02
May
06

Hadapi atau Lari (dan Mati)

RunmanPernahkah kamu merasakan kebosanan, kemuakan dan keletihan yang amat sangat? Di saat seperti itu tidak sedikit diantara kita yang memilih untuk lari atau melemparkan sumber masalah tersebut ke orang lain. Dan bukan hal yang harus dipungkiri, sayapun kerap kali merasakan hal tersebut dan bereaksi dengan sikap yang sama: Ingin lari.

Keinginan untuk lari dari kebosanan yang kita hadapi adalah hal yang wajar. Wajar apabila kebosanan atau perasaan tertekan itu buah dari sebuah keadaan yang membuat kita bosan. Namun bagaimana bila kebosanan itu hinggap karena kebiasaan? Atau mungkin lebih karena secara psikologis, kita bukan orang yang memiliki durabilitas tinggi dalam menghadapi sesuatu yang konstan dan stagnan.

Tadi pagi saya memperoleh sedikit jawaban dan solusi dari apa yang kerap saya dan kita semua rasakan ini. Dalam perjalanan ke kantor, di tengah kekhawatiran terjebak dalam demo hari buruh, saya mendengarkan talk show-nya Bapak Andrie Wongso tentang Kisah Gasing Waktu. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa ada seorang pemuda yang hendak mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk pegawai negeri. Dia terlihat tegang dan termenung. Kemudian lewatlah seorang tua yang menyapanya. Mengetahui sang pemuda sedang gundah, Orang tua itu memberikan sebuah gasing kepada pemuda itu. Dengan terheran, pemuda itu tidak mengerti kenapa dia diberikan gasing itu. Lalu pak tua itu menjelaskan bahwa gasing itu adalah gasing waktu yang bila dia diputar ke kanan maka waktu akan cepat berputar ke masa depan.

Mengetahu hal tersebut, dengan rasa penasaran, sang pemuda berpikir bahwa dia membayangkan lulus ujian sehingga dia tidak perlu gundah dalam mempersiapkan dan menghadapi ujian. Maka diputarlah gasing itu. Seketika, dia sedang berdiri di depan papan pengumuman ujian dan namanya terpampang di sana. Kembali lagi, tak lama kemudian dia merasa tidak sabar ingin menjadi pegawai dan mulai bekerja. Maka diputarlah gasing itu ke kanan.  Seketika, dia mendapati dirinya sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk. Dia terlihat menikmatinya. Namun selang berapa lama dia kembali berpikir bahwa mungkin hidupnya akan lebih enak apabila dia telah menjadi pejabat pemerintahan dibandingkan jadi pegawai. Diputar kembali gasing itu. Dia pun menjadi pejabat. Namun dengan menjadi pejabat, banyak kesibukan yang harus dihadapinya dan banyak urusan yang harus diselesaikannya. Lama kelamaan dia merasa bosan dan menghindarkan diri dari masalah. Gasing itu diputarnya terus sampai suatu ketika dia mendapati dirinya sudah tua dan menjelang ajal. Pada saat itulah dia tersadar bahwa kehidupannya telah akan berakhir dan banyak momen dalam hidupnya yang terlewati. Pemuda yang menjadi tua itupun menyesal. Dia ingin kembali ke masa lalunya dahulu. Dia mencoba memutar gasing itu ke kiri. Dan… ia terbangun. Ternyata ia bermimpi.

Cerita tersebut mengajarkan kepada saya untuk menghadapi apapun yang sedang kita alami dengan wajah cerah dan dagu tegak. Kehidupan pasti sarat dengan masalah. Kata pepatah, tempat orang yang tidak memiliki masalah adalah kuburan. Selama kita masih hidup, masalah adalah unsur pengikutnya. Jadi sebenarnya kemanapun dan kapanpun kita melarikan diri, selama kita masih hidup di dunia ini, masalah pasti ada. Tinggal bagaimana kita menyikapi masalah tersebut. Hadapi atau lari.




0 Responses to “Hadapi atau Lari (dan Mati)”


  1. No Comments

Leave a Reply

You must login to post a comment.