Archive for December 14th, 2005

14
Dec

Menunda Kesenangan

Finfree Semalam saya tidur agak larut. Bukan karena nonton TV atau begadang main PS. Tapi saya sedang mencoba menyelesaikan melalap buku "Financial Revolution"nya Tung DW. Saya tercekat dengan sebuah subjek tentang menunda kesenangan. Menunda kesenangan disini dimaksudkan agar kita bisa mengalokasikan aset yang kita miliki secara maksimal sehingga diharapkan kita bisa menciptakan sebuah "peternakan uang", memanfaatkan secara maksimal dana yang kita miliki untuk menghasilkan dana tambahan. Bisa dibilang untuk setiap karyawan yang mata pencarian utamanya hanya sebagai pegawai memiliki setidaknya 2 stream of income. Yang pertama adalah income yang diperolehnya dari gaji dan income yang diperolehnya dari bunga tabungannya di bank. Hanya saja terkadang bunga tabungan di bank terhitung sangat kecil dan ditambah inflasi yang besar maka jumlahnya bisa jadi diabaikan.

Padahal, pasif income semacam itu sangat berpotensi untuk memperbaiki kondisi ekonomi pribadi. Asalkan setiap orang punya integritas dan kesungguhan untuk menyisihkan sebagian income yang diterimanya untuk secara teratur ditabung dan diputar ke dalam investasi yang menghasilkan. Tentu saja untuk sebagian orang, termasuk saya, hal tersebut kadang merupakan kebiasaan yang "berat". Sehingga ketika Pak Tung menuliskan salah satu tipsnya yaitu menunda kesenangan, maka saya pikir masuk akal juga. Menunda kesenangan disini berarti menunda kenikmatan-kenikmatan yang bisa kita peroleh saat ini untuk dinikmati di masa mendatang atau diturunkan kadarnya. Pak Tung mencontohkan dengan tiga analogi. Yang pertama, misalkan kita menginginkan sebuah barang yang bersifat konsumtif, tunda dahulu paling tidak sampai kita memiliki pasif income paling tidak yang bisa digunakan untuk membayar cicilan dari barang tersebut. Yang kedua, menunggu sampai kita memiliki uang paling tidak sepuluh kali lipat dari nilai barang yang akan kita konsumsi dan yang ketiga dengan menurunkan tingkat kesenangannya artinya kita mampu beli mobil BMW seri 7 namun kita cukup membeli yang seri 5.

Nasihat yang sederhana ini sebenarnya bukan hal yang baru dan sering kita dengan dan diajarkan oleh para orang tua kita. Namun dalam prakteknya kadang kita menyangsikan makna ketekunan dan kesungguhan dalam menabung dan berinvestasi untuk masa depan. Namun demikian, beliau tetap memberi petunjuk untuk melakukan kebiasaan berinvestasi dan menabung secara seimbang antara kebutuhan pribadi, kebutuhan keluarga dan kebutuhan masa depan.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita butuh kesenangan, butuh sedikit kemewahan namun rasanya lebih butuh lagi bagi kita untuk lebih melihat keadaan kita secara finansial. Terkadang saya juga merasakan dorongan untuk menghabiskan uang yang saya peroleh, yang jumlahnya tidak seberapa, untuk dikonsumsi, senang-senang, jalan-jalan, untuk membeli barang-barang yang trend namun terkadang sebenarnya hal tersebut memberatkan saya. Ada nasihat yang cukup bagus juga yang saya peroleh dari buku "Financial Revolution" itu. Katanya, seburuk-buruknya perilaku konsumsi adalah membeli barang dengan cara mencicil sehingga setiap bulannya kita harus menyisihkan sebagian pendapatan kita untuk membayar cicilan tersebut. Perilaku konsumtif yang mendingan adalah membeli sebuah barang dengan cara menabung terlebih dahulu kemudian membeli barang tersebut secara Cash. Perilaku konsumtif yang baik yaitu dengan cara membeli barang dengan cara utang yang bunganya dibayar dengan menggunakan hasil investasi. Dan cara konsumtif yang terbaik adalah dengan cara membeli suatu barang dengan menggunakan hasil investasi yang jumlahnya bisa membayar harga barang tersebut secara cash. Sebuah gebrakan paradigma buat saya dan juga mungkin buat sebagian orang.

Sepertinya banyak yang bisa diterapkan dalam hidup saya dari buku ini. Walaupun isinya menantang tapi setidaknya menyisipkan harapan untuk bisa memetik keadaan hidup dan kondisi keuangan yang lebih baik di masa datang. Harus dicoba nih.