
Pernah merasakan mengantri di kedutaan? Saya sudah merasakannya dan rasanya kesal sekali. Sekitar hari keempat lebaran, saya diminta oleh papa saya untuk mengambil visa di kedutaan Amerika, di daerah gambir, Jakarta Pusat. Penasaran seperti apa sih mau masuk ke rumah orang, saya datang ke kedutaan dengan adik saya. terbayang dalam benak saya pasti nanti ditanya macem-macem sama petugas disana sebab sudah terkenal betul kalau pemeriksaan di kedutaan pasti ketat sekali.
Ternyata perkiraan saya tidak meleset. Sampai di kedutaan saya bermaksud menanyakan dimana loket untuk mengambil visa. Saya mendekati seorang petugas penjaga di sana. Dan dengan tampang sok sangar, dengan nada kasar dia hanya bilang ke kami, “tunggu disana, ngantri!” sambil menunjuk ke arah antian orang yang menunggu di belakang gedung Perum Gas Negara, di bawah jembatan layang rel kereta api antara Gondangdia dan Gambir. Busyet! Terus terang pemandangan yang saya lihat dan saya rasakan sungguh luar biasa. Di luar ekspektasi saya yang sebelumnya berpikir paling saya akan di periksa dengan detektor bom dan diraba seluruh badan. Ternyata perlakuannya lebih menyedihkan dan terus terang sebagai anak bangsa saya merasa “direndahkan”. Mungkin hal tersebut merupakan pengalaman pertama bagi saya sehingga membuat saya rada terkaget-kaget. Akan sangat berbeda dengan orang lain yang mungkin sudah sering ngantri di kedutaan Amerika.
Saya melihat waktu masih menunjukkan jam 14.15, padahal menurut jadwal loket pengambilan visa akan dibuka pukul 14.30. tapi saya sudah melihat antrian yang sangat panjang. Di bawah pohon yang berulat bulu di pinggir jalan yang berdebu. Saya tidak kebayang bagaimana bila hari hujan. Pasti kami harus rela ngantri berbasah-basahan. Saya sempat mengumpat di hati, saya sangat kesal dengan perlakuan ini. Sebegini rendahnyakah bangsa Indonesia sehingga untuk mengurus visa ke negara Adidaya harus rela mengantri di bawah pohon di belakang gedung tua dan bermandikan debu ketika mobil mobil kedutaan lewat. Begitu beragamnya orang yang ada di sana. Yang berwajah jawa, ambon, cina, typikal keragaman bangsa kita, ikut ngantri di sana. Dari orang yang turun dari sedan sampai orang yang hanya turun dari mobil murah, angkot ataupun sepeda motor semua tumplek mengantri. Kekesalan saya bertambah melihat petugas keamanan Kedutaan yang terlihat “belagu” dan sok kuasa. Typikal sikap serdadu Belanda keturunan pribumi di film-film perjuangan jaman dulu. Sangat tidak ramah, kasar, sok tegas, dan memandang rendah saudara sebangsanya sendiri. Kita disuruh maju lima-lima dan dihitung kayak kambing mau di kurban. “Ya, satu… dua… tiga… empat… lima… Maju. Eh, kamu yang di belakang jangan maju. Lima-lima… bisa ngitung gak?” katanya gokil. Pengen Gue tonjok!
Tapi bagaimanapun saya teringat pesan Papa saya, “Ya namanya juga kita mau masuk ke rumah orang, ya sudah seharusnyalah kita mengikuti peraturan yang mereka buat”. “Peraturan? Peraturan yang aneh” kata adik saya. Saya menyadari betul bahwa memasuki kedutaan sebuah negara sama dengan memasuki teritori berdaulat negara tersebut. Tapi saya rasa perlakuan yang saya alami dan kelakuan petugas-petugasnya sangat berlebihan dan sangat arogan. Persis seperti arogansi politik yang ditunjukkan oleh Pemerintah Amerika.
Merasakan sepenggal kenangan itu, saya sudah sangat kesal sekali. Saya jadi terbayang bagaimana kesal dan dendamnya saudara saya yang di Irak, Afghanistan, atau Bosnia sana yang memperoleh perlakuan arogan dan kejam dari serdadu Amerika. Saya saja yang hanya disuruh ngantri dan di hardik di negara saya, di tengah Ibukota negara saya, saya sudah sangat kesal dan sedih. Apalagi bila rumah saya di dobrak di malam hari ketika sedang tidur, rumah saya hancur digempur rudal, atau saudara saya disiksa di penjara Abu Ghraib. Saya jadi mengerti betapa banyaknya dendam yang terpendam kepada negara adidaya itu. Sebuah pengalaman kecil yang membuat hati kecil saya menangis.
Recent Comments