Anak saya, Aufar, tumbuh semakin lucu dan sehat. Tidak terasa usianya sudah hampir menginjak dua bulan. Berat badannya pun sudah semakin bongsor dan kelihatannya akan bertambah bongsor di hari-hari berikutnya mengingat nafsu minum susunya benar-benar dahsyat. Apalagi saat ini, susu formulanya merupakan susu formula kombinasi antara Susu Enfamil dan Nutrilon Soya.
Bukan tanpa alasan, dokternya Aufar menyarankan campuran susu semacam itu. Prof. Haryono, dokternya yang sekaligus eyangnya, menyimpulkan bahwa pencernaan anak saya ini rada tidak beres kalau mengkonsumsi laktosa yang banyak terkandung di susu formula yang berasal dari susu sapi. Itulah yang menyebabkan dia di bulan pertama sering rewel terutama kalau sehabis minum susu. Perutnya sering kembung dan susah untuk buang angin.
Saya terbayang betapa lucunya dia (dan juga kasihan) kalau dia rewel dan mencoba untuk ngeden buat buang angin. Kalau ingat saat-saat itu saya suka tersenyum sendiri. Kalau sedang rewel seperti itu, kontan mamanya dan juga eyang putri-nya sibuk untuk menggosokkan campuran minyak telon dan parutan bawang merah ke perutnya untuk membantunya buang angin. Dan benar saja ketika terdengar bunyi “duut” rewelnya berhenti dan kadang dia kembali tidur atau di beberapa momen yang sempat terekam, dia malah tersenyum. Duuh nih anak bikin kangen saja.
Ternyata buang angin yang merupakan hal yang biasa bagi kebanyakan orang, merupakan nikmat yang besar dan luar biasa bagi anak saya ini. Sebuah mekanisme morfologis yang umum ternyata sangat membawa kebahagiaan bagi kami. Namun saat ini, sepertinya Aufar dapat buang angin dengan normal dan teratur sehingga sudah tidak terdengar lagi tangisan dia karena kembung. Saya suka teringat dia kalau juga sedang (maaf) buang angin. Sebuah momen kecil yang membuat saya ingin selalu berada di dekatnya.
Recent Comments