Archive for December 23rd, 2005

23
Dec

Libur Panjang, dan Hari itu Semakin Dekat…

WaktuSore ini saya dipanggil oleh HRD tempat saya bekerja untuk melakukan exit interview. Mereka melakukan itu untuk memperoleh masukan dari karyawan yang akan keluar dari perusahaan dengan harapa bahwa masukan yang diperoleh oleh mereka dapat meningkatkan tingkat kepuasan kerja di perusahaan ini. Interview berjalan kurang lebih selama satu jam. Pertanyaan yang diajukan oleh orang HRD saya berkisar tentang pandangan saya dan pengalaman saya dalam hal karir, gaji dan tunjangan, fasilitas perusahaan serta hubungan komunikasi dan interaksi antara saya dengan atasan dan dengan rekan-rekan kerja saya di perusahaan. Ketika saya ditanya hal-hal semacam itu, pengalaman saya sejak saya pertama menginjakkan kaki saya di kantor ini sampai saat ini seperti melintas di hadapan saya. Saya seakan-akan melihat saat pertama kali saya datang dengan taksi menanyakan ke satpam di lobby "pak, saya mau ke HRD" sampai saya menulis surat pengunduran diri dan saya serahkan sendiri ke division head saya yang saya cintai. Kemudian saya mencoba untuk mengurai benang-benang memori, kekecewaan apa saja yang saya rasakan dan kesenangan apa saja yang sudah saya dapatkan. Kekecewaan saya yang terpendam saya coba ungkap satu persatu. Dari masalah penilaian performance yang tidak jelas sampai masalah kurang meratanya kesempatan pengembangan diri. Memang, meminjam kalimat rekan saya Fadly, di perusahaan ini kita akan senantiasa dekat dengan Tuhan, karena kita tidak pernah tahu kapan akan dapat nilai baik dan kapan akan dapat bonus tinggi.

Selesai interview, saya memperoleh beberapa kabar yang menurut saya cukup surprising. Akan terjadi beberapa rotasi di tempat kerja saya sepeninggal saya dari perusahaan. Saya hanya bisa tersenyum. Saya tidak tahu apakah ini adalah pertanda baik atau tidak untuk rekan-rekan saya yang saya tinggalkan. Namun, dari beberapa kali diskusi dengan para Manager, saya menangkap ada gelagat untuk menuju perbaikan. Dan saya harap itu bisa benar-benar terjadi dan dilaksanakan. Saya memang bukan orang suci, bukan orang yang terbaik dan bukan pula karyawan yang istimewa. Saya berharap sepeninggalnya saya paling tidak akan terjadi perubahan di tempat ini. Perubahan yang positif tentunya bagi perkembangan karir dan masa depan rekan-rekan saya. Malah kadang saya merenung, apa iya Allah mengatur sedemikian rupa sehingga kepergian saya akan membawa perubahan dan manfaat untuk orang-orang di sekitar saya? Semoga saja.

Esok hari saya akan menikmati akhir pekan panjang di Semarang, bertemu istri serta calon anak saya yang masih dalam kandungan. Namun sampai saat ini saya masih terpikirkan apa yang terjadi hari ini. Beberapa tahun lalu saya sempat terpikirkan bahwa saya tidak akan lama di perusahaan ini dan saat ini kenyataan itu terjadi dan kenyataan itu sudah semakin dekat.

23
Dec

Inspirational Lesson from “Kingdom of Heaven (2005)”

KihAda sebuah film yang menarik yang saya pikir akan menarik bila saya share di blog ini. Hari minggu yang lalu saya menyempatkan diri menonton film "Kingdom of Heaven"-nya Ridley Scott. Produser dan sutradara dari film Gladiator ini memang patut diacungi jempol untuk karyanya yang satu ini. Film ini bisa dikategorikan sebagai film kolosal modern yang spektakuler. Baik dari scene, sinematografi, dan juga dari kekuatan cerita itu sendiri. Mengambil latar belakang pada abad XII pada masa perang salib, Kingdom of Heaven mencoba menggambarkan keadaan masyarakat pada saat itu yang hidup damai berdampingan antara warga muslim dan kristen dibawah kepemimpinan Raja Baldwin IV. Raja Baldwin merupakan seorang pemimpin yang bijak, dia memiliki visi untuk mendirikan Kingdom of Heaven dimana semua warga yang terdiri dari berbagai budaya dan agama dapat hidup berdampingan secara harmonis. Namun banyak hambatan dari dalam kerajaan sendiri untuk mencapai cita-cita itu tetapi bukan karena ketidakmungkinan warga yang berbeda latar belakang itu untuk hidup berdampingan, namun karena kepentingan pribadi, perasaan serakah dan keangkuhan pribadi.

