Hari Buruh Sedunia yang jatuh pada 1 Mei lalu membawa kisah tersendiri bagi bangsa kita. Isu tentang revisi UU Ketenagakerjaan no. 13 tahun 2003 membawa momen tersendiri. Sekitar puluhan ribu buruh memenuhi jalan-jalan Jakarta dan berbagai kota di Indonesia lainnya. Mereka menyatakan penolakan terhadap revisi itu.
Dan kemarin, 3 Mei 2006 aksi buruh itu menggelora kembali. Bahkan aksi buruh yang dilakukan lebih meriah dan berakhir dengam tindakan anarkis. Kalau sudah begitu, sepertinya apa yang disuarakan itu menjadi fals bunyinya. Hambar seperti lalapan pake ketumbar. Memang jauh hari sebelum momen hari buruh sedunia itu sudah santer terdengar rencana revisi Undang-undang itu yang bocorannyapun sudah banyak beredar di internet dengan detail. Alasan perubahan itupun sebenarnya mulia, ingin menarik investor asing beramai-ramai memasuki negeri ini. Namun mungkin pemerintah lupa bahwa untuk menarik investor bukan hanya mengurangi kesejahteraan buruh. Hal ini dapat dilihat dari rancangan UU yang banyak mengurangi hak dan kesejahteraan buruh. UU No. 13 tahin 2003 itu mengandung banyak kelemahan dan kekurangan, terutama dalam hal pembelaan terhadap kaum buruh. Dengan kondisi demikian, merevisi UU tersebut yang bahkan mengurangi kesejahteraan mereka serta merta akan membuat kaum buruh berang. Hidup semakin susah, man.
Bagaimana hidup ini tidak semakin susah, dengan kondisi inflasi serta harga bahan pokok yang meroket akibat kenaikan bahan bakar minyak sudah cukup menghempaskan kaum buruh ke level kehidupan bawah. Penurunan kesejahteraan apalagi adanya ancaman PHK yang besar membuat keadaan hidup mereka sangat tidak pasti dan terjepit oleh kebutuhan anak istri. Namun sebenarnya mereka tidak sendiri, Pemerintahpun terjepit karena harus melunasi utang yang semakin menumpuk, memperbaiki infrastruktur, mengurangi beban anggaran dan menggelembungkan asset negara dan membahagiakan rakyat. Bahkan dunia pun terjepit oleh ancaman perang nuklir, pemanasan global, neo imperialisme, dan dekadensi moral. Jadi, tanpa revisi UU ketenagakerjaan pun kita sudah terjepit. Jadi, lebih baik baca Subhanallah Walhamdulillah Walaa Ilaa ha Illallahu Allahu Akbar, Laa haula wa laa kuwwata Illa billah. Doa yang dibaca oleh para Malaikat pemikul Arsy, yang membuat mereka pantang mengeluh dan lelah. Semoga hidup kita jadi lebih baik.
0 Responses to “Kita Semua Terjepit, Man”
Leave a Reply
You must login to post a comment.