Archive for January, 2006

31
Jan

Are You “Playboy” Enough?

PlayboyBelakangan ribut-ribut tentang rencana penerbitan majalah playboy versi Indonesia sangat gencar di berbagai media dan jalan-jalan. Majalah triple X kalo di Amrik sana yang diusung oleh Ponti Carolus, mantan wakil sekjen partai Demokrat, rencananya akan diterbitkan bulan Maret 2006. Pihak yang mendukung dan menghujat mungkin sama banyaknya. Tapi saya rasa juga yang ingin menghujat tapi diam lebih banyak lagi, seperti saya ini misalnya. Saya sangat tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi belakangan ini terhadap bangsa kita ini. Sepertinya ada yang mengatur agar kita secara berjamaah masuk ke jurang keterbelakangan dan keterpurukan secara bersama-sama. Rasanya memori terhadap tsunami, tanah longsor, banjir bandang belum hilang dari ingatan kita, sekarang akan datang sesuatu, yang menurut saya, bencana sosial.

Dalam hal ini pemerintah sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa dengan dalih kebebasan pers. Memang benar sih adanya menurut undang-undang pers, apabila pemerintah membradel peredaran media maka akan ada ancaman hukuman dua tahun penjara. Saya rasa dengan aturan yang cukup tegas itu seorang Menkominfo, Bapak Sofyan Djalil juga ketar ketir kalau mau melarang. Mungkin pak SBY juga tutup mata kalau mau melarang bekas pengusungnya, yang berjasa memperjuangkannya jadi presiden, untuk tidak menerbitkan majalah tersebut. Memang benar Velvet Silver Media sebagai penerbit bersikeras bahwa format Playboy Indonesia akan berbeda dengan format aslinya yang menonjolkan gambar-gambar syur dan penuh nudity. Mereka mengatakan bahwa disini formatnya akan berupa artikel. Tetapi apakah kita berani menghadapi resiko kecolongan? Kalau kita amati, sejak kebebasan pers lebih terbuka banyak media-media yang nyerempet nyerempet pornografi bermunculan dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Bukannya mengambil tindakan tegas tentang batasan-batasan yang harus dipatuhi oleh media, para petinggi kita dan para selebritis dengan keahliannya berdebat malah mempertanyakan makna pornografi dan pornoaksi dimana dalam membahasnya pun banyak yang mengambil kesimpulan “itu bukan pornografi tapi seni!” Kita terlalu banyak menghabiskan tenaga dengan berdebat, polemik yang dalam melakukannya pun terkadang dengan ilmu yang sangat minim. Semua berdasarkan “menurut saya, prinsip saya, saya pikir, saya yakin, dll”

Saya sebenarnya takut, takut sekali kalau suatu saat kita semua tidak bisa membedakan lagi mana yang pornografi mana yang tidak, mana yang haram mana halal, mana yang pantas mana yang tidak sehingga suatu ketika kitapun tidak bisa membedakan mana yang benar mana yang salah. Kita sebagai bangsa sepertinya tidak punya lagi pegangan, prinsip, falsafah hidup yang bisa dijadikan pedoman untuk menjaga nilai-nilai bangsa, nilai kepatutan, dan etika. Bahkan kita punya agama, tetapi sebagian orang-orang yang beragamapun menolak agama menjadi sendi-sendi kehidupan mereka. Agama dijadikan urusan antara masing-masing pribadi dengan Tuhannya dengan melupakan kewajiban mengajak sekitar kita kepada kebenaran dan prinsip-prinsip saling menasehati kepada kebenaran.

Kalau ada kejadian-kejadian seperti ini, saya teringat dengan sebuah email yang pernah saya baca beberapa tahun lalu. Tentang analogi hilangnya pegangan budaya dan nilai-nilai dalam sebuah percobaan terhadap seekor katak.

Percobaan pertama, ada seekor katak dalam sebuah akuarium dengan air bersuhu normal. Kemudia katak tersebut dipindahkan ke sebuah bejana berisi air yang sangat panas. Ketika dipindahkan, dengan serta merta katak tersebut meronta dan melompat keluar dari bejana yang berisi air panas tersebut. Percobaan kedua, katak yang sama dimasukkan kedalam sebuah bejana lain yang berisi air suhunya yang sama dengan air dalam akuarium tempat dia berasal. Ketika dimasukkan, katak itu biasa saja berenang kesana kemari. Namun di bawah bejana dipanaskan dengan api. Mula-mula apinya kecil saja, katak tersebut masih bersikap normal. Selang beberapa lama api dibesarkan secara bertahap. Satu menit, katak itu masih bisa berenang kesana kemari. Lima menit, katak itu mulai terlihat tidak nyaman dan lemas. Dan lama-kelamaan, katak tersebut mati dalam bejana yang mendidih.

