Archive for December, 2005

30
Dec

Kesan dan Harapan di Penghujung Tahun…

SunsetTahun 2005 akan menutup matanya esok hari. Biasanya menjelang penutupan tahun seperti ini, yang paling umum dilakukan oleh orang-orang adalah melakukan refleksi dan introspeksi tentang apa saja yang telah dilakukannya di sepanjang tahun 2005 ini dan memanjatkan harapan dan angan di tahun yang akan datang. Bagi saya, tahun 2005 ini adalah tahun yang sangat bermakna. Banyak hal yang terjadi di tahun 2005 ini. Di tahun inilah saya memulai menuliskan kata-kata di blog, melangsungkan pernikahan, menemukan kembali banyak kawan-kawan lama saya, juga di tahun ini pula saya mencoba peruntungan baru di bursa kerja. Berakhirnya tahun 2005 sekaligus juga menjadi saat-saat terakhir saya bekerja di Toyota.

Banyak suka duka, senang dan sedih yang terjadi ditahun ini. Suka dan duka sebagai anak bangsa, senang dan sedih sebagai pribadi. Dulu banyak yang bilang bahwa tahun 2005 akan menjadi tahun yang sulit bagi semua orang. Dimulai dengan bencana Tsunami di tanah Aceh, membuat suasana memasuki tahun 2005 seakan-akan dimulai oleh duka. Namun demikian, bisa dibilang juga bahwa tahun 2005 ini merupakan tahun solidaritas. Banyak sekali solidaritas yang muncul dengan adanya bencana tersebut, yang bahkan oleh beberapa pihak disebut sebagai solidaritas yang tak terduga. Ada bencana, ada solidaritas, ada juga hujatan, ada penderitaan. Tahun ini juga pemerintah kita menaikkan harga BBM yang terhitung gila-gilaan karena mengikuti tingkat harga minyak dunia yang merangkak naik karena kekurangan supply. Kenaikan harga tersebut seperti biasa meningkatkan harga-harga kebutuhan hidup kita dan menyebabkan kita mengalami kembali angka inflasi yang sangat tinggi. Bom juga terjadi lagi di tahun 2005 ini, melengkapi tahun ini sebagai tahun yang berdarah. Akibatnya, aksi besar-besaran melawan teroris dilakukan dan mendapatkan hasil dengan terbunuhnya Doktor Azahari.

Tahun 2005 ini juga bermakna sekali buat saya secara pribadi. Di tahun ini, saya bertemu dengan kawan-kawan SMA saya dimana kami sempat mengadakan reuni di Plaza Senayan. Senang juga sempat bertemu dengan teman-teman yang dulunya kami bukan apa-apa namun sekarang sudah banyak yang berubah. Saya juga menemukan kontak kembali dengan teman SD saya, Andika dan Elvin dimana saya sempat bertelepon ria dengan mereka. Terakhir saya mendapat kabar dari sahabat baik saya, Osa yang sekarang sudah kembali dari studinya. Tetapi yang menyita perhatian dan konsentrasi saya dari awal tahun sampai sekitar pertengahan tahun adalah rencana pernikahan saya. Banyak sekali hal yang harus saya persiapkan pada waktu itu yang membuat saya sedikit stress. Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar dan saat ini kami sedang menunggu buah hati yang kami idam-idamkan. Kesan lainnya terhadap 2005 adalah pada saat menjelang akhir tahun, seketika saya dikontak sebuah headhunter agency. Mereka menawarkan sebuah posisi yang menggiurkan saya pada sebuah perusahaan fast moving consumer goods. Proses dimulai sekitar bulan Oktober dan pada pertengahan Desember akhirnya saya sudah harus mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan tempat saya bekerja sekarang.

Selain kesan, tentu harus ada harapan untuk masa depan. Saya punya harapan untuk membentuk keluarga yang bahagia, sejahtera lahir dan batin, menjadi karyawan yang baik di tempat baru dan tentu saja mulai menabung ONH dan membesarkan buah hati saya. Secara material, masih banyak kebutuhan hidup saat ini dan masa depan yang harus dipenuhi. Secara mental spiritual, tentu masih banyak yang harus saya perbaiki di masa mendatang. Saya masih harus memperbaiki ibadah saya, ilmu agama saya dan juga membalas budi baik orang tua saya. Yang jelas tahun 2006 diharapkan dapat menciptakan warna baru pada kehidupan saya. Semoga harapan yang disematkan oleh saya dan kita semua menjelang tahun 2006 mendatang dapat benar-benar membuat kita semua menjadi lebih baik.

Selamat tinggal 2005, dan Selamat datang tantangan dan harapan 2006.

Happy New Year, everybody!!!

==========================================================

"The essences of being grown up are making decision and living with its consequences"

Coach Ken Carter (Samuel L. Jackson) on "Coach Carter (2005)"

29
Dec

Inspirasi Presiden Morales.

