Archive for April, 2006

26
Apr

Wisuda Nita

Akhir pekan kemarin merupakan salah satu momen yang bersejarah untuk istri saya, Nita. Karena Sabtu tanggal 22 April 2006, istri saya itu diwisuda sebagai Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Sultan Agung, Semarang bersama 896 wisudawan/ wisudawati lainnya. Semarak sekali suasana kampus swasta terbesar di Jawa Tengah yang terletak di timur laut kota Semarang itu itu kemarin. Sedari pagi jalanan sudah macet. Hmmm… macet ini sebenarnya bukan hanya karena di kampus akan dilaksanakan wisuda, namun karena kontribusi banjir yang menggenangi jalan Kaligawe Semarang itu. Sempat ketar-ketir saya dibuatnya karena saya kebetulan membawa sedan ketika menerjang jalanan tergenang itu. Untunglah kami tidak terlambat sampai di kampus UNISSULA itu.

Nitawisuda_2 Saya merasa bangga dan turut berbahagia hari itu karena saya tahu itulah juga yang dirasakan oleh istri saya. Saya tahu bagaimana perjuangan yang harus dia tempuh untuk menyelesaikan studinya itu. Dari harus bolak balik Jakarta Semarang hanya untuk bimbingan skripsi sampai harus ujian skripsi dengan kandungan berusia 7 bulan. Saya bangga karena saya tahu Nita bukanlah wanita yang cerdas secara akademik tetapi semangat belajar dan semangat berjuang untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai patut diacungi jempol. Saya bahagia untuknya, sekaligus salut untuk semua yang telah dikorbankan dan diperjuangkannya.

Rasa bahagia yang saya dan istri saya rasakan juga terpancar dari wajah para wisudawan/ wisudawati lainnya. Mereka terlihat ceria bahagia dan lega. Persis dengan perasaan yang pernah menghinggapi saya ketika wisuda beberapa tahun lalu. Namun, disamping rasa bahagia, saya merasakan juga rasa prihatin karena itu berarti akan ada 876 orang lagi yang akan masuk ke bursa tenaga kerja yang kapasitasnya di Indonesia telah semakin kecil. Syukur-syukur ada sebagian dari mereka yang membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Terbayang dalam benak saya betapa tantangan yang akan mereka hadapi akan semakin berat dan menantang. Semoga mereka, terutama lulusan-lulusan baru itu bisa bertahan di kerasnya kehidupan.

Momen wisuda itu sering mengingatkan saya kepada dua kehilangan, yaitu kehilangan kebebasan menjadi mahasiswa dan juga kehilangan teman. Walaupun sampai saat ini komunikasi dengan teman-teman kuliah dulu masih terjalin namun saya merasa kehilangan akan kebersamaan dan rasa saling mendukung yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kebebasan sebagai mahasiswa juga salah satu yang saya rindukan saat ini. Saya teringat bagaimana entengnya saya menghadapi hari demi hari sebagai mahasiswa. Tugas dan beban kuliah boleh banyak tetapi saya membayangkan masa sebagai mahasiswa adalah momen yang membahagiakan menurut saya. Semoga rasa kehilangan yang pernah terbersit di hati saya itu tidak terlalu membebani istri saya dalam menapaki jalan hidupnya ke depan.

Di momen wisuda Nita ini, semakin terkumpullah puzzle-puzzle kehidupan saya. Masih banyak tantangan dan tanggung jawab yang harus dihadapi dan dipikul di waktu-waktu ke depan. Namun momen ini sedikit banyak membantu merekatkan rencana-rencana yang masih berserakan. Semoga momen wisuda ini menjadi salah satu penyegar yang bisa menghilangkan kepenatan hidup yang harus saya jalani hari demi hari. Semoga semuanya bisa menjadi lebih baik.