Nah, saya rasa saat ini kita semua sedang dimasukkan dalam bejana yang dipanaskan sedikit demi sedikit itu. Perubahan budaya yang menerpa kita memang tidak dilakukan secara frontal dan drastis. Sedikit demi sedikit, tanpa kita sadari.

Kembali ke masalah Playboy. Sepantasnyalah kita sebagai bangsa untuk memikirkan lebih dalam mengenai pertentangan yang ada ini. Ini bukan lagi mengenai pendapat mana yang kuat mana yang tidak. Seharusnya kita semua mengambil sikap untuk menolak semua hal yang berbau pornografi pornoaksi entah yang diusung oleh playboy, oleh majalah –majalah pinggir jalan, atau oleh para aktor dan aktris serta selebritis yang menganggap pornografi, atau gampangnya memperlihatkan aurat di tempat umum, adalah seni. Kalau saya, saya masih mau memegang budaya timur saya dan ajaran yang ada di agama saya, untuk itu saya menolak Playboy dan pasukan di belakangnya untuk hadir di Indonesia. Bagaimana dengan anda?

====================================

"Bagai mencekik dengan Kapas"

- Peri bahasa -

Arti : Menyusahkan/ menjerumuskan seseorang ke dalam kemalangan secara diam-diam tanpa disadari oleh orang tersebut.

====================================

28
Jan

Saya Manusia Copy + Paste

Copas Saya merasa pekerjaan saya menjadi lebih mudah dengan adanya fasilitas copy + paste di program-program komputer. Tentu saja dengan fasilitas ini banyak hal-hal yang sepele tidak perlu kita lakukan lagi. Kita tidak perlu mengetik ulang sebuah kalimat atau bahkan sebuah tulisan bila pernah ada yang menulisnya atau pernah kita tulis. Bahkan dahulu saya teringat waktu masih kuliah sambil kerja. Banyak rekan-rekan saya yang membuat paper dengan bermodalkan copy paste. Alhasil, dengan demikian, assignment dosen yang memiliki tenggat waktu yang harus selesai dalam semalam bisa sukses dilakukan. Selain   melakukan copy + paste untuk tulisan, apabila sedang bergelut dengan excel atau program spreadsheet lainnya, dengan beragam rumus, lebih enak melakukan copy paste rumus yang sudah ada daripada kita harus berpusing-pusing lagi untuk mengetikkannya.

Secara praktikal, copy + paste adalah sebuah fasilitas di computer yang benar-benar memudahkan kita dalam melakukan setiap pekerjaan sehingga orang yang pandai memanfaatkan fasilitas itu menjadi terlihat lebih smart, efisien dan kreatif. Dari proses copy + paste itu, saya membayangkan bahwa betapa kita semuapun adalah hasil dari filosofi copy + paste. Tidak percaya?

Mirip dengan membuat tulisan atau pekerjaan dengan menggunakan program-program komputer, dalam hidup, selama proses perjalanannya betapa banyak kita melakukan dan mengalami proses copy + paste itu. Sikap kita yang mengikuti lingkungan, watak kita yang mengikuti orang tua ataupun idola, dan karakter kita yang terbentuk berdasarkan mencontoh dan meneladani orang lain adalah contoh hasil dari proses copy + paste itu. Dalam perjalanan hidup itu kita melakukan peng-copy-an dari lingkungan sekitar kita baik berupa nilai ataupun tindakan-tanduk orang lain lalu kita mem-paste-nya ke dalam diri kita dan perilaku kita. Bahkan orang yang cerdas pandai pun memperoleh ilmunya dari proses copy + paste dari ilmu yang telah ada lebih dahulu daripadanya. Misalnya saja Albert Einstein yang pasti memperoleh kejeniusan dalam fisika sedikit banyak belajar fisika dari teori Archimedes ataupun Newton. Bukankah setiap kali kita melakukan penelitian atau membuat tulisan sering menggunakan referensi dari orang lain? Jadi rasa-rasanya kalau diruntut sampai jaman dahulu kala sebenarnya di dunia ini hampir tidak ada yang orisinil. Semua sedikit banyak telah melalui sebuah proses copy + paste.

