Tanggal 14 Februari malam kemarin, sepulang dari kantor saya menyempatkan diri mampir ke Plaza Senayan untuk membeli roti Breadtalk untuk mama dan adik saya di rumah. Saya agak heran karena pada malam itu jalanan terasa ramai dan padat. Jalan masuk ke parkiran Plaza Senayan saja padat dan parkirannya penuh, padahal kalau weekdays, saya merasa Plaza Senayan tidak seramai itu. Saya baru nyadar ternyata banyak sekali yang merayakan Valentine disana. Saya takjub juga begitu banyak pasangan muda mudi yang terlihat bergandengan mesra dan lucunya, setiap pasangan itu pasti sang cewe-nya membawa setangkai mawar yang terbungkus plastik. Sempat terpikir apa ada pembagian bunga mawar ya?
Saya melihat restoran dan kafe yang ada di tempat itu penuh bahkan beberapa tempat terlihat sekumpulan orang yang mengantri menunggu giliran tempat duduk. Di beberapa toko terdapat banyak nuansa merah jambu dengan aksesoris hati yang berwarna senada. Dalam hati saya terheran-heran sebegitu hebatnyakah hari kasih sayang itu? Meriahnya layaknya hari besar keagamaan saja.
Sehari sebelumnya saya memperoleh bacaan email dari seorang teman mengenai hari Valentine. Berikut saya kutipkan sebagian isinya :
Sejarah Valentine’s day
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day:
“Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine’s Day probably came from a combination of all three of those sources–plus the belief that spring is a time for lovers.”
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St.Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).
Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).
Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!
(Sumber : Artikel www.swaramuslim.com)
Terlepas dari hikmah yang bisa diambil dari bacaan itu, ada hal menarik yang saya dengar di radio U-FM (satu-satunya alasan tune in di radio ini karena teman saya Osa menjadi penyiar disini) bahwa ada penelitian yang mengatakan bahwa pada momen Valentine’s day tingkat penjualan kondom meningkat dengan pesat dan tingkat room occupancy ratio (rasio antara kamar yang terisi dan kamar yang tersedia) berbagai hotel meningkat dengan tajam. Tanpa bermaksud untuk berprasangka buruk, karena bisa saja konsumennya adalah pasangan yang sudah nikah resmi, apakah momen Valentine memicu gaya Free Sex dalam pergaulan? Saya rasa, saya akan mengusulkan thesis untuk meneliti fenomena itu lebih jauh kalau saja ada teman MM saya yang belum lulus. Hehe…
Gw gak asyik banget ya. No Offense lho….
=================================================
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya” (QS. Al Isra’ : 36).
Tulisan yang bagus, data juga akurat. Bravo