BolpresAda berita menarik yang saya baca kemarin dari harian Kompas. Bahwa Presiden Bolivia yang baru saja terpilih, Evo Morales akan berencana untuk menurunkan gajinya sebesar 50 % dan akan diikuti oleh seluruh jajaran kabinetnya dan para pejabat negara. Untuk informasi saja, setiap bulan gaji presiden bolivia sekitar USD 3,600. Dengan pengurangan itu berarti gaji Morales hanya akan berkisar sekitar USD 1,800 saja. Kalau di kurskan ke rupiah dengan nilai tukar 10,000 maka gaji perbulannya hanya 18 juta saja. Dan selisih dari pemotongan gajinya dan gaji pejabat negara lainnya akan dialokasikan untuk menambah tenaga kerja di sektor pendidikan dan kesehatan negara itu. Mungkin mendengar hal ini, akan ada yang menyeletuk "ah, diakan orang kaya". Tapi ternyata bukan. Morales hanya seorang petani Koka dari golongan miskin. Dia memperoleh banyak dukungan dari golongannya sehingga bisa menjadi presiden Bolivia. Dia berpendapat bahwa keadaan perekonomian yang berat itu harus ditanggung bersama-sama termasuk oleh para pejabat negara. Namun ada langkah yang lebih berani lagi yang akan dia lakukan. Dia tidak akan tunduk kepada Washington. Dia tidak akan mengandalkan perintah Washington yang akan memberikan kucuran dana agar membasmi tanaman Koka. Bukan karena dia mau menjadi pengedar obat bius tetapi karena alasan kedaulatan.

Merasa tersindir? Pada saat membacanya saya mendapat kesan yang bertolak belakang dengan negara kita. Di saat perekonomian kita morat-marit, dengan semangat luar biasa, secara berjamaah para pejabat negara berlomba-lomba menaikkan gajinya. Mengesankan bahwa mereka bersorak beramai ramai bahwa perekonomian yang berat sekarang ini harus ditanggung bersama oleh Rakyat, bukan pejabat negara. Untuk masalah kedaulatan, sepertinya Jakarta tidak punya nyali sedikitpun di kaki Washington. Masih ingat masalah terorisme dan penahanan ustad Baasyir? Jelas-jelas ada permintaan pemerintah AS di balik itu semua.

Membaca berita di harian Kompas itu saya jadi bertanya apakah pak Presiden, pak Wakil presiden, para Penyamun di DPR dan pejabat lainnya ikut membaca berita itu? seharusnya mereka belajar dari petani miskin bernama Evo Morales itu bahwa penghargaan dari masyarakat kepada pemimpinnya bukan dari seberapa mewahnya kehidupan pemimpinnya tetapi bagaimana pemimpinnya mau berkorban untuk mereka. Sepertinya pemimpin di negeri kita butuh diajari bagaimana memimpin negara miskin oleh Presiden Morales.

28
Dec

The Monkey analogy

MonkeyAfter playing hard basketball game this afternoon I don’t know why I felt interested to look upon my old emails. Suddenly I found this beautiful lesson about what frequently happen around us. It’s about the behavioral experiment of a group of monkey which left live along in one cage. Better look at this email and grasp the meaning, then you’ll find what bother you so far; Simple analogy, sad but true.

The Monkey analogy

Start with a cage containing five monkeys. Inside the cage, hang a banana on a string and place a set of stairs under it. Before long, a monkey will go to the stairs and start climbing towards the banana. As soon as he touches the stairs, spray all the other monkeys with cold water. After a while, another monkey makes an attempt with the same result: all the other monkeys are sprayed with cold water. Pretty soon, when another monkey tries to climb the stairs, the other monkeys will try to prevent it.

Now, put away the cold water. Remove one monkey from the cage and replace it with a new one. The new monkey sees the banana and wants to climb the stairs. To his surprise and horror, all of the other monkeys attack him. After another attempt and attack, he knows that if he tries to climb the stairs, he will be assaulted. Next, remove another of the original five monkeys and replace it with another new one. The newcomer goes to the stairs and is attacked. The previous newcomer takes part in the punishment with enthusiasm! Likewise, replace a third original monkey with a new one, then a fourth, then the fifth.

Each time the newest monkey takes to the stairs, he is attacked. Most of the monkeys that are beating him have no idea why they were not permitted to climb the stairs or why they are participating in beating the newest monkey. After replacing all the original monkeys, none of the remaining monkeys have ever been sprayed with cold water. Nevertheless, no monkey ever again approaches the stairs to try for the banana. Why not? Because as far as they know that’s the way it’s always been done around here.

And that, my friends, is how company policy begins.

Happy struggling!

27
Dec

Mereka yang Mencintai

P1050212Biasanya saya tiba di rumah sepulang dari kantor sekitar jam 9 - 10 malam. Pada saat itu yang saya lakukan untuk menunggu saat tidur adalah menonton TV atau membaca koran. Kalau menonton TV, karena saya tidak suka sinetron, maka sering saya mencari channel-channel berita atau liputan tentang suatu kejadian atau kasus yang belakangan ini banyak merebak di TV kita. Tidak jarang pilihan saya jatuh kepada acara-acara liputan tentang kejadian kriminal yang terjadi hari itu. Selalu ada yang menarik bila kita mengamati ada seseorang yang diciduk polisi sebagai bandar narkoba, pembunuh ataupun tersangka pelaku kejahatan lainnya. Bagi saya, yang menarik perhatian bukan pada saat sang tersangka itu diciduk oleh polisi di rumahnya, namun yang menarik perhatian saya adalah histeria dari anggota keluarga yang ditinggalkannya. Ya, saya melihat cinta yang begitu besar pada saat itu terutama ketika sang tersangka digiring polisi ke kantornya dan kemudian ada salah satu anggota keluarga tersangka yang menahan-nahan polisi. Pernah suatu ketika ada seorang pemuda yang digerebek oleh polisi di rumahnya karena pemuda tersebut adalah tersangka perampok bersenjata maka sepertinya sikap polisi agak kasar terhadap pemuda itu. Tetapi, nenek tersangka terlihat sangat histeris dan berusaha menghalang-halangi polisi untuk menggiring pemuda itu ke kantor polisi. Sambil berteriak-teriak sangat terlihat sekali bahwa sang nenek sangat terpukul dan tidak rela bila polisi membawa cucunya.