Menyadari kenyataan semacam itu, kalau kita pikirkan lebih jauh bahwa benar adanya bahwa hidup kita tidak lepas dari pengaruh dan pertolongan orang lain. Kita bertumbuh dari lahir sampai sekarang adalah merupakan sumbangan dari sejumlah orang-orang yang kita temui dan berinteraksi dengannya dimana dalam proses perjalanannya, proses copy + paste karakter, tata nilai secara intense terjadi dan secara tidak sengaja dilakukan. Untuk itulah saya merasa seharusnya tidak ada yang bisa disombongkan oleh kita untuk apa yang telah kita miliki dan capai selama ini. Mungkin ada yang telah berprestasi tinggi dalam karir, pendidikan ataupun hubungan pribadi namun sebenarnya itu semua adalah karunia Yang Maha Kuasa dan juga sebagian sumbangsih dari orang-orang sekitarnya. Pada intinya kita semua tidak orisinal, jadi apa yang harus disombongkan? Toh ternyata kita hanyalah hasil dari sebuah proses copy + paste tak disadari dan yang telah terjadi secara terus menerus.

Saya merasa sebagai manusia copy + paste, Anda?

26
Jan

Welcome to the World of DANONE

DanoneSudah hampir dua minggu saya menjalani kehidupan baru sebagai karyawan Danone-Aqua Group. Sedikit ada rasa shock mengalami perbedaan kultur kerja dari perusahaan lama ke perusahaan baru. Sebuah perubahan yang memang saya prediksi dan sudah saya kejar sebelumnya. Sebuah perubahan dengan harapan bahwa saya akan memperoleh pelajaran berharga dari pengalaman tersebut, kata orang, mumpung masih muda.

Perusahaan yang saya masuki ini adalah grup dari sebuah raksasa FMCG (fast moving consumer goods) dari Perancis. Groupe Danone merupakan perusahaan dengan tiga main business : Dairy Product, Beverages, dan Food and Biscuits. Untuk kategori Beverages : bottled water, produksi dan sales Groupe Danone adalah nomor satu di Dunia. Produksi kebanggaan Indonesia, Aqua, merupakan kontribusi terbesar untuk groupe danone untuk Asia Pacific.

Banyak hal baru yang saya peroleh ketika bergabung dengan perusahaan ini. Pengalaman professional maupun pengalaman pribadi. Di tempat baru inilah saya belajar untuk menyesuaikan diri dari keadaan yang nyaman ( di tempat lama saya merasa sangat nyaman) untuk masuk menerjuni sesuatu yang baru beserta tantangan-tantangannya yang baru. Disini juga saya belajar untuk memelihara network dengan teman-teman yang lama. Disini pula saya belajar untuk membuat planning, execute planning dan juga melakukan evaluasi terhadap planning. Saya belajar memimpin sebuah grup agar menjadi super team. Dan saya belajar untuk bisa belajar dengan cepat. Otomatis selama dua minggu di awal karir saya di perusahaan ini, saya menemukan banyak hal-hal baru yang mencengangkan dimana hal-hal tersebut membuka mata saya terhadap sesuatu yang baru.

Masih banyak yang harus saya pelajari di tempat ini, masih banyak orang-orang yang perlu dikenal dan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Semoga usaha saya tidak sia-sia dan cita-cita saya dapat tercapai di tempat yang baru ini. Doakan saya ya, sahabat!

============================

"There’s NO LIMIT. Only obstacles to overcome"

- one of Danone’s Value -

============================

24
Jan

Kisah Guru yang Bijak

BreadAlkisah ada seorang guru yang sangat tinggi ilmunya dan sangat bijaksana. Dia memiliki beberapa murid. Suatu kali ia menceritakan sebuah cerita kepada murid-muridnya sebagai bahan renungan bagi murid-muridnya.

Selesai bercerita, ada seorang murid yang bertanya pada guru tersebut

“Guru, apa maksud dari cerita tadi?” Tanya sang Murid.

