31
Jan
06

Are You “Playboy” Enough?

PlayboyBelakangan ribut-ribut tentang rencana penerbitan majalah playboy versi Indonesia sangat gencar di berbagai media dan jalan-jalan. Majalah triple X kalo di Amrik sana yang diusung oleh Ponti Carolus, mantan wakil sekjen partai Demokrat, rencananya akan diterbitkan bulan Maret 2006. Pihak yang mendukung dan menghujat mungkin sama banyaknya. Tapi saya rasa juga yang ingin menghujat tapi diam lebih banyak lagi, seperti saya ini misalnya. Saya sangat tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi belakangan ini terhadap bangsa kita ini. Sepertinya ada yang mengatur agar kita secara berjamaah masuk ke jurang keterbelakangan dan keterpurukan secara bersama-sama. Rasanya memori terhadap tsunami, tanah longsor, banjir bandang belum hilang dari ingatan kita, sekarang akan datang sesuatu, yang menurut saya, bencana sosial.

Dalam hal ini pemerintah sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa dengan dalih kebebasan pers. Memang benar sih adanya menurut undang-undang pers, apabila pemerintah membradel peredaran media maka akan ada ancaman hukuman dua tahun penjara. Saya rasa dengan aturan yang cukup tegas itu seorang Menkominfo, Bapak Sofyan Djalil juga ketar ketir kalau mau melarang. Mungkin pak SBY juga tutup mata kalau mau melarang bekas pengusungnya, yang berjasa memperjuangkannya jadi presiden, untuk tidak menerbitkan majalah tersebut. Memang benar Velvet Silver Media sebagai penerbit bersikeras bahwa format Playboy Indonesia akan berbeda dengan format aslinya yang menonjolkan gambar-gambar syur dan penuh nudity. Mereka mengatakan bahwa disini formatnya akan berupa artikel. Tetapi apakah kita berani menghadapi resiko kecolongan? Kalau kita amati, sejak kebebasan pers lebih terbuka banyak media-media yang nyerempet nyerempet pornografi bermunculan dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Bukannya mengambil tindakan tegas tentang batasan-batasan yang harus dipatuhi oleh media, para petinggi kita dan para selebritis dengan keahliannya berdebat malah mempertanyakan makna pornografi dan pornoaksi dimana dalam membahasnya pun banyak yang mengambil kesimpulan “itu bukan pornografi tapi seni!” Kita terlalu banyak menghabiskan tenaga dengan berdebat, polemik yang dalam melakukannya pun terkadang dengan ilmu yang sangat minim. Semua berdasarkan “menurut saya, prinsip saya, saya pikir, saya yakin, dll”

Saya sebenarnya takut, takut sekali kalau suatu saat kita semua tidak bisa membedakan lagi mana yang pornografi mana yang tidak, mana yang haram mana halal, mana yang pantas mana yang tidak sehingga suatu ketika kitapun tidak bisa membedakan mana yang benar mana yang salah. Kita sebagai bangsa sepertinya tidak punya lagi pegangan, prinsip, falsafah hidup yang bisa dijadikan pedoman untuk menjaga nilai-nilai bangsa, nilai kepatutan, dan etika. Bahkan kita punya agama, tetapi sebagian orang-orang yang beragamapun menolak agama menjadi sendi-sendi kehidupan mereka. Agama dijadikan urusan antara masing-masing pribadi dengan Tuhannya dengan melupakan kewajiban mengajak sekitar kita kepada kebenaran dan prinsip-prinsip saling menasehati kepada kebenaran.

Kalau ada kejadian-kejadian seperti ini, saya teringat dengan sebuah email yang pernah saya baca beberapa tahun lalu. Tentang analogi hilangnya pegangan budaya dan nilai-nilai dalam sebuah percobaan terhadap seekor katak.

Percobaan pertama, ada seekor katak dalam sebuah akuarium dengan air bersuhu normal. Kemudia katak tersebut dipindahkan ke sebuah bejana berisi air yang sangat panas. Ketika dipindahkan, dengan serta merta katak tersebut meronta dan melompat keluar dari bejana yang berisi air panas tersebut. Percobaan kedua, katak yang sama dimasukkan kedalam sebuah bejana lain yang berisi air suhunya yang sama dengan air dalam akuarium tempat dia berasal. Ketika dimasukkan, katak itu biasa saja berenang kesana kemari. Namun di bawah bejana dipanaskan dengan api. Mula-mula apinya kecil saja, katak tersebut masih bersikap normal. Selang beberapa lama api dibesarkan secara bertahap. Satu menit, katak itu masih bisa berenang kesana kemari. Lima menit, katak itu mulai terlihat tidak nyaman dan lemas. Dan lama-kelamaan, katak tersebut mati dalam bejana yang mendidih.

Nah, saya rasa saat ini kita semua sedang dimasukkan dalam bejana yang dipanaskan sedikit demi sedikit itu. Perubahan budaya yang menerpa kita memang tidak dilakukan secara frontal dan drastis. Sedikit demi sedikit, tanpa kita sadari.

Kembali ke masalah Playboy. Sepantasnyalah kita sebagai bangsa untuk memikirkan lebih dalam mengenai pertentangan yang ada ini. Ini bukan lagi mengenai pendapat mana yang kuat mana yang tidak. Seharusnya kita semua mengambil sikap untuk menolak semua hal yang berbau pornografi pornoaksi entah yang diusung oleh playboy, oleh majalah –majalah pinggir jalan, atau oleh para aktor dan aktris serta selebritis yang menganggap pornografi, atau gampangnya memperlihatkan aurat di tempat umum, adalah seni. Kalau saya, saya masih mau memegang budaya timur saya dan ajaran yang ada di agama saya, untuk itu saya menolak Playboy dan pasukan di belakangnya untuk hadir di Indonesia. Bagaimana dengan anda?

====================================

"Bagai mencekik dengan Kapas"

- Peri bahasa -

Arti : Menyusahkan/ menjerumuskan seseorang ke dalam kemalangan secara diam-diam tanpa disadari oleh orang tersebut.

====================================




0 Responses to “Are You “Playboy” Enough?”


  1. No Comments

Leave a Reply

You must login to post a comment.