Rasanya sudah bosan saya melihat banyaknya ketidakpedulian di sekitar saya. Sudah tidak terhitung banyaknya pengendara lalu lintas yang melanggar lampu merah seenaknya, begitu banyaknya orang yang dengan enteng membuang sampah sembarangan, begitu seringnya orang merokok di tempat umum tanpa merasa bersalah, atau bahkan begitu seringnya saya melihat orang yang turun dari bis di Jalan Tol. Semua contoh yang saya sebutkan itu bisa dibilang setiap hari saya temui di sepanjang saya berangkat ke kantor ataupun pulang dari kantor. Entah apa atau siapa yang salah dengan banyak kesembronoan di sekitar kita. Mungkin bagi sebagian orang hal-hal itu tidak mengusik namun saya sering merasa kurang nyaman dengan hal-hal semacam itu. Entah sudah menjadi kebiasaan atau budaya, perilaku-perilaku semacam menggampangkan orang lain, meremehkan aturan atau perilaku tidak peduli sesame dan lingkungan sedikit banyak telah menjadi sesuatu yang lumrah. Kelumrahan yang membuat kita permisif terhadap perilaku-perilaku sembrono itu.
Tetapi mungkin kesembronoan itu harus segera diakhiri. Sabtu (14/4/2006) membuktikan bahwa kesembronoan bisa menyebabkan celaka. Pada hari itu telah terjadi tabrakan dahsyat antara kereta api Sembrani dan kereta api Kertajaya di Gubug, Grobogan, Jawa Tengah. Sampai saat ini tercatat 15 orang tewas mengenaskan. Sebenarnya kejadian itu bisa dihindarkan dan tidak usah terjadi apabila sang masinis kereta api Kertajaya jurusan Jakarta-Surabaya itu tidak sembrono. Sudah merupakan prosedur yang standar di setiap perjalanan kereta bahwa Kereta api ekonomi macam Kertajaya harus menunggu kereta Ekspress lewat di stasiun-stasiun kecil semacam stasiun gubug itu. Tapi dengan sembrono, sebelum perintah jalan diberikan, sang masinis dengan sembrono menjalankan keretanya. Dan fatal akibatnya. Ditambah lagi, korban yang tewas akibat kecelakaan itu kebanyakan adalah penumpang gelap yang numpang di lokomotif Kertajaya itu, maka makin lengkaplah peran kesembronoan dalam kasus ini.
Lalu, jam 15.00 WIB sore ini (18/4/2006) kesembronoan memakan korban lagi. Sebuah Metromini ditabrak KRL Pakuan jurusan Bogor di Kalibata, Jakarta. Kecelakaan itu disebabkan oleh ulah sopir metromini yang sembrono, melanggar pintu lintasan kereta api. Rasanya tidak ada alasan yang bisa didebatkan lagi bahwa perilaku yang sembrono bila dibiarkan berlarut-larut akan membawa malapetaka saja.
Rasanya setelah merenungi kejadian-kejadian yang nahas itu, masih perlukah kita bersikap sembrono?
=================================================
Sembrono (adj) : gegabah, kurang hati-hati, lalai, sembarangan saja, kurang sopan.
Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer
Recent Comments