Sang guru tersenyum lalu menjawab dengan bijak, “Nak, apabila saya memiliki sebuah roti, dan ingin saya berikan kepadamu, apakah engkau ingin saya langsung memberikannya kepadamu untuk kau cicipi sendiri atau engkau ingin roti itu saya cicipi terlebih dahulu untuk mengatakan padamu apa rasa roti itu?”

Terkadang dalam hidup ini kita memperoleh banyak petunjuk atau nasihat-nasihat dari orang yang lebih berpengalaman dan lebih bijak dari kita. Namun kita malas memikirkan makna dari petunjuk atau nasehat-nasehat tersebut. Sebaik apapun nasihat atau petunjuk yang kita peroleh sebelum kita pikirkan maknanya dan dijalani, sesungguhnya hal tersebut bukanlah petunjuk yang berharga. Butuh kesungguhan untuk mencicipi roti yang diberikan ke tangan kita, untuk kita nilai sendiri apakah roti itu manis, gurih, atau bantet?

=================================

“Mind is like parachute, it works only when opened”

24
Jan

Hujan itu (seharusnya) Membawa Berkah

Image49_1Akhir-akhir ini hujan rajin mengguyur Jakarta setiap sore. Entah mengapa intensitasnya jadi semakin tinggi saja. Sekitar 2 mingguan yang lalu saya memperoleh email yang memperingatkan bahwa berdasarkan hasil perkiraan BMG, akan terjadi badai di Jakarta. Sepertinya perkiraan BMG itu tidak meleset. Karena dua hari belakangan ini setiap kali pulang kantor, kaki saya pegal-pegal karena harus bergelur dengan kemacetan lalu lintas yang biasanya padat menjadi tambah padat karena hujan dan genangan air.

Kalau sudah hujan begini, kota Jakarta menjadi sangat tidak nyaman. Selain macet, ada genangan air dimana-mana, kalau beruntung, kita dapat menemui pohon yang tumbang atau billboard yang patah. Begitupun yang terjadi pada hari senin (23/1/06) kemarin. Selain jalan yang macet parah, beberapa pohon terlihat tumbang. Bahkan menara TV7 pun ikut ambruk yang sampai berita terakhir diturunkan telah menewaskan tiga orang. Mendengar kabar itu saya jadi prihatin. Sudah sering kita dengar bahwa datangnya hujan itu membawa berkah dari langit. Hujan itu patut disyukuri. Karena hujan, maka tumbuhan terlihat lebih hijau dan segar, tanah menjadi subur dan persediaan air tanah untuk kehidupan tercukupi. Di beberapa bagian dunia bahkan datangnya hujan sangat diharapkan. Bahkan para peneliti sampai mengusahakan bagaimana menciptakan hujan buatan bagi daerah yang dilanda kekeringan. Namun akhir-akhir ini lebih banyak lagi yang kita dengar bahwa beberapa kali hujan diiringi dengan bencana. Ada yang tergerus air bah, longsor bahkan banjir.

RainLalu, apakah hujan yang kita terima sekarang masih merupakan berkah? Atau berkah itu datang dalam bentuk teguran bagi kita untuk lebih ramah pada bumi dan makhluk lemah yang terdapat di dalamnya? Dulu, sewaktu kecil, setiap kali hujan datang, bukan main gembiranya hati saya, apalagi kalau bisa main bola sambil berhujan-hujanan. Tapi entahlah saat ini setiap kali hujan datang, yang saya khawatirkan adalah jalanan yang macet parah dan jalanan yang banjir. Semoga, selain kejadian-kejadian kecil yang saya alami itu, hujan masih mau membawa berkahnya bagi seluruh alam, termasuk orang-orang yang sudah zalim kepada alam itu sendiri.

23
Jan

Menjadi Luar Biasa Itu Mudah

11 January 2006 jam 21.42.

Saya sedang menikmati roti di atas kereta api Kamandanu yang sedang bergerak agak perlahan. Di kursi seberang saya, ada seorang kakek yang hendak menaikkan tasnya ke atas bagasi. Dengan tangan yang terlihat kecil di balik baju batiknya yang agak lusuh sepertinya ia kesulitan mengangkat tas nya sendiri ke atas bagasi. Tanpa berpikir panjang, saya berdiri, menepuk pundaknya dan mengambil tasnya lalu menaikkannya ke atas bagasi.

