loket pengambilan visa akan dibuka pukul 14.30. tapi saya sudah melihat antrian yang sangat panjang. Di bawah pohon yang berulat bulu di pinggir jalan yang berdebu. Saya tidak kebayang bagaimana bila hari hujan. Pasti kami harus rela ngantri berbasah-basahan. Saya sempat mengumpat di hati, saya sangat kesal dengan perlakuan ini. Sebegini rendahnyakah bangsa Indonesia sehingga untuk mengurus visa ke negara Adidaya harus rela mengantri di bawah pohon di belakang gedung tua dan bermandikan debu ketika mobil mobil kedutaan lewat. Begitu beragamnya orang yang ada di sana. Yang berwajah jawa, ambon, cina, typikal keragaman bangsa kita, ikut ngantri di sana. Dari orang yang turun dari sedan sampai orang yang hanya turun dari mobil murah, angkot ataupun sepeda motor semua tumplek mengantri. Kekesalan saya bertambah melihat petugas keamanan Kedutaan yang terlihat “belagu” dan sok kuasa. Typikal sikap serdadu Belanda keturunan pribumi di film-film perjuangan jaman dulu. Sangat tidak ramah, kasar, sok tegas, dan memandang rendah saudara sebangsanya sendiri. Kita disuruh maju lima-lima dan dihitung kayak kambing mau di kurban. “Ya, satu… dua… tiga… empat… lima… Maju. Eh, kamu yang di belakang jangan maju. Lima-lima… bisa ngitung gak?” katanya gokil. Pengen Gue tonjok!

Tapi bagaimanapun saya teringat pesan Papa saya, “Ya namanya juga kita mau masuk ke rumah orang, ya sudah seharusnyalah kita mengikuti peraturan yang mereka buat”. “Peraturan? Peraturan yang aneh” kata adik saya.  Saya menyadari betul bahwa memasuki kedutaan sebuah negara sama dengan memasuki teritori berdaulat negara tersebut. Tapi saya rasa perlakuan yang saya alami dan kelakuan petugas-petugasnya sangat berlebihan dan sangat arogan. Persis seperti arogansi politik yang ditunjukkan oleh Pemerintah Amerika.

Merasakan sepenggal kenangan itu, saya sudah sangat kesal sekali. Saya jadi terbayang bagaimana kesal dan dendamnya saudara saya yang di Irak, Afghanistan, atau Bosnia sana yang memperoleh perlakuan arogan dan kejam dari serdadu Amerika. Saya saja yang hanya disuruh ngantri dan di hardik di negara saya, di tengah Ibukota negara saya, saya sudah sangat kesal dan sedih. Apalagi bila rumah saya di dobrak di malam hari ketika sedang tidur, rumah saya hancur digempur rudal, atau saudara saya disiksa di penjara Abu Ghraib. Saya jadi mengerti betapa banyaknya dendam yang terpendam kepada negara adidaya itu. Sebuah pengalaman kecil yang membuat hati kecil saya menangis.