Biasanya saya tiba di rumah sepulang dari kantor sekitar jam 9 - 10 malam. Pada saat itu yang saya lakukan untuk menunggu saat tidur adalah menonton TV atau membaca koran. Kalau menonton TV, karena saya tidak suka sinetron, maka sering saya mencari channel-channel berita atau liputan tentang suatu kejadian atau kasus yang belakangan ini banyak merebak di TV kita. Tidak jarang pilihan saya jatuh kepada acara-acara liputan tentang kejadian kriminal yang terjadi hari itu. Selalu ada yang menarik bila kita mengamati ada seseorang yang diciduk polisi sebagai bandar narkoba, pembunuh ataupun tersangka pelaku kejahatan lainnya. Bagi saya, yang menarik perhatian bukan pada saat sang tersangka itu diciduk oleh polisi di rumahnya, namun yang menarik perhatian saya adalah histeria dari anggota keluarga yang ditinggalkannya. Ya, saya melihat cinta yang begitu besar pada saat itu terutama ketika sang tersangka digiring polisi ke kantornya dan kemudian ada salah satu anggota keluarga tersangka yang menahan-nahan polisi. Pernah suatu ketika ada seorang pemuda yang digerebek oleh polisi di rumahnya karena pemuda tersebut adalah tersangka perampok bersenjata maka sepertinya sikap polisi agak kasar terhadap pemuda itu. Tetapi, nenek tersangka terlihat sangat histeris dan berusaha menghalang-halangi polisi untuk menggiring pemuda itu ke kantor polisi. Sambil berteriak-teriak sangat terlihat sekali bahwa sang nenek sangat terpukul dan tidak rela bila polisi membawa cucunya.
Kejadian polisi meringkus tersangka di rumahnya itu membawa saya mengingat suatu serpihan kenangan di masa lalu. Sewaktu saya kecil, saya pernah sangat benci dan tidak suka kepada salah satu kawan main saya. Saya tidak menyukainya bukan karena tanpa alasan, tetapi karena dia suka curang kalau main kelereng, suka mau menang sendiri dan orangnya sok tau. Sering kali sang kawan yang saya benci ini jadi bulan-bulanan kawan-kawan sepermainan lain yang sampai membuatnya menangis. Kalau dia sampai menangis dan berlari pulang, sepertinya puas kami ini karena seakan-akan telah memberi pelajaran kepadanya. Namun kejadian itu tidak membekas dendam, esok harinya dia bermain kembali seperti sediakala dengan kami walau sikap menjengkelkannya tidak juga hilang. Suatu hari kami bermain kelereng di rumahnya, pada hari itu kami dijamu oleh Ibunya. Kami dibuatkan sirup dan diberikan makanan kecil. Senang sekali kami dibuatnya. Pada waktu itu saya bisa merasakan bahwa ada rasa kasih sayang yang besar dari ibu kawan saya itu kepada kawan saya yang kadang kala saya benci itu.
Dari pengalaman itu saya berkesimpulan bahwa ada orang-orang yang mencintai kita, sejelek dan seburuk apapun kita. Yang jelas, paling tidak kita semua memiliki keluarga yang akan menerima kita dan mencintai kita apa adanya. Seorang perampok bolehlah menjadi seorang perampok yang paling kejam di luar sana, namun tentulah dia bukan orang yang tanpa cinta. Di belakangnya terdapat Ayah, Ibu, adik, kakak, teman, istri atau saudara yang mencintai dia, yang peduli dan sayang dengannya. Seorang teman bolehlah menjadi seseorang yang paling menyebalkan tetapi kita juga harus ingat bahwa ia juga punya keluarga.
Dengan pemahaman ini paling tidak apapun yang akan kita lakukan, lakukanlah dengan mempertimbangkan keberadaan orang-orang yang kita cintai dan orang-orang yang mencintai orang lain. Seorang koruptor tak akan korupsi bila dia sadar betul bahwa dibelakangnya ada istri, ada anak, ada teman-teman yang sayang dan peduli dengannya yang tentu saja, meraka akan kecewa apabila mengetahui bahwa orang . Seorang perampok tentu tak akan tega menyakiti korbannya, bila dia ingat bahwa orang yang disatroninya punya anak, punya suami atau istri yang mencintainya dan tentu saja diapun akan berpikir berulang kali ketika teringat resiko yang dihadapinya. Bila dia tertangkap, dia akan mengecewakan orang tua, istri, anak dan teman-teman yang mencintainya. Belum lagi apabila dia tertangkap oleh polisi, diseret ke kantor polisi dampai dipukuli di penjara. Tentulah penderitaan yang akan dialaminya akan menjadi penderitaan orang-orang yang mencintainya. Mungkin itulah yang dirasakan oleh sang nenek yang cucunya diringkus polisi karena merampok.
Saya jadi sedih apabila mengingat waktu kecil dulu kami membuat teman kami yang menjengkelkan itu menangis dan berlari pulang. Pastilah sesampainya di rumah, Ibunya akan kebingungan, sedih, terpukul melihat anak kesayangannya dijadikan bulan-bulanan teman-temannya. So start thinking about the lovingly people around us and around others.
============================================================
- Orang yang kuat, bukan orang yang mampu hidup tanpa cinta, tetapi orang yang senantiasa memberikan cinta sehingga bila tanpanya, orang lain tak bisa berbuat apa-apa - pepatah
0 Responses to “Mereka yang Mencintai”
Leave a Reply
You must login to post a comment.