Semalam saya mendengar sebuah pembahasan menarik mengenai Kepemimpinan. Gaya kepemimpinan yang dibahas pada waktu itu adalah kepemimpinan yang bergaya primal leadership yaitu gaya kepemimpinan yang didasarkan pada keterikatan hati. Dalam sebuah organisasi yang non formal seperti masyarakat, primal leadership ini tumbuh dan berkembang dan sangat diperlukan untuk menjaga keharmonisan dan kerekatan hubungan bermasyarakat. Primal Leadership ini tidak membutuhkan legitimasi, struktur organisasi yang baku ataupun surat penunjukan. Primal leadership tumbuh karena anggota masyarakat memilih pemimpinnya dikarenakan kualitas pribadi yang dimilikinya. Seperti apa primal leadership itu?
Alkisah, ketika Alexander Agung (Alexander the Great) pemimpin bangsa romawi yang bercita-cita menguasai dunia sedang melakukan perjalanan panjang ke afrika, ketika melewati gurun sahara yang melelahkan, menyengat dan menguras energi, persediaan airpun menipis hanya tinggal satu di sebuah botol yang kecil. Banyak prajurit yang tumbang oleh kerasnya alam dan panasnya cuaca saat itu. Para prajurit dan pengawal Alexander Agung menawarkan air itu untuk diminum oleh pemimpin mereka. Mereka menyodorkan botol itu kepada Alexander Agung, mereka pikir biarlah mereka mati kelelahan asalkan jangan pemimpin mereka. Tetapi apa yang dilakukan oleh Alexander Agung? Dia menolak, dia berkata kepada para prajuritnya bahwa mereka berjuang bersama, mereka bertualang bersama dan sudah seharusnyalah mereka menderita bersama. Alexander Agung pantang untuk merasa nyaman di saat anak buahnya menderita. Tak lama kemudian mereka menemukan oasis di tengah gurun, sehingga perjalanan panjang yang melelahkan dapat berakhir di Oasis itu. Pengalaman melakukan perjalanan panjang bersama Alexander Agung itu melekat pada jiwa para prajuritnya sehingga mereka menjadi prajurit yang loyal, yang membela Alexander Agung sampai titik darah penghabisan.
Sayyidina Umar Bin Abdul Aziz, merupakan seorang khalifah Islam yang juga dicintai rakyat pada jamannya. Beliau dicintai rakyat karena beliau juga mencintai rakyat yang dipimpinnya. Konon, beliau orang yang tidak bisa tidur nyaman apabila ada rakyatnya yang tidak bisa tidur karena lapar. Beliau suka menyamar untuk mengetahui kehidupan rakyatnya, untuk merasakan seperti apa harapan dan penderitaan yang dialami oleh rakyatnya. Konon, ketika masa beliau berkuasa, banyak gebrakan yang dilakukannya yang tidak biasa dilakukan oleh orang yang berkuasa. Ketika Umar bin Abdul Aziz baru diangkat menjadi khalifah, beliau Menolak fasilitas kekhalifahan untuk dirinya yang dianggapnya berlebihan. Petugas kekhalifahan yang hendak mengawalnya dengan kendaraan khusus mendapatkan sesuatu yang di luar dugaan. Umar menolak kendaraan dinas, dan meminta kepada salah seorang di antara mereka untuk mendatangkan binatang tunggangannya. Al-Hakam bin Umar mengisahkan, ”Saya menyaksikan para pengawal datang dengan kendaraan khusus kekhalifahan kepada Umar bin Abdul Aziz sesaat dia diangkat menjadi Khalifah. Waktu itu Umar berkata, ’Bawa kendaraan itu ke pasar dan juallah, lalu hasil penjualan itu simpan di Baitul Maal. Saya cukup naik kendaran ini saja (hewan tunggangan).’” Atha al-Khurasani berkata, ”Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pelayannya untuk memanaskan air untuknya. Lalu pelayannya memanaskan air di dapur umum. Kemudian Umar bin Abdul Aziz menyuruh pelayannya untuk membayar setiap satu batang kayu bakar dengan satu dirham.”
’Amir bin Muhajir menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz akan menayalakan lampu milik umum jika pekerjaannya berhubungan dengan kepentingan kaum Muslimin. Ketika urusan kaum Muslimin selesai, maka dia akan memadamkannya dan segera menyalakan lampu miliknya sendiri.
Membaca kisah-kisah pemimpin besar masa lalu membuat kita tergugah dan terhanyut dalam harapan untuk memiliki pemimpin yang demikian. Memang, sosok kepemimpinan yang demikian merupakan sosok pemimpin yang seakan-akan diturunkan Tuhan untuk umat manusia. Pemimpin yang adil, yang penyayang, yang memiliki representasi sifat Tuhan di dunia. Memiliki pemimpin yang demikian bukan saja akan membuat kita bahagia, merasa terlindungi dan loyal kepada mereka, tetapi juga akan membuat kita, sebagai rakyat, berdoa kepada yang Kuasa untuk meminta keselamatan dan perlindungan untuk mereka. Sebaliknya, bila kita memiliki pemimpin yang sama sekali tidak punya hati untuk memimpin, memikirkan diri sendiri di atas orang-orang yang dipimpinnya akan membuat kita jengah dan sebal kepada mereka. Bahkan kita semua akan mendoakan kepada yang Maha Adil untuk diturunkan azab kepada mereka yang telah menzhalimi rakyatnya.
Sangat beragam kepemimpinan yang bisa diterapkan oleh seorang pemimpin. Tapi rasanya, tidak ada teori dan literatur yang mendukung bahwa untuk memperoleh hati, loyalitas orang yang kita pimpin adalah dengan menyakiti hatinya. Sepertinya para pemimpin ataupun kita sebagai pemimpin untuk diri sendiri dan keluarga kita perlu belajar mengenai primal leadership ini.
0 Responses to “Primal Leadership”
Leave a Reply
You must login to post a comment.