Kejadian polisi meringkus tersangka di rumahnya itu membawa saya mengingat suatu serpihan kenangan di masa lalu. Sewaktu saya kecil, saya pernah sangat benci dan tidak suka kepada salah satu kawan main saya. Saya tidak menyukainya bukan karena tanpa alasan, tetapi karena dia suka curang kalau main kelereng, suka mau menang sendiri dan orangnya sok tau. Sering kali sang kawan yang saya benci ini jadi bulan-bulanan kawan-kawan sepermainan lain yang sampai membuatnya menangis. Kalau dia sampai menangis dan berlari pulang, sepertinya puas kami ini karena seakan-akan telah memberi pelajaran kepadanya. Namun kejadian itu tidak membekas dendam, esok harinya dia bermain kembali seperti sediakala dengan kami walau sikap menjengkelkannya tidak juga hilang. Suatu hari kami bermain kelereng di rumahnya, pada hari itu kami dijamu oleh Ibunya. Kami dibuatkan sirup dan diberikan makanan kecil. Senang sekali kami dibuatnya. Pada waktu itu saya bisa merasakan bahwa ada rasa kasih sayang yang besar dari ibu kawan saya itu kepada kawan saya yang kadang kala saya benci itu.

Dari pengalaman itu saya berkesimpulan bahwa ada orang-orang yang mencintai kita, sejelek dan seburuk apapun kita. Yang jelas, paling tidak kita semua memiliki keluarga yang akan menerima kita dan mencintai kita apa adanya. Seorang perampok bolehlah menjadi seorang perampok yang paling kejam di luar sana, namun tentulah dia bukan orang yang tanpa cinta. Di belakangnya terdapat Ayah, Ibu, adik, kakak, teman, istri atau saudara yang mencintai dia, yang peduli dan sayang dengannya. Seorang teman bolehlah menjadi seseorang yang paling menyebalkan tetapi kita juga harus ingat bahwa ia juga punya keluarga.

Dengan pemahaman ini paling tidak apapun yang akan kita lakukan, lakukanlah dengan mempertimbangkan keberadaan orang-orang yang kita cintai dan orang-orang yang mencintai orang lain. Seorang koruptor tak akan korupsi bila dia sadar betul bahwa dibelakangnya ada istri, ada anak, ada teman-teman yang sayang dan peduli dengannya yang tentu saja, meraka akan kecewa apabila mengetahui bahwa orang . Seorang perampok tentu tak akan tega menyakiti korbannya, bila dia ingat bahwa orang yang disatroninya punya anak, punya suami atau istri yang mencintainya dan tentu saja diapun akan berpikir berulang kali ketika teringat resiko yang dihadapinya. Bila dia tertangkap, dia akan mengecewakan orang tua, istri, anak dan teman-teman yang mencintainya. Belum lagi apabila dia tertangkap oleh polisi, diseret ke kantor polisi dampai dipukuli di penjara. Tentulah penderitaan yang akan dialaminya akan menjadi penderitaan orang-orang yang mencintainya. Mungkin itulah yang dirasakan oleh sang nenek yang cucunya diringkus polisi karena merampok.

Saya jadi sedih apabila mengingat waktu kecil dulu kami membuat teman kami yang menjengkelkan itu menangis dan berlari pulang. Pastilah sesampainya di rumah, Ibunya akan kebingungan, sedih, terpukul melihat anak kesayangannya dijadikan bulan-bulanan teman-temannya. So start thinking about the lovingly people around us and around others.

============================================================

- Orang yang kuat, bukan orang yang mampu hidup tanpa cinta, tetapi orang yang senantiasa memberikan cinta sehingga bila tanpanya, orang lain tak bisa berbuat apa-apa - pepatah

23
Dec

Libur Panjang, dan Hari itu Semakin Dekat…

WaktuSore ini saya dipanggil oleh HRD tempat saya bekerja untuk melakukan exit interview. Mereka melakukan itu untuk memperoleh masukan dari karyawan yang akan keluar dari perusahaan dengan harapa bahwa masukan yang diperoleh oleh mereka dapat meningkatkan tingkat kepuasan kerja di perusahaan ini. Interview berjalan kurang lebih selama satu jam. Pertanyaan yang diajukan oleh orang HRD saya berkisar tentang pandangan saya dan pengalaman saya dalam hal karir, gaji dan tunjangan, fasilitas perusahaan serta hubungan komunikasi dan interaksi antara saya dengan atasan dan dengan rekan-rekan kerja saya di perusahaan. Ketika saya ditanya hal-hal semacam itu, pengalaman saya sejak saya pertama menginjakkan kaki saya di kantor ini sampai saat ini seperti melintas di hadapan saya. Saya seakan-akan melihat saat pertama kali saya datang dengan taksi menanyakan ke satpam di lobby "pak, saya mau ke HRD" sampai saya menulis surat pengunduran diri dan saya serahkan sendiri ke division head saya yang saya cintai. Kemudian saya mencoba untuk mengurai benang-benang memori, kekecewaan apa saja yang saya rasakan dan kesenangan apa saja yang sudah saya dapatkan. Kekecewaan saya yang terpendam saya coba ungkap satu persatu. Dari masalah penilaian performance yang tidak jelas sampai masalah kurang meratanya kesempatan pengembangan diri. Memang, meminjam kalimat rekan saya Fadly, di perusahaan ini kita akan senantiasa dekat dengan Tuhan, karena kita tidak pernah tahu kapan akan dapat nilai baik dan kapan akan dapat bonus tinggi.