Selamat ya, sayang. Yayang memang layak mendapatkannya…

Aufarwisuda

That’s my son!—->

19
Apr

Menu Sarapan Pagi saya…

Donut_1Saya punya Aktivitas rutin yang saya lakukan setiap pagi di setiap kali melakukan perjalanan ke kantor. Karena keadaan, saya jarang makan pagi di rumah. Dan saya terbiasa dengan itu. Sejak SD saya bisa dibilang jarang sarapan pagi. Karena waktu SD dulu, saya khawatir kalau melakukan sarapan pagi di rumah, saya takut tengah hari akan kebelet buang air di sekolah. Bukan apa-apa, saya tidak tahan dengan kondisi WC sekolah yang kotor dan jorok. Dan itu benar. Setiap kali makan pagi pasti tidak lama kemudian perut saya mulai berkriuk kriuk sebagai alarm tanda saya harus segera booking kamar kecil. Kondisi itu terbawa sampai saya SMP dan SMA.

Ketika kuliah, saya sedikit demi sedikit membiasakan sarapan pagi. Dan itupun bukan sarapan pagi di rumah. Tetapi sarapan di sela-sela waktu kuliah pagi hari. Dan sarapan pada masa ini biasanya lebih bersemangat karena dilakukan rame-rame sambil berkumpul dengan teman-teman. Mulanya saya enggan, namun karena ajakan teman-teman dan tempat ngumpul kami memang di sebuah warung depan kampus maka sarapan pagi menjadi rutin buat saya. Tetapi tetap saja secara otomatis perut saya akan memberikan sinyal ke WC tidak lama setelah sarapan. Dan kebiasaan itu terbawa sampai sekarang.

Namun, sudah beberapa bulan terakhir ini, saya memperoleh sarapan pagi yang khusus dan istimewa. Sarapan hati, pengetahuan dan juga motivasi. Saya setiap pagi selama perjalanan dari rumah ke kantor mendapat sarapan pagi dari radion Smart FM.

Hari Senin, sarapan motivasi dari Bapak Andrie Wongso. Bapak Andrie Wongso ini adalah seorang motivator yang juga pengusaha sukses. Kisah hidupnya menginspirasi banyak orang. Semboyan “Success is my right” banyak menginspirasi banyak orang untuk memiliki motivasi dalam hidup. Acara ini berisi tentang kapsul-kapsul motivasi yang bersumber dari cerita-cerita klasik china.

Hari Selasa, sarapan motivasi dan inspirasi dari pembicara-pembicara top dunia yang dipandu oleh Bapak James Gwee. James Gwee ini sejatinya orang singapura namun dia sangat fasih bahasa Indonesia. Dalam acara talkshow ini bapak James Gwee melakukan sharing tentang pelajaran-pelajaran dari para pembicara top dunia. Banyak ilmu, pengetahuan, inspirasi yang saya peroleh dari apa yang disampaikan oleh beliau.

Hari Rabu, wejangan sales and marketing management-nya Bapak FX Hadi Tjokrosusilo. Pak Hadi ini adalah seorang expert dibidang manajemen, sales  dan marketing. Beliau biasanya membawakan topic topic mengenai sales dan marketing. Banyak sisi sales dan marketing yang dibawakan olehnya yang sedikit banyak memberikan wawasan bagi saya. Ya hitung-hitung mengasah ilmu marketing saya. Siapa tahu kapan-kapan ada hujan yang membuat saya pindah jalur ke bidang sales dan marketing.

Hari Kamis, ada sarapan Emotional Intelligence dari Bapak Anthony Dio Martin. Bapak Martin ini adalah seorang expert di bidang emotional intelligence dan juga Neuro Linguiostic programming. Pak Martin banyak membahas masalah-malah pengelolaan emosi yang sarat terjadi dan kita hadapi pada kehidupan sehari-hari. Ilmu-ilmu emotional intelligence dari Bapak Martin ini menambah wawasan dan pengetahuan saya dalam mengelola emosi yang besar kontribusinya terhadap cerah dan gelapnya hidup yang kita jalani sehari-hari.

Hari Jumat, Sarapan Ethos dari Jansen Sinamo. Hari Jumat biasanya saya berangkat ke kantor lebih santai. Di suasana yang santai itu sangat cocok bila tetap dicekoki oleh spirit ethos-nya sang Master Ethos, Jansen Sinamo. Pak Jansen ini terkenal dengan julukan guru Ethos Indonesia. Dalam sesi siarannya pak Jansen banyak mengupas tentang ethos yang perlu kita miliki dalam menjalani kehidupan ini. Dalam bekerja, belajar, berusaha. Konsep ethosnya sangat mengena untuk melakukan re-charge spirit juang yang loyo. Dengan Ethos, kita bisa melihat segala hal yang kita lakukan dan semua permasalahan yang kita hadapi dengan lebih bijak.

