Pertanggal 13 Januari yang lalu adalah hari terakhir saya bekerja di Toyota. Sedari pagi hari saya sudah merasa tidak tenang. Saya merasa sangat –sangat nervous.
Setelah sehari sebelumnya saya dikagetkan dengan sudah di-terminate-nya email dan user name saya di network kantor dan hilangnya nama saya di daftar absensi, hari terakhir itu terasa sangat indah. Keindahan sebuah persahabatan dan rasa kekeluargaan lebih kuat terasa pada saat kita akan kehilangannya. Pada hari terakhir tersebut otomatis yang saya lakukan hanya mempersiapkan diri agar saya bisa melangkah keluar dengan indah. Sebuah harapan yang gak neko-neko karena memang itulah adanya. Saya tetap berharap persahabatan, persaudaraan dan kekeluargaan yang telah terjalin masih bisa terpelihara senantiasa.
Sekitar jam 10 pagi saya mengirim email perpisahan saya. Sebuah email yang dalam membuatnya pun saya harus berkeringat dingin dan sedikit menitikkan airmata. Tidak lama berbagai respon berdatangan dari rekan-rekan terbaik saya. Ada yang memberikan selamat, ada yang bertanya kenapa, ada yang kaget, ada menyanyangkan keputusan yang saya ambil, ada yang mendukung dan salut, ada yang mendoakan, ada yang minta dikabari setelah dapat email baru, ada yang minta saya tetap datang tiap rabu untuk main basket, pokoknya semuanya merupakan respon-respon yang saya hargai dan beri nilai sangat tinggi. Respon yang setidaknya memberikan refleksi kepada saya tentang siapa saya dan apa yang telah saya lakukan selama ini. Saya hanya berdoa semoga hubungan silaturrahmi masih terjaga dengan baik.
Sehabis shalat jum’at, divisi saya mengadakan semacam farewell ceremony untuk saya. Saya diminta menyampaikan sepatah dua patah kata perpisahan. Jujur, saya sama sekali tidak mempersiapkan apa-apa. Karena bila saya persiapkanpun tidak akan mewakili perasaan saya kepada mereka. Saya hanya mempersiapkan sapu tangan baru di kantong saya, yang saya rencanakan untuk antisipasi kalau saya tidak bisa menahan rasa haru saya. Antisipasi yang bodoh sih menurut saya. Saya menyampaikan farewell speech dengan hati yang galau. Pada intinya saya hanya bisa mengucapkan terima kasih, mohon maaf dan minta support dan doa dari rekan-rekan sejawat saya sambil menyampaikan beberapa harapan. Saya banyak tersenyum siang itu. Senyum yang saya gunakan untuk menahan ujung mata saya agar tidak meneteskan air mata sedikitpun. Kata NLP training, tubuh kita sebenarnya menuruti apa yang dipikirkan otak kita, maka saya memikirkan hal-hal menyenangkan dan mencoba untuk banyak senyum. Saya merasakan kehangatan di sekitar saya. Kehangatan yang mungkin terakhir saya rasakan di perusahaan itu.
Setelah urusan farewell selesai, saya ke HRD, mengembalikan berbagai atribut kerja dan penyelesaian administrasi. Kusno, teman main bola saya, sampai merasa tidak enak harus melepas saya dan mengambil peralatan kerja saya. Untungnya dia masih memberikan kesempatan saya menyimpan sebagian ID card saya. Lumayan buat kenang-kenangan.
Setelah urusan HRD saya kembali ke ruang kerja saya sambil mampir ke beberapa divisi untuk pamitan. Saya merasa beruntung hari itu karena saya bisa pergi dengan baik-baik dan dengan kehangatan sebuah keluarga. Saya akan merindukannya. Setelahnya, saya kembali ke ruangan saya. Bercengkerama sambil menunggu waktu pulang tiba. Sebenarnya saya bisa saja melenggang keluar, tapi saya ingin menghabiskan saat – saat terakhir saya sepuasnya. Until the last minutes, I still love the atmosphere. Saat waktu pulang tiba saya sempat berbincang-bincang ringan dengan beberapa kawan. Oh iya, saya juga menerima beberapa souvenir. Ketika pulang, lega sekali rasanya, saya merasa menjadi orang paling bahagia hari itu. 13 Januari 2006, salah satu moment yang terindah dalam hidup saya.
==================================
A Square has FOUR ends,
A triangle has THREE ends,
A Line has TWO ends,
A Life has ONE end,
Hope our friendhip has NO end.
- A New Year Greeting SMS -
=========================================
Recent Comments