Selesai interview, saya memperoleh beberapa kabar yang menurut saya cukup surprising. Akan terjadi beberapa rotasi di tempat kerja saya sepeninggal saya dari perusahaan. Saya hanya bisa tersenyum. Saya tidak tahu apakah ini adalah pertanda baik atau tidak untuk rekan-rekan saya yang saya tinggalkan. Namun, dari beberapa kali diskusi dengan para Manager, saya menangkap ada gelagat untuk menuju perbaikan. Dan saya harap itu bisa benar-benar terjadi dan dilaksanakan. Saya memang bukan orang suci, bukan orang yang terbaik dan bukan pula karyawan yang istimewa. Saya berharap sepeninggalnya saya paling tidak akan terjadi perubahan di tempat ini. Perubahan yang positif tentunya bagi perkembangan karir dan masa depan rekan-rekan saya. Malah kadang saya merenung, apa iya Allah mengatur sedemikian rupa sehingga kepergian saya akan membawa perubahan dan manfaat untuk orang-orang di sekitar saya? Semoga saja.

Esok hari saya akan menikmati akhir pekan panjang di Semarang, bertemu istri serta calon anak saya yang masih dalam kandungan. Namun sampai saat ini saya masih terpikirkan apa yang terjadi hari ini. Beberapa tahun lalu saya sempat terpikirkan bahwa saya tidak akan lama di perusahaan ini dan saat ini kenyataan itu terjadi dan kenyataan itu sudah semakin dekat.

23
Dec

Inspirational Lesson from “Kingdom of Heaven (2005)”

KihAda sebuah film yang menarik yang saya pikir akan menarik bila saya share di blog ini. Hari minggu yang lalu saya menyempatkan diri menonton film "Kingdom of Heaven"-nya Ridley Scott. Produser dan sutradara dari film Gladiator ini memang patut diacungi jempol untuk karyanya yang satu ini. Film ini bisa dikategorikan sebagai film kolosal modern yang spektakuler. Baik dari scene, sinematografi, dan juga dari kekuatan cerita itu sendiri. Mengambil latar belakang pada abad XII pada masa perang salib, Kingdom of Heaven mencoba menggambarkan keadaan masyarakat pada saat itu yang hidup damai berdampingan antara warga muslim dan kristen dibawah kepemimpinan Raja Baldwin IV. Raja Baldwin merupakan seorang pemimpin yang bijak, dia memiliki visi untuk mendirikan Kingdom of Heaven dimana semua warga yang terdiri dari berbagai budaya dan agama dapat hidup berdampingan secara harmonis. Namun banyak hambatan dari dalam kerajaan sendiri untuk mencapai cita-cita itu tetapi bukan karena ketidakmungkinan warga yang berbeda latar belakang itu untuk hidup berdampingan, namun karena kepentingan pribadi, perasaan serakah dan keangkuhan pribadi.

Film ini berkisah tentang pengalaman Balian (Orlando Bloom), seorang tukang besi dari perancis yang mengalami nasib yang kurang baik. Di tengah keputus-asaannya dia didatangi oleh seorang bangsawan, Godfrey of Ibelin (Liam Neeson) yang mengaku sebagai ayahnya. Godfrey yang seorang crusader (pejuang kristen) mengajak Balian untuk ikut bersamanya ke Holy land, Jerusalem. Kerajaan Jerusalem pada saat itu sedang dalam kondisi berdamai dengan kerajaan Islam Syria pimpinan Sultan Salahuddin/ Saladin (Ghassan Massoud) namun kondisi itu terancam karena adanya beberapa pimpinan Crusader yang mencoba mengacaukan keadaan damai dengan Kerajaan Islam dengan membunuh dan merampok orang-orang muslim di perbatasan. Mereka ingin mengacaukan keadaan karena mereka punya ambisi pribadi dan berharap Raja Jerusalem segera wafat dengan sakit yang dideritanya sehingga mereka bisa berkuasa. Dalam sebuah kekacauan, Godfrey of Ibelin terluka parah dan akhirnya wafat. Sebelum wafat, Godfrey sempat mengangkat Balian menggantikannya sebagai Penguasa Ibelin. Dalam memimpin Ibelin, Balian memperlihatkan kemampuannya dalam memimpin masyarakatnya dan membantu menyelesaikan permasalahannya. Dia sendiri ikut turun tangan dalam bekerja untuk masyarakatnya.

Raja Jerusalem akhirnya wafat di tengah keadaan yang krisis, dan akhirnya diangkatlah Raja baru, Guy de Lusignan, yang lebih kejam dan memusuhi umat muslim di Jerusalem. Karena kekejamannya itu maka memancing perang dengan Kerajaan Syria di bawah Sultan Saladin. Guy de Lusignan dan pasukannya kalah dalam pertempuran. Akhirnya Balian lah yang harus mempertahankan Jerusalem dari serangan Saladin. Walaupun berlangsung seru dan banyak korban di kedua belah pihak, namun akhirnya pertempuran berakhir damai.

