Akhir pekan kemarin saya kembali pulang ke Semarang. Bukan bermaksud boros karena seminggu sebelumnya saya sudah pulang, tetapi istri saya meminta saya pulang. Setelah dipikir-pikir, ngapain juga saya bete bengong sendirian di Jakarta apalagi saya dengar adik saya bakalan punya acara sendiri. Akhirnya saya memutuskan lebih baik pulang saja.
Bertepatan dengan kepulangan saya ke Semarang adalah ulang tahun keponakan saya, Ulayya Tsabitah (Bitha), yang ke-3. Dia tampak senang di hari ulang tahunnya walaupun ada kejadian yang menyakitkannya karena pada hari ulang tahunnya, dia terjatuh karena terpeleset saat naik tangga sehingga menyebabkan bibirnya bengkak. Tapi walaupun bibirnya agak nyonyor, keponakan saya itu tetap lucu dan suka membuat saya geli melihat tingkahnya.
Ulang tahun Bitha dirayakan secara sederhana oleh keluarga besar istri saya. Hanya orang rumah saja yang “diundang”. Makanannya pun sederhana hanya sate ayam, kue-kue kecil dan kue tart. Ditambah sebuah Pizza Super Supreme ukuran large. Walaupun sederhana, perayaan tersebut mengingatkan saya ke masa kecil saya.
Seingat saya, waktu kecil ulang tahun saya hanya di rayakan 2 kali saja. Yang pertama kira-kira ketika umur saya 3 tahun dan yang kedua yang dirayakan bersama-sama dengan adik saya ketika umur saya kira-kira 9 tahun (kalo gak salah). Saya diceritakan sama Papa dan Mama saya serta Uwa Juju, yang merawat saya waktu kecil, bahwa waktu ulang tahun saya yang ke-3 itu, saya banyak ngumpet di kamar atau menangis karena waktu itu tamunya banyak sekali dan banyak yang tidak saya kenal. Memang waktu kecil saya dibilang sangat pemalu dan malu-maluin orang tua saya. Suka nangis keras-keras terutama kalo ketemu orang-orang baru. Saya terbayang saja kalau saja saya masih ingat kejadian itu. Duuh malu banget pasti ya.
Untunglah ulang tahun Bitha hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja sehingga Bitha tidak perlu ngumpet dan malu seperti saya dulu kalau tamunya banyak. Selain penghematan, saya pikir ada benarnya juga dilakukan sederhana. Kata mertua saya, dia belum mengerti ulang tahun, lagian temennya tidak banyak dan tidak dekat maklum belum sekolah. Kita merayakannya supaya dia senang saja. Dan memang benar, malam itu Bitha terlihat senang dan selalu tertawa. Senang sekali melihat pemandangan yang membahagiakan itu. Cuma sayang saya lupa satu hal, memberikan kado.
Esok harinya, bersama istri saya, saya mengajak Bitha ke Citraland. Disana saya membelikan dia sepatu kecil berwarna pink. Dia kelihatan suka sekali. Walaupun hadiah ulang tahunnya terlambat, semoga berguna dan Bitha senang memakainya. Selamat Ulang Tahun, Bitha…
Yang Ulang Tahun Siapa, yang niup lilin rame-rame…

0 Responses to “Ulang Tahun Bitha”
Leave a Reply
You must login to post a comment.