Tahun 2005 akan menutup matanya esok hari. Biasanya menjelang penutupan tahun seperti ini, yang paling umum dilakukan oleh orang-orang adalah melakukan refleksi dan introspeksi tentang apa saja yang telah dilakukannya di sepanjang tahun 2005 ini dan memanjatkan harapan dan angan di tahun yang akan datang. Bagi saya, tahun 2005 ini adalah tahun yang sangat bermakna. Banyak hal yang terjadi di tahun 2005 ini. Di tahun inilah saya memulai menuliskan kata-kata di blog, melangsungkan pernikahan, menemukan kembali banyak kawan-kawan lama saya, juga di tahun ini pula saya mencoba peruntungan baru di bursa kerja. Berakhirnya tahun 2005 sekaligus juga menjadi saat-saat terakhir saya bekerja di Toyota.
Banyak suka duka, senang dan sedih yang terjadi ditahun ini. Suka dan duka sebagai anak bangsa, senang dan sedih sebagai pribadi. Dulu banyak yang bilang bahwa tahun 2005 akan menjadi tahun yang sulit bagi semua orang. Dimulai dengan bencana Tsunami di tanah Aceh, membuat suasana memasuki tahun 2005 seakan-akan dimulai oleh duka. Namun demikian, bisa dibilang juga bahwa tahun 2005 ini merupakan tahun solidaritas. Banyak sekali solidaritas yang muncul dengan adanya bencana tersebut, yang bahkan oleh beberapa pihak disebut sebagai solidaritas yang tak terduga. Ada bencana, ada solidaritas, ada juga hujatan, ada penderitaan. Tahun ini juga pemerintah kita menaikkan harga BBM yang terhitung gila-gilaan karena mengikuti tingkat harga minyak dunia yang merangkak naik karena kekurangan supply. Kenaikan harga tersebut seperti biasa meningkatkan harga-harga kebutuhan hidup kita dan menyebabkan kita mengalami kembali angka inflasi yang sangat tinggi. Bom juga terjadi lagi di tahun 2005 ini, melengkapi tahun ini sebagai tahun yang berdarah. Akibatnya, aksi besar-besaran melawan teroris dilakukan dan mendapatkan hasil dengan terbunuhnya Doktor Azahari.
Tahun 2005 ini juga bermakna sekali buat saya secara pribadi. Di tahun ini, saya bertemu dengan kawan-kawan SMA saya dimana kami sempat mengadakan reuni di Plaza Senayan. Senang juga sempat bertemu dengan teman-teman yang dulunya kami bukan apa-apa namun sekarang sudah banyak yang berubah. Saya juga menemukan kontak kembali dengan teman SD saya, Andika dan Elvin dimana saya sempat bertelepon ria dengan mereka. Terakhir saya mendapat kabar dari sahabat baik saya, Osa yang sekarang sudah kembali dari studinya. Tetapi yang menyita perhatian dan konsentrasi saya dari awal tahun sampai sekitar pertengahan tahun adalah rencana pernikahan saya. Banyak sekali hal yang harus saya persiapkan pada waktu itu yang membuat saya sedikit stress. Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar dan saat ini kami sedang menunggu buah hati yang kami idam-idamkan. Kesan lainnya terhadap 2005 adalah pada saat menjelang akhir tahun, seketika saya dikontak sebuah headhunter agency. Mereka menawarkan sebuah posisi yang menggiurkan saya pada sebuah perusahaan fast moving consumer goods. Proses dimulai sekitar bulan Oktober dan pada pertengahan Desember akhirnya saya sudah harus mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan tempat saya bekerja sekarang.
Selain kesan, tentu harus ada harapan untuk masa depan. Saya punya harapan untuk membentuk keluarga yang bahagia, sejahtera lahir dan batin, menjadi karyawan yang baik di tempat baru dan tentu saja mulai menabung ONH dan membesarkan buah hati saya. Secara material, masih banyak kebutuhan hidup saat ini dan masa depan yang harus dipenuhi. Secara mental spiritual, tentu masih banyak yang harus saya perbaiki di masa mendatang. Saya masih harus memperbaiki ibadah saya, ilmu agama saya dan juga membalas budi baik orang tua saya. Yang jelas tahun 2006 diharapkan dapat menciptakan warna baru pada kehidupan saya. Semoga harapan yang disematkan oleh saya dan kita semua menjelang tahun 2006 mendatang dapat benar-benar membuat kita semua menjadi lebih baik.
Selamat tinggal 2005, dan Selamat datang tantangan dan harapan 2006.
Happy New Year, everybody!!!