Hal yang membuat saya salut dengan film ini adalah penggambaran karakter kepemimpinan Sultan Saladin, Raja Jerusalem dan Balian. Raja Jerusalem, Baldwin, digambarkan sebagai raja yang penuh kharisma, menjaga perjanjian damai, dan bersikap adil. Dia menghukum ksatrianya yang mengkhianati perjanjian damai dengan kerajaan Islam. Di tengah sakitnya yang parah, dia masih memikirkan rakyatnya dan masih dicintai oleh rakyatnya.

Sultan Saladin digambarkan sebagai pribadi yang berwibawa, penuh perhitungan, adil dan berintegritas. Dia memegang teguh prinsip keadilan bahkan terhadap lawannya. Ketika pasukannya siap berperang melawan pasukan jerusalem, dia memilih untuk tidak melanjutkan peperangan karena dia tidak mau melawan pasukan yang pemimpinnya sedang sakit. Bahkan Saladin menawarkan akan mengirimkan seorang tabib buat Raja Baldwin. Ketika tembok Jerusalem sudah roboh dan pasukan Balian sudah terkepung, Saladin malah memilih untuk bernegosiasi, mengakhiri peperangan dengan perdamaian. Sungguh merupakan contoh yang patit ditiru oleh pemimpin bangsa-bangsa saat ini. Mendahulukan kepentingan masyarakatnya di atas ambisi pribadi dan golongannya, mengutamakan keadilan di atas keserakahan.

Kih2Saya juga sangat terkesan sama karakter Balian. Balian digambarkan seorang yang sederhana dan berdedikasi terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Dia pun teguh mempertahankah sumpah yang diturunkan oleh Godfrey: "Protect the helpless and keep the peace". Dia juga orang yang setia kepada Raja dan orang yang berpendirian teguh. Ketika dia ditawarkan oleh Raja Baldwin untuk menikahi adiknya, Sybilla, yang akan menjanda karena dia berencana akan menghukum mati Guy de Lusignan, Balian malah menolak dengan alasan bahwa perbuatannya akan melanggar hak Guy de Lusignan. Padahal dengan menjadi istri Sybilla, ia akan diangkat menjadi Raja kelak ketika Raja Baldwin telah meninggal.

Nilai-nilai kepahlawan, kemanusiaan dan menjunjung tinggi harga diri seorang manusia kadang luput dari perhatian kita saat ini. Tetapi film "Kingdom of Heaven" ini memberikan inspirasi yang luar biasa bagi kita semua yang menyimaknya dengan seksama. Di tengah ancaman pertikaian antar suku, agama, dan ras di muka bumi ini, ada baiknya kita berkaca pada sejarah yang melatarbelakangi film ini. Pada akhirnya dari film ini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada yang berjuang atas nama Tuhan untuk menguasai Kingdom of Heaven. Keserakahan, kekuasaan dan ambisi duniawilah yang diperjuangkan. Semoga perdamaian akan senantiasa hadir di muka bumi.

18
Dec

Ketika harus memilih

Ada kata-kata bijak yang pernah saya dengar bahwa selama seorang manusia itu hidup, maka sepanjang hidupnya dia akan dihadapkan oleh pilihan. Pilihan yang dihadapinya bisa berupa pilihan yang dia ambil secara sadar ataupun secara tidak sadar. Dengan pilihan yang kita ambil itulah kita menjalani hidup kita dari detik ke detik dan dari waktu ke waktu. Ketika kita bangun tidur, kita dihadapkan kepada pilihan, apakah kita akan langsung bangun, berolahraga dan mandi atau memilih tetap tidur selama beberapa menit, ngolat-ngolet, terus jalan ke kamar mandi untuk meneruskan tidur selama beberapa saat. Ketika kita berangkat ke kantor ada banyak rute yang bisa kita pilih, banyak alat transportasi dan kita dapat memilih seberapa cepat waktu yang kita mau untuk menuju ke tempat kerja. Di kantor, kita bisa memilih untuk bekerja mengejar target dengan inisiatif sendiri, atau bekerja senang tanpa beban, atau lebih banyak menjilat kanan kiri untuk naik jabatan. Dan hal yang paling pokok dari sebuah pilihan adalah konsekuensi yang diinginkan. Apa yang kita harapkan dari pilihan yang akan kita ambil itu?

Pilihan, hal itulah yang mengganggu saya beberapa hari terakhir ini. Hal tersebut dikarenakan karena saya harus mengambil pilihan untuk tetap tinggal atau pergi dari perusahaan yang selama 4 tahun lebih saya mengadu nasib. Pilihan tersebut menjadi terasa berat karena ada 2 hal yang mengganggu saya yaitu pilihan ini dampaknya bukan hanya kepada saya tetapi juga kepada keluarga saya. dan yang kedua adalah apakah ketika meninggalkan perusahaan, saya dapat menemukan apa yang saya cari selama ini.