Sedikit banyak sarapan-sarapan pagi saya membuat waktu perjalanan saya ke kantor jadi lebih bermanfaat dan bermakna. Dengan aktivitas semacam itu, saya pun enjoy dalam perjalanan. Terkadang macetpun tidak terasa dan tahu-tahu saya sudah sampai kantor. Terkadang banyak ide dan pencerahan yang saya peroleh dari sarapan-sarapan saya itu yang membuat saya lebih berani, lebih percaya diri dan lebih wise. Yang jelas, sarapan pagi saya ini tidak membuat perut saya meraung-raung. Benar-benar sarapan pagi yang asyik, menarik, murah dan berbobot.

18
Apr

Sembrono!

DuerRasanya sudah bosan saya melihat banyaknya ketidakpedulian di sekitar saya. Sudah tidak terhitung banyaknya pengendara lalu lintas yang melanggar lampu merah seenaknya, begitu banyaknya orang yang dengan enteng membuang sampah sembarangan, begitu seringnya orang merokok di tempat umum tanpa merasa bersalah, atau bahkan begitu seringnya saya melihat orang yang turun dari bis di Jalan Tol. Semua contoh yang saya sebutkan itu bisa dibilang setiap hari saya temui di sepanjang saya berangkat ke kantor ataupun pulang dari kantor. Entah apa atau siapa yang salah dengan banyak kesembronoan di sekitar kita. Mungkin bagi sebagian orang hal-hal itu tidak mengusik namun saya sering merasa kurang nyaman dengan hal-hal semacam itu. Entah sudah menjadi kebiasaan atau budaya, perilaku-perilaku semacam menggampangkan orang lain, meremehkan aturan atau perilaku tidak peduli sesame dan lingkungan sedikit banyak telah menjadi sesuatu yang lumrah. Kelumrahan yang membuat kita permisif terhadap perilaku-perilaku sembrono itu.

Tetapi mungkin kesembronoan itu harus segera diakhiri. Sabtu (14/4/2006) membuktikan bahwa kesembronoan bisa menyebabkan celaka. Pada hari itu telah terjadi tabrakan dahsyat antara kereta api Sembrani dan kereta api Kertajaya di Gubug, Grobogan, Jawa Tengah. Sampai saat ini tercatat 15 orang tewas mengenaskan. Sebenarnya kejadian itu bisa dihindarkan dan tidak usah terjadi apabila sang masinis kereta api Kertajaya jurusan Jakarta-Surabaya itu tidak sembrono. Sudah merupakan prosedur yang standar di setiap perjalanan kereta bahwa Kereta api ekonomi macam Kertajaya harus menunggu kereta Ekspress lewat di stasiun-stasiun kecil semacam stasiun gubug itu. Tapi dengan sembrono, sebelum perintah jalan diberikan, sang masinis dengan sembrono menjalankan keretanya. Dan fatal akibatnya. Ditambah lagi, korban yang tewas akibat kecelakaan itu kebanyakan adalah penumpang gelap yang numpang di lokomotif Kertajaya itu, maka makin lengkaplah peran kesembronoan dalam kasus ini.

Lalu, jam 15.00 WIB sore ini (18/4/2006) kesembronoan memakan korban lagi. Sebuah Metromini ditabrak KRL Pakuan jurusan Bogor di Kalibata, Jakarta. Kecelakaan itu disebabkan oleh ulah sopir metromini yang sembrono, melanggar pintu lintasan kereta api. Rasanya tidak ada alasan yang bisa didebatkan lagi bahwa perilaku yang sembrono bila dibiarkan berlarut-larut akan membawa malapetaka saja.

Rasanya setelah merenungi kejadian-kejadian yang nahas itu, masih perlukah kita bersikap sembrono?

=================================================

Sembrono (adj) : gegabah, kurang hati-hati, lalai, sembarangan saja, kurang sopan.

Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer

06
Apr

Bisa Jadi Karena…

Kemarin saya mendengarkan sebuah Tausiyah yang menarik di masjid kantor saya. Tausiyah tersebut banyak membahas tentang berbahayanya namimah; menghasut, mengadu domba, menyebarkan keburukan orang lain, dalam kehidupan di dunia. Konon kata ustad, perilaku namimah inilah yang membuat tertolaknya doa seorang kyai bahkan seorang Nabi sekalipun di hadapan Allah, SWT. Pak Ustad tersebut mencuplik sebuah kisah yang terjadi pada jaman Nabi Musa AS.

Suatu ketika di daerah tempat Bani Israil menetap, terjadi kemarau panjang yang teramat sangat. Sudah bertahun-tahun cuaca begitu terik dan hujan tidak turun jua. Tanah ladang kering kerontang bahkan pecah-pecah dan banyak binatang ternak yang mati. Pada keadaan tersebut Nabi Musa AS mengumpulkan pengikutnya untuk melaksanakan shalat (menurut ustad, Nabi Musa AS dan umat terdahulu juga sholat) Istisqa atau sholat untuk meminta hujan.

Nabi Musa dan pengikutnya melakukan sholat istisqa selama tiga hari berturut-turut. Namun walaupun mereka sudah khusu’ dan bersungguh-sungguh melakukannya, Allah SWT belum berkenan mengabulkan permohonan mereka. Nabi Musa AS, satu-satunya Nabi yang dianugerahi kemampuan untuk berdialog langsung dengan Allah SWT bertanya kepada Allah, SWT :

“Ya Allah, mengapa tidak Engkau turunkan hujan kepada kami, padahal kami telah memohon dengan sungguh-sungguh kepada-Mu?” Tanya Musa.

Allah, SWT menjawab “Hai, Musa. Aku tidak akan mengabulkan doamu selama ada pengikutmu, yang menjadi bagian jemaat sholatmu, yang suka ber-namimah

Nabi Musa AS kembali bertanya “Siapa orang-orang itu, ya Allah? Tunjukkan kepada ku supaya bisa kuusir mereka dari barisan jemaatku”

Nabi Musa AS menginginkan Allah SWT untuk menunjukkan siapa orang yang suka ber-namimah itu supaya dapat dikeluarkan dari jamaah dan mereka dapat memohon kembali kepada Allah. Namun apa jawab Allah, SWT?

“Wahai, Musa. Kuperintahkan kepadamu untuk menjauhi namimah, bagaimana mungkin engkau menyuruhku untuk melakukan namimah?” Jawab Allah.

Allah SWT menolak menunjukkan siapa orang yang suka ber-namimah. Allah sendiri, sebagai Dzat yang Maha Agung dan Maha Suci tidak mau menunjukkan aib atau kesalahan orang lain bagaimana mungkin kita sebagai makhluknya yang lemah dan berkekurangan ini mudah melakukannya?

Lalu Nabi Musa AS bertanya kembali, “Ya, Allah. Apa yang harus hamba-Mu lakukan?”

Allah menjawab dengan singkat, “Bertobatlah”

Maka kembali Nabi Musa AS mengumpulkan jamaahnya untuk bertobat dan setelah itu melakukan sholat Istisqa. Dan berkumpullah mereka lalu bertobat.

Sesaat setelah mereka bertobat, maka turunlah hujan dari langit. Subhanallah.

Kisah tersebut seharusnya menjadi petunjuk dan pelajaran bagi kita semua bahwa dosa-dosa yang kita lakukan ini pada suatu titik membuat terhalangnya rahmat kepada kita. Perilaku namimah atau suka mencari-cari kesalahan dan menyebarkan kesalahan orang lain merupakan perbuatan yang tercela di mata Allah. Dalam kisah tersebut pun sudah dicontohkan bagaimana Allah sendiri tidak mau menunjukkan dosa dan kekurangan seseorang di hadapan orang lain namun kita sebagai hamba-Nya suka sekali melakukan mencari-cari kesalahan orang lain dan menyebarkannya.

Lihat saja keadaan sekarang. Perilaku mencari kesalahan orang lain begitu maraknya. Dan sebagian dari kita menikmati hal itu atau bahkan memperoleh keuntungan darinya. Lihat saja aneka acara infotainment di televisi yang sudah kelewat batas. Perilaku para politisi yang suka menunjukkan kesalahan pihak lain sedangkan kesalahan dirinya atau golongannya ditutup-tutupi dan dilindungi. Bisa jadi karena itulah kita sering berdoa namun tidak kunjung dikabulkan doa kita. Sudah tidak terhitung banyaknya istighotsah, doa bersama yang dipimpin oleh seorang kyai dilakukan. Namun keadaan kita masih saja terpuruk seperti sekarang ini.