==========================================================
"The essences of being grown up are making decision and living with its consequences"
Coach Ken Carter (Samuel L. Jackson) on "Coach Carter (2005)"
Ada berita menarik yang saya baca kemarin dari harian Kompas. Bahwa Presiden Bolivia yang baru saja terpilih, Evo Morales akan berencana untuk menurunkan gajinya sebesar 50 % dan akan diikuti oleh seluruh jajaran kabinetnya dan para pejabat negara. Untuk informasi saja, setiap bulan gaji presiden bolivia sekitar USD 3,600. Dengan pengurangan itu berarti gaji Morales hanya akan berkisar sekitar USD 1,800 saja. Kalau di kurskan ke rupiah dengan nilai tukar 10,000 maka gaji perbulannya hanya 18 juta saja. Dan selisih dari pemotongan gajinya dan gaji pejabat negara lainnya akan dialokasikan untuk menambah tenaga kerja di sektor pendidikan dan kesehatan negara itu. Mungkin mendengar hal ini, akan ada yang menyeletuk "ah, diakan orang kaya". Tapi ternyata bukan. Morales hanya seorang petani Koka dari golongan miskin. Dia memperoleh banyak dukungan dari golongannya sehingga bisa menjadi presiden Bolivia. Dia berpendapat bahwa keadaan perekonomian yang berat itu harus ditanggung bersama-sama termasuk oleh para pejabat negara. Namun ada langkah yang lebih berani lagi yang akan dia lakukan. Dia tidak akan tunduk kepada Washington. Dia tidak akan mengandalkan perintah Washington yang akan memberikan kucuran dana agar membasmi tanaman Koka. Bukan karena dia mau menjadi pengedar obat bius tetapi karena alasan kedaulatan.
After playing hard basketball game this afternoon I don’t know why I felt interested to look upon my old emails. Suddenly I found this beautiful lesson about what frequently happen around us. It’s about the behavioral experiment of a group of monkey which left live along in one cage. Better look at this email and grasp the meaning, then you’ll find what bother you so far; Simple analogy, sad but true.
Sore ini saya dipanggil oleh HRD tempat saya bekerja untuk melakukan exit interview. Mereka melakukan itu untuk memperoleh masukan dari karyawan yang akan keluar dari perusahaan dengan harapa bahwa masukan yang diperoleh oleh mereka dapat meningkatkan tingkat kepuasan kerja di perusahaan ini. Interview berjalan kurang lebih selama satu jam. Pertanyaan yang diajukan oleh orang HRD saya berkisar tentang pandangan saya dan pengalaman saya dalam hal karir, gaji dan tunjangan, fasilitas perusahaan serta hubungan komunikasi dan interaksi antara saya dengan atasan dan dengan rekan-rekan kerja saya di perusahaan. Ketika saya ditanya hal-hal semacam itu, pengalaman saya sejak saya pertama menginjakkan kaki saya di kantor ini sampai saat ini seperti melintas di hadapan saya. Saya seakan-akan melihat saat pertama kali saya datang dengan taksi menanyakan ke satpam di lobby "pak, saya mau ke HRD" sampai saya menulis surat pengunduran diri dan saya serahkan sendiri ke division head saya yang saya cintai. Kemudian saya mencoba untuk mengurai benang-benang memori, kekecewaan apa saja yang saya rasakan dan kesenangan apa saja yang sudah saya dapatkan. Kekecewaan saya yang terpendam saya coba ungkap satu persatu. Dari masalah penilaian performance yang tidak jelas sampai masalah kurang meratanya kesempatan pengembangan diri. Memang, meminjam kalimat rekan saya Fadly, di perusahaan ini kita akan senantiasa dekat dengan Tuhan, karena kita tidak pernah tahu kapan akan dapat nilai baik dan kapan akan dapat bonus tinggi.
Ada sebuah film yang menarik yang saya pikir akan menarik bila saya share di blog ini. Hari minggu yang lalu saya menyempatkan diri menonton film "Kingdom of Heaven"-nya Ridley Scott. Produser dan sutradara dari film Gladiator ini memang patut diacungi jempol untuk karyanya yang satu ini. Film ini bisa dikategorikan sebagai film kolosal modern yang spektakuler. Baik dari scene, sinematografi, dan juga dari kekuatan cerita itu sendiri. Mengambil latar belakang pada abad XII pada masa perang salib, Kingdom of Heaven mencoba menggambarkan keadaan masyarakat pada saat itu yang hidup damai berdampingan antara warga muslim dan kristen dibawah kepemimpinan Raja Baldwin IV. Raja Baldwin merupakan seorang pemimpin yang bijak, dia memiliki visi untuk mendirikan Kingdom of Heaven dimana semua warga yang terdiri dari berbagai budaya dan agama dapat hidup berdampingan secara harmonis. Namun banyak hambatan dari dalam kerajaan sendiri untuk mencapai cita-cita itu tetapi bukan karena ketidakmungkinan warga yang berbeda latar belakang itu untuk hidup berdampingan, namun karena kepentingan pribadi, perasaan serakah dan keangkuhan pribadi.