Lalu kakek itu berkata, “matur nuwun, mas” dengan suara lirih

Saya tidak berkata apapun, hanya tersenyum. Namun dalam hati saya saya merasa luar biasa. Hanya membantu menaikkan tas saya bisa merasa sangat berharga. Subhanallah

Taken from short journal of my 9500 Communicator

18
Jan

Salah satu momen yang terindah

Sahabat1Pertanggal 13 Januari yang lalu adalah hari terakhir saya bekerja di Toyota. Sedari pagi hari saya sudah merasa tidak tenang. Saya merasa sangat –sangat nervous.

Setelah sehari sebelumnya saya dikagetkan dengan sudah di-terminate-nya email dan user name saya di network kantor dan hilangnya nama saya di daftar absensi, hari terakhir itu terasa sangat indah. Keindahan sebuah persahabatan dan rasa kekeluargaan lebih kuat terasa pada saat kita akan kehilangannya. Pada hari terakhir tersebut otomatis yang saya lakukan hanya mempersiapkan diri agar saya bisa melangkah keluar dengan indah. Sebuah harapan yang gak neko-neko karena memang itulah adanya. Saya tetap berharap persahabatan, persaudaraan dan kekeluargaan yang telah terjalin masih bisa terpelihara senantiasa.

Sekitar jam 10 pagi saya mengirim email perpisahan saya. Sebuah email yang dalam membuatnya pun saya harus berkeringat dingin dan sedikit menitikkan airmata. Tidak lama berbagai respon berdatangan dari rekan-rekan terbaik saya. Ada yang memberikan selamat, ada yang bertanya kenapa, ada yang kaget, ada menyanyangkan keputusan yang saya ambil, ada yang mendukung dan salut, ada yang mendoakan, ada yang minta dikabari setelah dapat email baru, ada yang minta saya tetap datang tiap rabu untuk main basket, pokoknya semuanya merupakan respon-respon yang saya hargai dan beri nilai sangat tinggi. Respon yang setidaknya memberikan refleksi kepada saya tentang siapa saya dan apa yang telah saya lakukan selama ini. Saya hanya berdoa semoga hubungan silaturrahmi masih terjaga dengan baik.

Sehabis shalat jum’at, divisi saya mengadakan semacam farewell ceremony untuk saya. Saya diminta menyampaikan sepatah dua patah kata perpisahan. Jujur, saya sama sekali tidak mempersiapkan apa-apa. Karena bila saya persiapkanpun tidak akan mewakili perasaan saya kepada mereka. Saya hanya mempersiapkan sapu tangan baru di kantong saya, yang saya rencanakan untuk antisipasi kalau saya tidak bisa menahan rasa haru saya. Antisipasi yang bodoh sih menurut saya. Saya menyampaikan farewell speech dengan hati yang galau. Pada intinya saya hanya bisa mengucapkan terima kasih, mohon maaf dan minta support dan doa dari rekan-rekan sejawat saya sambil menyampaikan beberapa harapan. Saya banyak tersenyum siang itu. Senyum yang saya gunakan untuk menahan ujung mata saya agar tidak meneteskan air mata sedikitpun. Kata NLP training, tubuh kita sebenarnya menuruti apa yang dipikirkan otak kita, maka saya memikirkan hal-hal menyenangkan dan mencoba untuk banyak senyum. Saya merasakan kehangatan di sekitar saya. Kehangatan yang mungkin terakhir saya rasakan di perusahaan itu.

Setelah urusan farewell selesai, saya ke HRD, mengembalikan berbagai atribut kerja dan penyelesaian administrasi. Kusno, teman main bola saya, sampai merasa tidak enak harus melepas saya dan mengambil peralatan kerja saya. Untungnya dia masih memberikan kesempatan saya menyimpan sebagian ID card saya. Lumayan buat kenang-kenangan.

Setelah urusan HRD saya kembali ke ruang kerja saya sambil mampir ke beberapa divisi untuk pamitan. Saya merasa beruntung hari itu karena saya bisa pergi dengan baik-baik dan dengan kehangatan sebuah keluarga. Saya akan merindukannya. Setelahnya, saya kembali ke ruangan saya. Bercengkerama sambil menunggu waktu pulang tiba. Sebenarnya saya bisa saja melenggang keluar, tapi saya ingin menghabiskan saat – saat terakhir saya sepuasnya. Until the last minutes, I still love the atmosphere. Saat waktu pulang tiba saya sempat berbincang-bincang ringan dengan beberapa kawan. Oh iya, saya juga menerima beberapa souvenir. Ketika pulang, lega sekali rasanya, saya merasa menjadi orang paling bahagia hari itu. 13 Januari 2006, salah satu moment yang terindah dalam hidup saya.