Saya rasa alasan pertama cukup beralasan. Seperti yang disarankan oleh seorang Pilihanteman baik saya, paling tidak dalam memutuskan pilihan, saya harus ikut melibatkan pendapat istri saya, apakah dia setuju dan akan mensupport konsekuensi dari pilihan yang akan saya ambil kelak. Terus terang saya sedikit ragu sebelumnya tapi dukungan istri telah membuat saya lebih bisa untuk menegakkan kepala untuk melangkah mantap. Beberapa kawan dekat juga membantu saya untuk memberikan pertimbangan yang lebih objektif. Kekhawatiran yang kedua juga bukan tanpa alasan, karena dari beberapa masukan teman dan juga pengalaman yang saya rasakan sendiri bahwa tempat kerja yang sekarang sudah cukup bonafid dan safe. Dengan posisi sebagai produsen kendaraan bermotor nomor dua dunia, rasanya tidak ada alasan yang kuat buat saya untuk meninggalkannya tanpa alasan yang kuat. Namun demikian, hanya Allah-lah yang paling dapat memantapkan jalan saya untuk memilih. Sehingga akhirnya saya pilih hal yang memang selama ini saya idamkan : Leaving.

Ketika pilihan itu saya ambil. Mulailah saya merasakan konsekuensi yang saya pilih. Soon, saya merasa kehilangan teman-teman kerja saya yang selama 4 tahun belakangan ini begitu banyak mewarnai hari-hari saya. Beberapa rekan sejawatpun mengungkapkan perasaan kehilangannya yang selama ini tidak saya pernah duga mereka akan mengungkapkannya kepada saya. Di sisi hati saya yang terdalam, memang terdapat rasa sedih juga akan meninggalkan mereka; teman, keluarga dan sahabat-sahabat yang telah ikut mewarnai hidup saya. Namun ada seorang kawan yang berkata begini, "Hubungan pertemanan dan persahabatan tak akan lekang walau oleh jarak, malah Eka akan memperoleh lebih banyak teman baru. Saya yakin dengan sifat dan cara bergaul Eka, Eka akan mudah mendapatkan teman". Pernyataan kawan baik saya itu sedikit banyak kembali memperteguh pilihan saya. Terima kasih atas masukannya yang berharga, kawan-kawan.

Pertanggal 16 Januari 2006 besok, saya akan memulai karir baru saya di tempat yang baru. Semoga karir yang saya pilih itu lebih meningkatkan kapabilitas, pengalaman dan juga value saya. terlebih lagi, semoga saya tidak diliputi perasaan sombong dan angkuh yang akan membuat saya jauh dari teman, sahabat dan keluarga saya di Toyota. Semoga akan lebih banyak lagi teman yang bisa saya dapatkan karena seperti kata pepatah "memiliki 1000 teman, tidak akan pernah cukup, namun memiliki satu orang musuh adalah terlalu banyak. Wish me luck, my dear Toyota friends! I won’t forget you all.

================

Ability is what you’re capable of doing. Motivation determines what you do. Attitude determines how well you do it

– Lou Holtz

14
Dec

Menunda Kesenangan

Finfree Semalam saya tidur agak larut. Bukan karena nonton TV atau begadang main PS. Tapi saya sedang mencoba menyelesaikan melalap buku "Financial Revolution"nya Tung DW. Saya tercekat dengan sebuah subjek tentang menunda kesenangan. Menunda kesenangan disini dimaksudkan agar kita bisa mengalokasikan aset yang kita miliki secara maksimal sehingga diharapkan kita bisa menciptakan sebuah "peternakan uang", memanfaatkan secara maksimal dana yang kita miliki untuk menghasilkan dana tambahan. Bisa dibilang untuk setiap karyawan yang mata pencarian utamanya hanya sebagai pegawai memiliki setidaknya 2 stream of income. Yang pertama adalah income yang diperolehnya dari gaji dan income yang diperolehnya dari bunga tabungannya di bank. Hanya saja terkadang bunga tabungan di bank terhitung sangat kecil dan ditambah inflasi yang besar maka jumlahnya bisa jadi diabaikan.

Padahal, pasif income semacam itu sangat berpotensi untuk memperbaiki kondisi ekonomi pribadi. Asalkan setiap orang punya integritas dan kesungguhan untuk menyisihkan sebagian income yang diterimanya untuk secara teratur ditabung dan diputar ke dalam investasi yang menghasilkan. Tentu saja untuk sebagian orang, termasuk saya, hal tersebut kadang merupakan kebiasaan yang "berat". Sehingga ketika Pak Tung menuliskan salah satu tipsnya yaitu menunda kesenangan, maka saya pikir masuk akal juga. Menunda kesenangan disini berarti menunda kenikmatan-kenikmatan yang bisa kita peroleh saat ini untuk dinikmati di masa mendatang atau diturunkan kadarnya. Pak Tung mencontohkan dengan tiga analogi. Yang pertama, misalkan kita menginginkan sebuah barang yang bersifat konsumtif, tunda dahulu paling tidak sampai kita memiliki pasif income paling tidak yang bisa digunakan untuk membayar cicilan dari barang tersebut. Yang kedua, menunggu sampai kita memiliki uang paling tidak sepuluh kali lipat dari nilai barang yang akan kita konsumsi dan yang ketiga dengan menurunkan tingkat kesenangannya artinya kita mampu beli mobil BMW seri 7 namun kita cukup membeli yang seri 5.