Film ini berkisah tentang pengalaman Balian (Orlando Bloom), seorang tukang besi dari perancis yang mengalami nasib yang kurang baik. Di tengah keputus-asaannya dia didatangi oleh seorang bangsawan, Godfrey of Ibelin (Liam Neeson) yang mengaku sebagai ayahnya. Godfrey yang seorang crusader (pejuang kristen) mengajak Balian untuk ikut bersamanya ke Holy land, Jerusalem. Kerajaan Jerusalem pada saat itu sedang dalam kondisi berdamai dengan kerajaan Islam Syria pimpinan Sultan Salahuddin/ Saladin (Ghassan Massoud) namun kondisi itu terancam karena adanya beberapa pimpinan Crusader yang mencoba mengacaukan keadaan damai dengan Kerajaan Islam dengan membunuh dan merampok orang-orang muslim di perbatasan. Mereka ingin mengacaukan keadaan karena mereka punya ambisi pribadi dan berharap Raja Jerusalem segera wafat dengan sakit yang dideritanya sehingga mereka bisa berkuasa. Dalam sebuah kekacauan, Godfrey of Ibelin terluka parah dan akhirnya wafat. Sebelum wafat, Godfrey sempat mengangkat Balian menggantikannya sebagai Penguasa Ibelin. Dalam memimpin Ibelin, Balian memperlihatkan kemampuannya dalam memimpin masyarakatnya dan membantu menyelesaikan permasalahannya. Dia sendiri ikut turun tangan dalam bekerja untuk masyarakatnya.

Raja Jerusalem akhirnya wafat di tengah keadaan yang krisis, dan akhirnya diangkatlah Raja baru, Guy de Lusignan, yang lebih kejam dan memusuhi umat muslim di Jerusalem. Karena kekejamannya itu maka memancing perang dengan Kerajaan Syria di bawah Sultan Saladin. Guy de Lusignan dan pasukannya kalah dalam pertempuran. Akhirnya Balian lah yang harus mempertahankan Jerusalem dari serangan Saladin. Walaupun berlangsung seru dan banyak korban di kedua belah pihak, namun akhirnya pertempuran berakhir damai.

Hal yang membuat saya salut dengan film ini adalah penggambaran karakter kepemimpinan Sultan Saladin, Raja Jerusalem dan Balian. Raja Jerusalem, Baldwin, digambarkan sebagai raja yang penuh kharisma, menjaga perjanjian damai, dan bersikap adil. Dia menghukum ksatrianya yang mengkhianati perjanjian damai dengan kerajaan Islam. Di tengah sakitnya yang parah, dia masih memikirkan rakyatnya dan masih dicintai oleh rakyatnya.

Sultan Saladin digambarkan sebagai pribadi yang berwibawa, penuh perhitungan, adil dan berintegritas. Dia memegang teguh prinsip keadilan bahkan terhadap lawannya. Ketika pasukannya siap berperang melawan pasukan jerusalem, dia memilih untuk tidak melanjutkan peperangan karena dia tidak mau melawan pasukan yang pemimpinnya sedang sakit. Bahkan Saladin menawarkan akan mengirimkan seorang tabib buat Raja Baldwin. Ketika tembok Jerusalem sudah roboh dan pasukan Balian sudah terkepung, Saladin malah memilih untuk bernegosiasi, mengakhiri peperangan dengan perdamaian. Sungguh merupakan contoh yang patit ditiru oleh pemimpin bangsa-bangsa saat ini. Mendahulukan kepentingan masyarakatnya di atas ambisi pribadi dan golongannya, mengutamakan keadilan di atas keserakahan.

Kih2Saya juga sangat terkesan sama karakter Balian. Balian digambarkan seorang yang sederhana dan berdedikasi terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Dia pun teguh mempertahankah sumpah yang diturunkan oleh Godfrey: "Protect the helpless and keep the peace". Dia juga orang yang setia kepada Raja dan orang yang berpendirian teguh. Ketika dia ditawarkan oleh Raja Baldwin untuk menikahi adiknya, Sybilla, yang akan menjanda karena dia berencana akan menghukum mati Guy de Lusignan, Balian malah menolak dengan alasan bahwa perbuatannya akan melanggar hak Guy de Lusignan. Padahal dengan menjadi istri Sybilla, ia akan diangkat menjadi Raja kelak ketika Raja Baldwin telah meninggal.

Nilai-nilai kepahlawan, kemanusiaan dan menjunjung tinggi harga diri seorang manusia kadang luput dari perhatian kita saat ini. Tetapi film "Kingdom of Heaven" ini memberikan inspirasi yang luar biasa bagi kita semua yang menyimaknya dengan seksama. Di tengah ancaman pertikaian antar suku, agama, dan ras di muka bumi ini, ada baiknya kita berkaca pada sejarah yang melatarbelakangi film ini. Pada akhirnya dari film ini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada yang berjuang atas nama Tuhan untuk menguasai Kingdom of Heaven. Keserakahan, kekuasaan dan ambisi duniawilah yang diperjuangkan. Semoga perdamaian akan senantiasa hadir di muka bumi.