Bisa jadi karena dosa kita, karena betapa kita senang sekali mengadu domba, mencari kesalahan orang lain dan menyebarkan kesalahan atau aib orang lain tersebut maka kita berada di garis belakang peradaban dunia. Bisa jadi karena hal itu maka banyak doa para kyai yang kita hormati tidak dikabulkan oleh Allah. Bisa Jadi karena namimah.

05
Apr

Sedikit, Tapi Cukup

Images_1Sebuah kisah inspirasi saya dapat dari sebuah mailing list. Saya pikir adalah sangat jarang ada manusia modern yang mendedikasikan hidupnya untuk agama dengan fasilitas yang sangat minim. ternyata di luar sana ada orang-orang beruntung semacam itu yang melihat hidupnya sebagai sebuah proses jalan yang panjang menuju kepada-Nya.

Inspirasi yang cukup menghenyakkan saya dan mengingatkan saya untuk senantiasa bersyukur atas karunia-Nya kepada setiap makhluk-Nya.

===========================================

Sedikit Tapi Cukup

Ia adalah tipe orang yang ikhlas. Jangan kaget, gajinya sebulan, hanya sekitar 2.500 rupiah per bulan. Dia niatkan hidupnya mengajar di pesantren. api ada saja rizqi tak terduga


Beramal shalih di pesantren, itu memang sudah menjadi tekad saya. Tahun l995, saya lalu menjadi wali kelas di kelas empat PDI, Pendidikan Dasar Islam di Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur.


Sebagai guru di pesantren, mengajarnya tidak cuma di kelas, juga di masjid, di lapangan dan di asrama.Di kelas mengajarnya mulai pagi hingga siang. Di masjid setiap usai shalat ashar, Magrib, Isya dan Subuh.Sedangkan di lapangan setiap pagi.


Pagi hari sebelum jam sekolah, anak-anak menyabit rumput dan memungut sampah keliling kampus yang jaraknya lebih dari satu kilometer. Tugas saya adalah memimpin mereka. Itu pekerjaan ringan. Yang berat, membangunkan anak-anak  untuk shalat Subuh.


Membangunkan satu dua anak tak masalah, lha ini jumlahnya 40 anak. Kadang membangunkannya sampai berulang kali. Yang tidur bangun, yang bangun tidur lagi. Karena jengkel,  jalan pintas sering saya ambil. Pyur……pyur…. Segenggam air menjadi cara yang paling efektif.


Menjaga kebersihan di pondok, ini pun menjadi pekerjaan yang sangat menguras pikiran dan tenaga. Apalagi kalau sudah makan; piring-piring kotor yang menumpuk, sisa nasi yang berserakan, dan air minum yang tertumpah, itu pemandangan rutin setiap selesai makan. Belum lagi kalau menengok ke dalam kamarnya santri, wuiih…! Pakaian bergelantungan di sana-sini, ada pula yang menumpuk di bawah ranjang, sisa makanan yang sudah membusuk di bawah lemari, bantal yang berhamburan kapasnya dan buku-buku yang berserakan. Pasti pusing melihatnya!


Semuanya itu harus dibereskan, dan sayalah yang bertanggung jawab. Namun, tugas yang sangat berat ini saya jalani saja. Niat awal masuk pesantren memang bukan untuk senang-senang, tapi untuk memanfaatkan sisa umur demi kepentingan agama.


Gaji? Tentu saja ada. Jangan kaget, besarnya Rp 2.500 per bulan! Memang kecil, namun kami tetap menjalankan tugas dengan penuh amanah, karena bukan itu yang menjadi tujuan. Kalau mau gaji besar dan kemewahan dunia, tentulah tidak memilih tinggal di pesantren.