Nasihat yang sederhana ini sebenarnya bukan hal yang baru dan sering kita dengan dan diajarkan oleh para orang tua kita. Namun dalam prakteknya kadang kita menyangsikan makna ketekunan dan kesungguhan dalam menabung dan berinvestasi untuk masa depan. Namun demikian, beliau tetap memberi petunjuk untuk melakukan kebiasaan berinvestasi dan menabung secara seimbang antara kebutuhan pribadi, kebutuhan keluarga dan kebutuhan masa depan.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita butuh kesenangan, butuh sedikit kemewahan namun rasanya lebih butuh lagi bagi kita untuk lebih melihat keadaan kita secara finansial. Terkadang saya juga merasakan dorongan untuk menghabiskan uang yang saya peroleh, yang jumlahnya tidak seberapa, untuk dikonsumsi, senang-senang, jalan-jalan, untuk membeli barang-barang yang trend namun terkadang sebenarnya hal tersebut memberatkan saya. Ada nasihat yang cukup bagus juga yang saya peroleh dari buku "Financial Revolution" itu. Katanya, seburuk-buruknya perilaku konsumsi adalah membeli barang dengan cara mencicil sehingga setiap bulannya kita harus menyisihkan sebagian pendapatan kita untuk membayar cicilan tersebut. Perilaku konsumtif yang mendingan adalah membeli sebuah barang dengan cara menabung terlebih dahulu kemudian membeli barang tersebut secara Cash. Perilaku konsumtif yang baik yaitu dengan cara membeli barang dengan cara utang yang bunganya dibayar dengan menggunakan hasil investasi. Dan cara konsumtif yang terbaik adalah dengan cara membeli suatu barang dengan menggunakan hasil investasi yang jumlahnya bisa membayar harga barang tersebut secara cash. Sebuah gebrakan paradigma buat saya dan juga mungkin buat sebagian orang.

Sepertinya banyak yang bisa diterapkan dalam hidup saya dari buku ini. Walaupun isinya menantang tapi setidaknya menyisipkan harapan untuk bisa memetik keadaan hidup dan kondisi keuangan yang lebih baik di masa datang. Harus dicoba nih.

06
Dec

Serangan Satu Pukulan

KungfuBagi orang-orang yang menggemari komik Kungfu Boy karya Takeshi Maekawa, pasti familiar dengan istilah “serangan satu pukulan”nya Chinmi. Serangan satu pukulan adalah prinsip pertarungan yang diajarkan oleh Guru Yosen kepada Chinmi, si kungfu boy. Chinmi memang jago dan terampil ber-kung fu namun ketika pertama kali dia latihan bertarung dengan guru Yosen, serangan chinmi berkali-kali mengenai guru Yosen tetapi serangan itu tidak cukup untuk membuat guru Yosen yang tua itu ambruk. Bahkan hanya dengan sekali serangan, guru Yosen mampu membuat Chinmi tererang kesakitan. Pelajaran yang diajarkan oleh guru Yosen pada saat itu adalah dalam pertarungan yang sebenarnya, setiap serangan berarti kemenangan atau kekalahan. Sekali serangan harus benar-benar mendatangkan kemenangan dan langsung melumpuhkan lawan.

Saya teringat isi komik itu beberapa hari ini. Saya pikir dalam kehidupan sebenarnya pun kita harus memiliki prinsip “Serangan satu pukulan”. Kadang saya merasa bahwa kesempatan itu bisa datang besok, besok lusa atau tahun depan. Padahal kenyataannya tidak selamanya demikian. Terkadang kesempatan itu menentukan kita “kalah atau menang”. Prinsip serangan satu pukulan bisa diterapkan di dalam pendidikan, pekerjaan dan bahkan kehidupan pribadi.

Penerapan prinsip serangan satu pukulan di sekolah, misalnya saja kita berprinsip melakukan ujian secara all out. Seakan-akan tidak ada lagi ujian susulan esok hari dan ujian yang kita hadapi adalah menentukan “hidup atau mati” kita. Saya rasa kalau kita bisa melakukan atau men-setting pikiran kita untuk berpola pikir demikian, pastilah setiap kali kita menghadapi ujian atau ulangan, kita akan menghadapinya dengan semangat terbaik, persiapan terbaik yang pernah kita lakukan. Sayangnya saya baru menyadari bahwa terkadang saya sudah puas hanya mendapat 80 dari skala 100. itu karena saya merasa ujian di sekolah adalah perkara yang biasa yang terkadang untuk menghadapinya pun, persiapannya sekedarnya saja. “yang penting lulus” pikirku.

Kalau untuk pekerjaan, mungkin perkaranya jadi rada serius dibandingkan masa sekolah. Karena dalam pekerjaan, hal-hal semacam ujian atau ulangan umum yang ada di sekolah tidak terjadi secara repetisi dan regular. Terkadang kesempatan yang datang kepada kita hanya datang sekali dalam beberapa tahun. Atau mungkin malah sekali dalam seumur hidup kita. Hal yang saya rasakan adalah ketika saya menghadapi berbagai tawaran kerja yang lebih menjanjikan daripada pekerjaan yang saya geluti sekarang. Mungkin karena terbawa kebiasaan anak sekolah, setiap kali seleksi, saya selalu menganggapnya hal yang biasa. Dalam hati kecil saya, saya selalu beranggapan bahwa kalau di kesempatan ini saya gagal, saya masih bisa mencari kesempatan lain di waktu yang lain. Masalahnya persoalannya tidak sesederhana itu. ketika kesempatan itu lewat maka untuk mencari dan menghadapi kesempatan berikutnya, keadaan kita sudah berubah. Kalau menganalogikan dengan pertarungan yang dilakukan oleh Chinmi, ketika kesempatan lewat, seakan-akan pukulan yang chinmi keluarkan gagal untuk menjatuhkan lawan padahal setelah melakukan pukulan tersebut, tenaga yang Chinmi miliki semakin terkuras.

