Sore ini saya dipanggil oleh HRD tempat saya bekerja untuk melakukan exit interview. Mereka melakukan itu untuk memperoleh masukan dari karyawan yang akan keluar dari perusahaan dengan harapa bahwa masukan yang diperoleh oleh mereka dapat meningkatkan tingkat kepuasan kerja di perusahaan ini. Interview berjalan kurang lebih selama satu jam. Pertanyaan yang diajukan oleh orang HRD saya berkisar tentang pandangan saya dan pengalaman saya dalam hal karir, gaji dan tunjangan, fasilitas perusahaan serta hubungan komunikasi dan interaksi antara saya dengan atasan dan dengan rekan-rekan kerja saya di perusahaan. Ketika saya ditanya hal-hal semacam itu, pengalaman saya sejak saya pertama menginjakkan kaki saya di kantor ini sampai saat ini seperti melintas di hadapan saya. Saya seakan-akan melihat saat pertama kali saya datang dengan taksi menanyakan ke satpam di lobby "pak, saya mau ke HRD" sampai saya menulis surat pengunduran diri dan saya serahkan sendiri ke division head saya yang saya cintai. Kemudian saya mencoba untuk mengurai benang-benang memori, kekecewaan apa saja yang saya rasakan dan kesenangan apa saja yang sudah saya dapatkan. Kekecewaan saya yang terpendam saya coba ungkap satu persatu. Dari masalah penilaian performance yang tidak jelas sampai masalah kurang meratanya kesempatan pengembangan diri. Memang, meminjam kalimat rekan saya Fadly, di perusahaan ini kita akan senantiasa dekat dengan Tuhan, karena kita tidak pernah tahu kapan akan dapat nilai baik dan kapan akan dapat bonus tinggi.
Selesai interview, saya memperoleh beberapa kabar yang menurut saya cukup surprising. Akan terjadi beberapa rotasi di tempat kerja saya sepeninggal saya dari perusahaan. Saya hanya bisa tersenyum. Saya tidak tahu apakah ini adalah pertanda baik atau tidak untuk rekan-rekan saya yang saya tinggalkan. Namun, dari beberapa kali diskusi dengan para Manager, saya menangkap ada gelagat untuk menuju perbaikan. Dan saya harap itu bisa benar-benar terjadi dan dilaksanakan. Saya memang bukan orang suci, bukan orang yang terbaik dan bukan pula karyawan yang istimewa. Saya berharap sepeninggalnya saya paling tidak akan terjadi perubahan di tempat ini. Perubahan yang positif tentunya bagi perkembangan karir dan masa depan rekan-rekan saya. Malah kadang saya merenung, apa iya Allah mengatur sedemikian rupa sehingga kepergian saya akan membawa perubahan dan manfaat untuk orang-orang di sekitar saya? Semoga saja.
Esok hari saya akan menikmati akhir pekan panjang di Semarang, bertemu istri serta calon anak saya yang masih dalam kandungan. Namun sampai saat ini saya masih terpikirkan apa yang terjadi hari ini. Beberapa tahun lalu saya sempat terpikirkan bahwa saya tidak akan lama di perusahaan ini dan saat ini kenyataan itu terjadi dan kenyataan itu sudah semakin dekat.
Ada sebuah film yang menarik yang saya pikir akan menarik bila saya share di blog ini. Hari minggu yang lalu saya menyempatkan diri menonton film "Kingdom of Heaven"-nya Ridley Scott. Produser dan sutradara dari film Gladiator ini memang patut diacungi jempol untuk karyanya yang satu ini. Film ini bisa dikategorikan sebagai film kolosal modern yang spektakuler. Baik dari scene, sinematografi, dan juga dari kekuatan cerita itu sendiri. Mengambil latar belakang pada abad XII pada masa perang salib, Kingdom of Heaven mencoba menggambarkan keadaan masyarakat pada saat itu yang hidup damai berdampingan antara warga muslim dan kristen dibawah kepemimpinan Raja Baldwin IV. Raja Baldwin merupakan seorang pemimpin yang bijak, dia memiliki visi untuk mendirikan Kingdom of Heaven dimana semua warga yang terdiri dari berbagai budaya dan agama dapat hidup berdampingan secara harmonis. Namun banyak hambatan dari dalam kerajaan sendiri untuk mencapai cita-cita itu tetapi bukan karena ketidakmungkinan warga yang berbeda latar belakang itu untuk hidup berdampingan, namun karena kepentingan pribadi, perasaan serakah dan keangkuhan pribadi.
Saya juga sangat terkesan sama karakter Balian. Balian digambarkan seorang yang sederhana dan berdedikasi terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Dia pun teguh mempertahankah sumpah yang diturunkan oleh Godfrey: "Protect the helpless and keep the peace". Dia juga orang yang setia kepada Raja dan orang yang berpendirian teguh. Ketika dia ditawarkan oleh Raja Baldwin untuk menikahi adiknya, Sybilla, yang akan menjanda karena dia berencana akan menghukum mati Guy de Lusignan, Balian malah menolak dengan alasan bahwa perbuatannya akan melanggar hak Guy de Lusignan. Padahal dengan menjadi istri Sybilla, ia akan diangkat menjadi Raja kelak ketika Raja Baldwin telah meninggal.
Recent Comments