==================================

A Square has FOUR ends,

A triangle has THREE ends,

A Line has TWO ends,

A Life has ONE end,

Hope our friendhip has NO end.

- A New Year Greeting SMS -

=========================================

05
Jan

Kisah di Kantor Polisi

Pol2Dua hari ini saya ke kantor polisi sektor Kebayoran Lama untuk mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK, dulu SKKB). Kemarin saya sudah ke sana namun karena surat pengantar saya masih kurang lengkap, maka saya harus melengkapinya terlebih dahulu. Berbekal surat pengantar dari Kelurahan, hari ini saya kembali lagi ke kantor polisi itu.

Sesampainya di sana, saya langsung menemui seorang petugas.

"Pagi, Pak. Pak, saya mau mengurus SKCK, ini surat pengantarnya" sapa saya sambil tersenyum ramah maklum habis mandi dan sudah sikat gigi.

Polisi itu memandang saya, mengambil selembar kertas di lacinya dan menyodorkannya ke saya. "Isi ini dulu" jawabnya datar tanpa senyum tanpa ekspresi.

"Di sana isinya" sahut dia sambil menunjuk sebuah meja kosong di luar ruangan tanpa senyum tanpa ekspresi.

Ooh, polisi itu menyodorkan formulir pertanyaan yang harus saya isi dan tanda tangani sebagai data untuk dokumentasi polisi. Oke, tidak sampai lima belas menit, saya nongol lagi di hadapannya dengan senyum ramah khas Astra.

"Ini, pak. Sudah saya isi. Ini saja kan, Pak?" tanya saya. maklum saya harus cepat-cepat ke kantor.

"Jadinya kapan, Pak?" tanya saya lagi.

"Hari senin, sekarang kan hari Jum’at" jawabnya tanpa tersenyum.

Waaah… hari senin? Hari senin besok kan hari kejepit, mana kantor saya libur lagi. Mana saya harus pulang ke Semarang lagi keluh saya dalam hati.

"Sekarang sidik jari" katanya datar tanpa senyum tanpa ekspresi

Beliau menyiapkan peralatan untuk sidik jari. Sambil menunggu dia menyiapkan alatnya, saya bertanya, "Pak, biayanya berapa?"

Dia memandang saya beberapa saat. "Sepuluh ribu" jawabnya

Saya langsung mengeluarkan dompet, mengambil selembar sepuluh ribuan dan memberikannya kepadanya.

Wajahnya sedikit bersinar, kemudian bertanya balik ke saya "untuk ngurus apa, dik?" sahutnya membuka pembicaraan sambil memegang jari-jari saya, menempelkan ke blok tinta dan menempelkannya ke form sidik jari. Satu per satu

"Melamar pekerjaan, pak"

"dimana? Departemen ya?"

"ah, bukan, di swasta kok, pak"

Kemudian dia mendekatkan badannya ke saya sambil berkata, "Pak, nambah sepuluh ribu lagi, bisa jadi lima belas menit"

"Eeeng Ing Eeeeng… bilang kek dari tadi!!!" semprot saya dalam hati

Saya langsung mengeluarkan dompet, mengambil selembar sepuluh ribuan dan memberikannya kepadanya.

"Tunggu ya, pak" sahutnya ramah dengan senyum sedikit terhias di wajah.

Belum sampai lima belas menit, SKCK sudah di tangan. Saya pun berangkat ke kantor dengan tenang.

Polisi…Pol

05
Jan

Surat itu…

Image96Rasanya lain ketika surat pemutusan hubungan kerja sudah di tangan. Surat itu berisi pemberitahuan bahwa permohonan pengunduran diri saya sudah disetujui. Dalam suat itu pula diatur perihal-perihal yang harus saya lakukan dan penuhi, sehubungan dengan proses hengkangnya saya. Senang dan lega. Namun rasa sudah bukan menjadi bagian dari sebuah keluarga mulai muncul. Kesadaran bahwa saya sudah bukan bagian dari perusahaan sudah muncul. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali membaca surat pemutusan hubungan kerja yang saya terima kemarin. Saya memulai untuk melakukan beres-beres dan pengalihan tugas. Sebuah kegiatan yang sudah saya bayangkan dan rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya dan ternyata hari ini sudah mulai saya lakukan. Campur aduk rasanya namun perasaan sedih sangat terasa dominan. Sedih itu muncul karena saya merasakan rasa kehilangan sebuah keluarga yang selama beberapa tahun terakhir ini menjadi bagian hidup saya setiap hari. Saya mencoba untuk tegar dan tetap tersenyum menjalani hari-hari terakhir dalam ikatan keluarga itu