Kalau serangan satu pukulan ini diterapkan kepada kehidupan pribadi, saya kira saya lebih senang mencontohkannya dalam hal seorang pria melakukan pengungkapan cintanya kepada wanita yang disayanginya untuk pertama kalinya. Apabila si pria menganggap bahwa pengungkapan cintanya merupakan penentu hidup matinya dia dengan sang wanita maka pastilah dia akan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya baik dari segi timing-nya maupun content-nya. Dalam kondisi tersebut sang pria harus mempertimbangkan timing, jangan sampai terlambat. Karena bisa saja ketika dia terlambat beberapa saat saja, sang pujaan hati telah melanglang entah kemana. Content pun demikian, ketika pengungkapan cinta hendak dilakukan, paling tidak jangan sampai bau mulut menjadikan “serangan” jadi tidak maksimal meluluhkan hati sang pujaan.

Kesimpulannya, saya kira adalah hal yang penting untuk menghadapi setiap kesempatan yang ada di depan kita dengan sebaik-baiknya dan sesungguh-sungguhnya. Kita harus mengandaikannya seperti melawan musuh yang berat, dimana kesempatan untuk menyerang hanya terbatas, sehingga serangan yang bisa kita keluarkan saat itu harus sanggup menjungkalkan lawan. Karena begitu kita lengah, yang ada hanya kekalahan dan penyesalan. Apa perlu saya berguru ke guru Yosen?

05
Dec

Tom Yum Goong (Thai Soup)

Tom_yumSaat ini saya sedang terkesima oleh sebuah film bagus dan spektakuler karya negara tetangga kita, Thailand. Sepertinya industri per-film-an di negara Thailand sudah mulai setahap demi setahap menggebrak per-film-an Indonesia. Film Indonesia yang diklaim sedang bangkit ini, sepertinya masih harus belajar dengan film Thailand. Beberapa film Indonesia memang telah diakui oleh kritikus film International sebagai film yang berkualitas, sebut saja Daun di Atas Bantal atau Pasir Berbisik-nya Garin Nugroho, namun dari segi sales International mungkin belum tergarap sepenuhnya. Namun ketika saya menonton TOM YUM GOONG (Thai Soup) saya melihat bahwa Thailand mulai serius untuk menggarap pasar international melalui film (film action). Film Tom Yum Goong buatan Thailand ini pasti akan menjadi film yang digemari oleh para pecinta film action ber-genre fighting. Paling tidak penggemar Jacky Chan, Jet Lee atau Van Damme pasti akan terhibur dengan film ini.

Tom Yum Goong berkisah tentang Kham (Tony Jaa) yang harus berjuang untuk mencari dua Gajah peliharaannya yang dicuri dan diselundupkan ke luar negeri oleh kelompok mafia Internasional yang bermarkas di Australia. Gajah yang dicuri itu bukan hanya gajah biasa, tetapi sudah menjadi bagian dari anggota keluarga Kham. Terlebih lagi, keluarga Kham bermaksud untuk mempersembahkan Gajah itu untuk Raja Thailand. Banyak tantangan yang dihadapi oleh Kham dalam usahanya untuk mencari Gajah kesayangannya itu dan membawanya pulang. Berbagai aksi seru disuguhkan dalam film ini. Film ini setara dengan film-film aksi dari Hongkong. Banyak adegan yang membuat adrenalin menghentak-hentak. Gerakan-gerakan martial arts yang disuguhkan juga bukan gerakan beladiri biasa. Gerakan-gerakannya lebih banyak ke perpaduan antara Aikido, Jujitsu dan Thai Boxing.

Menyaksikan Tom Yum Goong, bukan hanya menyaksikan adegan perkelahian yang seru. Tetapi Tom_yum2 juga sedikit banyak kita juga bisa merasakan detak kehidupan masyarakat Thailand. Bagaimana nilai kehidupan mereka dan keeksotisan budaya mereka. Saya merekomendasikan film Tom Yum Goong untuk ditonton karena filmnya cukup bagus. Bahkan E!Online mengatakan bahwa Tom Yum Goong merupakan Foreign Film yang terbaik tahun ini. Film ini bagus bukan hanya bagi penggemar film Action tetapi juga mungkin bagi penggemar film drama karena rada unik juga menyaksikan hubungan yang begitu dekat antara manusia dan makhluk liar seperti gajah. Jadi kalo film ini ditonton saat weekend, pasti asyik… Sekaligus mengetahui bahwa di luar sana, negara Asia Tenggara pun sudah berlari mengejar kualitas.

======================================================

"Tontonan yang berkualitas biasanya sepi penonton, dan tontonan yang banyak penontonnya biasanya kurang berkualitas. Kami berusaha membuat frame tontonan yang berkualitas dan disukai olah pemirsa"

Deddy Mizwar, Sutradara Terbaik Cerita Berseri Televisi Piala Vidia 2005 melalui sinetron "Kiamat Sudah Dekat" pada Malam Penganugerahan Piala Vidia 2005