Akhir pekan kemarin merupakan salah satu momen yang bersejarah untuk istri saya, Nita. Karena Sabtu tanggal 22 April 2006, istri saya itu diwisuda sebagai Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Sultan Agung, Semarang bersama 896 wisudawan/ wisudawati lainnya. Semarak sekali suasana kampus swasta terbesar di Jawa Tengah yang terletak di timur laut kota Semarang itu itu kemarin. Sedari pagi jalanan sudah macet. Hmmm… macet ini sebenarnya bukan hanya karena di kampus akan dilaksanakan wisuda, namun karena kontribusi banjir yang menggenangi jalan Kaligawe Semarang itu. Sempat ketar-ketir saya dibuatnya karena saya kebetulan membawa sedan ketika menerjang jalanan tergenang itu. Untunglah kami tidak terlambat sampai di kampus UNISSULA itu.
Saya merasa bangga dan turut berbahagia hari itu karena saya tahu itulah juga yang dirasakan oleh istri saya. Saya tahu bagaimana perjuangan yang harus dia tempuh untuk menyelesaikan studinya itu. Dari harus bolak balik Jakarta Semarang hanya untuk bimbingan skripsi sampai harus ujian skripsi dengan kandungan berusia 7 bulan. Saya bangga karena saya tahu Nita bukanlah wanita yang cerdas secara akademik tetapi semangat belajar dan semangat berjuang untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai patut diacungi jempol. Saya bahagia untuknya, sekaligus salut untuk semua yang telah dikorbankan dan diperjuangkannya.
Rasa bahagia yang saya dan istri saya rasakan juga terpancar dari wajah para wisudawan/ wisudawati lainnya. Mereka terlihat ceria bahagia dan lega. Persis dengan perasaan yang pernah menghinggapi saya ketika wisuda beberapa tahun lalu. Namun, disamping rasa bahagia, saya merasakan juga rasa prihatin karena itu berarti akan ada 876 orang lagi yang akan masuk ke bursa tenaga kerja yang kapasitasnya di Indonesia telah semakin kecil. Syukur-syukur ada sebagian dari mereka yang membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Terbayang dalam benak saya betapa tantangan yang akan mereka hadapi akan semakin berat dan menantang. Semoga mereka, terutama lulusan-lulusan baru itu bisa bertahan di kerasnya kehidupan.
Momen wisuda itu sering mengingatkan saya kepada dua kehilangan, yaitu kehilangan kebebasan menjadi mahasiswa dan juga kehilangan teman. Walaupun sampai saat ini komunikasi dengan teman-teman kuliah dulu masih terjalin namun saya merasa kehilangan akan kebersamaan dan rasa saling mendukung yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kebebasan sebagai mahasiswa juga salah satu yang saya rindukan saat ini. Saya teringat bagaimana entengnya saya menghadapi hari demi hari sebagai mahasiswa. Tugas dan beban kuliah boleh banyak tetapi saya membayangkan masa sebagai mahasiswa adalah momen yang membahagiakan menurut saya. Semoga rasa kehilangan yang pernah terbersit di hati saya itu tidak terlalu membebani istri saya dalam menapaki jalan hidupnya ke depan.
Di momen wisuda Nita ini, semakin terkumpullah puzzle-puzzle kehidupan saya. Masih banyak tantangan dan tanggung jawab yang harus dihadapi dan dipikul di waktu-waktu ke depan. Namun momen ini sedikit banyak membantu merekatkan rencana-rencana yang masih berserakan. Semoga momen wisuda ini menjadi salah satu penyegar yang bisa menghilangkan kepenatan hidup yang harus saya jalani hari demi hari. Semoga semuanya bisa menjadi lebih baik.
Selamat ya, sayang. Yayang memang layak mendapatkannya…
That’s my son!—->
Saya punya Aktivitas rutin yang saya lakukan setiap pagi di setiap kali melakukan perjalanan ke kantor. Karena keadaan, saya jarang makan pagi di rumah. Dan saya terbiasa dengan itu. Sejak SD saya bisa dibilang jarang sarapan pagi. Karena waktu SD dulu, saya khawatir kalau melakukan sarapan pagi di rumah, saya takut tengah hari akan kebelet buang air di sekolah. Bukan apa-apa, saya tidak tahan dengan kondisi WC sekolah yang kotor dan jorok. Dan itu benar. Setiap kali makan pagi pasti tidak lama kemudian perut saya mulai berkriuk kriuk sebagai alarm tanda saya harus segera booking kamar kecil. Kondisi itu terbawa sampai saya SMP dan SMA.
Rasanya sudah bosan saya melihat banyaknya ketidakpedulian di sekitar saya. Sudah tidak terhitung banyaknya pengendara lalu lintas yang melanggar lampu merah seenaknya, begitu banyaknya orang yang dengan enteng membuang sampah sembarangan, begitu seringnya orang merokok di tempat umum tanpa merasa bersalah, atau bahkan begitu seringnya saya melihat orang yang turun dari bis di Jalan Tol. Semua contoh yang saya sebutkan itu bisa dibilang setiap hari saya temui di sepanjang saya berangkat ke kantor ataupun pulang dari kantor. Entah apa atau siapa yang salah dengan banyak kesembronoan di sekitar kita. Mungkin bagi sebagian orang hal-hal itu tidak mengusik namun saya sering merasa kurang nyaman dengan hal-hal semacam itu. Entah sudah menjadi kebiasaan atau budaya, perilaku-perilaku semacam menggampangkan orang lain, meremehkan aturan atau perilaku tidak peduli sesame dan lingkungan sedikit banyak telah menjadi sesuatu yang lumrah. Kelumrahan yang membuat kita permisif terhadap perilaku-perilaku sembrono itu.
Sebuah kisah inspirasi saya dapat dari sebuah mailing list. Saya pikir adalah sangat jarang ada manusia modern yang mendedikasikan hidupnya untuk agama dengan fasilitas yang sangat minim. ternyata di luar sana ada orang-orang beruntung semacam itu yang melihat hidupnya sebagai sebuah proses jalan yang panjang menuju kepada-Nya.

Recent Comments