Nilai persahabatan dan pertemanan lebih terlihat nilainya ketika saya harus mengucapkan kata-kata pamit kepada rekan-rekan kerja saya selama ini yang turut mendukung saya dalam pekerjaan sehari-hari. Hal itu yang bisa saya lihat dari rekan-rekan di sebuah bank partner bisnis perusahaan tempat saya bekerja. Ketika itu saya berkunjung untuk pamit dan memperkenalkan pengganti saya. Saya pikir hal tersebut perlu saya lakukan sebagai rasa penghargaan dan terima kasih saya kepada mereka yang telah membantu pekerjaan saya selama ini sekaligus memperkenalkan pengganti saya agar hubungan yang telah terbina selama ini dapat senantiasa terjaga dengan baik. Walaupun dulu saya sering komplain, marah ataupun bersitegang dengan mereka namun hubungan kerja tersebut terasa manis di ingatan saya. karena selain hubungan pekerjaan, di luar pekerjaanpun kami masih sering berinteraksi. Sehingga ketika memberitahukan perihal kepindahan saya, saya bisa merasakan ketulusan hati mereka dalam mensupport dan melepas saya. Sebuah nilai persahabatan yang sama sekali di luar dugaan saya sebelumnya.

Sorenya, saya menghabiskan waktu bermain basket dengan rekan-rekan kantor saya. Saat itu akan menjadi saat terakhir saya untuk bermain basket dengan mereka. Sempat terpikir apa bisa saya merasakan perasaan senang dan erat seperti yang saya rasakan itu. Saya sangat menikmati permainan waktu itu walaupun kaki kanan saya masih terasa sakit akibat cedera yang saya alami dari minggu sebelumnya. Kami bermain basket seperti sedang bersenda gurau. Yang ada fun, fun dan fun. Rasanya tidak ada terpikir sedikitpun di benak kami untuk saling menjatuhkan dan menang. Sebuah pengalaman yang langka dan mungkin akan sangat jarang saya temui di tempat lain.

Berat memang, saat merasakan sudah bukan menjadi bagian dari institusi yang selama ini dibanggakan dan akan merasakan kehilangan kehangatan dari orang-orang yang mendukung saya selama ini. Namun semua itu saya anggap sebagai kompensasi yang harus saya tanggung sekarang untuk mengejar sebuah cita-cita dan harapan saya dan keluarga di masa depan. Saya hanya berharap semoga saya dapat memperoleh persahabatan, rasa kekeluargaan, pertemanan yang tanpa batas waktu, tanpa batas lokasi dan tanpa batas perusahaan. Dan semoga saya dapat memperolehnya juga di tempat yang baru kelak. Semua pengalaman yang telah saya jalani dan teman-teman yang telah mewarnai hidup saya akan saya ingat dalam lubuk hati saya. semoga saya juga dapat menjadi impuls yang sama yang tersimpan di hati mereka.

Surat yang saya terima itu saya baca-baca di rumah dan saya simpan. Hal yang sama dengan kenangan yang telah lewat. Akan saya simpan…

==========================================================

"Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover"