Saya juga sangat terkesan sama karakter Balian. Balian digambarkan seorang yang sederhana dan berdedikasi terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Dia pun teguh mempertahankah sumpah yang diturunkan oleh Godfrey: "Protect the helpless and keep the peace". Dia juga orang yang setia kepada Raja dan orang yang berpendirian teguh. Ketika dia ditawarkan oleh Raja Baldwin untuk menikahi adiknya, Sybilla, yang akan menjanda karena dia berencana akan menghukum mati Guy de Lusignan, Balian malah menolak dengan alasan bahwa perbuatannya akan melanggar hak Guy de Lusignan. Padahal dengan menjadi istri Sybilla, ia akan diangkat menjadi Raja kelak ketika Raja Baldwin telah meninggal.
teman baik saya, paling tidak dalam memutuskan pilihan, saya harus ikut melibatkan pendapat istri saya, apakah dia setuju dan akan mensupport konsekuensi dari pilihan yang akan saya ambil kelak. Terus terang saya sedikit ragu sebelumnya tapi dukungan istri telah membuat saya lebih bisa untuk menegakkan kepala untuk melangkah mantap. Beberapa kawan dekat juga membantu saya untuk memberikan pertimbangan yang lebih objektif. Kekhawatiran yang kedua juga bukan tanpa alasan, karena dari beberapa masukan teman dan juga pengalaman yang saya rasakan sendiri bahwa tempat kerja yang sekarang sudah cukup bonafid dan safe. Dengan posisi sebagai produsen kendaraan bermotor nomor dua dunia, rasanya tidak ada alasan yang kuat buat saya untuk meninggalkannya tanpa alasan yang kuat. Namun demikian, hanya Allah-lah yang paling dapat memantapkan jalan saya untuk memilih. Sehingga akhirnya saya pilih hal yang memang selama ini saya idamkan : Leaving.
Semalam saya tidur agak larut. Bukan karena nonton TV atau begadang main PS. Tapi saya sedang mencoba menyelesaikan melalap buku "Financial Revolution"nya Tung DW. Saya tercekat dengan sebuah subjek tentang menunda kesenangan. Menunda kesenangan disini dimaksudkan agar kita bisa mengalokasikan aset yang kita miliki secara maksimal sehingga diharapkan kita bisa menciptakan sebuah "peternakan uang", memanfaatkan secara maksimal dana yang kita miliki untuk menghasilkan dana tambahan. Bisa dibilang untuk setiap karyawan yang mata pencarian utamanya hanya sebagai pegawai memiliki setidaknya 2 stream of income. Yang pertama adalah income yang diperolehnya dari gaji dan income yang diperolehnya dari bunga tabungannya di bank. Hanya saja terkadang bunga tabungan di bank terhitung sangat kecil dan ditambah inflasi yang besar maka jumlahnya bisa jadi diabaikan.
Bagi orang-orang yang menggemari komik Kungfu Boy karya Takeshi Maekawa, pasti familiar dengan istilah “serangan satu pukulan”nya Chinmi. Serangan satu pukulan adalah prinsip pertarungan yang diajarkan oleh Guru Yosen kepada Chinmi, si kungfu boy. Chinmi memang jago dan terampil ber-kung fu namun ketika pertama kali dia latihan bertarung dengan guru Yosen, serangan chinmi berkali-kali mengenai guru Yosen tetapi serangan itu tidak cukup untuk membuat guru Yosen yang tua itu ambruk. Bahkan hanya dengan sekali serangan, guru Yosen mampu membuat Chinmi tererang kesakitan. Pelajaran yang diajarkan oleh guru Yosen pada saat itu adalah dalam pertarungan yang sebenarnya, setiap serangan berarti kemenangan atau kekalahan. Sekali serangan harus benar-benar mendatangkan kemenangan dan langsung melumpuhkan lawan.
Saat ini saya sedang terkesima oleh sebuah film bagus dan spektakuler karya negara tetangga kita, Thailand. Sepertinya industri per-film-an di negara Thailand sudah mulai setahap demi setahap menggebrak per-film-an Indonesia. Film Indonesia yang diklaim sedang bangkit ini, sepertinya masih harus belajar dengan film Thailand. Beberapa film Indonesia memang telah diakui oleh kritikus film International sebagai film yang berkualitas, sebut saja Daun di Atas Bantal atau Pasir Berbisik-nya Garin Nugroho, namun dari segi sales International mungkin belum tergarap sepenuhnya. Namun ketika saya menonton TOM YUM GOONG (Thai Soup) saya melihat bahwa Thailand mulai serius untuk menggarap pasar international melalui film (film action). Film Tom Yum Goong buatan Thailand ini pasti akan menjadi film yang digemari oleh para pecinta film action ber-genre fighting. Paling tidak penggemar Jacky Chan, Jet Lee atau Van Damme pasti akan terhibur dengan film ini.
juga sedikit banyak kita juga bisa merasakan detak kehidupan masyarakat Thailand. Bagaimana nilai kehidupan mereka dan keeksotisan budaya mereka. Saya merekomendasikan film Tom Yum Goong untuk ditonton karena filmnya cukup bagus. Bahkan E!Online mengatakan bahwa Tom Yum Goong merupakan Foreign Film yang terbaik tahun ini. Film ini bagus bukan hanya bagi penggemar film Action tetapi juga mungkin bagi penggemar film drama karena rada unik juga menyaksikan hubungan yang begitu dekat antara manusia dan makhluk liar seperti gajah. Jadi kalo film ini ditonton saat weekend, pasti asyik… Sekaligus mengetahui bahwa di luar sana, negara Asia Tenggara pun sudah berlari mengejar kualitas.
Recent Comments