Dua hari ini saya ke kantor polisi sektor Kebayoran Lama untuk mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK, dulu SKKB). Kemarin saya sudah ke sana namun karena surat pengantar saya masih kurang lengkap, maka saya harus melengkapinya terlebih dahulu. Berbekal surat pengantar dari Kelurahan, hari ini saya kembali lagi ke kantor polisi itu.
Sesampainya di sana, saya langsung menemui seorang petugas.
"Pagi, Pak. Pak, saya mau mengurus SKCK, ini surat pengantarnya" sapa saya sambil tersenyum ramah maklum habis mandi dan sudah sikat gigi.
Polisi itu memandang saya, mengambil selembar kertas di lacinya dan menyodorkannya ke saya. "Isi ini dulu" jawabnya datar tanpa senyum tanpa ekspresi.
"Di sana isinya" sahut dia sambil menunjuk sebuah meja kosong di luar ruangan tanpa senyum tanpa ekspresi.
Ooh, polisi itu menyodorkan formulir pertanyaan yang harus saya isi dan tanda tangani sebagai data untuk dokumentasi polisi. Oke, tidak sampai lima belas menit, saya nongol lagi di hadapannya dengan senyum ramah khas Astra.
"Ini, pak. Sudah saya isi. Ini saja kan, Pak?" tanya saya. maklum saya harus cepat-cepat ke kantor.
"Jadinya kapan, Pak?" tanya saya lagi.
"Hari senin, sekarang kan hari Jum’at" jawabnya tanpa tersenyum.
Waaah… hari senin? Hari senin besok kan hari kejepit, mana kantor saya libur lagi. Mana saya harus pulang ke Semarang lagi keluh saya dalam hati.
"Sekarang sidik jari" katanya datar tanpa senyum tanpa ekspresi
Beliau menyiapkan peralatan untuk sidik jari. Sambil menunggu dia menyiapkan alatnya, saya bertanya, "Pak, biayanya berapa?"
Dia memandang saya beberapa saat. "Sepuluh ribu" jawabnya
Saya langsung mengeluarkan dompet, mengambil selembar sepuluh ribuan dan memberikannya kepadanya.
Wajahnya sedikit bersinar, kemudian bertanya balik ke saya "untuk ngurus apa, dik?" sahutnya membuka pembicaraan sambil memegang jari-jari saya, menempelkan ke blok tinta dan menempelkannya ke form sidik jari. Satu per satu
"Melamar pekerjaan, pak"
"dimana? Departemen ya?"
"ah, bukan, di swasta kok, pak"
Kemudian dia mendekatkan badannya ke saya sambil berkata, "Pak, nambah sepuluh ribu lagi, bisa jadi lima belas menit"
"Eeeng Ing Eeeeng… bilang kek dari tadi!!!" semprot saya dalam hati
Saya langsung mengeluarkan dompet, mengambil selembar sepuluh ribuan dan memberikannya kepadanya.
"Tunggu ya, pak" sahutnya ramah dengan senyum sedikit terhias di wajah.
Belum sampai lima belas menit, SKCK sudah di tangan. Saya pun berangkat ke kantor dengan tenang.
Polisi…
0 Responses to “Kisah di Kantor Polisi”
Leave a Reply
You must login to post a comment.