Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke kediaman seorang teman. Hmmm… mungkin lebih tepatnya bukan teman, tapi lebih kepada mentor dan partner kerja. Belum terlalu lama kami terpisah tetapi rasanya banyak hal yang telah berubah. Sebenarnya tadinya saya agak malas untuk datang ke rumahnya karena berbagai hal. Namun karena sudah janjian sebelumnya maka saya meluangkan waktu untuk datang di sela pekerjaan rumah yang menunggu.
Saya beruntung telah memegang janji saya ke rumahnya. Karena malam itu saya memperoleh banyak hal. Beliau banyak memberikan sharing kepada saya tentang hidup, tentang keluarga, tentang masa depan dan pekerjaan. Rasanya pengalaman yang dia bagi ke saya sangat berharga buat saya dan buat kita semua. Yang mengesankan saya adalah insight dari pengalaman beliau.
Sekitar tiga bulan yang lalu beliau resign dari pekerjaannya di sebuah perusahaan multinasional yang bonafid seiring dengan adanya tawaran pekerjaan di tempat lain dengan posisi yang menjanjikan. Namun ternyata ekspektasi semula sangat berbeda dengan kenyataan yang sesungguhnya. Karena ternyata pekerjaan dan tugas yang harus dijalankannya sangat tidak sesuai dengan penawaran sebelumnya. Ternyata ada agenda lain yang harus diembannya dalam perusahaannya yang baru itu yang mana menurut dia, tugas itu sangat berbahaya bahkan melawan hukum. Alhasil dengan resiko yang harus dihadapinya, hanya dalam hitungan minggu, ia kembali melakukan resign.
Dalam keadaan tertekan dengan keadaan, dengan status pengangguran, Bapak yang baru memiliki bayi mungil yang lucu ini harus menjalani hari-hari beratnya. Namun dibalik keadaannya itu ia masih mensyukuri keadaannya karena selain terhindar dari resiko yang mengancam dirinya dan keluarganya, ia cukup senang punya waktu banyak untuk bersama si kecil. Dia menceritakan bagaimana dia bisa sangat bahagia bisa memandikan anaknya, membuatkan makanan, menemaninya tidur dan mengajaknya bermain, yang semua itu biasanya dilakukan oleh istrinya serta baby sitter sang bayi.
Sekitar 3 minggu berstatus sebagai mantan manager, dia kembali terpuruk dalam keadaannya karena keadaan itu tidak mungkin dijalaninya. Dia harus berusaha lagi untuk mencari kerja karena tentu saja ada kebutuhan hidup keluarga yang harus dipenuhinya. Di tengah kekalutan itu, sang istri mencoba menghiburnya dengan mengajaknya mengunjungi kerabat yang telah sekian lama tidak pernah dikunjunginya. Pada awalnya beliau menolak namun akhirnya luluh juga dengan desakan sang istri yang bersikeras menghiburnya.
Akhirnya mereka pergi ke tempat kerabat yang dimaksud. Kebetulan ketika sampai di rumah kerabat tersebut, kerabatnya juga sedang kedatangan tamu. Kedatangan mereka tentu saja membuat terkejut dan juga senang sang pemilik rumah. Mereka diajak bergabung, mengobrol, Tanya kabar ini itu panjang lebar sampai akhirnya teman saya ini menceritakan keadaan dirinya yang sedang menganggur. Tanpa disangka, sang tamu, teman kerabatnya itu memberikan kabar bahwa dia memiliki rekan yang sedang membutuhkan orang untuk mengerjakan sebuah proyek. Mengetahui latar belakang pendidikan dan pekerjaan teman saya itu, sang tamu langsung mengontak temannya yang dimaksudkannya itu.
Dan tahu apa yang terjadi berikutnya?
Dua hari kemudian, teman saya sudah direkrut sebagai Partner dalam perusahaan konsultan manajemen yang menangani proyek pemerintah. Pekerjaan baru ini, tidak membutuhkannya untuk datang ke kantor setiap hari, hanya cukup di rumah melakukan pengolahan data dan koordinasi.
Seminggu kemudian, datang tawaran untuk menjadi kepala divisi keuangan sebuah perusahaan IT.
Minggu-minggu berikutnya, banyak tawaran proyek yang datang kepadanya sehingga beliau harus kewalahan mencari rekan kerja.
Dari ceritanya, dia menyimpulkan beberapa hal :
1. Jangan pernah menyesali keputusan yang sudah kita ambil di masa lalu karena hidup ini sudah ada yang mengatur dan keputusan yang kita ambil dulu sudah termasuk dalam rencana-Nya.
2. Nikmati dan jalani hidup dengan bersyukur terhadap apa yang ada di depan kita. Dia cukup bersyukur dapat bermain selama 3 minggu dengan bayinya sedangkan istrinya harus bekerja di kantor.
3. Jangan pernah meremehkan kekuatan bersilaturrahmi. Karena dibalik silaturrahmi ada berkah. Mungkin ceritanya akan lain bila teman saya ini mengurungkan niatnya untuk mengunjungi kerabatnya itu.
4. Berdoalah dan mintalah kepada Yang Maha Memiliki semua keinginanmu.
Di perjalanan pulang, saya masih memikirkan ceritanya itu dan terkagum-kagum. Betapa mudahnya Allah mewujudkan sesuatu yang dikehendaki-Nya bagi hamba-Nya.
Subhanallah ya.. Nikmat Tuhanmu mana lagi yg engkau dustai.. tambahan lagi..
- kalo rejeki itu dari Allah bukan dr Toyota (gitu ya..) jadi gak ada lembur ya.. gak masyalah.. he..he..
- sunnah Rosul jika mau banyak rezeki itu ya.. memperpanjang silaturahmi.. yg kaya’nya udah mulai terlupakan dng kesibukan masing²
(btw samwan wi now ebot tis persen)