- Mark Twain -

02
Jan

Tahun Baru, Semangat Baru, Harapan Baru

Merayakan tahun baru biasanya semarak dan penuh kegembiraan. Itulah yang saya tangkap ketika saya menghabiskan waktu tahun baru di Semarang kemarin. Walau saya tidak ikut menikmati saat-saat pergantian tahun namun sekitar jam 19.30 WIB pada 31 Desember 2005 malam, saya menyempatkan jalan kaki dengan istri dan kakak ipar saya sekeluarga menuju ke alun-alun kota Semarang, Simpang Lima. Malam masih terhitung dini namun jalan-jalan yang mengakses ke Simpang Lima sudah ditutup oleh aparat keamanan. Banyak warga yang berduyun-duyun menuju ke Simpang lima untuk menghabiskan malam pergantian tahun. Mungkin sudah tradisi entah dari kapan, yang saya tahu selama ini, setiap kali malam pergantian tahun pasti dipusatkan di Simpang Lima, disertai dengan panggung gembira yang meriah. Biasanya musik favorit yang dipentaskan adalah dangdut tetapi malam kemarin grup band yang sedang naik daun, Radja, manggung di Simpang Lima. Mungkin hal tersebut jadi daya tarik tersendiri sampai-sampai keponakan saya, Ela, yang setiap hari suka mendengarkan kaset Radja dan hapal beberapa lirik lagunya, memaksa untuk mendekati area panggung karena ingin melihat grup band kesayangannya itu. bukan Radja yang ditemui namun ternyata grup band pembuka yang suaranya melengking naudzubillahi min dzalik.

Akhirnya daripada memutar-mutar tidak karuan, akhirnya kami mangkal di sebuah warung tenda yang menjajakan roti bakar dan STMJ. Lumayan juga menikmati hingar bingar kota Semarang sambil menyeruput STMJ spesial (telornya 2 lho) dan menyantap roti bakar. Yah namun seperti biasa, tidak ada kesenangan murah meriah yang tidak diganggu oleh pengamen dan pengemis. Tanpa mengurangi rasa iba saya, saya juga cukup prihatin sebenarnya dengan mereka. Di tengah hiruk pikuk orang bergembira, mereka harus mengais-ngais rejeki. Yah, saya memang tidak terlalu menikmati suasananya namun kehadiran mereka sedikit banyak cukup mengganggu orang-orang yang ingin menikmati kenikmatan dan kenyamanan dengan harga murah

Waktu masih beranjak sekitar jam 21.15 tetapi saya sudah merasa bosan. Istri saya yang sedang hamil sudah merasa pegal dan keponakan saya sudah tidur di gendongan ayahnya. Maka kami memutuskan untuk pulang dengan segera. Dalam perjalanan pulang, kami masih berpapasan dengan banyak sekali orang, baik tua muda, berada dan apa adanya, menuju ke arah Simpang Lima. Entah berapa puluh ribu orang yang berkumpul di Simpang Lima pada malam itu.

Setibanya di rumah, saya mencoba menonton TV. Banyak sekali tontonan menarik yang ditawarkan oleh stasiun TV pada malam tahun baru. Kemarin saja, Trans TV menayangkan Kungfu Hustle-nya Stephen Chow dan RCTI menayangkan Tuxedo-nya Jacky Chan. Ah basi. Sekitar jam 22.00 saya naik ke kamar, mengambil HP untuk memulai mengarang kata-kata ucapan Happy New Year lewat sms. Ternyata saya kalah cepat, sudah terdapat sekitar 8 sms yang masuk yang isinya ucapan happy new year. Saya mencoba mengarang kata2 manis seperti pujangga. Setelah selesai, saya kirim ke beberapa teman. Malam semakin larut dan saya tetap mengutak-ngatik HP membaca sms masuk dan mengirim sms kepada rekan yang belum saya kirim. Sambil merenung, saya memikirkan masa-masa yang telah berlalu dan mencoba mereka-reka masa depan yang akan saya raih. Ada sejuta harapan dan khayalan membentang di depan.

HnySekitar jam 24.00… saya terkaget dengan suara yang sangat keras, langit terlihat seperti berwarna warni. Saya tersadar, rupanya tahun telah berganti dan kembang api mulai menari-nari. Saya hanya melihat ke arah jendela, tidak begitu antusias, selain mengantuk, saya berpikir bahwa kembang api yang meriah itu belum tentu membawa kebahagiaan di tahun dan masa yang sulit ini. Kita harus tetap bekerja, berusaha, belajar dan berdoa, semoga 2006, yang menurut beberapa peramal dan analis ekonomi sebagai tahun yang lebih berat, dapat kita lewati bersama dan memperoleh kemenangan dan kebahagiaan di atasnya. Saya mengucapkan selamat tahun baru kepada istri saya dan calon anak saya seraya berkata "Selamat tahun 2006 ya, dek. semoga kamu tumbuh dengan sehat"

Tidak lama kemudian saya tertidur.

======================================================

Life isn’t a matter of milestones, but moments

– Rose Kennedy