06
Dec
05

Serangan Satu Pukulan

KungfuBagi orang-orang yang menggemari komik Kungfu Boy karya Takeshi Maekawa, pasti familiar dengan istilah “serangan satu pukulan”nya Chinmi. Serangan satu pukulan adalah prinsip pertarungan yang diajarkan oleh Guru Yosen kepada Chinmi, si kungfu boy. Chinmi memang jago dan terampil ber-kung fu namun ketika pertama kali dia latihan bertarung dengan guru Yosen, serangan chinmi berkali-kali mengenai guru Yosen tetapi serangan itu tidak cukup untuk membuat guru Yosen yang tua itu ambruk. Bahkan hanya dengan sekali serangan, guru Yosen mampu membuat Chinmi tererang kesakitan. Pelajaran yang diajarkan oleh guru Yosen pada saat itu adalah dalam pertarungan yang sebenarnya, setiap serangan berarti kemenangan atau kekalahan. Sekali serangan harus benar-benar mendatangkan kemenangan dan langsung melumpuhkan lawan.

Saya teringat isi komik itu beberapa hari ini. Saya pikir dalam kehidupan sebenarnya pun kita harus memiliki prinsip “Serangan satu pukulan”. Kadang saya merasa bahwa kesempatan itu bisa datang besok, besok lusa atau tahun depan. Padahal kenyataannya tidak selamanya demikian. Terkadang kesempatan itu menentukan kita “kalah atau menang”. Prinsip serangan satu pukulan bisa diterapkan di dalam pendidikan, pekerjaan dan bahkan kehidupan pribadi.

Penerapan prinsip serangan satu pukulan di sekolah, misalnya saja kita berprinsip melakukan ujian secara all out. Seakan-akan tidak ada lagi ujian susulan esok hari dan ujian yang kita hadapi adalah menentukan “hidup atau mati” kita. Saya rasa kalau kita bisa melakukan atau men-setting pikiran kita untuk berpola pikir demikian, pastilah setiap kali kita menghadapi ujian atau ulangan, kita akan menghadapinya dengan semangat terbaik, persiapan terbaik yang pernah kita lakukan. Sayangnya saya baru menyadari bahwa terkadang saya sudah puas hanya mendapat 80 dari skala 100. itu karena saya merasa ujian di sekolah adalah perkara yang biasa yang terkadang untuk menghadapinya pun, persiapannya sekedarnya saja. “yang penting lulus” pikirku.

Kalau untuk pekerjaan, mungkin perkaranya jadi rada serius dibandingkan masa sekolah. Karena dalam pekerjaan, hal-hal semacam ujian atau ulangan umum yang ada di sekolah tidak terjadi secara repetisi dan regular. Terkadang kesempatan yang datang kepada kita hanya datang sekali dalam beberapa tahun. Atau mungkin malah sekali dalam seumur hidup kita. Hal yang saya rasakan adalah ketika saya menghadapi berbagai tawaran kerja yang lebih menjanjikan daripada pekerjaan yang saya geluti sekarang. Mungkin karena terbawa kebiasaan anak sekolah, setiap kali seleksi, saya selalu menganggapnya hal yang biasa. Dalam hati kecil saya, saya selalu beranggapan bahwa kalau di kesempatan ini saya gagal, saya masih bisa mencari kesempatan lain di waktu yang lain. Masalahnya persoalannya tidak sesederhana itu. ketika kesempatan itu lewat maka untuk mencari dan menghadapi kesempatan berikutnya, keadaan kita sudah berubah. Kalau menganalogikan dengan pertarungan yang dilakukan oleh Chinmi, ketika kesempatan lewat, seakan-akan pukulan yang chinmi keluarkan gagal untuk menjatuhkan lawan padahal setelah melakukan pukulan tersebut, tenaga yang Chinmi miliki semakin terkuras.

Kalau serangan satu pukulan ini diterapkan kepada kehidupan pribadi, saya kira saya lebih senang mencontohkannya dalam hal seorang pria melakukan pengungkapan cintanya kepada wanita yang disayanginya untuk pertama kalinya. Apabila si pria menganggap bahwa pengungkapan cintanya merupakan penentu hidup matinya dia dengan sang wanita maka pastilah dia akan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya baik dari segi timing-nya maupun content-nya. Dalam kondisi tersebut sang pria harus mempertimbangkan timing, jangan sampai terlambat. Karena bisa saja ketika dia terlambat beberapa saat saja, sang pujaan hati telah melanglang entah kemana. Content pun demikian, ketika pengungkapan cinta hendak dilakukan, paling tidak jangan sampai bau mulut menjadikan “serangan” jadi tidak maksimal meluluhkan hati sang pujaan.

Kesimpulannya, saya kira adalah hal yang penting untuk menghadapi setiap kesempatan yang ada di depan kita dengan sebaik-baiknya dan sesungguh-sungguhnya. Kita harus mengandaikannya seperti melawan musuh yang berat, dimana kesempatan untuk menyerang hanya terbatas, sehingga serangan yang bisa kita keluarkan saat itu harus sanggup menjungkalkan lawan. Karena begitu kita lengah, yang ada hanya kekalahan dan penyesalan. Apa perlu saya berguru ke guru Yosen?




2 Responses to “Serangan Satu Pukulan”


  1. 1    shanty December 8, 2005 at 6:44 pm

    ini new kungfu boy kan??? udah kluar yang seri yang baru tho… lamaa banget…

  2. 2    Ahmad Eka December 8, 2005 at 8:02 pm

    yaaa, shanti nih…
    new kungfun boy malah udah tamat juga

Leave a Reply

You must login to post a comment.