Ada sebuah film yang menarik yang saya pikir akan menarik bila saya share di blog ini. Hari minggu yang lalu saya menyempatkan diri menonton film "Kingdom of Heaven"-nya Ridley Scott. Produser dan sutradara dari film Gladiator ini memang patut diacungi jempol untuk karyanya yang satu ini. Film ini bisa dikategorikan sebagai film kolosal modern yang spektakuler. Baik dari scene, sinematografi, dan juga dari kekuatan cerita itu sendiri. Mengambil latar belakang pada abad XII pada masa perang salib, Kingdom of Heaven mencoba menggambarkan keadaan masyarakat pada saat itu yang hidup damai berdampingan antara warga muslim dan kristen dibawah kepemimpinan Raja Baldwin IV. Raja Baldwin merupakan seorang pemimpin yang bijak, dia memiliki visi untuk mendirikan Kingdom of Heaven dimana semua warga yang terdiri dari berbagai budaya dan agama dapat hidup berdampingan secara harmonis. Namun banyak hambatan dari dalam kerajaan sendiri untuk mencapai cita-cita itu tetapi bukan karena ketidakmungkinan warga yang berbeda latar belakang itu untuk hidup berdampingan, namun karena kepentingan pribadi, perasaan serakah dan keangkuhan pribadi.
Film ini berkisah tentang pengalaman Balian (Orlando Bloom), seorang tukang besi dari perancis yang mengalami nasib yang kurang baik. Di tengah keputus-asaannya dia didatangi oleh seorang bangsawan, Godfrey of Ibelin (Liam Neeson) yang mengaku sebagai ayahnya. Godfrey yang seorang crusader (pejuang kristen) mengajak Balian untuk ikut bersamanya ke Holy land, Jerusalem. Kerajaan Jerusalem pada saat itu sedang dalam kondisi berdamai dengan kerajaan Islam Syria pimpinan Sultan Salahuddin/ Saladin (Ghassan Massoud) namun kondisi itu terancam karena adanya beberapa pimpinan Crusader yang mencoba mengacaukan keadaan damai dengan Kerajaan Islam dengan membunuh dan merampok orang-orang muslim di perbatasan. Mereka ingin mengacaukan keadaan karena mereka punya ambisi pribadi dan berharap Raja Jerusalem segera wafat dengan sakit yang dideritanya sehingga mereka bisa berkuasa. Dalam sebuah kekacauan, Godfrey of Ibelin terluka parah dan akhirnya wafat. Sebelum wafat, Godfrey sempat mengangkat Balian menggantikannya sebagai Penguasa Ibelin. Dalam memimpin Ibelin, Balian memperlihatkan kemampuannya dalam memimpin masyarakatnya dan membantu menyelesaikan permasalahannya. Dia sendiri ikut turun tangan dalam bekerja untuk masyarakatnya.
Raja Jerusalem akhirnya wafat di tengah keadaan yang krisis, dan akhirnya diangkatlah Raja baru, Guy de Lusignan, yang lebih kejam dan memusuhi umat muslim di Jerusalem. Karena kekejamannya itu maka memancing perang dengan Kerajaan Syria di bawah Sultan Saladin. Guy de Lusignan dan pasukannya kalah dalam pertempuran. Akhirnya Balian lah yang harus mempertahankan Jerusalem dari serangan Saladin. Walaupun berlangsung seru dan banyak korban di kedua belah pihak, namun akhirnya pertempuran berakhir damai.
Hal yang membuat saya salut dengan film ini adalah penggambaran karakter kepemimpinan Sultan Saladin, Raja Jerusalem dan Balian. Raja Jerusalem, Baldwin, digambarkan sebagai raja yang penuh kharisma, menjaga perjanjian damai, dan bersikap adil. Dia menghukum ksatrianya yang mengkhianati perjanjian damai dengan kerajaan Islam. Di tengah sakitnya yang parah, dia masih memikirkan rakyatnya dan masih dicintai oleh rakyatnya.
Sultan Saladin digambarkan sebagai pribadi yang berwibawa, penuh perhitungan, adil dan berintegritas. Dia memegang teguh prinsip keadilan bahkan terhadap lawannya. Ketika pasukannya siap berperang melawan pasukan jerusalem, dia memilih untuk tidak melanjutkan peperangan karena dia tidak mau melawan pasukan yang pemimpinnya sedang sakit. Bahkan Saladin menawarkan akan mengirimkan seorang tabib buat Raja Baldwin. Ketika tembok Jerusalem sudah roboh dan pasukan Balian sudah terkepung, Saladin malah memilih untuk bernegosiasi, mengakhiri peperangan dengan perdamaian. Sungguh merupakan contoh yang patit ditiru oleh pemimpin bangsa-bangsa saat ini. Mendahulukan kepentingan masyarakatnya di atas ambisi pribadi dan golongannya, mengutamakan keadilan di atas keserakahan.
Saya juga sangat terkesan sama karakter Balian. Balian digambarkan seorang yang sederhana dan berdedikasi terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Dia pun teguh mempertahankah sumpah yang diturunkan oleh Godfrey: "Protect the helpless and keep the peace". Dia juga orang yang setia kepada Raja dan orang yang berpendirian teguh. Ketika dia ditawarkan oleh Raja Baldwin untuk menikahi adiknya, Sybilla, yang akan menjanda karena dia berencana akan menghukum mati Guy de Lusignan, Balian malah menolak dengan alasan bahwa perbuatannya akan melanggar hak Guy de Lusignan. Padahal dengan menjadi istri Sybilla, ia akan diangkat menjadi Raja kelak ketika Raja Baldwin telah meninggal.
Nilai-nilai kepahlawan, kemanusiaan dan menjunjung tinggi harga diri seorang manusia kadang luput dari perhatian kita saat ini. Tetapi film "Kingdom of Heaven" ini memberikan inspirasi yang luar biasa bagi kita semua yang menyimaknya dengan seksama. Di tengah ancaman pertikaian antar suku, agama, dan ras di muka bumi ini, ada baiknya kita berkaca pada sejarah yang melatarbelakangi film ini. Pada akhirnya dari film ini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada yang berjuang atas nama Tuhan untuk menguasai Kingdom of Heaven. Keserakahan, kekuasaan dan ambisi duniawilah yang diperjuangkan. Semoga perdamaian akan senantiasa hadir di muka bumi.
0 Responses to “Inspirational Lesson from “Kingdom of Heaven (2005)””
Leave a Reply
You must login to post a comment.