Alhamdulillah, gaji yang menurut perhitungan akal tidaklah cukup dalam satu bulan, namun karena ketawakalan, Allah SWT mencukupkan. Ada saja riqki yang datangnya tidak disangka-sangka. Jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan gaji yang ada. Bahkan kalau ada kebutuhan yang sangat mendesak sekalipun, Allah SWT juga memberikan jalan keluar. Suatu ketika saya mau mengajar, celana saya kebetulan tinggal satu, dari tiga celana yang saya miliki. Dua telah raib entah kemana, hal lumrah terjadi di asrama. Ternyata yang satu pun hilang juga. Akhirnya saya terpaksa mengajar dengan pakai sarung.

Melihat saya pakai sarung, kepala sekolah bertanya, ”Lho pak, kenapa mengajar pakai sarung?”


“Hilang semua Pak celananya.”


“Kalau begitu nanti pulang sekolah jalan-jalan ke rumah.”


Ba’da dhuhur, saya ke rumah kepala sekolah. Setelah ngobrol sambil menikmati teh manis hangat dan kue-kue,pulangnya saya diberikan bingkisan. Setiba di asrama saya buka bingkisan tersebut, ternyata isinya celana tiga buah.

Alhamdulillah, Allah SWT tidak akan telat untuk memenuhi kebutuhan hambanya.

(Dede HF/Hidayatullah).

Taken from Milis Sabili.

03
Apr

Empat Hari Bersama si Kecil

Image19Long weekend kemarin merupakan hari-hari yang berkesan dan terasa sangat cepat. Tidak biasanya saya menghabiskan waktu di rumah saja. Biasanya kalau pulang ke Semarang, aktivitas yang saya lakukan adalah jalan-jalan seputar Semarang, entah ke mall, ke rumah teman ataupun jalan-jalan di pinggiran kota Semarang. Namun kemarin merupakan hari yang lain. Karena kemarin adalah hari yang saya tunggu-tunggu untuk bertemu dengan anak laki-laki saya, Aufar.

Pengalaman yang dramatis karena selama empat hari itu saya benar-benar belajar menjadi ayah. Bangun tengah malam ketika mendengar suara tangis atau rengekannya, mempersiapkan susu, popok, pampers, air hangat, wah pokoknya segala hal yang berhubungan dengan si kecil. Karena saking menikmatinya, selama empat hari itu siklus hidup saya benar-benar hampir mengikuti Aufar. Saya tidur ketika dia tidur, saya bangun ketika dia bangun, tapi ketika dia mandi saya tidak ikutan mandi malah asyik melihat dia dimandikan oleh mertua saya.

Memiliki anak itu luar biasa rasanya. Benar kata beberapa teman saya dulu bahwa bermain dengan anak tidak akan pernah bosan dan habisnya. Dulu saya suka berpikir bahwa beberapa teman saya suka menghabiskan waktunya dengan anak di waktu weekend, bahkan ada teman yang meninggalkan hobinya ketika sang anak lahir. Dan ternyata itu beralasan. Saya pun rela menempuh perjalanan bolak balik Semarang Jakarta setiap  minggu untuk bertemu dengan si kecil, meninggalkan kegiatan akhir pekan di Jakarta yang juga tidak ada habisnya. Banyak rencana yang ternyata saya tunda untuk memanfaatkan waktu dengannya. Termasuk salah satu ambisi dan cita-cita pengembangan diri saya.

Saya teringat kata seorang teman baik saya bahwa waktu awal-awal kelahiran anak di sepanjang masa pertumbuhannya (periode emas) adalah masa-masa yang jangan dilewatkan karena bisa jadi masa-masa itulah kita bisa melihat perkembangan anak dan juga turut membentuk karakternya. Selain itu, dengan gaya hidup masa kini, waktu yang berkualitas antara orang tua dan anak akan semakin sedikit. Katakanlah kita bisa intens berhubungan dengan mereka sekitar 9 – 10 tahun. Selebihnya mereka punya kesibukan sendiri dan bisa jadi dengan kesibukannya dan juga kesibukan kita, sebagai orang tua, bisa menjauhkan kita dengannya dan mrmbuat kita melewatkan kesempatan berharga dengannya.

Image30 Untuk itu saya bertekad untuk tidak melewatkan waktu-waktu berharga itu. Empat hari liburan akhir pekan kemarin benar-benar saya manfaatkan dengannya. Merawatnya, melihatnya, mencoba bermain dengannya. Benar-benar menjadi empat hari yang berharga.

Besok ada long weekend lagi… Kita main lagi yuuk, Aufar…