Sejak Farhan pindah dari Trans TV ke Anteve, dia membidani dan menjadi host sebuah acara talk show interactive yang bertajuk “OM Farhan”. Isinya sih sebenarnya klise dan mirip-mirip dengan Lepas Malam yang pernah di-host olehnya ketika masih di Trans. Dengan gayanya yang sok liberal moderat dan mencoba elegan, Farhan mencoba mengangkat tema-tema aktual ke dalam acaranya.
Ada komentar menarik malam ini ketika dalam acaranya ia mencoba mengangkat tema Pornografi yang dengan serta merta menyimpulkan bahwa sulit menentukan batasan pornografi. Seketika saya mengernyitkan kening. Hei, betapa provokatifnya dia. Secara pribadi, dalam gonjang ganjing pro dan kontra RUU APP, kalau saya disuruh memilih, saya akan memilih untuk mengambil posisi mendukung RUU tersebut. Bukan karena ingin memojokkan kaum perempuan seperti yang beberapa artis “GR”- kan namun karena lebih kepada kepedulian saya kepada kelangsungan moralitas bangsa dan generasi penerusnya. Kalau yang menjadi masalah adalah penentuan batasan pornografi, adalah sangat merendahkan akal sekali apabila kita merasa sulit menentukan batasannya. Kalau saja kita mau membuka pikiran kita terhadap hal-hal yang hakiki semacam agama atau norma susila daripada budaya barat atau alasan kebebasan yang mengada-ada, menentukan batasan pornografi adalah hal yang mudah.
Sebagai muslim, saya akan memberikan alasan dari sudut pandang Islam. Penentuan batas pornografi sangat mudah. Dalam islam dikenal daerah tubuh yang namanya aurat. Ketentuan aurat ini bukan dari si A, tukang ngebor, Si B, tukang tipu atau Si C, tukang bikin sensasi. Ketentuan aurat datanagnya dari Sang Pencipta Manusia, Allah SWT, yang tentunya lebih tahu manusia daripada manusia itu sendiri. Aurat sudah ditentukan mana bagian untuk laki-laki dan mana untuk perempuan. Penentuan aurat pun tanpa ada itikad untuk membatasi satu makhluk dengan lainnya. Justru dengan aurat maka sang makhluk tahu bagian mana dari dirinya yang harus dia lindungi karena berharga. Tentu saja bagi si pander yang tidak sadar hal sekecil ini akan menganggap batas pornografi sulit dilakukan.
Kalau menyorot masalah aturan pergaulan pria – wanita. Apabila dikembalikan ke konsep muhrim non muhrim pun sebenarnya sudah jelas seberapa batas yang diperbolehkan dan dilarang dalam pergaulan antar jenis kelamin itu. Lebih jauh, salah satu tanda orang yang beriman adalah memiliki rasa malu. Jadi, kalau memang beriman, tentu saja orang akan merasa malu melakukan adegan ciuman di muka umum (even with your wife/husband!), orang tidak akan mempertontonkan kelaminnya di khalayak ramai, ataupun tidak akan mempertontonkan gerakan-gerakan yang merangsang (kalo masih tanya gerakan merangsang seperti apa, lebih kelihatan bodohnya deh) di muka umum.
Jadi menurut saya, om farhan…. Jangan korbankan intelektualitas anda di hadapan public kalau hanya mau bikin laku acara anda. Karena komentar-komentar menyepelekan itu semakin menunjukkan betapa kosongnya anda.
Wah baca isi blog kamu berbobot2 yah..jadi malu sama aku yg lebih banyak nulis ttg aku dan keluarga aku…hehehehhehe…salam buat keluarga ka!